Pada zaman dahulu ada seorang raja yang bernama Hyang Nata, raja tersebut bertempat tinggal di kerajaan Pajajaran, Jawa Barat. Raja Hyang Nata suka sekali berburu di hutan. Pada suatu hari Raja tersebut berburu dengan ditemani para pengawalnya, namun sampai sore hari dia tidak mendapatkan binatang buruan, kemudian sang raja beristirat dan mencari semak-semak untuk buang air kecil lalu tanpa sengaja air seni itu tertampung pada sebuah tempurung kelapa. Setelah beberapa lama tiba-tiba datang seekor babi yang kehausan, babi tersebut meminum air seni itu yang tertampung di kelapa. Tiba-tiba perut babi itu membuncit, Dia mengandung setelah beberapa bulan mengandung, babi itu kemudian melahirkan seorang bayi perempuan. Bayi itu diletakan di atas rerumputan. Pada suatu hari raja Hyang Nata kembali ke tempat yang sama untuk berburu,di tengah hutan sang raja mendengar suara bayi menagis. Raja dan para pengawalnya mencari darimana asal suara tersebut. Dan mereka pun menemukan bayi tersebut dire...
Getuk merupakan makanan khas daerah Magelang. Getuk dibuat dari ketela yang dikukus dan kelapa yang diparut dan diberi gula jawa. Getuk hanya tahan sekitar 3 - 4 hari sebelum busuk karena getuk tidak menggunakan bahan pengawet apapun. Getuk memiliki tekstur lembut, halus, lengket, dan sedikit kasar dari parutan kelapa yang ditaburkan di atas gethuk. Getuk memiliki rasa manis yang khas. Ada beberapa jenis getuk yang ada. Magelang sendiri menjual beberapa macam getuk seperti getuk tri warna yang dijual di Getuk Eco yang dijual sekitar Rp 28.000. Ada juga getuk jawa biasa yang bisa ditemukan di toko oleh-oleh. pic from : google #OSKMITB2018
Pempek tidak hanya dimiliki oleh Kota Palembang saja. Pati juga memiliki pempek tersendiri yang tidak kalah dengan Palembang, biasanya disebut empek-empek. Umumnya pempek terbuat dari ikan dengan berbagai variasi perpaduan bahan dan kuah. Di Bangka misalnya, biasanya pempek disajikan dengan semacam saus kacang. Nah, di Pati, Jawa Tengah, kota kelahiran saya ini, empek-empeknya berbeda dengan pempek palembang. Empek-empek ini memiliki cita rasa tersendiri. E mpek-empek khas Pati terdiri dari potongan aneka gorengan risol isi bihun, tahu, bakwan, semacam gorengan tepung, dan kadang ada tempenya. Kuahnya tidak sepekat cuko pempek, cenderung agak asam segar apalagi kalau ditambah sambal, tapi lain sensasinya dengan kuah pempek Palembang dan sekitarnya. Gurihnya kuah ini siap menjelajahi fantasi lidah pencicipnya. Makanan ini memang belum begitu terkenal, tapi jangan remehkan rasa dan kenikmatannya! Harga empek-empek ini juga termasuk relatif murah, hanya dengan mengocek uang Rp. 7000...
Randem merupakan suatu cemilan yang terbuat dari ampas kedelai yang dibuat bulat. Randem dapat ditemukan di daerah sekitaran Banyumas. Randem dibuat dari hasil sisa pembuatan tahu. Daerah penghasil ampas tahu yang dikenal adalah Ajibarang. Cemilan ini dapat dibeli dengan harga murah. Cara pembuatan randem (yang saya dapat dari orang tua) : 1. Ampas kedelai dari pembuatan tahu didiamkan selama 3-4 hari hingga menimbulkan sedikit bau 2. Lalu diberi bumbu bawang putih, ketumbar, irisan daun bawang, dan garam (dapat ditambahkan penyedap rasa dan cabai) 3. Diuleg supaya bumbu merata 4. Setelah adonan dibentuk bulat 5. Siapkan tepung beras dengan tambahan bawang putih yang ditumbuk halus,beri garam dan air secukupnya 6. Panaskan minyak 7. Setelah minyak panas,masukan adonan yang telah dibentuk tadi kedalam tepung lalu goreng hingga kecoklatan 8. Randem siap disantap (dapat ditambah dengan sambal) Mari kita lestarikan budaya kit...
Pada zaman dahulu, hiduplah seorang janda tua di sebuah desa di Jawa Tengah. Ia harus bekerja berjualan kayu bakar setiap hari karena suaminya telah meninggal, sehingga ia harus memenuhi kehidupannya seorang diri. Berjualan kayu bakar di pasar yang sangat jauh dari desanya, tidak membuatnya memperoleh keuntungan yang banyak. Namun, ia tetap bekerja dengan giat dan pantang menyerah. Hidup sendirian membuatnya menginginkan kehadiran seorang anak. Namun, dia tau bahwa menghidupi dirinya sendiri saja sudah sulit, jadi ia mengurungkan niatnya itu. Pada suatu malam, ia bermimpi kejatuhan bulan di siang hari. Mimpi aneh tersebut membuatnya bingung, sehingga ia bergegas pergi ke pasar untuk menyelesaikan pekerjaannya hari itu. Tanpa diduga-duga, ia melihat seorang peramal yang sedang dikerumuni banyak orang. Langsung saja ia menanyakan makna mimpi anehnya semalam. 'Saya bermimpi kejatuhan bulan, pak peramal. Apakah arti dari mimpi saya itu?' tanya sang janda tua....
Dahulu kala, ada seorang raja bernama Prabu Sri Mahapunggung yang hidup bersama empat orang anaknya, yaitu Dewi Sri, Sadana, Wandu, dan Oya. Dewi Sri dan Sadana dikenal sebagai lambang kemakmuran hasil bumi. Suatu hari, Raja dan Ratu meminta Sadana untuk menikahi seorang putri bernama Dewi Panitra. Akan tetapi, Sadana menolak karena tidak ingin mendahului kakaknya. Hal itu membuat Sadana sedih dan dia pun meninggalkan istana. Sang Prabu menjadi murka setelah mengetahui hal tersebut dan melampiaskan amarahnya kepada Dewi Sri sebagai penyebab Sadana meninggalkan istana. Tuduhan tersebut membuat Dewi Sri merasa bersalah dan pada akhirnya ia pun ikut kabur dari istana. Sang Prabu menjadi lebih marah dan mengutuk Dewi Sri menjadi ular sawah, sedangkan Sadana dikutuk menjadi burung sriti. Suatu ketika, ular sawah jelmaan Dewi Sri di Dusun Wasutira. Di dusun tersebut hiduplah seorang petani bernama Kyai Brikhu bersama istrinya yang sedanh mengandung. Pada malam harinya, Kyai Brikhu ber...
Blarak-Blarak Sempal Blarak-Blarak Sempal merupakan sebuah permainan tradisional . Dari arti katanya sendiri, Blarak berarti daun kelapa yang kering dan Sempal berarti patah sehingga arti keseluruhan dari Blarak-Blarak Sempal adalah daun kelapa yang patah. Meski demikian, peralatan yang digunakan adalah sabut kelapa. Permainan ini biasa dilakukan berkelompok ( 2 kelompok ) dan dapat dimainkan oleh siapa saja tanpa pandang golongan maupun jenis kelamin baik laki-laki maupun perempuan yang pada umumnya sudah cukup kuat untuk mengangkat temannya mainnya sendiri. Permainan ini dimulai dengan membagi tim/kelompok sama banyak setiap kelompok dapat beranggotakan 2-4 orang. Misal kelompok A dan Kelompok B masing-masing 2 orang. Lalu perwakilan dari masing-masing kelompok melakukan ‘suit’ untuk menentukan siapa yang menang dan yang kalah. Semisal kelompok A kalah, anggota kelompok A duduk dilantai dengan kaki diselonjorkan dimana telapak kaki seorang harus menempel de...
Bancakan weton dilakukan tepat pada hari weton kita lahir ( Pon, Wage, Kliwon, Legi, Pahing ). Dalam tradisi Jawa, setiap orang sebaiknya dibuatkan bancakan weton minimal sekali dalam seumur hidup, namun lebih baik dilakukan setahun sekali. Menurut adat jawa setiap anak yang baru lahir, orang tuanya membuat bancakan weton pertama kali pada saat usianya menginjak hari ke 35. Anak yang sering dibuatkan bancakan weton secara rutin oleh orangtuanya, biasanya hidupnya lebih terkendali, lebih hati-hati, tidak liar, ceroboh, dan jarang sekali mengalami sial. Menurut kepercayaan orang jawa seorang anak yang sakit-sakitan, sering jatuh , dan nakal, setelah dibuatkan bancakan weton si anak tidak lagi sakit-sakitan, dan tidak nakal lagi. Bahan – bahan yang diperlukan untuk membuat bancakan weton Tujuh Sayuran Kangkung dan kacang panjang merupakan sayuran yang wajib ada dalam sebuah bancakan weton, untuk selebihnya tidak ada larangan s...
Dalam kebudayaan Sunda kita seringkali mendengar istilah pamali, layaknya kebudayaan Sunda, orang Jawa juga memiliki kebudayaan yang serupa. Orang jawa sendiri biasa menyebutnya dengan istilah Gugon Tuhon yang dapat didefinisikan sebagai berikut, kahanan kang ora oleh utowo ora kena dierak , yang dapat diartikan sebagai suatu keadaan yang tidak boleh dilanggar . Gugon Tuhon sendiri adalah suatu kekayaan dari kearifan lokal masyarakat Jawa sebagai suatu adat istiadat yang diturunkan secara turun-temurun dari orang-orang tua kepada generasi berikutnya dari mulut ke mulut dan dari wejangan yang disampaikan dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa tetangga dan kerabat di desa dekat kota Surakarta, masyarakat Jawa percaya apabila larangan-larangan yang ada tersebut dilanggar maka akan memiliki konsekuensi tersendiri tak lepas dari percaya atau tidak. Pernah ada cerita warga yang menuturkan bahwa ada sepasang suami istri, sang suami...