Alat musik ini terbuat dari kayu, kulit binatang dan kawat. Gambus adalah alat musik jenis lut yang memiliki badan suara berbentuk cembung dilengkapi dengan lima dawai. Keberadaan alat musik gambus di Kalimantan Barat merupakan pengaruh dari budaya Timur Tengah. Instrumen ini dimainkan untuk mengiringi sya'ir Melayu, sya'ir pujian kepada Tuhan dan Nabi, serta tarian tradisional jepin (sejenis tarian zapin yang berkembang dan tersebar pada masyarakat Melayu di Nusantara).
Alat musik ini terbuat dari bambu. Antoneng merupakan jenis alat musik gitar tabung yang dimainkan dengan cara dipetik. Antoneng dibuat dari bambu dan kulit ari bambu yang dibentuk menjadi dawai sebanyak lima buah. Bagian tengah badan bambu dilubangi sebagai resonator. Bunyi nada yang dihasilkan menyerupai suara genggong. Antoneng dimainkan selain untuk mengiringi nyanyian, juga sebagai hiburan untuk mengisi waktun luang setelah bekerja di ladang.
Bendrong Lesung merupakan salah satu kesenian tradisional masyarakat Cilegon-Banten, yang tumbuh dan berkembang secara turun temurun di masyarakat hingga saat ini. Awalnya kesenian ini merupakan tradisi masyarakat setempat dalammenyambut Panen Raya. Tujuannya untuk mengungkapkan kebahagiaan atas jerih payah yang dilakukan, dan yang telah membuahkan hasil. Dalam perkembangannya, Bendrong Lesung tidak hanya ditampulkan pada penyambutan Panen Raya, tetapi ditampilkan juga pada acara-acara pesta perkimpoian atau upacara peresmian. Bendrong Lesung memadukan musik Lesung atau Lisung (tempat menumbuk padi) dengan musik lainnya yang dimainkan oleh beberapa orang.
Pantung Bambu adalah alat musik tradisional khas masyarakat cilegon yang terbuat dari bambu berdiameter rata-rata 10cm, panjang 80cm, beruas dua dengan lubang di tengah dan berlidah disayat dengan tiga buah senar bernada empat tangga nada. Dalam satu grup pantun bambu dibutuhkan paling sedikit tiga pantun yang terdiri dari pantun melodi gendang tapak, pantun bas gendang dan pantun ritme patingtung. Pada awalnya musik pantun di mainkan disaat-saat melepas lelah setelah para petani berkerja disawah, dengan peralatan bambu sederhana dapat menimbulkan irama yang menghibur. Dalam perkembangannya saat alat musik "Pantun" telah di kolaborasi dengan alat musik lainnya seperti musik patingtung, rudat, terbang gede dan sebagainya. Pantun sekarang ini juga digunakan untuk mengiringi lagu dan tarian.
Terbang gede merupakan salah satu kesenian tradisional Banten yang tumbuh dan berkembang pada waktu para penyebar agama islam menyebarkan ajarannya di Banten, oleh karena itu kesenian terbang gede berkembang secara pesat di lingkungan pesantren dan mesjid-mesjid. Kesenian ini disebut terbang gede karena salah satu instrumen musik utamanya adalah terbang besar (gede). Pada awalnya kesenian terbang gede berfungsi sebagai sarana penyebaran agama islam, namun kemudian berkembang sebagai upacara ritual seperti : ngarak panganten, ruwatan rumah, syukuran bayi, hajat bumi, dan juga hiburan. Terbang gede dimainkan oleh beberapa orang biasanya laki-laki yang telah lanjut usia terdiri atas Penabuh terbang gede (besar) , penabuh sela, penabuh pengarak, penabuh kempul, penabuh koneng, yang diiringi dengan sholawatan nabi dengan bahasa Arab ataupun jawa.
Kesenian Melinting merupakan salah satu bentuk seni yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Melinting, Lampung Timur. Awalnya kesenian ini secara khusus diperuntukkan bagi keluarga Ratu Melinting dengan hanya dipertunjukkan di lingkungan keratuan, dimana para pelakunya pun terbatas pada keturunan raja saja. Namun berbagai perubahan dialami sehingga kemudian menjadi milik masyarakat secara luas. Tulisan ini secara khusus mengangkat bentuk penyajian kesenian Melinting serta keberadaan kesenian ini di dalam masyarakatnya. Keratuan Melinting masih berdiri hingga saat ini dengan wilayah kekuasaan meliputi tujuh desa, yaitu Meringai, Tanjung Aji, Tebing, Wana, Nibung, Pempen, dan Negeri Agung. Masyarakat dari desa-desa inilah yang kemudian dikenal dengan masyarakat Melinting. Mereka hidup dalam sebuah sistem budaya atau adat istiadat, dan memiliki konsep-konsep hidup yang khas. Sebut saja Pi’il, Sakai Sambayan, Nemui Nyimah, Nengah Nyepur, dan Bejuluk Beadek/Beinai, lima prin...
Dalam ajaran agama Islam ada kebiasaan untuk melakukan upacara khusus bagi anak-anak yang sedang menjelang dewasa, yaitu upacara "khatam Quran", yakni upacara menyambut tamatnya seorang anak mempelajari cara-cara membaca Al-Quran dengan selamat. Demikian pula halnya dengan masyarakat Betawi. "Khatam Al Quran" yang biasa juga disebut "Tamat Al Quran", adalah upacara yang diselenggarakan untuk menandai selesainya seorang anak belajar mengaji. Dalam upacara ini pesertanya terdiri dari anak-anak yang menyelesaikan Juz Amma. Upacara ini berlangsung dengan dilengkapi serangkaian acara yang sifatnya tradisional. Upacara menyambut tamatnya seorang anak dalam mempelajari cara-cara membaca Al Qur'an dengan selamat. Dimaksudkan untuk menunjukkan rasa syukur ke hadirat illahi serta rasa bangga dan bahagia, karena anak-anak telah berhasil menyelesaikan pelajaran membaca kitab Juz Amma. Seperti halnya masyarakat Betawi di Kampung Bojong upacara ini diselenggarakan untuk men...
Alat musik yang membentuk Samrah adalah harmonium, biola, gitar, dan tamborin. Kadang-kadang dilengkapi pula dengan rebana dan gendang. Orkes Samrah biasa digunakan untuk mengiringi nyanyian dan tarian. Lagu yang dimainkan adalah Burung Putih, Pulau Angsa Dua, Cik Minah Sayang, Sirih Kuning, Masmura, Kicir-kicir, Jali-jali, Lenggang-lenggang Kangkung, dsb. Terdapat berbagai versi tentang asal mula disebut sebagai musik Samrah. Musik Samrah dilahirkan di Betawi pada tahun 1918 dan berasal dari teater Riau Dulmuluk, yang dahulu dikenal sebagai teater bangsawan. Kemudian musik itu dikenal sebagai kesenian Samrah yang menyajikan cerita-cerita rakyat. Kesenian Samrah dapat dikelompokkan menjadi empat periode yang dalam setiap periode menggunakan alat musik yang berbeda. Musik Samrah dipergunakan untuk mengiringi lagu dan tari. Kostum yang dipakai pemain musik Samra...
Salah satu tarian masyarakat Betawi yang merupakan hasil kebudayaan Melayu. Pengaruh Melayu tampak pada kostum, musik, tari, dan teaternya. Gerakan tarinya banyak menunjukkan persamaan dengan umumnya tari Melayu, mengutamakan gerak langkah kaki dan lenggang berirama. Tari Samrah biasa dilakukan berpasangan atau perorangan. Mereka menari dengan diiringi nyanyian seorang biduan dengan nyanyian berupa pantun. Tarian ini diiringi musik gambus yang terdiri dari harmonium , gendang, biola, dan gambus. Cara menarinya hanya melenggak-lenggok sambil menggerakkan kedua belah tangan seperti tarian Melayu. Tarian itu bertujuan menghibur dan memperluas pergaulan. Sambil menari, para penari juga dapat berkenalan dengan gadis-gadis cantik yang kemudian dapat dijadikan pacarnya. Perbedaan antara tari Samrah dengan tari Zapin, Belenggo, Cokek, dan Topeng terletak pada gerakan jongkok, yang di...