Simirante namenye sungai Tampat urang dolo belari Jaman Jappang nang nyarang Nagri ki sinnun di ramai orang paggi Munsem Jappang munsem parrang Munsem lapar mbarraskan sago' Ussah age' na' tiulang munsem itto' Kitte dah tannang Simirante namenye sungai Anak dari sungai Tibarran Simirante jassemu bassar Tampat urrang kinni nanam padi Sumber: http://www.lagu-daerah.com/2015/06/lirik-lagu-daerah-kalimantan-barat.html
Alkisah, di atas Gunung Kujau yang hijau dan sejuk di daerah Kalimantan Barat, hiduplah sepasang suami-istri dengan keenam anaknya. Sang suami bernama Sabung Mengulur, sedang istrinya bernama Pukat Mengawang. Keenam anaknya yaitu berturut-turut dari yang sulung ke yang paling bungsu adalah Belang Pinggang, Suluh Duik, Buku Labuk, Terentang Temanai, Putung keempat, dan Bui Nasi. Dari keenam bersaudara tersebut, hanya Putung Kempat yang perempuan. Sebenarnya, Sabung Mengulur dan istrinya mempunyai seorang lagi anak laki-laki yang bernama Pulung Gana, namun anak itu meninggal ketika masih kecil. Untuk menghidupi keenam putra-putrinya, Sabung Mengulur dan istrinya bercocok tanam di ladang. Suatu ketika, Sabung Mengulur mendapat firasat buruk bahwa hidupnya di dunia akan lebih lama lagi. Namun, ia tidak memberitahukan hal itu kepada istri dan anak-anaknya. Suatu hari, ia hanya berpesan kepada keenam anaknya ketika akan masuk ke dalam kepok agar keenam anaknya membuka lahan baru unt...
Rumah Betang adalah rumah adat khas Kalimantan yang terdapat di berbagai penjuru Kalimantan. Suku Dayak hidupnya berkelompok, membentuk koloni dari anggota keluarga mereka. Dengan gaya hidup berkelompok tersebut sangat mempengaruhi bentuk dan besar dari rumah mereka. Bentuk dan besar rumah Betang ini bervariasi, itu tergantung seberapa besar dan banyak keluarga mereka. Keluarga besar suku Dayak biasanya tinggal dalam satu atap atau satu rumah, oleh karena itu ada rumah Betang yang bisa mempunyai panjang mencapai 150 meter dan lebar hingga 30 meter bahkan ada yang lebih. Umumnya rumah Betang di bangun dalam bentuk panggung dengan ketinggian tiga sampai lima meter dari permukaan tanah. Tujuan dari rumah panggung tersebut untuk mengantisipasi datangnya banjir pada musim penghujan karena sering sungai meluap dan terjadi di daerah-daerah hulu sungai di Kalimantan. Mereka hidup bersama dan berkelompok dalam satu rumah secara turun menurun. Setiap rumah tangga (keluarga) menemp...
Home » Cerita Rakyat Kalimantan Barat » Asal Mula Nama Sintang Monday, 10 October 2016 Cerita Rakyat Kalimantan Barat Asal Mula Nama Sintang Alkisah Rakyat ~ Sungai Kapuas di propinsi Kalimantan Barat merupakan sungai yang terbesar dan terpanjang. Sungai ini merupakan urat nadi kehidupan rakyat di daerah itu sejak berabad-abad lamanya. Sungai ini menghubungkan daerah pedalaman Kalimantan dengan daerah-daerah pesisirnya. Salah satu kota yang terletak di ujung pedalaman sungai Kapuas adalah Kota Sintang, Kota Sintang terletak diatas tanah jepitan dua buah sungai. Sebelah kanan dengan sungai Melawi dan sebelah kiri dengan sungai Kapuas. Daerah ini disebut juga daerah Tanjung Puri. Dulunya kota Sintang terletak di seberang kanan hilir sungai Kapuas. Nama Sintang pada mulanya menurut istilh/bahasa suku-bangsa Dayak yang mendiami daerah sungai Kapuas pedalaman, bernama "SENENTANG." Karena sekitar dae...
Keberadaan pakaian adat merupakan warisan budaya bangsa yang menggambarkan kemajuan sebuah peradaban pada masing-masing daerah di Indonesia dan memiliki nilai sejarah, sosial, serta nilai pengetahuan yang penting. Salah satunya adalah pakaian adat king baba dan king bibinge yang dikenakan oleh masyarakat suku Dayak di Kalimantan Barat. Pakaian adat yang digunakan oleh masyarakat Kalimantan Barat terbuat dari bahan kayu yang diproses menjadi lunak seperti bahan kain. Bahan yang dapat difungsikan sebagai bahan kain untuk membuat celana, baju, dan selimut ini disebut dengan nama kapua atau ampuro. Konon kemampuan mengolah kayu tersebut diwariskan secara turun temurun oleh nenek moyang mereka. Pakaian Adat King Baba Dalam adat Kalimantan Barat, pakaian yang diperuntukkan bagi kaum pria dikenal dengan nama king baba. Pakaian ini terdiri dari dari tutup kepala berhiaskan bulu burung enggang, baju tanpa lengan, celana panjang dan ikat pinggang antara batas lutut dan kain. Pa...
Kuntilanak (bahasa Melayu: Pontianak atau Puntianak, atau sering disingkat kunti) adalah hantu yang dipercaya berasal dari perempuan hamil yang meninggal dunia atau wanita yang meninggal karena melahirkan dan anak tersebut belum sempat lahir. Nama "puntianak" merupakan singkatan dari "perempuan mati beranak"[1]. Mitos ini mirip dengan mitos hantu langsuir yang dikenal di Asia Tenggara, terutama di nusantara Indonesia. Mitos hantu kuntilanak sejak dahulu juga telah menjadi mitos yang umum di Malaysia setelah dibawa oleh imigran-imigran dari nusantara. Kota Pontianak mendapat namanya karena konon Abdurrahman Alkadrie, pendiri Kesultanan Pontianak, diganggu hantu ini ketika akan menentukan tempat pendirian istana. Umumnya, kuntilanak digambarkan sebagai wanita cantik berambut panjang dan berbaju panjang warna putih. Dalam cerita rakyat Melayu, sosok kuntilanak digambarkan dalam bentuk wanita cantik dengan punggung berlubang. Kuntilanak digambarkan senang meneror penduduk kampun...
Kalau kamu mendengar hantu jaring ini mungkin kamu bakal menyangka kalau bentuk hantu ini seperti jaring-jaring atau jaring nelayan yang biasa dipakai mencari ikan? Hmm bukan-bukan. Hantu jaring ini kegemarannya menjaring atau membawa anak kecil di saat hujan panas, kemudian anak kecil tersebut akan disembunyikan olehya. Kalau dengar cerita hantu ini persis sama dengan hantu Wewe Gombel yang suka menyembunyikan anak kecil. Jadi, jaga adik-adikmu ya agar tidak bermain saat hujan. Menurut masyarakat Kalimantan Barat, hantu ini bisa dihindari dengan cara memakaikan atau menyelipkan rumput atau daun di telinga. Hantu ini juga senang mendiami sawah, lapangan, atau daerah belakang rumah yang kotor. Sumber: http://www.kejadiananeh.com/2016/03/legenda-hantu-mengerikan-indonesia.html
Istana Alwatzikhoebillah merupakan salah satu daya tarik wisata di Kabupaten Sambas yang banyak dikunjungi wisatawan dari dalam maupun luar daerah bahkan wisatawan mancanegara karena Istana Alwatzikhoebillah merupakan peninggalan bersejarah dan lambang kebesaran dan kejayaan kerajaan Islam di Sambas. Istana Alwatzikhoebillah terletak di Desa Dalam Kaum, Kecamatan Sambas, Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat. Lokasi istana ini berada pada pertemuan Sungai Sambas Kecil, Sungai Subah, dan Sungai Teberau, yang berjarak sekitar 1 km dari pusat Kota Sambas atau 200 km dari Pontianak. Sejarah mencatat, Istana Alwatzikhoebillah Kesultanan Sambas tumbuh dan berkembang berdasarkan latar belakang sejarah dari dua periode, yakni pada masa Hindu (Majapahit) dan Islam (Brunei). Asimilasi dua periode akhirnya terjadi ketika anak perempuan dari Ratu Sepudak (kerajaan pada masa Hindu) yang bernama Raden Mas Ayu Bungsu, dengan Raden Sulaiman, anak s...
Istana Kadriah terletak Kampung Beting, Kelurahan Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur, Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat, atau kurang lebih berjarak 200 meter dari Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahaman Alkadrie. Syarif Abdurrahman Alkadrie merupakan anak dari seorang pendatang dari Trim Hadramaut di Jazirah Arab, Sayyid Husein Alkadrie. Menurut Ellyas Suryani Soren dalam bukunya Sejarah Mempawah Tempo Doeloe , menerangkan bahwa Sayyid Husein Alkadrie pernah menjadi mufti peradilan agama dan menyebarkan agama Islam di Kerajaan Matan untuk mendampingi Al Habib Husein bin Yahya. Selama lima tahun menjadi mufti di Kerajaan Matan dan saat itu sudah delapan tahun beliau meninggalkan kampung halamannya, Sultan Kerajaan Matan, Sultan Muhammad Zainuddin menjodohkannya dengan salah seorang putrinya yang bernama Nyai Tua. Dari perkawinannya itu, lahirlah Syarif Abdurrahman Alkadrie pada Senin 15 Rabiul Awal tahun 1151 H atau...