Arca Ganesa dengan ketinggian 50 Cm, ditemukan di dataran tinggi Dieng-Wonosobo telah di teliti oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah dan di tempatkan di Museum Kailasa. menurut penelitian arca ini berasal dari masa hindu dieng di awal abad ke7-8
Bangunan Majid pada umumnya di negara lain berbentuk kubah bahkan di daerah seperti aceh dan daerah lain di Indonesia Pada Umumnya. namun di tanah jawa, bangunan masjid beratapkan limas bersusun, bangunan masjid biasanya berbentuk persegi atau kotak dan ini merupakan suatu budaya toleransi dan alkuturasi di jawa. Pada bangunan masjid jawa kuno biasanya kita akan menemukan bangunan berbentuk persegi sebagaimana bangunan kuil atau candi yang memiliki ruang utama berbentuk persegi. Pada bagian atap tidak berbentuk kubah namun berbentuk limas dengan ukiran seperti nanas yang mengantung di pojok pojok atap, biasanya tersusun 3-5 tingkatan atap. ini merupakan alkuturasi seperti bangunan candi dimana atapnya berbrntuk tingkatan atau kemucak. pada puncak atap masjid kita juga tidak akan menemukan kubah namun puncaknya berupa Mahkota atau mustiko yang berbentuk gada dengan ukiran bunga serta tumbuhan. dan Alkuturasi yang kaya akan nilai ini membuat Islam di Jawa kuat serta bertah...
Masjid Agung Nur Sulaiman merupakan salah satu bangunan cagar budaya di Kabupaten Banyumas yang telah terdaftar oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah pada 2004 dengan Nomor 11-12/Bas/44/TB/04. Masjid yang berlokasi di sebelah barat Alun-Alun Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas ini dilindungi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Semula masjid tersebut dikenal dengan sebutan Masjid Agung Banyumas. Namun sejak 1992 berganti nama menjadi Masjid Agung Nur Sulaiman Banyumas. Masuknya Masjid Agung Nur Sulaiman ke dalam daftar cagar budaya bukan tanpa alasan. Bangunan tersebut merupakan peninggalan sejarah yang dibangun saat ibu kota kabupaten itu masih berada di Banyumas atau sebelum dipindah ke Purwokerto. Masjid tersebut diperkirakan dibangun tidak lama setelah pembangunan pendopo "Bale Sipanji" atau rumah kabupaten. Berdasarkan Babad Banyumas yang dihimpun Oemardani dan Poerbasewojo, pendopo "Bale Sipanji" dibangun Rade...
Nama resmi masjid ini adalah masjid Saka Tunggal Baitussalam, tapi lebih populer dengan nama masjid saka tunggal karena memang Masjid ini hanya mempunyai saka tunggal (tiang penyangga tunggal). Saka tunggal yang berada di tengah bangunan utama masjid, saka dengan empat sayap ditengahnya yang akan nampak seperti sebuah totem, bagian bawah dari saka itu dilindungi dengan kaca guna melindungi bagian yang terdapat tulisan tahun pendirian masjid tersebut. Masjid saka tunggal berukuran 12 x 18 meter ini menjadi satu satunya masjid di pulau Jawa yang dibangun jauh sebelum era Wali Sembilan (Wali Songo) yang hidup sekitar abad 15-16M. Sedangkan masjid ini didirikan tahun 1288M, 2 abad sebelum Wali Songo., dan sebelum Kerajaan Majapahit berdiri yang dimulai dengan penobatan Raden Wijaya sebagau Raja pertama Majapahit pada 10 November 1293. Sekaligus menjadikan Masjid Saka Tunggal Baitussalam sebagai Masjid Tertua di Indonesia. Lokasi Masjid Saka Tunggal B...
Tradisi Unik Masjid Saka Tunggal Baitussalam Zikir seperti melantunkan kidung jawa Keunikan masjid saka tunggal Banyumas, benar benar terasa di hari Jum’at. Selama menunggu waktu sholat jum’at dan setelah sholat jum’at, Jamaah masjid Saka Tunggal berzikir dan bershalawat dengan nada seperti melantunkan kidung jawa. Dengan bahasa campuran Arab dan Jawa, tradisi ini disebut tradisi ura ura. Pakaian Imam dan muazin Imam masjid tidak menggunakan penutup kepala yang lazimnya digunakan di Indonesia yang biasanya menggunakan peci, kopiyah, tapi menggunakan udeng/pengikat kepala. khutbah jumat disampaikan seperti melantunkan sebuah kidung, Empat muazin sekaligus Empat orang muazim berpakaian sama dengan imam, menggunakan baju lengan panjang warna putih, menggunakan udeng bermotif batik, dan ke empat muazin tersebut mengumandangkan adzan secara bersamaan. ...
Jawi Jangkep Jika Kebaya dipakai khusus wanita, Jawi Jangkep dipakai oleh pria. Pakaian tradisional ini merupakan seperangkat pakaian pria Jawa yang terdiri dari baju Beskap dengan motif kembang-kembang, destar atau blankon yang digunakan di kepala. https://www.silontong.com/2018/05/02/nama-pakaian-adat-jawa-tengah/
Condroso Dari dahulu wanita Jawa dikenal sebagai wanita yang mandiri dan mampu menjaga diri. mereka kerap membawa senjata untuk melindungi diri dari tindak kejahatan. Akan tetapi, senjata yang dibawa tidaklah berbentuk senjata, melainkan hanya sebatas tusuk konde. Tusuk konde tersebut memiliki ujung tusuk yang tajam dan diberi nama condroso. https://www.silontong.com/2018/04/29/senjata-tradisional-jawa-tengah/
Keris Senjata tradisional Jawa Tengan yang pertama dan yang paling populer adalah keris. Senjata yang bernama Keris ini telah diakui sebagai senjata dengan nilai seni yang tinggi. Daya serangnya yang bisa melumpuhkan dari jarak dekat juga tak bisa dianggap remeh. Pada beberapa daerah yang dihuni entitas Melayu , seperti Sumatera, Kalimantan, Bali, Sulawesi, bahkan hingga Negeri Jiran, Malaysia kita juga bisa menemukan senjata serupa. Akan tetapi, keris Jawa cenderung lebih populer karena kerap kali dianggap memiliki tuah tertentu. Keris Jawa bisa ditemukan dalam beragam bentuk, mulai dari yang tanpa luk (lekukan), berluk 3, 5, 7, dan seterusnya. Banyak wisatawan mancanegara atau domestik yang mengkoleksi senjata tradisional ini sebagai bentuk kekaguman dari setiap corak tempahan yang terpahat pada bilahnya. https://www.silontong.com/2018/04/29/senjata-tradisional-jawa-tengah/
Wedhung Banyak dari kita yang tidak mengatahui bila Jawa Tengah memiliki senjata tradisional yang bernama Wedhung. Meski keberadaannya masih kalah populer dibandingkan keris. Akan tetapi, di masa silam senjata jenis tikam ini nyatanya justru lebih sering digunakan masyarakat biasa. Bentuknya seperti pisau dengan satu mata bilah yang tajam. Wedhung dilengkapi dengan serangka yang terbuat dari kayu jati. https://www.silontong.com/2018/04/29/senjata-tradisional-jawa-tengah/