Sebagaimana sukubangsa lainnya, orang Banjar juga mengetahui persis tentang alam flora yang ada di sekitarnya dan pemanfaatannya dalam kehidupan mereka. Mereka tidak hanya tahu berbagai jenis tumbuhan (pohon) yang dapat dijadikan bahan bangunan, tetapi juga tahu persis berbagai jenis tumbuhan yang dapat dijadikan sebagai penyembuh (obat) penyakit tertentu, seperti: terkena benda tajam, tumpul dan atau lancip, tergigit serangga, gatal-gatal, dan berbagai penyakit luar lainnya.
Jenis-jenis Tumbuhan dan Khasiatnya
Jenis-jenis tumbuhan yang dapat dijadikan sebagai obat untuk menyembuhkan penyakit seperti: tahiris, lecet-lecet, memar, disengat kalajengking, tertusuk duri, disengat ulat bulu, bisul, barah, digigit buntal, luka bakar, dan bercak hitam adalah: daun pisang, karet, kelapa, lada, pepaya, kunyit, mentimun, pala, akar patintin, daun sirih, keladi lumbu, bulu kucing, daun turi, bawang merah, kumpai maling, asam jawa, dan lain sebagainya. Adapun cara pengobatannya ada yang dikunyah, ditumbuk, direbus, dan dipanggang kemudian dioleskan pada anggota tubuh yang terluka (sakit). Berikut ini adalah berbagai tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai obat suatu penyakit dan caranya mengobatinya.
1. Daun Pisang
Pucuk daun pisang yang belum mekar (masih kuncup) dapat digunakan untuk mengobati tahiris (luka teriris). Caranya, pucuk daun pisang yang masih kuncup dipotong secukupnya (beberapa cm). Kemudian, dikunyah sampai lumat. Setelah itu, ditempelkan pada bagian yang luka dan dibalut dengan kain bersih. Jika keesokan harinya ternyata luka belum mengering, maka cara yang sama diulangi lagi. Demikian seterusnya sampai luka karena teriris menjadi kering (sembuh).
2. Pohon Para (Karet)
Pohon para jika dibakar biasanya akan mengeluarkan buih. Buih ini sangat berguna untuk mengobati lingsak (lecet-lecet). Caranya, buih tersebut dioleskan pada bagian yang lecet. Pengobatan dilakukan sehari sekali pada pagi hari sampai luka lecet sembuh.
3. Daging Buah Kelapa
Daging buah kelapa dapat digunakan sebagai obat mamar (memar). Caranya, daging buah kelapa itu diparut (dilembutkan) kemudian diberi sedikit cuka. Setelah itu, dioleskan pada bagian yang memar.
4. Lada atau Merica
Lada atau merica dapat digunakan untuk mengobati luka akibat diigut kala (disengat kalajengjing). Caranya lada atau merica itu ditumbuk sampai halus. Kemudian, ditaruh di dalam piring atau mangkok, lalu diberi sedikit minyak kelapa. Setelah itu, digosokkan pada bagian yang tersengat kalajengking. Sisanya ditempelkan ke bagian yang luka itu sampai kering.
5. Kustela (Papaya)
Kustela dapat digunakan untuk mengobati orang yang tacucuk duri (tertusuk duri). Caranya kastela yang masih muda disayat. Biasanya akan mengeluarkan getah. Getah inilah yang kemudian dioleskan pada bagian yang tertusuk duri.
6. Kunyit
Kunyit dapat digunakan untuk mengobati orang yang disengat hulat bulu (ulat bulu). Caranya, kunyit ditumbuk bersama kapur sirih sampai halus. Kemudian, dibungkus dengan daun pisang dan dipanaskan, sehingga menyerupai pepes ikan. Setelah agak hangat, bungkusnya dibuka, kemudian diambil isinya, dan ditempelkan pada bagian yang tersengat ulat bulu.
7. Pala dan Bilungka (Mentimun)
Pala dan mentimun dapat digunakan untuk mengobati orang yang lehernya terkena bakatak (bisul). Caranya, buah pala dan mentimun dilembutkan (diparut), kemudian di dibungkus dengan daun pisang dan dipanggang (dipepes). Setelah agak hangat, diambil isinya kemudian ditempelkan pada leher yang terkena bisul.
8. Akar Patintin dan Daun Sirih
Akar Patintin dan daun sirih adalah bahan untuk membuat ramuan obat penyakit yang disebut sebagai barah, yaitu suatu penyakit yang mirip dengan bisul, namun benjolannya lebih besar. Caranya, akar patintin, daun sirih, dan kapur sirih ditumbuk sampai halus. Kemudian, dimasukkan ke dalam mangkuk dan dicampur dengan madu secukupnya. Setelah tercampur rata, maka dioleskan pada barah (sehari dua atau tiga kali).
9. Keladi Lumbu dan Bulu Kucing
Keladi lumbu dan bulu kucing dapat digunakan sebagai bahan untuk mengobati orang yang terkena igutan buntal (digigit sejenis binatang pemakan daging yang hidup di sungai-sungai di daerah Banjar (Kalimantan Selatan). Caranya, jika menggunakan keladi lumbu (sejenis tumbuhan talas yang tidak berumai dan tidak dapat dimakan), adalah dengan memotongnya. Biasanya akan keluar getahnya. Getah itulah yang kemudian dioleskan pada bagian tubuh yang terkena gigitan buntal. Sedangkan, jika menggunakan bulu kucing, maka bulu kucing tersebut dicampur dengan kopi rabuk. Kemudian, campuran tersebut ditaburkan pada bagian tubuh yang terkena gigitan buntal.
10. Daun Lowa dan Bandayang Nyiru
Daun lowa dan bandayang nyiru adalah jenis tumbuhan yang dapat digunakan untuk mengobati orang yang terkena luyuh (luka bakar). Caranya (jika menggunakan daun lowa), pucuk daun tersebut dikunyah sampai lembut (lumat). Setelah itu, ditempelkan pada bagian tubuh yang terkena luka bakar. Sedangkan, sisanya dapat disimpan yang ditempat yang kering untuk dioleskan kembali pada hari berikutnya (keesokan harinya). Selanjutnya, jika menggunakan bandayang nyiru (dahan kelapa kering), adalah dengan memotong-motongnya, kemudian dibakar dan abunya dikumpulkan. Abu itulah yang kemudian ditaburkan ke bagian tubuh yang terkena luka bakar.
11. Daun Turi
Daun turi dapat dijadikan sebagai bahan (obat) untuk menghilangkan bercak hitam yang diakibatkan luka bakar. Caranya, daun tersebut ditumbuk sampai lumat kemudian dioleskan pada bagian tubuh (kulit) yang mempunyai bercak hitam. Sehari dapat dilakukan dua atau tiga kali. Demikian seterusnya sampai bercak hitam menjadi hilang.
12. Kumpai Maling dan Bawang Merah
Kumpai maling (rumput liar yang tumbuh di sela-sela tanaman peliharaan) dan bawang merah adalah dua jenis tumbuhan yang dapat dijadikan sebagai bahan dalam pengobatan orang yang terkena benda tajam. Jika menggunakan kumpai maling, maka caranya adalah dengan menumbuknya (seperlunya) sampai lumat. Setelah itu, ditempelkan pada bagian yang terkena benda tajam (luka). Sedangkan, jika menggunakan bawang merah, maka bawang merah tersebut (ditambah dengan gula pasir) juga ditumbuk sampai halus. Kemudian, ditempelkan pada bagian yang luka.
13. Asam Kamal (Asam Jawa)
Asam kamal dapat dijadikan sebagai obat untuk menyembuhkan orang yang disengat halilipan (kelabang)1). Caranya, asam kamal (bijinya) itu ditumbuk sampai lembut, kemudian digosokkan pada bagian yang tersengat.
14. Bunga Melati dan Kustela
Bunga melati dan kustela2) adalah dua jenis tumbuhan yang dapat digunakan sebagai bahan (obat) untuk menyembuhkan orang yang tersengat serangga. Serangga yang dimaksud di sini adalah: kayakih (sejenis semut besar), halimbada (sejenis ulat berbisa), wanyi, kalalaput, naning dan tambunan (sejenis lebah). Jika menggunakan bunga melati, caranya adalah dengan meremasnya hingga lumat (basah), kemudian diusapkan pada bagian yang terkena sengatan. Jika menggunakan kustela, caranya kustela tersebut disayat sampai mengeluarkan getah. Getah itulah yang kemudian dioleskan pada bagian yang tersengat.
15. Cabai, Pinang dan Sirih, Keminting (Kemiri) dan Janur, Jalantang (Rumput Gatal) dan Kaladi
Berbagai jenis tumbuhan ini dapat digunakan menyembuhkan penyakit gatal-gatal3). Jika menggunakan cabai, pinang, dan sirih, maka caranya ketiga jenis tumbuhan ini ditumbuk sampai halus lalu dibungkus dengan kain. Bungkusan yang berisi ramuan obat untuk menyembuhkan gatal-gatal ini oleh masyarakat Banjar disebut jajarangan. Setelah itu, direbus dengan air secukupnya hingga mendidih. Selanjutnya, jajaran yang masih panas itu dikompreskan pada bagian tubuh yang gatal. Hal tersebut dilakukan berulang-ulang hingga gatalnya hilang. Jika menggunakan menggunakan biji keminting dan janur, maka caranya adalah dengan memanggangnya, kemudian menumbuknya sampai halus. Setelah itu, dioleskan pada bagian yang gatal. Jika menggunakan kaladi, maka caranya adalah dengan memotong batangnya kemudian memanggangnya. Ketika sudah panas segera diusapkan pada bagian yang gatal secara berulang-ulang hingga hilang rasa gatalnya. Jika menggunakan jalatang, maka caranya dengan menggosok-gosokkan daun tersebut pada bagian yang gatal. Sedangkan, jika menggunakan akar tuba, maka caranya adalah dengan menumbuknya hingga keluar getahnya. Getah itulah yang kemudian dioleskan pada bagian tubuh yang gatal.
16. Patintin, Rumbia, Lumut Batang, Lengkuas, Sirih, Kamboja dan Bawang Putih
Berbagai jenis tumbuhan tersebut di atas, oleh orang Banjar, dapat digunakan untuk menyembuhkan penyakit bisul. Jika menggunakan patintin, maka caranya adalah dengan mengambil akarnya kemudian dibersihkan, lalu direndam dengan air selama dua atau tiga jam. Setelah itu, disaring dengan kain kemudian diminum. Jika menggunakan rumbia, maka pelepahnya dipotong sehingga mengeluarkan getah. Getah tersebut kemudian ditampung dalam sebuah mangkuk atau piring kecil dan dicampur kapur sirih secukupnya. Setelah tercampur rata, maka dioleskan pada bisul. Jika menggunakan lumut batang, maka caranya adalah dengan menumbuk lumut batang tersebut hingga lumat kemudian melumurkannya pada sekeliling bisul (mata bisul dibiarkan terbuka). Setelah pecah, bisul itu dipupuri dengan pupur dingin yang dicampur dengan garam agar bisul tersebut cepat kering. Jika menggunakan lengkuas, maka lengkuas ditumbuk bersama garam hingga halus, kemudian dibungkus dengan daun nangka dan dibakar hingga menjadi abu. Abu sisa ramuan lasu dan garam tersebut dioleskan pada mata bisul. Jika menggunakan sirih, maka ujung tangkai sirih ditumbuk hingga pecah (seperti kuas), lalu dicelupkan pada minyak kelapa dan dibakar. Jika ramuan itu sudah dingin, barulah dioleskan pada bisul. Jika menggunakan daun kamboja dan minyak kelapa, maka caranya adalah mencelupkan daun itu pada minyak kelapa yang telah ditaruh di dalam mangkuk. Ketika daun sudah lemas, maka ditempelkan pada bisul. Selanjutnya, jika menggunakan bawang putih, maka caranya adalah dengan mengupas kulitnya, kemudian menggosokkannya pada bisul yang baru tumbuh.
Sumber:
Aziddin, Yustan, dkk. 1990. Pengobatan Tradisional Daerah Kalimantan Selatan. Banjarmasin: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Melalatoa, J. 1995. Ensiklopedi Sukubangsa di Indonesia. Jilid A--K. Jakarta. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara