Produk Arsitektur
Produk Arsitektur
Istana Kalimantan Barat Sambas
Istana Alwatzikhoebillah
- 16 Juli 2018
Istana Alwatzikhoebillah merupakan salah satu daya tarik wisata di Kabupaten Sambas yang banyak dikunjungi wisatawan dari dalam maupun luar daerah bahkan wisatawan mancanegara karena Istana Alwatzikhoebillah merupakan peninggalan bersejarah dan lambang kebesaran dan kejayaan kerajaan Islam di Sambas.
 
Istana Alwatzikhoebillah terletak di Desa Dalam Kaum, Kecamatan Sambas, Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat. Lokasi istana ini berada pada pertemuan Sungai Sambas Kecil, Sungai Subah, dan Sungai Teberau, yang berjarak sekitar 1 km dari pusat Kota Sambas atau 200 km dari Pontianak.
 
Sejarah mencatat, Istana Alwatzikhoebillah Kesultanan Sambas tumbuh dan berkembang berdasarkan latar belakang sejarah dari dua periode, yakni pada masa Hindu (Majapahit) dan Islam (Brunei).
 
Asimilasi dua periode akhirnya terjadi ketika anak perempuan dari Ratu Sepudak (kerajaan pada masa Hindu) yang bernama Raden Mas Ayu Bungsu, dengan Raden Sulaiman, anak sulung Pangeran Tengah yang beristrikan Ratu Suria Kesuma dari Sukadana.
 
Pangeran Tengah adalah adik kandung dari Sultan Abdul Jalilul Akbar yang memerintah negeri Brunai tahun 1598-1659, dan merupakan sultan di negeri Sarawak dengan gelar Sultan Ibrahim Ali Omar Shah pada tahun 1599. Dari perkawinan ini, akhirnya Raden Sulaiman diangkat menjadi Wazir Kedua dalam pemerintahan Ratu Anum Kesuma Yudha, yang tidak lain adalah menantu Ratu Sepudak dari perkawinannya dengan Raden Mas Ayu Anom, kakak perempuan dari istri Raden Sulaiman.
 
 


Selang beberapa tahun setelah penobatan Pangeran Prabu Kencana dengan gelar Ratu Anum Kesuma Yudha untuk menggantikan Ratu Sepudak, timbullah perselisihan yang mulanya kecil saja di mana Wazir Pertama, yakni Pangeran Mangkurat, adik kandung Ratu Anum Kesuma Yudha, kurang menyenangi Raden Sulaiman, adik ipar Ratu Anum Kesuma Yudha, yang selalu berbuat kebaikan dengan rakyatnya.

 

Akhirnya, demi mengalah agar tak terjadi perang saudara, Raden Sulaiman mengambil keputusan untuk meninggalkan Ibu Kota Negeri Kota Lama. Setelah bermusyawarah, akhirnya Petinggi Nagur, Petinggi Bantilan, dan Petinggi Segerunding membawa Raden Sulaiman beserta rombongan menuju ke Simpang Sungai Subah. Sesampainya di sana, mereka mendirikan perkampungan yang diberi nama Kota Bandir.
 
Setelah kepergian Raden Sulaiman dari Kota Lama, ternyata banyak rakyat yang menyusul Raden Sulaiman pindah ke Kota Bandir dan mendirikan pemukiman di Kota Bandir. Akhirnya Kota Lama semakin hari semakin sepi. Kepergian rakyat ke Kota Bandir disebabkan mereka sudah tidak tahan lagi dengan perangai Pangeran Mangkurat yang berbuat semena-mena terhadap mereka. Sementara Ratu Anum sudah tidak dipedulikan lagi oleh Pangeran Mangkurat. Seolah-olah yang menjadi raja adalah Pangeran Mangkurat, bukan Ratu Anum Kesuma Yudha. Sampai akhirnya Ratu Anum sendiri, sudah tidak tahan lagi dengan perangai adiknya sehingga mengambil keputusan untuk menginggalkan Kota Lama mencari tempat pemukiman yang baru. Brangkatlah Ratu Anum Kesuma Yudha meninggalkan ibu kota negeri Kota Lama dengan menggunakan tujuh puluh buah perahu yang lengkap dengan alat senjatanya.
 
Sebelum berangkat, Ratu Anum Kesuma Yudha menyuruh ketiga petinggi yang pernah mengantarkan Raden Sulaiman saat hijrah, untuk memanggil Raden Sulaiman, karena Ratu Anum ingin menyerahkan pemerintahan Negeri Sambas kepada Raden Sulaiman dan istrinya.
 
Tiga tahun lamanya Raden Sulaiman bermukim di Kota Bandir, maka timbul keinginannya untuk memindahkan pusat pemerintahannya ke daerah Sungai Teberau, tepatnya di Lubuk Madung.
 
Melalui musyawarah keluarga, di Lubuk Madung inilah maka pada hari Senin, 10 Zulhijjah 1040 H/9 Juli 1631 M, Raden Sulaiman dinobatkan menjadi Sultan Sambas Islam yang pertama dengan gelar Sultan Muhammad Tsafiuddin I.
 
Setelah Raden Bima, anak sulung Sultan Muhammad Tsafiuddin I, dinobatkan menjadi Sultan Sambas Islam yang kedua pada 10 Muharam 1080 H/10 Juni 1669 M dengan gelar Sultan Muhammad Tajuddin, tak lama selang bertahta di Lubuk Mandung, maka Sultan Muhammad Tajuddin berkeinginan untuk memindahkan ibu kota kerajaan dari Lubuk Mandung ke Muara Ulakan, yaitu di persimpangan Sungai Sambas Kecil, Sungai Subah, dan Sungai Teberau. Ibu kota kerajaan dibangun lengkap dengan pagar dan parit, serta istana untuk pertama kalinya didirikan tepat menghadap Sungai Sambas Kecil.
 
Sedangkan, bangunan istana yang berdiri saat ini merupakan pembangunan kembali pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Mulia Ibrahim Tsafiuddin  (1931-1943). Istana ini dibangun pada 15 Juli 1933 dan mulai ditempati pada 6 Juli 1935.
Kompleks Istana Alwatzikhoebillah yang didirikan di atas areal seluas sekitar 2 hektar berdiri sejumlah bangunan yang memiliki fungsi dan peruntukkannya sendiri. Sebelum memasuki bangunan utama istana yang menghadap ke barat, pengunjung akan memasuki gerbang segi delapan (pendopo) yang memiliki delapan jendela yang menandakan arah angin, dengan hamparan alun-alun seluas lapangan sepak bola. Di tengah alun-alun tersebut, terdapat tiang bendera berbentuk tiang perahu layar, dan di bawahnya terdapat tiga meriam canon yang konon didapatkan dari pasukan Inggris.
 
Di sisi sebelah barat daya alun-alun, terdapat  Masjid Agung Jamik Sultan Muhammad Tsafiuddin II yang dibangun pada hari Jumat, 1 Muharram 1303 H bertepatan dengan 11 Oktober 1885. Bangunan masjid terlihat kokoh, dan bahan-bahannya terbuat dari kayu belian.
Setelah melihat masjid, pengunjung bisa melanjutkan melangkah menuju ke bangunan utama istana. Namun sebelum memasuki gerbang utama yang berlantai dua, pengunjung bisa menemukan dua balai paseban yang berada di depan gerbang utama sebelah kiri dan kanan. Dulu, balai paseban ini digunakan sebagai tempat pertunjukkan, pameran, dan wayang kulit. Selain itu, juga digunakan oleh orang untuk istirahat sebelum menghadap sultan.
 
Setelah melintas masuk gerbang utama, pengunjung masuk ke bangunan utama istana yang terdiri atas bangunan utama yang diapit oleh dua bangunan berbentuk limasan yang digunakan untuk rumah pengawal. Dari bangunan utama mau menuju ke bangunan pengapit tersebut dihubungkan oleh bangunan penghubung beratap seperti yang ada di rumah sakit pada umumnya.
Bangunan limasan yang berada di sebelah utara bangunan utama istana, pada zaman dulu selain dipergunakan untuk rumah pengawal, di ruangan paling depan sering digunakan oleh sultan sebagai tempat bersemedi atau bertapa, juga digunakan sebagai tempat penyimpanan pusaka, dan di bagian belakangnya digunakan untuk garasi. Sedangkan, pada bangunan limasan yang berada di sebelah selatan bangunan utama istana, selain digunakan untuk rumah pengawal juga difungsikan sebagai dapur istana.
 
Di bangunan utama istana ini juga berbentuk limasan, dan diketahui sebagai rumah sultan. Memasuki rumah sultan, pengunjung akan langsung membaca Alwatzikhoebillah di atas teras sebagai penanda bahwa bangunan ini merupakan Istana Alwatzikhoebillah. Di atas tulisan tersebut terdapat lambang kuda laut di atas atap istana, yang menandakan bahwa bidang yang menyokong perekonomian kesultanan saat itu adalah bahari.
 
Di bangunan rumah sultan, terdapat empat cermin besar di setiap sudut ruang tamu, dan foto koleksi Kesultanan Sambas. Di kamar sultan terdapat tempat peristirahatan yang dihiasi dengan kain warna kuning. Terdapat pula busana atau pakaian kebesaran sultan yang disimpan dalam sebuah kotak kaca tertutup, payung ubur-ubur, tombak canggah, meriam beranak, pedang sultan, tempayan keramik dari Tiongkok, dan kaca kristal dari Inggris dan Belanda.
 
Tepat di belakang rumah sultan, terdapat menara air yang berfungsi sebagai tandon air sebelum dialirkan melalui pipa ke seluruh kompleks istana yang telah dipasang instalasi pipa air. Searah menara air di sebelah utara, atau tepatnya berada di sebelah timur laut dari kompleks istana, terdapat kolam pemandian yang dulunya digunakan sebagai tempat pemandian para putri sultan.
Setelah puas berkeliling Istana Alwatzikhoebillah, pengunjung akan menyadari betapa istana ini mempunyai peran yang menonjol di masa lampau sebagai salah satu pusat budaya di Sambas. Berwisata ke Istana Kesultanan Sambas ini memang bisa cukup menyingkap kejayaan Sambas di masa lampau, dan sekaligus memahami sejarah anak negeri ini. ***
 
Kepustakaan:
Urai Riza Fahmi, 2013. Selayang Pandang Sejarah Kerajaan Islam Keraton Sambas, Bandung: CV Yrama Widya
KOMPAS Edisi Jumat, 31 Oktober 2014

 

Sumber: http://kekunaan.blogspot.com/2014/12/istana-alwatzikhoebillah.html
 

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
HUTING-HUTING
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...

avatar
Hokker
Gambar Entri
SALE-SALEAN
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...

avatar
Hokker
Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu