Di Batang ada yang namanya tradisi Kliwonan, yaitu tradisi yang diadakan setiap malam jumat kliwon. Tradisi ini pada awalnya merupakan tradisi untuk menghormati leluhur nenek moyang yang telah berjasa membangun Batang dengan cara melakukan ritual-ritual sederhana. Namun, saat ini tradisi ini berubah menjadi kegiatan jual-beli. Ada mitos yang mengatakan jika tradisi ini tidak dilakukan maka akan datang musibah atau sanksi alam, masyarakat mempercayai bahwa musibah tersebut diakibatkan kemarahan nenek moyang yang berbau mistis. Tradisi Kliwonan juga merupakan tradisi yang menjadi cikal bakal lahirnya Kota Batang. Pada zaman Mataram, Sultan Agung memerintahkan Ki Ageng Cempaluk untuk membersihkan daerah hutan yang disebut Alas Roban, dikarenakan banyak perampok yang berkeliaran disana. Setelah Ki Ageng Cempaluk membersihkan wilayah Alas Roban dari perampok, Beliau memerintahkan Bahurekso untuk melakukan pembangunan diatas Alas Roban. Di tengah-tengah...
Tahu Aci merupakan salah satu makanan tradisional Indonesia khas dari daerah Kabupaten Tegal. Banyak sekali penjual Tahu Aci ini di pinggir jalan bahkan hingga pedagang asongan pun ikut menjual makanan ini di dalam bus - bus pariwisata. Tahu Aci ini juga biasa disebut dengan Tahu Tegal. Tahu Aci terbuat dari tahu kuning yang berbentuk persegi lalu dipotong menjadi dua sehingga berbentuk segitiga. Kemudian, dari bekas belahannya di tempelkan adonan yang terbuat dari tepung kanji atau aci, potongan daun kucai, daun bawang, dan beberapa bumbu lain. Kenapa sih Tahu Aci disebut dengan Tahu Tegal? Ternyata, hal ini terletak pada tahu kuningnya yang hanya diproduksi di Tegal. Tahu kuning yang diproduksi di Tegal ini membuat tahu dan acinya melekat dengan lebih baik dibanding tahu dari daerah lain. Maka dari itu, Tahu Aci sangatlah populer karena kenikmatannya dan kualitas tahunya juga. Cara membuat Tahu Aci ini adalah digoreng dan biasanya menggunakan minyak goreng y...
Upacara ruwatan adalah upacara yang dilakukan untuk seorang anak yang terlahir dalam kondisi tertentu. Misalnya ada 5 bersaudara laki-laki semua, lahir 3 bersaudara di mana anak kedua adalah laki-laki sedangkan anak sulung dan bungsunya perempuan. Upacara dilakukan dengan cara mengadakan "selametan". Yaitu dengan doa dan makan bersama di antara kerabat dan sanak saudara. Biasanya mengadakan pertunjukan wayang kulit. Upacara ini tidak ada aturan tanggal tertentu dan biasanya dilakukan oleh orang yang brada/mampu karena mahalnya upacara ini. OSKMITB2018
Pada zaman dahulu ada seorang raja yang bernama Hyang Nata, raja tersebut bertempat tinggal di kerajaan Pajajaran, Jawa Barat. Raja Hyang Nata suka sekali berburu di hutan. Pada suatu hari Raja tersebut berburu dengan ditemani para pengawalnya, namun sampai sore hari dia tidak mendapatkan binatang buruan, kemudian sang raja beristirat dan mencari semak-semak untuk buang air kecil lalu tanpa sengaja air seni itu tertampung pada sebuah tempurung kelapa. Setelah beberapa lama tiba-tiba datang seekor babi yang kehausan, babi tersebut meminum air seni itu yang tertampung di kelapa. Tiba-tiba perut babi itu membuncit, Dia mengandung setelah beberapa bulan mengandung, babi itu kemudian melahirkan seorang bayi perempuan. Bayi itu diletakan di atas rerumputan. Pada suatu hari raja Hyang Nata kembali ke tempat yang sama untuk berburu,di tengah hutan sang raja mendengar suara bayi menagis. Raja dan para pengawalnya mencari darimana asal suara tersebut. Dan mereka pun menemukan bayi tersebut dire...
Masjid Agung Demak adalah masjid yang terletak di Kelurahan Bintoro, Demak, Jawa Tengah dan merupakan salah satu masjid yang tertua di Indonesia. Masjid ini didirikan pada zaman Kerajaan Demak oleh Raden Patah dan para wali songo sekitar abad ke-15 masehi. Pada mihrab masjid demak terdapat gambar bulus atau kura-kura. Gambar tersebut terdiri atas kepala yang berarti angka 1, 4 kaki berarti angka 4, badan bulus berarti angka 0, ekor bulus berarti angka 1. Dari simbol ini diperkirakan Masjid Agung Demak berdiri pada tahun 1401 Saka. Masjid ini terdiri dari bangunan induk dan serambi. Bangunan induk memiliki empat tiang utama yang disebut Saka Guru. Salah satu dari tiang utama tersebut konon berasal dari serpihan-serpihan kayu, sehingga dinamai Saka Tatal. Bangunan serambi merupakan bangunan terbuka. Atapnya berbentuk limas yang ditopang delapan tiang yang disebut Saka Majapahit. Atap limas masjid terdiri dari tiga bagian yang menggambarkan Iman, Islam, dan Ihsan. Pintu utama...
Apitan atau bisa disebut "Sedekah Bumi" adalah wujud rasa syukur masyarakat khususnya desa cikawung terhadap hasil panen yang diperoleh. Adapun prosesi apitan itu sendiri adalah dengan penyembelihan satu ekor kambing sama halnha seperti qurban akan tetapi dalam prosesi apitan daging kambing yang sudah disembelih kemudian dimasak terlebih dahulu sebelum dibagikan ke warga masyarakat. Biasanya acara apitan diselenggarakan tiap RT menggunakan uang iuran. Selain sebagai wujud rasa syukur apitan juga menjadi pemererat silaturahmi antar warga khususnya dalam satu RT karena prosesinya dilakukan secara gotong royong. Bagi para lelaki tugasnya adalah menyembelih dan membersihkan daging kambing sementara para ibu ibu yang memasaknya.
Ayam geprek adalah kuliner khas Jogjakarta. Makanan ini memiliki nama yang sesuai dengan cara penyajiannya, yakni di “Geprek” dengan menggunakan alat yang terbuat dari batu alias cobek alat untuk menghaluskan bumbu secara manual. Cobek cukup populer di kalangan masyarakat kuliner karena hasil dari penghalusannya yang terkesan tradisional. Ayam geprek sangat popular akan tingkatan rasa pedasnya, sesuai permintaan konsumen, penyaji akan menghaluskan cabai dari 1 hingga 40! Cukup pedas bukan? Ayam geprek memiliki varian rasa yang cukup banyak, dari ayam bumbu kuning, ayam goreng tepung, dan lain lain. Cara pembuatannya sedikit berbeda dari ayam goreng biasa, namun hal inilah yang menjadikan ayam geprek spesial dan populer di kalangan masyarakat. Ayam yang sudah digoreng dengan tepung namun hanya setengah matang, dibakar lagi untuk ditambahkan berbagai bumbu sesuai menu pilihan. Seperti mozzarella, sambal terasi, sambal tomat, bahkan sambal matah yang berasal da...
Sate Serepeh, ikon kuliner Kabupaten Rembang, dikenal sebagai masakan legendaris. Sate ini terbilang unik karena tampilan dan racikannya beda dengan sate ayam lainnya. Sate ayam dari Madura atau Ponorogo umumnya berupa potongan daging ayam yang ditusuki dengan tusuk sate. Dicelup bumbu dan dibakar di atas bara api. Warnanya kecokelatan dan disajikan dengan saus kacang dan kecap manis. Namun berbeda dengan Sate Serepeh. Meski tetap menggunkan varian daging ayam maupun kambing, tapi bumbu sate ini bisa dibilang anti- mainstream . Bumbunya berwarna merah kekuningan, bersantan, dan lebih encer ketimbang bumbu sate pada umumnya. Rasanya manis, namun terdapat sensasi rasa pedas dan gurih. Berbeda jauh dengan rasa sate dengan bumbu kacang ataupun bumbu kecap. Sate Serepeh ini biasa disajikan diwaktu sarapan dan waktu - waktu tertentu seperti Idul Fitri dan Idul Adha Kini, cukup sulit untuk menemukan masyarakat yang masih menjual Sate Serepeh. Karena itu, ku...
Sungkeman merupakan sebuah ritual yang berasal dari Jawa yang dipakai di berbagai acara di Jawa. Sebagai contoh kita dapat menemukan budaya sungkeman anak kepada orang tuanya pada saat menjelang pernikahan. Namun di beberapa daerah di Jawa Tengah seperti Magelang khususnya di desa Njoso, sungkeman merupakan kegiatan rutin pada saat Idul Fitri. Yang membedakan budaya Sungkeman di Magelang dengan beberapa daerah lain adalah sungkeman tidak hanya dilakukan antara anak dan orang tuanya melainkan juga ke para tetangganya. Di Magelang, sehabis sholat Ied warga akan berbondong-bondong mengelilingi kampung. Setiap rumah pasti sudah menyiapkan berbagai toples kue dan camilan lebaran untuk tamu yang datang. Di Magelang khususnya di desa Njoso, para sesepuh akan didatangi oleh masyarakat sekitar. Warga akan mengantri dengan berjongkok sambil menunggu giliran sungkeman. Pada saat sungkeman kepada sesepuh, warga biasanya meminta maaf dan mengucapkan minal aidzin wal faidzin. Setelah itu, par...