Ritual
Ritual
Pengobatan Riau Suku Petalangan
Upacara Adat Belian Tolak Bala Suku Petalangan
- 30 Desember 2015

Upacara Adat Belian Tolak Bala Suku Petalangan Asal-usul

Dalam sejarah masyarakat Melayu Riau, Suku Petalangan dikenal sebagai suku yang memiliki banyak adat istiadat. Contohnya adalah upacara belian yang sampai sekarang masih tetap dilestarikan. Upacara ini merupakan ajaran leluhur agar manusia menjaga keseimbangan hidup dengan alam dan makhluk yang terlihat maupun tidak. Upacara ini juga bertujuan agar manusia bersyukur kepada Tuhan atas kesehatan mereka (Nizamil Jamil, dkk, 1987/1988; Budisantoso, 1986). Belian menurut bahasa orang Petalangan diambil dari beberapa arti. Menurut mereka, belian adalah nama kayu yang keras dan tahan lama. Kayu belian ini pada masa lalu biasa digunakan untuk bahan membuat ketobung, yakni gendang untuk mengiringi upacara adat. Kayu ini juga baik untuk bahan membuat bangunan rumah. Menurut kemantan (orang yang dapat berkomunikasi dengan makhluk gaib), kayu belian disebut juga dengan kayu putih sangko bulan yang berarti kayu tempat tinggal jin yang baik (Nizamil Jamil, dkk, 1987/1988).

Kata belian juga dipercaya berasal dari kata bolian yang berarti persembahan. Belian juga dianggap berasal dari kata belian yang berarti budak atau hamba sahaya. Dari arti-arti tersebut, secara umum, upacara belian dapat diartikan sebagai upacara persembahan kepada Tuhan agar diselamatkan dari marabahaya dan mengharap kesembuhan serta perlindungan dari beragam penyakit dan gangguan makhluk gaib yang jahat (Nizamil Jamil, dkk, 1987/1988).  

Berdasarkan arti di atas, upacara belian pada umumnya ditujukan untuk empat hal, yaitu untuk mengobati orang sakit, membantu orang hamil yang dikhawatirkan sulit melahirkan, untuk mengobati kemantan, dan untuk menolak wabah penyakit. Upacara adat belian terdiri dari dua macam, yaitu belian kocik (kecil) atau biaso (biasa) dan belian bose (besar) atau polas (khusus). Belian biaso adalah upacara yang digelar untuk orang hamil yang dikhawatirkan sulit melahirkan. Selain itu, juga untuk orang yang terkena wabah penyakit atau mendapat gangguan binatang buas. Namun, jika upacara belian biaso tidak mampu menyembuhkan penyakit tersebut, barulah diadakan belian bose atau polas (Nizamil Jamil, dkk, 1987/1988). Dengan kata lain, belian biaso dan polas intinya adalah sama, hanya waktu digelarnya saja yang berbeda.

Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Upacara adat belian digelar pada malam hari. Malam dianggap waktu yang tepat untuk bedoa dan memohon kepada Tuhan. Selain itu, pada malam hari biasanya seluruh warga suku dapat berkumpul bersama karena jika siang hari mereka bekerja di hutan.

Upacara ini biasanya digelar di rumah orang yang sakit atau di rumah adat yang besar. Selain itu, pemangku adat dibantu oleh warga akan membuat rumah-rumah kecil didepan rumah tempat upacara sebagai salah satu syarat upacara.   

Pemimpin dan Peserta Upacara

Upacara adat belian dipimpin oleh kemantan atau mantan (orang yang ahli mengobati penyakit). Selain karena ahli, seorang kemantan dipilih karena ia dianggap dapat menjalin komunikasi dengan makhluk gaib. Selama upacara berlangsung, Kemantan akan berhubungan dengan makhluk gaib yang baik dan meminta mereka ikut hadir untuk membantu menyembuhkan penyakit pasien.

Upacara belian biasanya dihadiri oleh seluruh anggota suku atau oleh keluarga yang sakit dan sanak kerabat mereka. Meskipun demikian, upacara adat belian melibatkan warga suku secara keseluruhan karena upacara ini adalah upacara kolektif (bersama).

Peralatan dan Bahan

Upacara adat belian memerlukan beragam alat dan bahan, antara lain:

  • Puan, rangkaian daun kelapa muda (janur) yang dihiasi bunga-bungaan
  • Dame (damar), obor yang terbuat dari damar yang ditumbuk halus
  • Dian, lilin besar yang dibuat dari sarang lebah yang diberi sumbu kain pintal dan dilekatkan pada tempurung kelapa
  • Gonto, genta dari kuningan
  • Pending, kepala ikat pinggang kemantan dari perak atau kuningan
  • Kain kesumbo, kain warna merah untuk tudung kemantan
  • Destar atau tanjak, ikat kepala kemantan
  • Mangkuk putih, tempat meracik limau dan cincin tanda orang minta obat
  • Cincin perak milik orang yang sakit
  • Padi
  • Mayang, daun kepau (sejenis palem)
  • Kayu gaharu untuk dibakar
  • Pisau kecil
  • Ketitipan, berbagai jenis jamur dari pucuk daun kepau
  • Jeruk limau
  • Sanding dan lancang, sejenis perahu yang terbuat dari pelepah kelubi (pohon asam paya)
  • Balai pelesungan, rumah-rumahan tidak beratap dari pelepah kelubi
  • Bokal, sesaji yang dibungkus daun pisang
  • Mondung (ayam)
  • Hidangan yang terdiri dari nasi kunyit, panggang ayam, telur rebus, gulai ayam, dan daging hewan lain
  • Balai induk, bangunan khusus yang dibuat di depan rumah tempat upacara digelar
  • Tikar pandan putih.

Seluruh perlengkapan dan bahandi atas disiapkan oleh dua orang khusus yang disebut tuo longkap dan pebayu. Selain betugas untuk hal itu, pebayu juga bertugas memeriksa semua perlengkapan dan bahan-bahan. Jika belum lengkap, maka pebayu harus mencari kelengkapannya sebelum upacara dimulai. Penyiapan segala perlengkapan danbahan-bahan upacara juga akan dibantu oleh warga suku dan anak.

Proses Pelaksanaan

  1. Persiapan

Persiapan upacara ini dimulai dengan musyawarah antara pemangku adat dengan keluarga pesukuan orang yang akan diobati. Musyawarah dilakukan untuk mencari kesepakatan apakah orang yang sakit tersebut akan diobati menggunakan dengan upacara belian biaso atau bose. Setelah kesepakatan diperoleh, kemudian pemangku adat menyampaikannya kepada monti rajo (pemimpin puncak adat). Setelah itu, diadakan musyawarah lagi yang melibatkan orang-orang tertentu. Musyawarah ini disebut dengan musyawarah sekampung.

Hasil musyawarah sekampung disampaikan kepada tuo longkap yang kemudian akan berunding dengan pebayu untuk menentukan waktu pelaksanaan upacara yang tepat. Setelah ditentukan waktunya, keduanya menyampaikan lagi kepada monti rajo dan kepada desa, lalu mereka bersama-sama pergi ke rumah kemantan. Kemantan lantas menentukan apakah akan diadakan upacara belian biaso atau bose. Lazimnya antara keinginan kemantan, masyarakat, dan pemuka adat tidak ada perbedaan. Setelah itu, baru diumumkan kepada seluruh masyarakat dan mereka akan mengumpulkan biaya dan segala kebutuhan upacara.

Persiapan selanjutnya adalah membersihkan rumah yang akan dijadikan tempat upacara dan memasak hidangan untuk para peserta upacara. Namun, agar tidak memberatkan tuan rumah, biasanya para kerabat yang akan hadir sudah membawa beragam bahan-bahan dapur sesuai kemampuannya, seperti beras, gula, kopi, ayam hidup, ikan, sayur mayur, dan sebagainya.

Persiapan lainnya adalah menentukan siapa-siapa yang akan pergi ke hutan untuk meramu (mengambil) kayu, mencari rotan, pucuk kepau, atau pelepah pohon kelubi. Mereka ini akan dipimpin oleh seorang dukun yang mengetahui mantra kayu, agar nantinya upacara tidak diganggu oleh makhluk gaib yang jahat.

  1.  Pelaksanaan

Saat pagi hari, dengan dipimpin oleh dukun, beberapa orang mengambil kayu di hutan untuk ritual beramu. Kayu dipilih yang batangnya lurus, tidak cacat, bukan kayu tunggal, tidak dipalut akar, tidak dihimpit kayu lain, tidak sedang berbunga atau berbuah, dan tidak ditandai orang lain.

Pertama-tama, sang dukun duduk di dekat pohon sambil membakar kemenyan lalu membaca doa monto kayu atau doa memohon mengambil kayu dari hutan. Setelah itu, kayu baru boleh ditebang dan dibawa pulang untuk dijadikan salah satu syarat upacara.

Saat sore hari, pebayu menyampaikan hajat pengobatan kepada kemantan. Keduanya lalu berbincang sembari makan sirih dan disaksikan oleh orang banyak. Kemantan lalu berdoa dan meminta bantuan doa kepada yang hadir agar nantinya upacara dapat berjalan lancar.

Setelah itu, bujang belian mengambil gendang ketobung. Gendang lalu ditaburi padi, diasapi dengan kemenyan, dan dibacakan mantra dengan tujuan agar dapat mengobati orang sakit. Kemudian, pebayu membaca doa sambil meracik limau dan merendam cincin perak milik orang yang sakit. Ritual ini dibacakan hanya dengan diterangi damar (lilin). Cincin ini nantinya diharapkan dapat menyembuhkan sakit sang empunya. Setelah pebayu selesai membaca doa, dilanjutkan kemantan membaca doa. Hal ini ditujukan agar limau dan cincin semakin mujarab.

Setelah ritual-ritual di atas, upacara belian dimulai dengan membunyikan ketobung. Saat itu, kemantan duduk bersila sambil dikerudungi kain dan membunyikan genta lalumembaca mantra. Selanjutnya, kemantan sujud menyembah ke arah dian sambil membaca mantra.

Seusai bersujud, kemantan berdiri. Pada saat yang sama pebayu menggelar tikar putih. Lalu kemantan berjalan mondar-mandir di atas tikar dan mulai menari sambil melantunkan mantra. Pada saat ini, kemantan berada dalam kondisi kerasukan (trance) akuan (makhluk gaib). Menurut kepercayaan, dalam kondisi kerasukan, kemantan sedang melakukan perjalanan melewati padang, mendaki gunung, dan sebagainya.

Setelah sampai tujuan, kemantan lalu meminta obat secara spiritual sesuai dengan tujuan upacara. Ritual ini dilakukan sambil terus diiringi dengan menari, membunyikan genta, dan mendendangkan mantra. Biasanya kemantan memberi kode tertentu kepada pebayu agar membawa orang yang sakit ke tengah ruangan, lalu kemantan akan mulai mengobati dengan membacakan mantra atau meminumkan ramuan yang telah diberi doa.

Setelah pengobatan selesai, proses selanjutnya adalah mengantarkan persembahan kepada akuan yang telah memberikan obat. Persembahan diberikan dengan cara dibawa sambil menari, lalu kemantan dan pebayu saling berdialog seakan berdialog dengan akuan. Ritual ini biasanya memakan waktu lama karena banyaknya dialog, salah satunya menanyakan kepada akuan apakah dirinya menerima persembahan tersebut.

  1. Penutup

Tahap terakhir adalah kemantan mengambil perapian dengan mengusapkan kemenyan ke wajahnya dan mengelilingi asapnya. Ritual ini adalah untuk mengembalikan kesadaran kemantan. Dengan ritual ini upacara belian dianggap selesai.  

 

Pantangan atau Larangan

Upacara ini memiliki pantangan dan larangan yang harus dihindari, antara lain:

  • Upacara tidak boleh digelar pada siang hari;
  • Upacara tidak boleh digelar dalam bulan puasa, kecuali untuk menolak wabah penyakit ganas atau binatang buas yang tiba-tiba mengamuk;
  • Upacara tidak boleh digelar pada malam Hari Raya Idul Fitri atau Idul Adha.

Nilai-nilai

Upacara adat belian memuat nilai-nilai kehidupan yang positif, antara lain sebagai berikut:

  • Kebersamaan. Nilai ini tercermin dari perayaan upacara yang dipersiapkan dan digelar secara kolektif. Pola kerja seperti ini penting karena bersentuhan langsung dengan aspek ekonomi. Nilai ini juga tercermin ketika seluruh masyarakat hadir bersama-sama menuju tempat ritual. Mereka mengikuti ritual bersama secara khidmat sambil membaca doa. Suasana ini tentu saja semakin menguatkan rasa solidaritas bersama sebagai satu suku.
  • Sakralitas. Nilai ini tercermin dalam berbagai ritual dan bacaan doa yang membutuhkan konsentrasi, ketenangan jiwa, dan keikhlasan seluruh peserta upacara. Hal ini tampak pada saat pelaksanaan ritual pembacaan mantra oleh kemantan, persembahan untuk akuan, dan ritual meminta obat. Suasana semakin terasa sakral ketika kemantan dalam kondisi trance sambil menari membaca mantra dan dalam bau kemenyan. Dalam suasana itu, masyarakat tampak pasrah kepada Yang Maha Kuasa dengan mengharap obat yang diberikan melalui akuan.
  • Peduli terhadap lingkungan. Orang Petalangan tampaknya sangat menyadari bahwa alam perlu dijaga keseimbangannya. Penyakit yang mereka alami dipercaya sebagai indikasi saatnya mereka menyeimbangkan kembali hubungan mereka dengan alam sekitar dan makhluk yang ada di dalamnya. Oleh karena itu, upacara ini dilengkapi dengan syarat-syarat yang diambil dari hutan dan berhubungan dengan akuan (makhluk gaib).
  • Pelestarian tradisi leluhur. Upacara adat belian yang digelar merupakan ajaran peninggalan leluhur. Dalam konteks ini, maka penyelenggaraan upacara ini merupakan upaya dalam menjaga dan melestarikan tradisi nenek moyang.

Sumber : http://melayuonline.com/ind/culture/dig/2678/

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Bekam Bali
Permainan Tradisional Permainan Tradisional
Bali

Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...

avatar
Marco20
Gambar Entri
Bekam Bali
Pengobatan dan Kesehatan Pengobatan dan Kesehatan
Bali

Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...

avatar
Marco20
Gambar Entri
Negeri antara: Jejak Putro aloh dan Manusia Harimau
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Aceh

NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...

avatar
Mahlilazmi_02
Gambar Entri
Genggong
Alat Musik Alat Musik
Bali

Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.

avatar
Yogaxd
Gambar Entri
Dari Rendang Hingga Gudeg: 10 Mahakarya Kuliner Indonesia yang Mengguncang Lidah
Makanan Minuman Makanan Minuman
DKI Jakarta

1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...

avatar
Umikulsum