Tarian srimpi sangopati karya Pakubuwono IX ini, sebenarnya merupakan tarian karya Pakubuwono IV yang memerintah Kraton Surakarta Hadiningrat pada tahun 1788-1820 dengan nama Srimpi sangopati kata sangapati itu sendiri berasal dari kata “sang apati” sebuah sebutan bagi calon pengganti raja. Ketika Pakubuwono IX memerintah kraton Surakarta Hadiningrat pada tahun 1861-1893, beliau berkenaan merubah nama Sangapati menjadi Sangupati. Hal ini dilakukan berkaitan dengan suatu peristiwa yang terjadi di masa pemerintahan beliau yaitu pemerintah Kolonial Belanda memaksa kepada Pakubuwono IX agar mau menyerahkan tanah pesisir pulau Jawa kepada Belanda. Disaat pertemuan perundingan masalah tersebut Pakubuwono IX menjamu para tamu Belanda dengan pertunjukan tarian srimpi sangopati. Sesungguhnya sajian tarian srimpi tersebut tidak hanya dijadikan sebagai sebuah hiburan semata, akan tetapi sesungguhnya sajian tersebut dimaksudkan sebagai bekal bagi...
Rumah adat Sumatera Barat (Padang) biasa disebut juga sebagai Rumah Gadang. Rumah Gadang berfungsi sebagai tempat tinggal dan tempat acara adat. Ukuran ruang tergantung dari banyaknya penghuni di rumah tersebut. Namun, biasanya ruangan di rumah itu berjumlah ganjil. Sebagai tempat tinggal, rumah gadang mempunyai bilik-bilik dibagian belakang yang didiami oleh wanita yang sudah bekeluarga dan anak-anak. (Sumber : http://rumahadatdiindonesia.blogspot.com/2014/01/rumah-adat-minangkabau-padang-sumatra.html) Tiang pada Rumah Gadang biasanya tidak tegal lurus namun miring. Hal tersebut karena dulunya masyarakat daerah setempat adalah nelayan yang sudah terbiasa membuat kapal bukan rumah. Atap rumah akan berbentuk melengkung menyerupai tanduk kerbau. Rumah Gadang disebut juga sebagai Rumah Baanjuang . Disebut Rumah Baanjuang karena dibagian sayap bangunan sebelah kanan dan kiri menjadi ruang anjuang (anjung). Ruang ini bia...
Pakaian tradisional merupakan bentuk fisik atau artefak budaya yang dimiliki suatu wilayah. Pakain budaya dapat memperlihatkan keragaman dan kekayaan negeri ini. Pakaian daerah juga dapat memperkokoh jatidiri bangsa Indonesia sebagai bangsa yang memegang teguh semboyan “ Bhineka Tungga Ika ”. Apabila di jawa terkenal dengan kebayanya, lantas di nias terkenal dengan pakaian baru oholu untuk pakaian laki-laki dan Õröba Si’öli untuk pakaian perempuan,. Maka di Sulawesi Tengah kita akan banyak menemukan berbagai pakaian adat. Di Sulawesi Tengah, setiap etnis memiliki pakaian adatnya tersendiri. Misalnya pakaian adat etnis Kaili Kota Palu. Pakaian adat untuk perempuan dikenal dengan nama baju nggembe. Baju Nggembe merupakan busana yang dipakai oleh remaja putri. Biasanya baju ini dipakai saat upacara adatnya. Baju Nggembe berbentuk segi empat, berkerah bulat berlengan selebar kain, panjang blus sampai pinggang dan berbentuk long...
Tari Remo terkenal di beberapa daerah Jawa Timur, seperti Surabaya dan Jombang. Tarian tersebut menggambarkan keberanian seorang pria di medan tempur. Tari ini juga sangat mengedepankan maskulinitas seorang pria. Namun, dalam pementasannya, tari Remo tidak hanya ditarikan oleh pria, tetapi juga wanita. Mereka bisa menari bersamaan atau bergantian. Tari Remo dipertunjukkan pada acara pembukaan ludruk atau wayang kulit. Saat ini Remo dipentaskan untuk menyambut tamu-tamu besar. Pengiring tari Remo adalah gamelan yang terdiri dari bonang, saron, gambang, gender, slentem, suling, dll. Para penari dilengkapi juga dengan gelang pada kaki mereka. Sehingga ketika mereka melangkah atau menghentakkan kaki, akan muncul suara bergemerincing. Anggukan, gelengan kepala, ekspresi wajah, serta kuda-kuda penari yang kokoh membuat tarian ini menjadi tari yang sangat atraktif. (Sumber : http://kebudayaanindonesia.net/kebudayaan/901/tari-remo).
Tari Cakalele sering pula disebut sebagai tarian kebesaran oleh masyarakat Maluku. Tari tersebut menggambarkan seni perang masyarakat setempat. Jumlah penari Cakalele mencapai tiga puluh orang. Terdiri dari pria dan wanita. Untuk para pria, kostum mereka secara dominan adalah merah dan kuning. Mereka akan memegang parang di tangan kanan dan tameng di tangan kiri. Sementara penari wanita akan mengenakan pakaian putih dengan sapu tangan di kedua tangan mereka. Alat musik yang mengiringi Cakalele terdiri dari tifa, drum, fluet, dan bia. Makna yang terkandung di tari Cakalele diantaranya adalah, merah menggambarkan keberanian dan perjuangan dalam menghadapi perang. Sedangkan parang dan tameng adalah alat untuk menjaga harga diri masyarakat Maluku hingga mati. Masyarakat juga percaya bahwa ketika mereka menarikan Cakalele, arwah leluhur akan merasuki mereka. Dan hal tersebut hanya akan dirasakan oleh masyarakat asli Maluku itu sendiri. (sumber : http://citizendaily.net/tari-...
Tari gambyong merupakan salah satu bentuk tari tradisional Jawa. Tari gambyong ini merupakan hasil perpaduan tari rakyat dengan tari keraton. Sejarah ‘Gambyong’ semula merupakan nama seorang waranggana – wanita terpilih atau wanita penghibur – yang pandai membawakan tarian yang sangat indah dan lincah. Nama lengkap waranggana tersebut adalah Mas Ajeng Gambyong yang hidup pada zaman Sinuhun Paku Buwono IV di Surakarta (1788-1820), dia terkenal di seantero Surakarta dan terciptalah nama Tari Gambyong.. Awal mulanya, tari gambyong sebagai bagian dari tari tayub atau tari taledhek. Istilah taledhek tersebut juga digunakan untuk menyebut penari tayub, penari taledhek, dan penari gambyong. Gambyong juga dapat diartikan sebagai tarian tunggal yang dilakukan oleh seorang wanita atau tari yang dipertunjukkan untuk permulaan penampilan tari atau pesta tari. Gambyongan mempunyai arti golekan ‘boneka yang terbuat dari kayu’ yang mengg...
Tari gambyong merupakan salah satu bentuk tari tradisional Jawa. Tari gambyong ini merupakan hasil perpaduan tari rakyat dengan tari keraton. Sejarah ‘Gambyong’ semula merupakan nama seorang waranggana – wanita terpilih atau wanita penghibur – yang pandai membawakan tarian yang sangat indah dan lincah. Nama lengkap waranggana tersebut adalah Mas Ajeng Gambyong yang hidup pada zaman Sinuhun Paku Buwono IV di Surakarta (1788-1820), dia terkenal di seantero Surakarta dan terciptalah nama Tari Gambyong.. Awal mulanya, tari gambyong sebagai bagian dari tari tayub atau tari taledhek. Istilah taledhek tersebut juga digunakan untuk menyebut penari tayub, penari taledhek, dan penari gambyong. Gambyong juga dapat diartikan sebagai tarian tunggal yang dilakukan oleh seorang wanita atau tari yang dipertunjukkan untuk permulaan penampilan tari atau pesta tari. Gambyongan mempunyai arti golekan ‘boneka yang terbuat dari kayu’ yang mengg...
Di kalangan masyarakat Jambi, jika seorang anak hendak melangsungkan pernikahan, terdapat beberapa ritual atau prosesi yang harus ia jalani. Ritual ini disebut dengan Berserambahan. Pada acara Berserambahan, calon mempelai pria dan wanita saling bertukar pantun, yang disebut juga dengan Sloka Mudo. Tahapan setelah Seloka Mudo adalah : Berusik Sirih, Bergurau Pinang Ritual ini adalah proses dimana kedua belah pihak (calon mempelai pria dan wanita) menjajaki perasaan mereka. Menilik lagi apakah mereka akan melanjutkan ke jenjang pernikahan atau tidak. Duduk Bertuik, Tegak Bertanyo Tahapan ini adalah tahap dimana pihak pria menggali tentang calon mempelai wanita. Terkait tentang silsilah keluarga, sopan santun, serta persetujuan dari orangtuanya. Ikat Buatan Janji Semayo Merupakan tahapan dimana keluarga dari kedua belah pihak membicarakan tanggal yang tepat untuk pertunangan. Ulur Antarserah Terimo Pusako...
Gondang adalah lagu pada tutunggulan, ada mulanya gondang merupakan bagian dari upacara untuk menghormati Dewi Padi, Nyi Pohaci SANGHYANG SRI, waktu menumbuk padi untuk pertama kalinya, biasa disebut meuseul Nyai Sri, setelah panen usai. Yang melakukan gondang yaitu wanita yang dianggap suci atau sudah tidak menstruasi (menopause). Itu dulu waktu di Jaman Prabu Siliwangi[1]. Perkembangan selanjutnya gondang menjadi nama salah satu seni pertunjukan yang menggambarkan muda-mudi di pedesaan menjalin cinta kasih, dengan gerak dan lagu yang romantis penuh canda. Sekelompok pemudi menumbuk padi dengan mempergunakan lesung, kemudian sekelompok pemuda datang, Terjadilah dialog yang akhirnya mereka pulang berpasang-pasangan. Sumber: http://antoncharlianbudaya.blogspot.com/2014/01/wayang-golek-kendang-pencak-rampak.html