Resep Cara Membuat Soto Sokaraja Khas Banyumas Bahan-bahan : Daging Ayam 1 kilo gram Soun 150 gram Tauge 150 gram Jahe 2 cm Kedelai 150 gram Air 2.500 mili (rebus kaldu ayam serta rebus ayam) Lengkuas 4 cm (memarkan) Daun salam 3 lembar Minyak goreng (secukupnya) Bumbu yang harus dihaluskan : Bawang merah 8 biji Bawang putih 4 siung Seledri 2 batang Serai 2 batang Kemiri 6 butir Kunyit 2 cm Bahan pelengkap untuk membuat soto sokaraja khas Banyumas : Irisan daun bawang 3 sendok makan Bawang goreng 3 sendok makan Kerupuk (sesuai selera) Irisan seledri 2 sendok makan Cara Membuat Sambal Soto Sokaraja khas Banyumas : Bawang goreng 3 sendok makan Kacang tanah 200 gram (haluskan) Bawang putih 2 siung Cabai rawit 6 buah Garam 1 sendok makan Air asam 1 sendok makan Gula merah 2 sendok teh...
SAYUR BENING KACANG PANJANG (BANYUMAS) Masukkan taoge menjelang diangkat agar tidak terlalu matang. Bahan-bahan/bumbu-bumbu : 10 lonjor kacang panjang, potong 3 cm 50 gram jagung keputren, potong-potong 50 gram taoge, siangi 6 butir bawang merah, iris tipis 4 cm temu kunci, memarkan 1 sendok teh gula merah 1 1/4 sendok teh garam 1.250 ml air kaldu Cara Pengolahan : Didihkan air kaldu. Masukkan bawang merah, temu kunci, gula merah, dan garam. Masak sampai mendidih. Tambahkan kacang panjang, jagung keputren, dan taoge. Masak sampai matang. Untuk 5 porsi Sumber:http://www.sajiansedap.com/recipe/detail/9188/sayur-bening-kacang-panjang-banyumas#.VnYehCeUOgs
BATIK SIDO DRAJAT Batik Sido Drajad atau Drajat dipakai oleh besan ketika upacara pernikahan. Cara pemakaian batiknya juga memiliki nilai pendidikan tersendiri. Bagi anak-anak, batik dipakai dengan cara sabuk wolo. Pemakaian jenis ini memungkinkan anak-anak untuk bergerak bebas. Secara filosofi, pemakaian sabuk wolo diartikan bebas moral, sesuai dengan jiwa anak-anak yang masih bebas, belum dewasa, dan belum memiliki tanggung jawab moral di dalam masyarakat. Ketika beranjak remaja, seseorang tidak lagi mengenakan batik dengan cara sabuk wolo melainkan dengan jarit. Panjang jarit yang dipakai memiliki arti tersendiri. Semakin panjang jarit, semakin tinggi derajat seseorang dalam masyarakat, dan semakin pendek jarit, semakin rendah pula strata sosial orang tersebut dalam masyarakat. Bagi orang dewasa, pemakaian batik memiliki pakem yang berbeda antara laki-laki dan perempuan. Pada laki-laki, wiru diletakkan di sebelah kiri. Sedangkan pada perempuan, wiru diletakkan...
Menurut pernikahan adat jawa, Midodareni adalah sebuah prosesi menjelang acara panggih dan akad nikah. Midodareni sendiri berasal dari kata widodari yang dalam bahasa Jawa bermakna bidadari. Mitos yang berkembang di kalangan masyarakat jawa sendiri kenapa diadakannya acara prosesi Midodareni adalah karena konon pada malam itu para bidadari dari khayangan turun ke bumi dan bertandang ke rumah calon mempelai wanita guna ikut mempercantik dan menyempurnakan calon pengantin wanita. Urut-urutan dari acara malam midodareni sendiri adalah sebagai berikut: Jonggolan / Nyantri Jonggolan / Nyantri adalah sowannya calon mempelai pria ke rumah calon mempelai wanita untuk beremu dengan orang tua dari calon mempelai wanita yang kelak akan menjadi mertuanya. Jonggolan sendiri berasal dari kata njonggol yang berarti menampakan diri. Mendapakan diri ini untuk menunjukkan kepada calon mertuanya bahwa sampai saat menjelang detik-detik akad nikah calon mempelai pria dalam keadaan sehat wal afiat dan t...
Serat Centhini adalah buku kesusastraan Jawa yang aslinya ditulis dalam bahasa dan tulisan Jawa dalam bentuk tembang Macapat dan mulai ditulis pada tahun 1814 dan selesai pada tahun 1823. (Catatan : Tembang Macapat adalah sejumlah Tembang Jawa dengan irama tertentu, jumlah suku kata tertentu, akhir kata tertentu dalam satu bait tembang, sangat populer di masyarakat Jawa untuk refleksi peristiwa tertentu menggunakan tembang yang pas dengan suasana yang ingin ditimbulkan, sejumlah nama tembang Macapat: Maskumambang, Mijil, Sinom, Kinanti, Asmaradana, Gambuh, Dandanggula, Durma, Pangkur, Pocung, Megatruh, Jurumedung, Wirangrong, Balabak, Girisa). Buku aslinya berjudul Serat Suluk Tambangraras ditulis berkat prakasa KGPA Anom Amengkunagoro III putera Pakubuwono IV, raja Surakarta (1788 - 1820). Dia kemudian yang menggantikan kedudukan raja sebagai Pakubuwono V (1820 - 1823). Sedangkan penulisan dan penyusunan dilaksanakan oleh: Ki Ng. Ranggasutrasno, pujangga kerajaan. R. Ng....
kopi khas Jawa Timur yang disebut kopi santan atau biasa dikenal juga dengan kopi lethok. Nyangka nggak kalau santan yang biasa dijadikan bahan masakan bisa jadi kombinasi yang menarik untuk kopi. Mungkin agak aneh memang. Tapi jangan salah, justru itu yang membuat kopi ini gak kalah dengan kopi lainnya. Perpaduan kopi dan santan membuat kopi ini terlihat lebih kental, terasa lebih mantap dan gurih. Bagi yang ingin mencoba kopi santan ini, bisa juga membuatnya sendiri. Cukup siapkan kopi, gula, dan santan kental. Kemudian rebus santan sebanyak 350 ml dengan 1 sendok kopi bubuk, masak hingga menyatu sambil terus diaduk agar santan tidak pecah. Bila sudah tuangkan dalam gelas, lalu tambahkan gula sesuai selera.
Dalang Jemblung merupakan jenis kesenian rakyat yang berbentuk teater tutur yang terdapat di daerah Banyumas. Di daerah Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur terdapat suatu tradisi mengadakan kegiatan “macapatan”, yaitu membaca atau menyampaikan “sastra lisan” dalam bentuk “tembang” (nyanyian). Dalam perkembangannya “macapat” ini berubah menjadi “Maca kanda”, yaitu menyampaikan/membaca sastra lisan yang berbentuk prosa, ceritera. Teater tutur ialah bentuk ungkapan/kesenian dengan cara dituturkan, diceriterakan dengan dinyanyikan pada mulanya hanya oleh satu orang. Kemudian dalam perkembangannya teater tutur dimainkan oleh beberapa orang menurut kebutuhan. Dalam pelaksanannya teater tutur sering diiringi oleh “tabuhan” (iringan musik tradisional), yang berupa:suling, siter atau gendang/terbang. Dalang jemblung merupakan teater tutur yang spesifik Banyumassan, tidak dii...
Serat Wulang Reh adalah salah satu karya Sastra Jawa karangan Sri Pakubuwono ke IV. Serat ini sangat terkenal dalam masyarakat Jawa. Isinya tentang kebaikan yang dapat dijadikan pegangan dalam menjalani hidup. Bahasanya sederhana sehingga mudah dipahami. Serat Wulang Reh yang merupakan karya sastra berbentuk tembang, terdiri atas 13 pupuh, yaitu: (1) Dhandhanggula (berisi tentang ajaran cara memilih guru) (2) Kinanthi (berisi ajaran tentang cara bergaul/memilih teman) (3) Gambuh (berisi tentang larangan memiliki watak adigang, adigung, adiguna) (4) Pangkur (berisi ajaran tentang tatakrama, perbedaan baik dan buruk dan cara melihat perwatakan manusia) (5) Maskumambang (berisi ajaran tentang melakukan sembah) (6) Dudukwuluh (berisi ajaran tentang cara mengabdi kepada raja) (7) Durma (berisi ajaran tentang cara mengendalikan hawa nafsu) (8) Wirangrong (berisi ajaran tentang baik-buruknya budi) (9) Pucung (berisi aj...
Mbak ayune si Brendung Temuruna pumping sore Widadari patang puluh age-age padha ngranjinga yen ngrajing padha pedhayana yen wis pedhayan padhan jogeta… Demikian sepenggal syair yang biasa dinyayikan dalam kesenian Brendung.Ya, kesenian tradisional daerah Kab. Pemalang, tepatnya milik masyarakat Desa Sarwodadi Kec. Comal, Kesenian Brendung itu sendiri merupakan permainan boneka yang terbuat dari tempurung kelapa dan tubuhnya dari bambu. Boneka tersebut dirias sedemikian rupa, termasuk didandani ala wanita cantik, kemudian ditancapkan pada alas tampah (nyiru). Boneka wanita cantik konon melambangkan bidadari, atau menurut istilah setempat Brendung. Dalam permainan Brendung yang dibantu wanita sebanyak 4 sampai 6 orang sebagai penyanyi, seorang pemimpin yang dinamakan ‘mlandang’ memainkan boneka bidadari sebagai pemeran utama dalam lakon tersebut. Dalam pada itu para p...