Tersebutlah cerita Batu Menengis di sebuah kampung di pinggiran danau Minanjau. Kampung itu bernama Bayur. Dan batu yang akan diceritakan itu terletak di sebelah kiri jalan ke Lubuk Basung menjelang negeri Koto Baru. Dahulu kala kampung ini didiami oleh penduduk yang kerjanya bertani menangkap ikan ke danau. Penduduk yang berjiwa gotong-royong ini bisa mendirikan rumah-rumah besar yang bergonjong dan di antaranya ada yang bernama rumah gadang Gajah Maharam. Rumah-rumah yang didirikan oleh penduduk ini sangatlah rapatnya, sehingga atap rumah yang satu dengan yang lain hampir bersambungan. Pada suatu hari terjadilah kebakaran yang sangat banyak memusnahkan rumah-rumah penduduk itu. Hampir seluruh kampung itu habis dilanda api. Penduduk kampung banyak yang jatuh melarat karena tidak bisa menyelamatkan harta benda. Dan bahkan padi di lumpung pun turut terbakar. Dengan kejadian yang menakutkan ini banyaklah penduduk kampung berniat kembali mendirikan rumahnya di tempat-tempat...
Dahulu, hiduplah seorang guru agama yang tinggal di tepian sungai di daerah Sumatera Barat. Lebai, begitulah namanya. Karena profesinya itu, ia sangat dikenal di seluruh kampung yang berada di hulu sampai hilir sungai tersebut. Suatu hari, Lebai mendapatkan sebuah undangan pesta pernikahan anak salah seorang kenalannya yang berada di hulu sungai. Ia pun membaca isi undangan tersebut satu-persatu. Tidak berapa lama, datanglah tetangganya. "Pak Lebai, besok sore ada undangan pernikahan salah seorang anak didik Bapak Lebai. Rumahnya ada di hilir sungai. Ia berpesan agar Pak Lebai bisa hadir di acaranya tersebut," ucap salah seorang tetangganya. "Baiklah. Jika aku tidak berhalangan, aku akan datang," jawab Pak Lebai. Tetangga itu pun pergi setelah menyampaikan pesan. Tapi, Pak Lebai teringat akan undangan yang ia dapatkan sebelumnya. Ternyata, kedua undangan tersebut waktunya bersamaan. Hanya, rumah kedua undangan berjauhan. Undangan pertama letaknya ada di hulu sungai, seda...
Sumber : Arsip Museum Provinsi Sumatera Barat Museum Goedang Ransoem Jl. Abdul Rahman Hakim, Kel. Air Dingin, Kota Sawahlunto – Sumatera Barat Telp : (0754) 61985 Museum Goedang Ransoem merupakan bekas dapur umum yang dibangun pada 1918, di masa penjajahan Belanda. Dapur umum ini dilengkapi dua buah gudang besar dan steam generator (tungku pembakaran) untuk memasak 3900 kg beras setiap hari bagi para pekerja tambang batubara (orang rantai), pasien rumah sakit, dan keluarga pekerja tambang. Pada zaman Jepang hingga agresi Belanda II, aktivitas memasak dalam skala besar masih berlangsung. Sejak 1950-an setelah perang, aktivitas masak-memasak di dapur umum ini mulai menurun. Pada pertengahan 1970-an hingga 1980-an bangunan dapur umum ini dimanfaatkan sebagai tempat pendidikan dan perumahan karyawan Tambang Batubara Ombilin. Sampai awal 2005 bangunan ini masih dipakai sebagai tempat tinggal o...
Sumber : Arsip Museum Provinsi Sumatera Barat Museum Kereta Api Sawahlunto sangat layak didirikan di bekas kota tambang di wilayah Sumatera Barat ini, karena memang ia memiliki sejarah yang cukup panjang dengan kereta besi. Sejarah yang tidak lepas dengan kegiatan eksploitasi tambang batubara secara besar-besaran di daerah Sawahlunto oleh pemerintah kolonial Belanda. Setelah penemuan kandungan batubara yang mencapai 200 juta ton oleh WH de Greeve pada 1868, Belanda menanamkan modal 5,5 juta golden untuk membangun permukiman dan fasilitas perusahaan tambang batubara Ombilin. Jalur kereta api Sawahlunto – Emma Haven (Teluk Bayur) pun dibangun, memulai sejarah perkeretaapian di Sumatera Barat. Jalur Pulau Aie (Padang) – Padangpanjang selesai 12 Juli 1891, Padangpanjang – Bukittinggi selesai 1 November 1891, dilanjutkan jalur ke Solok yang selesai 1 Juli 1892. Jalur Solok – Muarokalaban dan jalur Padang – Telukbayur selesai secara bersama...
Prasasti Kuburajo (juga disebut Prasasti Kuburajo I atau Prasasti Koeboer Radja) ditemukan di daerah Kuburajo 0,463309°LS 100,578461°BT, Limo Kaum, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat pada tahun 1877 dan didaftarkan oleh N.J. Krom dalam "Inventaris der Oudheden in de Padangsche Bovenlanden" (OV 1912:41). Prasasti ini ditulis dalam bahasa Sanskerta, yang terdiri atas 16 baris tulisan. Prasasti ini merupakan salah satu dari sekian banyak prasasti yang ditinggalkan oleh Adityawarman. Adityawarman merupakan pelanjut dari Dinasti Mauli penguasa pada Kerajaan Melayu yang sebelumnya beribu kota di Dharmasraya, dan dari manuskrip pengukuhannya ia menjadi penguasa di Malayapura Swarnnabhumi atau Kanakamedini pada tahun 1347 dengan gelar Maharajadiraja SrÄ«mat SrÄ« UdayÄdityawarma PratÄpaparÄkrama RÄjendra MaulimÄli Warmadewa, dan di kemudian hari ibu kota dari kerajaan ini pindah ke daerah pedalama...
Tarian Baralek Gadang Tari Baralek Gadang ini menceritakan kehidupan masyarakat Minang, dari kehidupan sehari – hari mulai dari rumah turun kesawah bertanam padi, memanen dan menumbuk padi sampai makan bajamba. Tarian Baralek Gadang pada umumnya dilakukan guna menyambut atau merayakan suatu momentum penting dalam kehidupan Masyarakat Minang. Bisa Pernikahan atau hajatan lainnya yang dianggap penting. https://www.silontong.com/2018/08/28/tarian-daerah-sumatera-barat/
Tari Kiek Gadih Minang Merupakan kreasi dari tarian tradisional sumatera barat yang mengangkat unsur-unsur gerakan tarian tradisi Minang lainnya. Tarian yang dilakukan kelompok ini menceritakan akan kesibukkan gadis-gadis Minang pada waktu pagi hari ketika bersiap-siap melakukan aktifitas dan menuju masjid. https://www.silontong.com/2018/08/28/tarian-daerah-sumatera-barat/
Biola Minang Biola memang tidak asing di telinga Anda, bukan? Ya, alat musik ini kemudian juga menjadi alat musik tradisional Minang. Namun tidak begitu saja, biola yang di klaim sebagai alat musik Minangkabau sudah melalui proses modifikasi. Pengerjaan modifikasi dilakukan berdasarkan selera daerah lokal. Dan cara memainkan biola, rasanya pembaca sudah lebih tahu dari penulis. Dengan begitu tidak penting lagi untuk di jelaskan. https://www.silontong.com/2017/12/07/alat-musik-tradisional-sumatera-barat/ -------------------------------------------- Sumber: Ensiklopedi Musik dan Tari Daerah Sumatera Barat Biola adalah sejenis alat musik gesek tradisionil di daerah-daerah Kabupaten Pesisir Selatan. Dinamakan demikian karena berbentuk seperti biola, lengkap dengan segala alat-alatnya dan dibuat sendiri di daerah itu. Sebelumnya di daerah-daerah Kab. Pesisir Selatan dipergunakan orang rabab dibuat dar...
Lirik Lagu Badindin (Versi Baru) Setelah mengetahui lagu Badindin versi asli, tentunya kita penasaran, kayak gimana sih versi terbaru dari lagu Badindin ini, agar tidak ketinggalan yuk kita tengok lirik lagu versi terbarunya. Balari lari bukannyo kijang Pandan tajamua di muaro Kami manari jo tari indang Paubek hati urang basamo Ampun jo maaf oi kami puhunkan Pado dunsanak alek nan tibo Sambuiklah salam oi kami ucapkan Kami ba indang nan mudo-mudo Bamulo indang ka ditarikan Salam bajawek (ondeh) ganti baganti Lagu lah indang kami nyanyikan Supayo sanang (ondeh) basuko hati Dindin badindin oi dindin badindin Dindin badindin oi dindin badindin Di Pariaman oi baralek gadang Di bulan Tabuik sabana rami Kami tarikan oi tarinyo indang Salah jo jangga maafkan kami Kabekkan jawi di tangah padang Baoklah pulang (ondeh) di hari sanjo Kami manari jo tari indang Paubek hati (ondeh) urang basamo D...