Dengan warna dasarnya berwarna coklat, dan di atasnya diberi motif mahkota berwarna coklat dan biru melambangkan kehidupan yang saling mengayomi. Untuk mempertegas motif, diberi aksen warna putih di setiap motif menandakan pengayoman yang penuh kasih namun tegas. https://infotegal.com/2013/09/galeri-motif-batik-tegalan-bagian-2/
Prasasti Pakubuwana X ini, ditaruh di gapura-gapura yang berada di wilayah Kasunanan Surakarta. Prasasti-prasasti ini ditulis pada tahun 1938. Alihaksara Ejaan Normal Kapareng ing Karsa Dalem Sampéyan Dalem Ingkang Sinuhun ingkang minulya saha ingkang wicaksana Kangjeng Susuhunan Pakubuwana Sénapati Ingalaga Ngabdurrahman Sayidin Panatagama Ingkang kaping X ayasa gapura punika. Amarengi ing dinten Senèn Wagé tanggal sapisan wulan Saban tahun Jimawal angka 1869 wuku prangbakat Dewi Sri, Tulus, Tungle, Wasesa Sagara, Sanggar Waringin wanci jam 12 siyang. Sinengkalan: "Gapura rinengga samadyaning praja." Utawi kaping 26 September 1938, sinengkalan: "Esthi uninga gapuraning ratu Maka karena berhubung kehendak dia Sri Baginda Yang Mulia dan Yang Bijaksana, Sri Susuhunan Pakubuwana Senapati Ingalaga Ngabdurrahman Sayidin Panatagama Yang ke-X, gapura ini dibangun. Kala itu terjadi pada hari Senin Wage, tanggal 1 bulan Saban, tahun Jimawal, 1869 A....
Entah dari mana dan kapan pemakaian nama sejenis ikan hewan laut dipakai sebagai nama orang pada zaman Majapahit. Yang jelas pada zaman Majapahit beberapa nama orang sekelas bangsawan apapun tingkatannya tidak ada yang memakai nama atau gelar yang mengambil nama sejenis ikan. Rata-rata mereka memakai nama hewan darat atau hewan terbang/angkasa. Selebihnya jika dikaitkan dengan nama hewan melata adalah sejenis ular atau buaya. Orang-orang pada zaman Majapahit kebanyakan memakai nama sejenis hewan darat dengan sifat-sifat yang mencitrakan kekuatan, keberanian, kegarangan, dan kelincahan seperti kidang telangkas, kuda sempana, jaran panoleh, sima rodra, singa yudha, mahesa cempaka, lembu sora, kebo kenongo, dan gajah mada. Sedangkan hewan sejenis burung seperti Hayam Wuruk, Sawung Galing, Gagak Seta, dan jenis hewan air seperti Bajul Sengara, Sawer Wulung, atau yang lainnya jarang dipakai. Apalagi hewan air sejenis ikan,tampaknya sulit atau tidak ditemukan pada orang-orang sezaman...
Para pengunjung terkadang bertanya-tanya ketika berkunjung ke Kompleks Percandian Dieng dan melihat struktur-struktur pondasi dari batu. Apakah fungsi dari struktur-struktur ini pada masa lalu ketika candi-candi ini masih digunakan sebagai tempat peribadatan agama Hindu. Struktur-struktur ini merupakan pondasi-pondasi dari bangunan yang disebut Dharmasala. Bangunan-bangunan ini tersebar di sekitar Kawasan Percandian Dieng. Pada masa lalu bangunan-bangunan ini berupa bangunan bertiangi kayu. Bangunan ini merupakan bangunan tanpa dinding dan terbuka. Lantainya juga terbuat dari papan kayu dan dibuat seperti panggung sehingga tidak menyentuh tanah. Jumlah tiang kayu bervariasi tergantung banyaknya umpak. Atapnya pada umumnya berbentuk limasan dengan atap berupa sirap dari kayu. Di india, tempat asal candi-candi, juga banyak ditemukan bangunan-bangunan semacam ini. Fungsinya adalah untuk memberi tempat istirahat bagi para pengunjung yang beribadat di candi-candi...
Nama resmi masjid ini adalah masjid Saka Tunggal Baitussalam, tapi lebih populer dengan nama masjid saka tunggal karena memang Masjid ini hanya mempunyai saka tunggal (tiang penyangga tunggal). Saka tunggal yang berada di tengah bangunan utama masjid, saka dengan empat sayap ditengahnya yang akan nampak seperti sebuah totem, bagian bawah dari saka itu dilindungi dengan kaca guna melindungi bagian yang terdapat tulisan tahun pendirian masjid tersebut. Masjid saka tunggal berukuran 12 x 18 meter ini menjadi satu satunya masjid di pulau Jawa yang dibangun jauh sebelum era Wali Sembilan (Wali Songo) yang hidup sekitar abad 15-16M. Sedangkan masjid ini didirikan tahun 1288M, 2 abad sebelum Wali Songo., dan sebelum Kerajaan Majapahit berdiri yang dimulai dengan penobatan Raden Wijaya sebagau Raja pertama Majapahit pada 10 November 1293. Sekaligus menjadikan Masjid Saka Tunggal Baitussalam sebagai Masjid Tertua di Indonesia. Lokasi Masjid Saka Tunggal B...
Jawi Jangkep Jika Kebaya dipakai khusus wanita, Jawi Jangkep dipakai oleh pria. Pakaian tradisional ini merupakan seperangkat pakaian pria Jawa yang terdiri dari baju Beskap dengan motif kembang-kembang, destar atau blankon yang digunakan di kepala. https://www.silontong.com/2018/05/02/nama-pakaian-adat-jawa-tengah/
Sumber : (https://upload.wikimedia.org) Deskripsi Di Dataran Tinggi Dieng terdapat banyak bangunan candi. Beberapa candi mengelompok, sementara yang lain berdiri sendiri atau belum ditemukan kelompoknya. Kelompok candi yang tersisa terdapat di tengah cekungan Dataran Tinggi Dieng, yang disebut dengan Kompleks Percandian Arjuna. Di kompleks ini terdapat beberapa candi yang berderet utara-selatan. Dari utaran, candi-candi tersebut adalah Candi Arjuna, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, dan Candi Sembadra. Di depan Candi Arjuna terdapat Candi Semar.[1] Berbeda dari candi yang lain, Candi Semar merupakan candi perwara, yang mendampingi Candi Arjuna. Seperti umumnya candi-candi di Dieng, penamaan candi diambil dari nama wayang yang bersumber dari cerita Baratayuda. Pemeliharaan dan Pemanfaatan Lingkungan sekitar candi tidak mendukung pemeliharaan. Lahannya sudah lama digarap penduduk untuk lahan pertanian tanaman kentang, sayur-mayur, dan bung...
Demung Alat musik Demung merupakan salah satu instrumen gamelan yang termasuk keluarga Balungan. Biasanya pada satu set Gamelan terdapat dua Demung yang keduanya memiliki versi Pelog dan Slendro. Alat musik ini mengeluarkan hasilkan nada dengan oktaf terendah dalam keluarga balungan, dengan ukuran fisik yang lebih besar. Demung memiliki wilahan yang relatif lebih tipis namun lebih lebar daripada wilahan saron, sehingga nada yang dihasilkannya lebih rendah. Bahan untuk membuat Demung adalah kayu, dengan bentuk seperti palu. Cara memainkannya, yaitu dengan cara menabuhnya ada yang biasa sesuai nada, nada yang imbal, atau menabuh bergantian antara demung 1 dan demung 2, menghasilkan jalinan nada yang bervariasi namun mengikuti pola tertentu. Kadang cepat kadang lambat nada yang dihasilkan. Semua tergantung pada komando dari Kendang dan jenis Gendhingnya. Beberapa suasana nada pada Demung: – kondisi peperangan – bernuansa militer &n...
<span style="box-sizing: inherit; font-weight: 700; color: rgb(51, 51, 51); font-family: "Source Sans Pro", sans-serif; font-size: 20px;">Slenthem <span style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: "Source Sans Pro", sans-serif; font-size: 20px;">Merupakan alat musik tradisional Jawa Tengah yang dimainkan untuk menghasilkan dengungan rendah atau gema, Slenthem juga menjadi salah satu instrumen gamelan yang terdiri dari lembaran lebar logam tipis yang diuntai dengan tali dan direntangkan di atas tabung-tabung dan menghasilkan dengungan rendah atau gema yang mengikuti nada saron, ricik, dan balungan bila ditabuh. <p style="box-sizing: inherit; margin: 0px 0px 28px; padding: 0px; color: rgb(51, 51, 51); font-family: "Source Sans Pro", sans-serif; font-size: 20px;"> Selain itu, Slenthem termasuk sebagai gender penembung menurut beberapa kalangan pendapat. lihat juga: sim pkb login Sama seperti...