Pada zaman dahulu kala, di sebuah kampung antah berantah, hidulah sepasang suami istri. Mereka merupakan sebuah keluarga yang sangat miskin. Rumahnya dari pelepah daun rumbia yang didirikan seperti pagar sangkar puyuh. Atap rumah mereka dari daun rumbia yang dianyam. Tidak ada lantai semen atau papan di rumah tersebut, kecuali tanah yang diratakan dan dipadatkan. Di sana tikar anyaman daun pandan digelar untuk tempat duduk dan istirahat keluarga tersebut. Demikianlah miskinnya keluarga itu. Rumah mereka pun jauh dari pasar dan keramaian. Namun demikian, suami-istri yang usianya sudah setengah abad itu sangat rajin beribadah. “Istriku,” kata sang suami suatu malam. “Sebenarnya apakah kesalahan kita sehingga sudah di usia begini tua, kita belum juga dianugerahkan seorang anak pun. Padahal, aku tak pernah menyakiti orang, tak pernah berbuat jahat kepada orang, tak pernah mencuri walaupun kita kadang tak ada beras untuk tanak.”...
Amat Mude adalah seorang putra mahkota dari Kerajaan Alas, Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia. Sebagai pewaris tahta kerajaan, ia berhak menjadi Raja Negeri Alas. Namun karena ia masih kecil dan belum sanggup mengemban tugas sebagai raja, maka untuk sementara waktu tampuk kekuasaan dipegang oleh pakcik (paman)-nya. Pada suatu hari, sang Pakcik membuang Amat Mude dan ibunya ke sebuah hutan, karena tidak ingin kedudukannya sebagai Raja Negeri Alas digantikan oleh Amat Mude. Bagaimana nasib permaisuri dan Putra Mahkota Kerajaan Alas selanjutnya? Ikuti kisahnya dalam cerita Putra Mahkota Amat Mude berikut ini! Alkisah, di Negeri Alas, Nanggroe Aceh Darussalam, ada sebuah kerajaan yang diperintah oleh seorang raja yang arif dan bijaksana. Seluruh rakyatnya selalu patuh dan setia kepadanya. Negeri Alas pun senantiasa aman dan damai. Namun satu hal yang membuat sang Raja selalu bersedih, karena belum dikaruniai seorang anak. Sang Raja ingin sekali seperti adiknya yang sudah memili...
Tak diketahui secara pasti kapan bangunan ini didirikan, karena ada dua sumber yang bertentangan. Pertama, Kitab Bustanus Salatin yang menyatakan bahwa bangunan itu didirikan saat pemerintahan Sultan Iskandar Thani (1636-1641). Kedua, cerita rakyat Aceh menyatakan bahwa bangunan itu dibuat saat pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636) Bangunan ini terletak di sebelah timur, Jalan Teuku Umar, Kecamatan Neusu, Banda Aceh. Sebuah monumen sejarah yang dipercaya sebagai tanda cinta Sultan terhadap permaisurinya. Dalam Kitab Bustanus Salatin dikatakan, saat pemerintahan Sultan Iskandar Thani (1636-1641), sebuah taman yang sangat indah dibuat di ibukota Kesultanan, dan diberi nama Taman Ghairah. Taman itu dibangun di tanah seluas sekitar 1.000 meter persegi, dan di sana mendirikan dua buah bangunan, Pinto Khop dan Gunongan. Sedangkan menurut cerita rakyat, seorang sultan Aceh memerintahkan perbuatan pengunungan buatan yang dikelilingi taman indah untuk permaisurinya....
Rapa'i merupakan alat musik tradisional asal Nangroe Aceh Darussalam yang termasuk dalam kelompok alat musik tabuh berbentuk bundar. Rapa'i memiliki tampilan fisik menyerupai rebana yang menandakan pengaruh Arab dari para pedagang Arab pada masyarakat Aceh. Alat musik ini terbuat dari kulit kambing dan kayu nangka. Rapa'i dimainkan oleh sekelompok lelaki dan dapat berfungsi sebagai pengiring tarian daerah. Rapa'i terbagi menjadi beberapa jenis. Beberapa di antaranya adalah ; rapa'i pasee, rapa'i daboh, rapa'i geurumpheng, rapa'i pulot, rapa'i geleng dan rapa'i aneuk. Terdapat sumber yang menyebutkan mengenai hilangnya ribuan Rapa'i Pasee yang memiliki nilai yang tinggi pada masa gejolak Aceh (1976-2005). Ripa'i Pasee merupakan salah satu jenis Ripa'i terbesar yang memiliki diameter mencapai 1,3 meter sekaligus menjadikannya sebagai Ripa'i yang Terdapat pepatah aceh yang berkata &...
Assalammualaikum, jamee baro trok Tameung, tameung jak pioh u ateuh tika Karena, karena saleum Nabi k heun Sunnah Jaro, Jaro ta mumat syarat mulia.. Penari-penari wanita mendendangkan lagu sembari menari; menepuk-nepukan dada, menjentik-jentikan jari, menggeleng-gelengkan kepala dan melakukan berbagai gerakan dalam posisi duduk berlutut sambil sesekali bangun dari duduk dan berdiri diatas lutut mereka, lalu kemudian sesekali pula membungkukan badan hingga kepala-kepala mereka nyaris menyentuh lantai. Kemudian penari-penari tersebut bergerak dalam posisi duduk sambil menirukan gelombang air laut dan berdendang: Hai laot sa I e lam ombak meu alon kapai jih Ek tron meulumba-lumba Hai bacut tek… ds t Begitulah para penari wanita menarikan tarian Ratoh Duek (duduk berbincang-bincang atau seperti yang disebut Keith Howard sebagai women chattering ). Jika ditilik dari unsur...
Indonesia memang subur untuk tanaman Kopi, kenikmatan rasa kopinya pun sudah terkenal di mana mana, selain lampung, sebagai penghasil kopi terbesar rupanya Aceh tidak mau kalah untuk mengenalkan Cita rasa kopinya, bahkan Kopi aceh sudah menjadi andalan Impor dari provinsi ini. Daerah Gayo adalah penghasil kopi Aceh ini, Para ahli kopi pun sudah sepaat mengatakan jika kopi asal Gayo ini punya citra khas dan sudah di akui dunia. Negara-negara dari benua Amerika Dan Eropa pun tidak mau kalah ingin mencicipi rasa khas kopi aceh ini. Bahkan menurut laporan BBC Indonesia , perusahaan Starbucks Coffe yang merupakan perusahaan kopi terbesar di dunia dan sudah sangat di kenal di mana-mana, 80% mendatangkan jenis kopi arabika dari Gayo untuk kebutuhan Dunia. Karena laris merek dagang kopi Gayo pernah diklaim oleh Belanda, Berikut nama-nama merek Kopi Aceh Ghora Cofee Embun pagi kopi Gayo Asli Lakun Cofee Rumah Aceh Kopi Gayo Dan masih bany...
Ranup Lampuan adalah kesenian tari yang berasal dari Nangroe Aceh Darussalam . Tari ini merupakan visualisasi dari salah satu filosofi hidup warga Aceh, yakni menjunjung keramah-tamahan dalam menyambut tamu. Gerakan demi gerakan dalam Ranup Lampuan menggambarkan prosesi memetik, membungkus, dan menghidangkan sirih kepada tamu yang dihormati, sebagaimana kebiasaan menghidangkan sirih kepada tamu yang berlaku dalam adat masyarakat Aceh. Menilik karakteristiknya, atas dasar tersebut, tari ini digolongkan ke dalam jenis tari adat/upacara. Sejarah Ranup Lampuan Ranup (atau ranub) dalam Bahasa Aceh memang berarti sirih, sementara lampuan terdiri dari dua kata, yakni (lam) yang artinya dalam, dan (puan) yang berarti tempat sirih khas Aceh. Tarian ini diciptakan oleh Yusrizal (Banda Aceh) kurang lebih pada 1962 (Burhan, 1986; 141). Tak lama setelah populer di Banda Aceh, tari ini berkembang di berbagai daerah lainny...
Ketika mendengar “Bungong Jeumpa” setiap orang akan mengingat Aceh. Kemegahan Lagu Bungong Jeumpa seolah telah tersebar hingga ke pelosok negeri, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di mancanegara. Berikut sepenggal lirik lagu yang sangat populer itu, namun kadang keliru dilafalkan: Bungong Jeumpa Bungong Jeumpa Meugah di Aceh Bungong teuleubeh teuleubeh Indah lagoina Puteh kuneng meujampu mirah Bungong si-ula si-ula Lam sinar buleun lam sinar buleun angen peu ayon Luroh meususon meususon yang mala mala mangat that meubee meunyo tatem com Leupah that harom si bungong Jeumpa Bungong Jeumpa adalah bunga kebanggaan masyarakat Aceh. Di luar Aceh, bunga ini dikenal dengan sebutan Bunga Kantil. Dahulu Jeumpa tumbuh liar di Bumi Serambi Mekkah karena Jeumpa memang tumbuhan endemik yang tumbuh subu...
Secara umum upacara-upacara adat yang diselenggrakan oleh petani selama mengerjakan sawah dilakukan pada tahap-tahap tertentu. Misalnya pada saat menjelang turun ke sawah untuk pertama kalinya. Pada tahap ini masyarakat biasanya menyebutnya Kenduri ule Lhueng atau babah lhueng . Kenduri ini dilaksanakan pada saat air dimasukkan ke dalam alur yang akan mengairi sawah. Pada saat kenduri ule lhueng dilakukan pemotongan kerbau. Tempat kenduri biasanya dekat mulut alur. Sesudah padi ditanam di daerah adat istiadat Kluet, dilangsungkan keunduri kanji pada saat pai berumur 1-2 bulan, yaitu dengan membawa bubur ke sawah. Mengantar bubur ke sawah dengan upacara tertentu yang dipimpin oleh kejurun belang . Menjelang bunting atau dara atau padi berisi, diadakan kenduri sawah . Sedangkan untuk di daerah lainnya berbeda-beda dalam penyebutannya. Misalnya di Aceh besar biasa disebut keunduri geuba geuco di tempat kubur...