Anggang adalah burung yang terdapat dipulau Kalimantan, masyarakat Dayak menyebutnya Tingang, ia bagai metafora dalam kehidupan dipedalaman Kalimantan, sebab mampu menjadi argumen yang mendunia, burung Anggang atau Tingang bahkan mempunyai kekuatan spiritual yang kharismatik, seakan semua roh menyatu dalam kegagahannya. Ia juga menjadi ikon dan idiom serta representasi kedayakan dan kekalimantanan. Pesona Anggang melekatkan estetik dan spirit yang tinggi bagi geliat kehidupan masyarakat Kalimantan. Kegagahan postur tubuhnya yang anatomis dengan keelokan bentuk dan kombinasi warna yang harmonis menjadikan Anggang sebagai burung dewa bagi masyarakat Dayak. Oleh : Koeshondo W. Widjojo (penggiat bilik pendidikan pedalaman Kalimantan)
Adalah tarian masyarakat adat Dayak yang sangat dinamik dan penuh dengan ritmik yang estetik, seolah tarian mereka benar-benar melebur dengan kedalaman jiwa dan menyatu dengan kehadiran roh nenek moyang. Oleh : Koeshondo W. Widjojo (penggiat bilik pendidikan pedalaman Kalimantan)
Beberapa karya rupa suku dayak yang sudah popular, sebut saja Mandau merupakan senjata tradisional ala suku Dayak. Berbentuk mirip pedang namun tidak begitu panjang. Dulu nya mandau digunakan untuk berperang. Bahkan ada beberapa sub etnis Dayak menganggap mandau adalah benda yang sakral dan magis. Tak sembarang orang boleh memiliki mandau. Bahkan mandau yang telah dikeramatkan oleh si empu nya, tidak boleh dilepaskan dari kumpang nya secara sembarangan. Namun ada beberapa sub etnis Dayak yang melengkapi mandau nya dengan berbagai mantra dan racun, hal ini dimaksudkan agar mandau semakin kuat dan sakti Adan juga Tameng, yang merupakan alat perisai sebagai pelengkap dalam perang. Guna nya untuk melindungi tubuh dari serangan lawan. Tameng terbuat dari kayu. Biasanya tameng diberi motif berukir yang sangat etnik, dan menarik, Kemudian Tato (Parung atau Betik), Secara religius tato bagi masyarakat Suku Dayak pada umumnya, merupakan sebuah lentera yang akan menerangi perjalanan hidup...
Kain Sasirangan Kain Sasirangan merupakan kain adat suku Banjar di Kalimantan Selatan yang diwariskan secara turun temurun sejak abad XII, saat Lambung Mangkurat menjadi Patih Negara Dipa. Cerita yang berkembang di masyarakat Kalimantan Selatan adalah bahwa kain Sasirangan pertama kali dibuat oleh Patih Lambung Mangkurat setelah bertapa 40 hari 40 malam di atas rakit Balarut Banyu. Menjelang akhir tapanya, rakitnya tiba di daerah Rantau kota Bagantung. Di tempat ini, ia mendengar suara perempuan yang keluar dari segumpal buih. Perempuan itu adalah Putri Junjung Buih, yang kelak menjadi Raja di daerah ini. Sang Putri hanya akan menampakkan wujudnya jika permintaannya dikabulkan, yaitu sebuah istana Batung dan selembar kain yang ditenun dan dicalap (diwarnai) oleh 40 putri dengan motif wadi/padiwaringin sebagai syarat ketika ia akan menggelar acara perkawinan agung dengan Pangeran Suryanata, pendiri dinasti pertama Negara Dipa. Awalnya sasirangan dikenal sebagai kain untuk &ld...
Musik Panting adalah musik tradisional dari suku Banjar di Kalimantan Selatan. Disebut musik Panting karena didominasi oleh alat musik yang dinamakan Panting, sejenis gambus yang memakai senar (panting) maka disebut musik Panting. A. Sejarah Pada awalnya musik Panting berasal dari daerah Tapin, Kalimantan Selatan. Panting merupakan alat musik yang dipetik yang berbentuk seperti gambus Arab tetapi ukurannya lebih kecil. Pada waktu dulu musik panting hanya dimainkan secara perorangan atau secara solo. Karena semakin majunya perkembangan zaman dan musik Panting akan lebih menarik jika dimainkan dengan beberapa alat musik lainnya, maka musik panting sekarang ini dimainkan dengan alat-alat musik seperti babun, gong,dan biola dan pemainnya juga terdiri dari beberapa orang. Nama musik panting berasal dari nama alat musik itu sendiri, karena pada musik Panting yang terkenal alat musiknya dan yang sangat berperan adalah Panting, sehingga musik tersebut dinamai musik panting. Orang yang p...
Sebagaimana sukubangsa lainnya, orang Banjar juga mengetahui persis tentang alam flora yang ada di sekitarnya dan pemanfaatannya dalam kehidupan mereka. Mereka tidak hanya tahu berbagai jenis tumbuhan (pohon) yang dapat dijadikan bahan bangunan, tetapi juga tahu persis berbagai jenis tumbuhan yang dapat dijadikan sebagai penyembuh (obat) penyakit tertentu, seperti: terkena benda tajam, tumpul dan atau lancip, tergigit serangga, gatal-gatal, dan berbagai penyakit luar lainnya. Jenis-jenis Tumbuhan dan Khasiatnya Jenis-jenis tumbuhan yang dapat dijadikan sebagai obat untuk menyembuhkan penyakit seperti: tahiris, lecet-lecet, memar, disengat kalajengking, tertusuk duri, disengat ulat bulu, bisul, barah, digigit buntal, luka bakar, dan bercak hitam adalah: daun pisang, karet, kelapa, lada, pepaya, kunyit, mentimun, pala, akar patintin, daun sirih, keladi lumbu, bulu kucing, daun turi, bawang merah, kumpai maling, asam jawa, dan lain sebagainya. Adapun cara pengobatannya ada...
Selamat datang lagi para pecinta kuliner dimanapun kalian berada.. kali ini kita akan membahas makanan yang sangat langka, makanan ini hanya ada Kalimantan Selatan tepatnya di daerah Banjar…Mungkin Bagi orang Indonesia buah cempedak tidak akan terdengar asing ketika mendengar nama buah yang satu ini, tapi bagi sebagian orang yang tinggal di wilayah Bali dan Lombok mungkin juga sebagian daerah Jawa tidak akan tahu seperti apa bentuk buah dan rasa cempedak. Tetapi Bagi masyarakat Kalimantan, khususnya masyarakat Banjar, Mandai terdengar tidak asing dan bahkan sangat terkenal. Mandai adalah sebutan untuk kulit cempedak yang sudah melalui proses fragmentasi. Masakan olahan yang bahan utamanya adalah kulit cempedak ini bisa dijadikan lauk menemani makanan utama seperti nasi, rasanya sangat nikmat dengan tekstur berserat serta lembut, kelembutannya tergantung seberapa lama kulit cempedak di rendam. Pembuatan Mandai tidak terlalu sulit, berikut adalah tahap-tahap p...
Merupakan masakan khas yang berasal dari Suku Banjar di provinsi Kalimantan Selatan. Pekasam dibuat dari fermentasi ikan air tawar yang mempunyai cita rasa masam yang khas. Makanan ini sangat terkenal di Kalimantan Selatan. Pekasam biasanya dibumbui lagi dengan cabai dan gula, saat akan disajikan sebagai lauk pendamping nasi. Di beberapa daerah ada juga yang menyebut makanan ini dengan nama Iwak Samu . Pakasam terkenal sebagai masakan khas adat di Hulu Sungai Tengah (HST). Sentra pembuatan Pakasam yang terkenal adalah desa Mahang Sungai Hanyar, kecamatan Pandawan. Karena itu, Pakasam dari HST sering pula disebut Pakasam Mahang hal ini merujuk pada nama daerah penghasilnya. Proses frementasi ikan dilakukan dengan cara melumuri ikan dengan garam. Ikan selanjutnya diperam atau disimpan beberapa hari, lalu dicampur dengan taburan beras ketan yang telah digoreng. Ikan yang akan dijadikan Pakasam bisa jenis apa saja. Namun yang paling sering digunakan adalah anakan ikan dan ikan...
Wadi merupakan masakan khas bag masyarakat Borneo, Suku Dayak, Banjar, Kalimantan Selatan. Wadi sebenarnya bukan merupakan nama makanan namun proses pembuatan dari makanan yaitu pengawetan ikan. Ikan yang biasa digunakan adalah ikan sungai atau papuyu dan sejenisnya. Setelah diawetkan dengan bumbu – bumbu secukupnya, ikan kemudian dapat diolah sesuai dengan selera. Samu sendiri merupakan sebuah nama sejenis kue beras yang sudah diolah. Masyarakat biasa menyebutnya kue dua jari. Resep Wadi Samu : Bahan: 500 gram ikan papuyu atau ikan sungai Bahan pelengkap 1 genggam kue dua jari Bumbu Garam secukupnya Gula pasir secukupnya Bahan sayur Bawang merah secukupnya, iris – iris Bawang putih secukupnya, iris – iris Air secukupya Garam secukupnya Gula pasir secukupnya Penyedap rasa secukupnya Cabai rawit utuh secukupnya Daun singkong secukupnya, rebus ...