Permainan bedil bambu dapat ditemukan hampir di seluruh wilayah nusantara, termasuk Provinsi Jambi. Biasanya dilakukan oleh anak laki-laki pada rentang usia 9-15 tahun. Akan tetapi, tak jarang orang dewasa juga ikut meramaikan permainan ini. Di daerah Jambi, bedil bambu biasanya dimainkan pada siang dan malam hari saat bulan puasa dan waktu Hari Raya Idul Fitri. Peralatan yang digunakan dalam permainan ini adalah bedil bambu, bilah bambu, dan lampu teplok. Proses pembuatan bedil bambu dimulai dengan memilih bambu yang tua agar tidak mudah pecah. Kemudian panjang bambu dipotong berkisar 1 - 1,5 meter dengan diameter 10 -15 cm. Bagian ruas dilubangi di bagian dalamnya, kecuali pada bagian pangkal. Pada bagian pangkal tersebut dilubangi bagian atasnya sebesar ibu jari. Pada lubang tersebutlah minyak tanah dan kain dimasukkan. Permainan bedil bambu memiliki sifat edukatif karena mengandung nilai kreativitas untuk menciptakan alat. Selain itu, bedil bambu juga mengandun...
Resep Kue Tradisional Palembang ( Maksuba ) - Sore saudaraku, sebagaimana kemarin telah kita buat resep Kue Gandus Palembang maka hari ini pun kita belum beranjak dari Kue Khas Palembang juga,Maksuba merupakan kue yang bentuknya sama dengan kue lapis di katakan maksuba karena kue ini merupakan kue asli khas palembang maka nama kue pun sesuai dengan bahasa daerahnya, sebanarnya di Pulau Jawa pun banyak kita dapati kue ini, cuma bedanya adalah dalam bahan dan cara mengolahnya, untuk lebih jelas kita simak saja ulasan di bawah ini : Berikut resep kue maksuba Bahan-bahannya : 25 butir telur bebek 250 gram Mentega, lelehkan 1 kaleng Susu kental manis 325 gram Gula pasir 1 sendok teh Vanilla Cara Membuatnya : Hal yang pertama anda lakukan adalah mengecek bahannya apa sudah lengkap semuanya, baru mengolahnya bahan kuenya, Mulanya kocok telur, vanilla, mantega dan gula hingga larut gulanya ( boleh mengoc...
Nasi gemuk? kedengarannya unik, jujur aja admin baru pernah denger nih. Setelah admin cari infonya di internet, nasi gemuk merupakan jajanan yang banyak digemari oleh masyarakat Jambi. Terbukti dengan banyaknya pasar di Jambi yang menjajakan kuliner khas ini. Nasi Gemuk Sajian ini sebenarnya hampir menyerupai nasi uduk Jakarta, lauk yang digunakan tergolong cukup sederhana seperti telur rebus, ikan teri goreng, mentimun, kacang tanah goreng, bawang goreng dan yang tak ketinggalan adalah sambal. Dulunya menu ini disajikan pada acara tertentu saja, namun sekarang nasi gemuk dijadikan makanan khas dan sebagai salah satu menu sarapan masyarakat Jambi. Berikut ini adalah resep untuk membuat nasi gemuk. Bahan: - ½ kg beras, cuci bersih - ½ liter santan kental - 2 lbr daun salam - 3 lbr daun jeruk - 3 sdm minyak goreng - 1 lbr daun pandan Bumbu Hal...
Ibu-ibu di Jambi, khususnya di beberapa kabupaten seperti Kabupaten Bungo, Kerinci, Tebo, dan Kabupaten Sarko memiliki satu penutup kepala yang dipakai saat upacara adat. Tutup kepala ini bernama Kuluk Beselang Mertuo. Pemakaian kuluk ini biasanya dilengkapi dengan baju kebaya songket, sarung songket, kalung tapak kudo bungo matahari, gelan pilin dan kerabu bungo matohari. Penggunaan kalung tapak kudo bungo matahari ini bermakna wanita telah terikat dan apapun yang dilakukan tidak boleh menyimpang dari aturan dan ajaran agama islam dalam membina keluarga dan pergaulan di masyarakat. Kalung Tapak Kudo Bungo aslinya terbuat dari emas dan dibuat dengan teknik filigri dan granulir. Motif tapak kudo dikelilingi permata dan dikombinasikan dengan hiasan bunga melati. Sementara, selendang songket warna merah berlambang keberanian dalam berbicara. Selendang ini terbuat dari benang katun warna merah ataupun hitam. Tutup kepala Kuluk Beselang Mertuo beserta perlengkapan pak...
Tari selampit delapan merupakan tari tradisional yang berasal dari Provinsi Jambi. Tari ini pertama kali diperkenalkan oleh M. Ceylon ketika bertugas pada Dinas Kebudayaan Provinsi Jambi pada tahun 1970-an. Pria kelahiran Padang Sidempuan 7 Juli 1941 ini memiliki bakat yang luar biasa dalam bidang kesenian, terutama seni tari. Sebagai pribadi yang baik, ramah, dan enerjik membuat dia mudah beradaptasi dengan budaya dan lingkungan setempat. Aktivitasnya yang lebih banyak bergulat dalam bidang kebudayaan menjadikan dirinya berhasil menangkap pesan terdalam dari pergaulan masyarakat yang kemudian diolah menjadi sebuah karya seni bernama Tari Selampit Delapan. Dalam perkembangannya, tari tersebut kemudian ditetapkan menjadi salah satu tarian khas Provinsi Jambi. Oleh M. Ceylon, Tari Selampit pertama kali diperkenalkan untuk merekatkan hubungan pergaulan antarpemuda. Melalui media tari, suasana keakraban antarpemuda dapat terbangun dengan baik. Setiap gerak dalam tari ini menggambarkan...
Terbuat dari batu andesit dan ditemukan pada tahun 1935 di Padang Roco Sungai Langksat, Kewedanan Merangin-Keresidenan Jambi, yang saat ini telah menjadi bagian wilayah administratif Provinsi Sumatera Barat. Arca ini telah ditaruh di Museum Nasional sejak tahun 1937. Arca ini disebut Bhairawa karena ciri-cirinya yang tergambar dengan wajah menakutkan, memegang golok dengan mangkok dari tengkorak manusia. Ia digambarkan berdiri di atas jenazah manusia dan dikelilingi tengkorak serta ular. Bhairawa, oleh salah satu sekte perpaduan ajaran Hindu-Budha aliran Tantrayana dianggap sebagai dewa tertinggi. Bhairawa ini bersifat budhis, karena di bagian kepala terdapat arca Aksobya. Arca ini diidentifikasi sebagai perwujudan Adhityawarman, Raja Negara Dharmasraya penguasa daerah aliran sungai Batanghari.
Batik Jambi merupakan salah satu hasil akulturasi budaya Kerajaan Melayu Kuno Jambi dengan berbagai bangsa asing (Tiongkok, Turki, India, dan sebagainya), termasuk dengan kota-kota pesisir di pulau jawa. Inisiatif menghidupkan Batik Jambi pada tahun 1875 di Desa Mudung Laut, Pelayangan, Jambi, dilakukan oleh Haji Mahibat dari Jawa Tengah.
Kawasan Candi Muaro Jambi merupakan kompleks warisan peninggalan yang terletak di tepi aliran Sungai Batanghari, Jambi, yang merupakan sungai terpanjang di Sumatera, berhulu di Pegunungan Bukit Barisan dan bermuara di pantai timur Jambi. Luas kawasan percandian Muaro Jambi adalah sekitar 3.981 Hektar, tertetak 01° 26' 25" LS,- 01° 30' 22,4" LS dan 103° 37' 23,7" BT, 103° 42' 45,4" BT. Di dalam kawasan itu terdapat banyak sekali candi-candi, sehinga sering disebut gugus candi Muaro Jambi. Hasil penelitian arkeologi yang dipadukan dengan bidang ilmu geografi dan geologi memberi informasi, bahwa Kawasan Cagar Budaya Muarajambi merupakan dataran tanggul alam kuno yang dikelilingi sungai-sungai kuno yang melingkari daratan tempat berdirinya bangunan-bangunan candi. Hasil penelitian ini juga menjadi dasar tentang perlunya pelestarian di Kawasan cagar budaya Muarajambi. Dimulai dari pekerjaan clearing yang sudah dilakukan sejak tahun 197...
Candi Tinggi merupakan salah satu candi di Kawasan Cagar Budaya Muarajambi. Yang pertama kali menyebut Candi Tinggi yaitu F.M. Schnitger dalam laporan tahun 1937. Candi Tinggi terletak pada 01°28'33.611 LS dan 103°40'7.311 BT. Luas kompleks Candi Tlnggi 2,92 Ha terdiri dari 1 bangunan induk, 6 bangunan perwara dan pagar keliling. Bangunan induknya telah dipugar berdenah bujursangkar, berukuran 16 m x 16 m dengan tinggi 7,6 m. Pada awalnya bangunan ini dibangun dalam 2 tahap, struktur bangunan yang lebih tua ditemukan masih tetap utuh di bagian dalam bangunan. Bagian penampil dan tangga naik berada di sebelah selatan. Sedangkan bangunan perwara berbentuk bujur sangkar terletak menyebar di timur taut, barat, barat daya, dan selatan dari bangunan induk. Keadaan sekarang dari bangunan tersebut yang tersisa hanya bagian pondasi serta sedikit bagian kaki. Gapura menuju komplek candi terletak di timur dan barat. Candi Tinggi dibatasi...