Benteng Kroonprins Hendrik terletak di dalam kompleks rumah sakit TNI Angkatan Laut kota Tanjungpinang. Dibangun pada tahun 1824 oleh Letnan Zeni Schonermark, peresmian penggunaannya dimulai pada tahun 1825. Sejak saat itu, Benteng Kroonprins Hendrik tetap berfungsi sebagai layaknya benteng pertahanan sejak dari Belanda, Jepang, hingga Indonesia. Benteng Kroonprins Hendrik dibangun di atas sebuah bukit kecil yang tingginya sekitar 190 kaki di atas permukaan laut pada koordinat 0°55’63” LU dan 104°26’35” BT. Bahan baku utama untuk membangun benteng ini adalah batu laterit yang khusus didatangkan dari Melaka. Melihat lokasinya, pembangunan benteng ini dimaksudkan untuk menahan serangan yang datang dari arah laut. Letaknya di sebelah selatan muara sungai Riau berhadapan dengan Pulau Penyengat. Bentuk denah tidak beraturan, namun secara umum bentuknya empat persegi panjang membujur arah Barat-Timur dengan ukuran...
Goncang Kaleng , sebagaimana namanya, memang menggunakan kaleng sebagai penentu permainan dimulai. Kaleng terlebih dulu diisi dengan beberapa butir batu kecil kemudian sisi kaleng yang terbuka ditutup kembali dengan cara dilipat atau dipenyekkan , sehingga kaleng akan berbunyi bilamana ia digoyang atau diguncang. Kaleng yang biasa digunakan adalah kaleng-kaleng yang berbahan logam dengan suara nyaring. Dulu kaleng bekas minuman ringan masih sering digunakan, namun karena kaleng minuman ringan sekarang banyak yang menggunakan bahan alumunium hingga tidak menghasilkan suara cukup nyaring, maka kini anak-anak lebih sering menggunakan kaleng bekas sardin atau kaleng susu seukuran 400 gram. Model permainannya sendiri hampir sama persis dengan Petak Umpet Pemain yang kalah saat Hompimpa atau suit pertama dialah yang akan menjadi kucing atau pencari rekan-rekan lainnya yang bersembunyi disekitar lokasi permainan. Di awal permainan juga biasanya dipilih ketua tikus yang kemampuan lemp...
Es air mata pengantin merupakan Es yang mudah ditemukan apabila kita berkunjung ke Provinsi Riau terutama di pangkalan pinang, Es ini terbuat dari agar-agar aneka rasa atau hanya diberi pewarna dan dikombinasikand engan nata de coco lalu ditaburi dengan selasih. es ini sangat cocok dimakan ketika hari sedang terik atau sebagai teman makan siang. walaupun dimanai es air mata pengantin tapi es ini tak ada hubunganya dengan pengantin, pernikahan atau sejenisnya, penasaran dengan cara membuatnya? simak resepnya berikut ini Bahan-bahan 3 bungkus agar-agar Jelly berbeda rasa dan warna Air secukupnya Gula secukupnya Syrup coco pandan secukupnya Es serut secukupnya 2 sdm biji selasih, rendam air Susu kental manis secukupnya Cara membuat Olah agar-agar sesuai petunjuk dikemasan, rebus bersama gula secukuupnya. lakukan untuk tiga bungkus agar-agar lainya. Serut memanjang agar-agar yang sudah kita buat tadi, sis...
Bahan : 2 ekor ikan asin peda 1 ikat daun singkong, rebus matang, peras airnya 2 lbr daun salam 10 bh cabai rawit hijau 1 bh tomat, iris 4 lbr daun jeruk 1/2 btr kelapa setengah tua, kupas, parung memanjang 2 btg serai, memarkan Bumbu yang dihaluskan : 6 btr bawang merah 2 sdt garam 6 bh cabai merah besar 1 sdt merica bubuk 1 sdm gula merah, sisir 3 siung bawang putih 2 sdt terasi matang Pelengkap : daun pisang dan lidi penyemat Cara membuat : Cuci bersih ikan peda asin, buang kepala dan ambil dagingnya. Campur bumbu yang dihaluskan dengan kelapa parut, aduk rata. Tambahkan irisan tomat dan irisan daun jeruk, aduk rata. Ambil dua lembar daun, tata daun singkong, taruh bumbu kelapa dan daging peda, beri daun salam, serai dan cabai rawit hijau, bungkus lalu kukus selama 20 menit hingga matang, angkat. Sajikan hangat dengan nasi merah atau putih. ...
Upacara Adat Belian Tolak Bala Suku Petalangan Asal-usul Dalam sejarah masyarakat Melayu Riau, Suku Petalangan dikenal sebagai suku yang memiliki banyak adat istiadat. Contohnya adalah upacara belian yang sampai sekarang masih tetap dilestarikan. Upacara ini merupakan ajaran leluhur agar manusia menjaga keseimbangan hidup dengan alam dan makhluk yang terlihat maupun tidak. Upacara ini juga bertujuan agar manusia bersyukur kepada Tuhan atas kesehatan mereka (Nizamil Jamil, dkk, 1987/1988; Budisantoso, 1986). Belian menurut bahasa orang Petalangan diambil dari beberapa arti. Menurut mereka, belian adalah nama kayu yang keras dan tahan lama. Kayu belian ini pada masa lalu biasa digunakan untuk bahan membuat ketobung, yakni gendang untuk mengiringi upacara adat. Kayu ini juga baik untuk bahan membuat bangunan rumah. Menurut kemantan (orang yang dapat berkomunikasi dengan makhluk gaib), kayu belian disebut juga dengan kayu putih sangko bulan yang berarti kayu tempat tingg...
Asal Usul dan Perkembangan Kuantan Singingi adalah sebuah daerah yang secara administratif termasuk dalam Provinsi Riau. Daerahnya banyak memiliki sungai. Kondisi geografis yang demikian, pada gilirannya membuat sebagian besar masyarakatnya memerlukan jalur1 sebagai alat transportasi Kemudian, muncul jalur-jalur yang diberi ukiran indah, seperti ukiran kepala ular, buaya, atau harimau, baik di bagian lambung maupun selembayung-nya. Selain itu, ditambah lagi dengan perlengkapan payung, tali-temali, selendang, tiang tengah (gulang-gulang) serta lambai-lambai (tempat juru mudi berdiri). Perubahan tersebut sekaligus menandai perkembangan fungsi jalur menjadi tidak sekadar alat angkut, namun juga menunjukkan identitas sosial. Sebab, hanya penguasa wilayah, bangsawan, dan datuk-datuk saja yang mengendarai jalur berhias itu. Perkembangan selanjutnya (kurang lebih 100 tahun kemudian), jalur tidak hanya berfungsi sebagai alat transportasi dan simbol status sosial seseorang, tetapi...
Pada masyarakat di Pekanbaru, ibukota Provinsi Riau, ada sejenis permainan yang disebut ali oma. Permainan ini dinamakan ali oma, karena pada waktu melakukannya diiringi oleh nyanyian ali oma. Inti dari permainan ali oma, sebenarnya sama dengan permainan petak umpet yang dimainkan oleh anak-anak yang ada di Jakarta, yaitu mencari tempat persembunyian pemain lain, sambil menjaga “benteng” pertahanannya, agar tidak disentuh atau dipegang oleh pemain lain. Dalam konteks ini, “benteng” adalah sebuah tembok atau batang pohon yang harus dijaga oleh seorang pemain dari “serangan” (sentuhan) pemain yang lain. Konon, pada masa penjajahan Belanda, nama permainan ini bukanlah ali oma, melainkan “main sembunyi-sembunyi”, yang dilakukan oleh anak-anak pada malam hari di sekitar pekarangan rumah. Namun, sejak zaman kemerdekaan nama permainan tersebut disesuaikan dengan kata-kata yang terdapat dalam nyanyiannya, yaitu “Ali Oma&rd...
Kuansing (Kuantan Singingi) adalah sebuah daerah yang secara administratif termasuk dalam Provinsi Riau. Di daerah yang masyarakatnya adalah pendukung kebudayaan Melayu ini ada sebuah permainan yang disebut sebagai tali merdeka. Inti dari permainan ini adalah melompat tali-karet yang tersimpul. Penamaan permainan ini ada kaitannya dengan tingkah laku atau perbuatan yang dilakukan pemain itu sendiri, khususnya pada lompatan yang terakhir. Pada lompatan ini (yang terakhir), tali direnggangkan oleh pemegangnya setinggi kepalan tangan yang diacungkan ke udara. Kepalan tangan tersebut hampir mirip dengan apa yang dilakukan oleh para pejuang ketika mengucapkan kata “merdeka”. Gerakan tangan yang menyerupai simbol kemerdekaan itulah yang kemudian dijadikan sebagai nama permainan yang bersangkutan. Kapan dan dari mana permainan ini bermula sulit diketahui secara pasti. Namun, dari nama permainan itu sendiri dapat diduga bahwa permainan ini muncul di zaman penjajahan. Pem...
Konon, dahulu kala ada seorang Laksamana yang mengamuk di sebuah kebun kuwini/kweni (Mangifera × odorata Griffith) --- sejenis mangga yang memiliki daging buah yang lembut dan aroma yang harum. Ia mengamuk lantaran istrinya dibawa kabur oleh pemiliki kebun tersebut. Untuk melampiaskan amarahnya, sang Laksamana pun menghempaskan pedangnya ke segala arah. Akibatnya, puluhan kuwini pun jatuh ke tanah dan rusak. Sehabis menuntaskan semua amarahnya, sang Laksamana pulang ke rumahnya. Warga yang kala itu takut melihat kemarahan sang Laksamana, tidak berani mendekat. Lalu setelah ia pergi, para warga berbondong-bondong mengumpulkan puluhan kuwini yang jatuh ke tanah. Pada awalnya, mereka sempat bingung, akan diapakan semua kuwini yang telah kumpulkan. Akhirnya, seorang wanita mencampurkan potongan-potongan buah kuwini itu dengan santan dan gula. Kemudian, minuman itu dibagikan untuk warga sekampung. Ternyata orang-orang menyukai rasa minuman tersebut dan dengan segera menyebar...