Kue Bika adalah camilan yang berasal Sumatera Barat berukuran kira-kira sebesar tangan. Mayoritas orang mengira kue bika menyerupai bika ambon asal Sumatera Utara. Namun, baik penampakan, rasa, maupun cara pembuatan, kue bika berbeda dengan bika Ambon. Bika ambon berasal dari Sumatera Utara, berwarna kuning dan berbentuk persegi sedangkan kue bika berasal dari Sumatera Barat, berwarna putih dan berbentuk bundar. Tekstur kue bika pun memiliki pori-pori yang lebih kecil dibandingkan bika ambon. Kue bika banyak ditemukan di daerah Koto Baru, Padang Panjang, sebuah kota yang berdekatan dengan kota Bukittinggi yang akan dilewati jika kita menempuh perjalanan darat dari kota Padang atau Kota Solok menuju Bukittinggi. Warung-warung penjual bika berbaris di kota ini dengan kualitas yang bervariasi. Walau menjamur di Koto Baru, Bika dapat ditemukan di kota-kota lain bahkan di provinsi lain. Kue bika memiliki bahan-bahan berupa tepung beras, tape, santan, gula merah, kelapa parut dan...
Jam G adang (dalam Bahasa Indonesia berarti jam besar) merupakan sebuah menara jam yang merupakan landmark dari provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Menara jam ini memiliki diameter 80 cm dengan denah dasar 13x4 meter dengan tinggi mencapai 26 meter. Ukurannya yang tidak lazim itulah maka menara jam ini disebut sebagai jam besar. Terletak di kota Bukit Tinggi, Jam Gadang menjadi simbol khas Sumatera Barat karena usianya yang sudah mencapai puluhan tahun serta karena keunikan yang dimilikinya. Jam Gadang dibangun pada tahun 1926 oleh seorang arsitek bernama Yazid Sutan Gigi Ameh. Jam ini merupakan hadiah dari Ratu Belanda kepada Controleur (Sekretaris Kota) pada waktu itu. Pembangunannya sendiri konon menghabiskan biaya hingga 3.000 Gulden. Hal yang menjadi keunikan dari jam ini terletak pada ornamennya yang selalu berubah mengikuti perkembangan penguasa saat itu. Pada masa pen...
Pensi merupakan makanan camilan yang dapat ditemukan di daerah Maninjau, tepatnya di pinggir lokasi wisata Danau Maninjau, Sumatera Barat. Camilan ini merupakan kerang berukuran kecil yang direbus dengan tambahan bumbu tertentu. Camilan ini menjadi unik karena proses para penjual untuk mendapatkan pensi agar bisa dijual. Mereka tidak membeli pensi dari para penjual besar. Para penjual harus 'menceburkan' dirinya ke pinggiran Danau Maninjau untuk mengambil pensi yang ada di dasar danau tersebut.
Rendang (bahasa Minang: Randang) adalah salah satu masakan tradisional Minangkabau yang menggunakan daging dan santan kelapa sebagai bahan utama dengan kandungan bumbu rempah-rempah yang kaya. Masakan dengan citarasa yang pedas ini digemari oleh seluruh kalangan masyarakat, dan dapat ditemukan di seluruh Rumah Makan Padang di Indonesia, Malaysia, ataupun di negara lainnya. Masakan ini kadang lebih dikenal dengan nama Rendang Padang, padahal rendang merupakan masakan khas Minang secara umum. Pada tahun 2011, rendang dinobatkan sebagai hidangan peringkat pertama dalam daftar World’s 50 Most Delicious Foods (50 Hidangan Terlezat Dunia) yang digelar oleh CNN International. TEMPAT RUMAH MAKAN: Restoran Sederhana, Jl. Ampera Raya No. 99 Jakarta Selatan, +(021) 78840042 Restoran Sederhana, Pasar Bendungan Hilir Los H Blok A 47/51 Jakarta Pusat, +(021) 5736810 / 5705049 Restoran Sederhana, Jl. Dewi Sartika No. 238 Cawang...
Rendang adalah makanan tradisional yang terbuat dari daging sapi sebagai bahan utamanya dengan ditambahkan santan kelapa. selain itu juga banyak dipadukan dengan bahan lain seperti cabe, lengkuas, bawang, dan masih banyak bumbu lainnya. sebenarnya untuk di Indonesia sendiri banyak jenis rendang. tapi yang paling terkenal dan mampu masuk sebagai pemenang makanan terlezat di dunia adalah rendang khas Sumatera Barat. rendang dari Sumatera Barat mempunyai tekstur warna yang lebih hitam daripada rendang jenis lainnya. selain itu dari rasa rendang Sumatera Barat punya rasa yang lebih pedas dan lebih terasa bumbu rempahnya. Filosofi Rendang Rendang memiliki posisi terhormat dalam budaya masyarakat Minangkabau. Rendang memiliki filosofi tersendiri bagi masyarakat Minang Sumatra Barat yaitu musyawarah. nah alasannya adalah karena: Dagiang (Daging Sapi), merupakan lambang dari Niniak Mamak yang berarti para pemimpin suku adat Karambia (Kelapa), merup...
Ayam Pop adalah makanan khas Sumatera Barat yang menggunakan bahan utama ayam, air kelapa dan santan. Selain bahan-bahan tadi, ayam pop menggunakan bumbu bawang putih, jaeh dan garam. Cara pengolahan ayam pop adalah dengan melumurkan ayam dengan jeruk nipis dan bumbu halus, lalu dimasukan ke dalam santan dan air kelapa yang sudah dipanaskan. Ayam pop biasanya dihidangkan dengan cabe merah dan sayur pucuk ubi. Untuk resep asli bisa kunjungi artikel resep ayam pop TEMPAT RUMAH MAKAN: Restoran Sederhana, Jl. Ampera Raya No. 99 Jakarta Selatan, +(021) 78840042 Restoran Sederhana, Pasar Bendungan Hilir Los H Blok A 47/51 Jakarta Pusat, +(021) 5736810 / 5705049 Restoran Sederhana, Jl. Dewi Sartika No. 238 Cawang - Jakarta Timur, +(021) 8004848 Restoran Sederhana, Jl. Radin Intan II Taman Buaran Indah U 225 Jakarta Timur, +(021) 86614678 Restoran Sederhana, Jl. Trans Yogie No. 72 (Alternatif Cibubur), +(021) 84592368 Restoran Se...
Negeri Koto Nan Ampek adalah sebuah daerah yang terletak di Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatra Barat, Indonesia. Konon, daerah yang subur ini dulunya merupakan kawasan hutan lebat. Oleh masyarakat sekitar, kawasan ini dijadikan permukiman dan diberi nama Nagari Koto Nan Ampek dan Koto nan Gadang. Mengapa daerah tersebut diberi nama Nagari Koto Nan Ampek dan Koto nan Gadang? Temukan jawabannya dalam cerita Asal Mula Negeri Koto Nan Ampek berikut ini! * * * Alkisah, di sebuah nagari di daerah Minangkabau, Sumatra Barat, ada sebuah kerajaan dipimpin oleh seorang raja yang bergelar Baginda Mulia Nan Arif Bijaksana. Diberi gelar demikian karena ia seorang raja yang sungguh arif dan bijaksana. Ia senantiasa menjalankan segala kewajibannya sebagai seorang raja dan memberikan segala sesuatu yang menjadi hak rakyatnya. Rakyat negeri ini senantiasa hidup aman, tentram dan makmur. Betapa tidak, selain memiliki raja yang arif dan bijaksana, mereka juga mem...
Di salah satu perkampungan di kaki Gunung Tinjau itu tinggal sepuluh orang bersaudara yang terdiri dari sembilan lelaki dan seorang perempuan. Penduduk sekitar biasa memanggil mereka Bujang Sembilan. Kesepuluh orang bersaudara tersebut adalah Kukuban, Kudun, Bayua, Malintang, Galapuang, Balok, Batang, Bayang, dan lelaki termuda bernama Kaciak. Sementara adik mereka yang paling bungsu adalah seorang perempuan bernama Siti Rasani, akrab dipanggil Sani. Kedua orangtua mereka sudah lama meninggal, sehingga Kukuban sebagai anak sulung menjadi kepala rumah tangga. Semua keputusan ada di tangannya. Kesepuluh bersaudara tersebut tinggal di sebuah rumah peninggalan kedua orangtua mereka. Untuk memenuhi kebutuhannya, mereka menggarap lahan pertanian yang cukup luas warisan kedua orangtua mereka. Mereka sangat terampil bertani, karena mereka rajin membantu ayah dan ibunya ketika keduanya masih hidup. Di samping itu, mereka juga dibimbing oleh paman mereka yang bernama Datu...
Di negeri batang tabik, yang sekarang sudah termasuk dalam kota Payakumbuh, hiduplah seorang kaya. Mak Isun orang menyebutnya. Waktu mudanya menjadi kusir bendi. Bendi yang dipakainya milik orang lain yang disewa. Dia seorang yang rajin dan hemat. Bendinya selalu bersih dan kudanya terpelihara dengan baik sehingga orang pun lebih suka menumpang pada bendi Mak Isun. Ketika pemiliknya meninggal, bendi dan kuda itu dibeli Mak Isun dengan cicilan. Setelah menjadi pemilik, Mak Isun tidak lagi membayar sewa. Namun uang sewanya tetap dikeluarkan dan dimasukkan kedalam tabungan. Lama-lama uang sewa yang ditabung itu dapat pula membeli bendi berikut kudanya dan bendi itu disewakannya pada orang lain. Sampai pada suatu masa, Mak Isun telah memiliki delapan bendi berikut kudanya. Memiliki bendi sebanyak itu terbilang luar biasa. Sejak itu namanya menjadi Mak Isun Kayo, Mak Isun yang kaya. Meski menjadi orang kaya, gaya hidup Mak Isun tidak berubah. Ia tetap menjadi orang yang &...