Alkisah, beberapa abad yang lalu, di sebuah daerah di pesisir Riau, hiduplah seorang pemuda miskin yang bernama Awang Garang. Kegiatan sehari-harinya menangkap ikan di karang pantai. Sejak kecil, ia bercita-cita ingin menguasai laut. Untuk meraih cita-citanya itu, ia rela menjadi tukang masak pada sebuah kapal layar, meskipun tidak dibayar, agar dapat ikut berlayar mengarungi selat dan lautan di sekitar Kepulauan Segantang Lada. Sifatnya yang rajin, membuat para Datuk dan Batin sayang kepada Awang Garang. Ia bahkan dipercaya menjadi pembantu tukang kapal. Suatu hari, Sultan Riau memerintahkan para Datuk dan Batin untuk membuat penjajap. Pembuatan penjajap itu Sultan mempercayakannya kepada tujuh Datuk dan Batin di Temiang, Moro Sulit, Sugi, Bulang, Pekaka, Sekanan, dan Mepar. Tidak ketinggalan pula Awang Garang dalam kegiatan itu. Tempat pembuatannya disepakati bersama di sebuah pulau antara Bulang Rempang dan Bintan. Sudah tiga bulan pembuatan kapal...
Alkisah , pada zaman dahulu kala, di daerah Pelalawan, Riau, hiduplah sepasang suami istri dengan seorang anak laki-lakinya yang bernama Bujang. Hidup mereka sangat miskin. Meskipun hidup miskin, keduanya sangat sayang terhadap anak semata wayangnya. Mereka berharap dan selalu berdoa kepada Tuhan agar anak tunggalnya itu kelak menjadi anak yang shaleh, berbudi luhur, berilmu pengetahuan dan berguna bagi masyarakat. Untuk mencapai tujuan yang mulia itu, orang tuanya telah bertekad bekerja keras mencari rezeki yang halal sebagai modal untuk mendidik si Bujang. Setiap hari sang Ayah pergi ke ladang dan mencari ikan di sungai. Hasilnya ia jual ke desa-desa tetangga. Meskipun harus berjalan berhari-hari dengan membawa beban berat, sang Ayah tidak pernah mengeluh atau merasa lelah demi kebahagiaan anaknya. Uang hasil penjualannya tersebut, ia tabung sedikit demi sedikit. Ia sendiri hidup sangat hemat. Makan dan berpakaian seperlunya saja. Ia selalu berdoa kepada Tuhan...
Alkisah, pada zaman dahulu kala, di Tanah Melayu hiduplah seorang nelayan tua yang bernama Awang Gading. Ia tinggal seorang diri di tepi sungai. Pekerjaannya sehari – hari adalah menangkap ikan dan terkadang ia pergi ke hutan untuk mencari kayu. “Air pasang telan ke insang Air surut telan ke perut Renggutlah…! Biar putus jangan rabut,” Itu adalah kata – kata yang ia sering ucapkan sewaktu sedang memancing ikan. Suatu hari di waktu Ia sedang memancing dan tidak menemukan seekor ikan sama sekali. Di waktu perjalanan pulang Ia mendengarkan seorang bayi yang sedang menangis. Karena rasa penasaran ia mencari dari mana suara itu berasal?..Tak lama mencari, ia pun menemukan bayi perempuan yang mungil tergolek di atas batu. Tampaknya bayi itu baru saja dilahirkan oleh ibunya. karena rasa iba, dibawanya bayi itu pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumahnya Awang Gading memberi nama bayi itu Dayang Kumunah. Dengan bahagia A...
kalau menebang kalau menebang si pohon jati.. papan di jawa dibelah belah papan di jawa dibelah belah kalaulah hidup kalaulah hidup tidak berbudi umpama pokok tidak berbuah aduhai syg tidak berbuah bunga selasih bunga selasih si bunga padi tumbuhlah mekar didlm taman tumbuhlah mekar didlm taman pertama kasih pertama kasih kedua budi yg mana satu nk kuturutkan aduhai syg nk kuturutkan bungalah padi bungalah padi bunga kiambang buat hiasan ditaman bunga buat hiasan ditaman bunga buahlah hati buahlah hati kekasih orang hamba menumpang gembira saje aduhai sayang gembira saje tenanglah tenang tenanglah tenang air dilaut hai sampan kole mudik ketanjung hai sampan kole mudik ketanjung hati terkenang hati terkenang mulut menyebut budi yang baik saye nk junjung aduhai sayang saye nk junjung Sumber: http://www.lagu-daerah.com/2015/06/lirik-lagu-daerah-riau-dan-kepulauan_8.html
Ke mane ya' si dare sibarang Pulau lah Bintan .. ala sayang Lautnya biru .. alahai adek Pulau Penyengat .. ala sayang Jelas melintang ... Hati ku bimbang .. ala sayang Bertambah rindu .. alahai adek Semakin diingat .. ala sayang Semakin bimbang... Hiu-hiu dilautan biru Beranaklah due.. Ala sayang Hatiku rindu... Ape lah obatnye Hiu-hiu dilautan biru Beranaklah due.. Ala sayang Hatiku rindu ... Apelah obetnye ... Pulau lah Bintan ... ala sayang Gunungnya tinggi ... alahai adek Tempat semayam ... ala sayang Pahlawan Melayu... Sudah kutimbang ... ala sayang Didalam hati .. alahai adek Tuan seorang ... ala sayang Penawar Rindu... Hiu-hiu dilautan biru Beranaklah due ... ala sayang Hatiku rindu ... Apelah obatnye ... Hiu-hiu dilautan biru Beranaklah due ... ala sayang Hatiku rindu ... Apelah obatnye ... Sumber: http://www.lagu-daerah.com/2015/06/lirik-lagu-daerah-riau-dan-kepulauan_8.html
Zapin......, aku dendangkan.. Lagu Melayu.. Pelipur hati...... Peli..pur lara... Cahaya manis, kilau gemilau Di kamtung Tapir, indah menawan Aku bernyanyi berzapin riang Moga hadirin, aduhai sayang jadi terkesan Kembanglah goyang atas kepala Lipatlah panan, sanggul di padu Kita berdendang bersuka ria Lagulah zapin aduhai sayang, rentak Melayu Laksmana raja di laut Bersemayam di bukit batu Ahai hati siapa, ahai tak terpaut Mendengar lagu zapin Melayu Laksmana raja di laut Bersemayam di bukit batu Ahai hati siapa, ahai tak terpaut Mendengar lagu zapin Melayu Membawa tepak, hantaran belanja Bertatah perak indah berseri Kami bertandak menghidup budaya Tidak Melayu, aduhai sayang hilang di bumi Pekinglah gambus sayang, langgam berbunyi Di sambut dengan tengkah meruas Saya menyanyi sampai disini Mudah-mudahan hadirin semua menjadi puas Laksmana raja di laut Bersemayam di bukit batu Ahai hati siapa, ahai tak t...
ocu maantau ka nagoghi ughang ocu tinggekan anak jo bini mangadu nosib kanagoghi ughang doakan ocu salamat di jalan adiok nan sayang ocu tinggekan jan la adiok manghaso come doakan ocu copek pulang doakan ocu salamat di jalan ocu maantau diok kanagoghi ughang elok-elok la kau di umah ocu maantau diok kanaghoghi ughang jan omuo kau lolok batandang Sumber: http://www.lagu-daerah.com/2015/06/lirik-lagu-daerah-riau-dan-kepulauan_8.html
Setelah melalui proses yang cukup panjang , dimulai dari Merisik hingga ke Pertunangan, maka kemudian dilanjutkan dengan acara perkawinan. Dalam adat melayu Riau Prosesi Perkawinan sangat banyak kita jumpai dan bahkan berbeda-beda, Melayu Indragiri (Rengat), Kampar, Kuantan Singingi, ataupun melayu Siak, Bengkalis, upacara perkawinan ini dianggap amat sakral bahkan tidak boleh ada satupun rangkaian prosesi adat yang terlewatkan. Berikut Prosesi Adat Melayu Riau dalam perkawinan pada umumnya : Menggantung-gantung Pengantin ibarat raja dan ratu sehari, maka untuk keduanya disiapkan pelaminan yang megah bak singgasana. Acara mengantung-gantung diadakan beberapa hari sebelum perkawinan atau persandingan dilakukan. Bentuk kegiatan dalam upacara ini biasanya disesuaikan dengan adat di masing-masing daerah yang berkisar pada kegiatan menghiasi rumah atau tempat akan dilangsungkannya upacara pernikahan, memasang alat kelengkapan upacara, dan sebagainya. Yang termasuk dalam kegiata...
Daik Lingga merupakan Ibu Kota Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau. Kabupetan termuda di Indonesia yang dijuluki ‘Si Bungsu” ini juga disebut sebagai “Bunda Tanah Melayu”. Selain itu, Daik Lingga juga merupakan salah satu kota bersejarah di Indonesia. Dahulu, Daik pernah menjadi pusat kerajaan Riau-Lingga hampir seratus tahun lamanya. Selama periode itu, tercatat sejumlah raja yang pernah memerintah di kerajaan itu. Menurut catatan sejarah, raja-raja yang pernah memerintah di antaranya, • Sultan Ambdurrahman Syah (1812-1832), • Sultan Muhammad Syah (1832-1841), • Sultan Muhammad Muzafar Syah (1841-1867), • Sultan Badrul Alam Syah II (1857-1883), dan • Sultan Abdurrahman Muazzam Syah (1883-1911). Menurut cerita rakyat yang berkembang di kalangan masyarakat Daik Lingga bahwa kerajaan Daik Lingga masyhur pada saa...