Produk Arsitektur
Produk Arsitektur
Peninggalan Cagar Budaya Jawa Tengah Jawa Tengah Banyumas
Masjid Agung Nur Sulaiman-Banyumas
- 4 Januari 2019

Masjid Agung Nur Sulaiman merupakan salah satu bangunan cagar budaya di Kabupaten Banyumas yang telah terdaftar oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah pada 2004 dengan Nomor 11-12/Bas/44/TB/04. Masjid yang berlokasi di sebelah barat Alun-Alun Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas ini dilindungi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

 

Semula masjid tersebut dikenal dengan sebutan Masjid Agung Banyumas. Namun sejak 1992 berganti nama menjadi Masjid Agung Nur Sulaiman Banyumas. Masuknya Masjid Agung Nur Sulaiman ke dalam daftar cagar budaya bukan tanpa alasan. Bangunan tersebut merupakan peninggalan sejarah yang dibangun saat ibu kota kabupaten itu masih berada di Banyumas atau sebelum dipindah ke Purwokerto.

Masjid tersebut diperkirakan dibangun tidak lama setelah pembangunan pendopo "Bale Sipanji" atau rumah kabupaten. Berdasarkan Babad Banyumas yang dihimpun Oemardani dan Poerbasewojo, pendopo "Bale Sipanji" dibangun Raden Tumenggung Yudhonegoro III (Bupati IX Banyumas) menggantikan Tumenggung Yudhonegoro II yang diangkat menjadi Patih I Keraton Yogyakarta sekitar tahun 1755.

Dengan demikian, Masjid Agung Nur Sulaiman diperkirakan dibangun pascapembangunan pendopo "Bale Sipanji" atau setelah tahun 1755. Juru Pelihara Masjid Agung Nur Sulaiman BP3 Jateng Djoni Muhammad Farid mengatakan bangunan masjid tersebut merupakan bangunan khas Banyumas yang berbentuk limasan.

Pada awalnya, mustaka atau atap bangunan masjid itu menggunakan welit (anyaman) daun tebu dan selanjutnya diganti menggunakan seng bergelombang karena anyaman tersebut sulit didapatkan dan tidak awet. "Namun tidak diketahui secara pasti kapan pertama kali atap bangunan masjid itu diganti dengan seng," katanya.

Selain itu, kata dia, lantai masjid yang semula hanya berupa semen telah diganti menjadi tegel pada 1929. Bangunan masjid tersebut secara umum masih asli tanpa adanya penambahan ornamen baru. Bahkan, jendela-jendela di sekeliling tembok masjid masih menggunakan kayu jati.

Salah satu yang menarik dari Masjid Agung Nur Sulaiman berupa atap mihrab atau ruang imam yang terpisah dengan atap bangunan utama. "Biasanya, atap mihrab menjadi satu dengan bangunan utama, namun di masjid ini terpisah. Ruang mihrab memiliki atap sendiri," jelasnya.

Selain itu, di bagian atas atap bangunan utama maupun mihrab Masjid Agung Nur Sulaiman juga terdapat "mustaka" (kepala) yang berbentuk gada. Kendati demikian, "mustaka" yang terpasang saat sekarang merupakan pengganti dari "mustaka" yang tersambar petir sekitar 1950.

Di sekitar masjid diadakan penambahan bangunan pelengkap berupa Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Banyumas pada 1973. Sedangkan perbaikan-perbaikan yang dilakukan pada 1980 berupa pembongkaran pagar tembok di serambi, pengecatan atap seng dan penggantian seng yang rusak, perubahan teras serambu, penggantian kayu usuk serambi, perbaikan tempat wudhu sebelah utara masjid, perbaikan pagar tembok sisi barat dan selatan, serta pengecatan dinding dan tiang-tiang masjid.

Selanjutnya pada 1984 dilakukan pengecatan tembok masjid dan pada 1989 kembali dilakukan perbaikan tempat wudu sebelah utara, pemberian hamparan kerikil di halaman masjid, serta pemasangan jaringan air minum dan instalasi listrik.

Pada tahun anggaran 1996/1997 dilakukan pemugaran karena adanya kerusakan konstruksi masjid. Dalam pemugaran tersebut juga dilakukan penelitian untuk mengetahui pokok permasalahan kerusakan di masjid agar dapat tertanggulangi sehingga Masjid Agung Nur Sulaiman yang merupakan saksi sejarah Banyumas dapat dilestarikan.

Terkait dengan kegiatan konservasi, Djoni mengatakan setelah dijadikan sebagai bangunan cagar budaya, semua perbaikan skala besar harus dikoordinasikan dengan BP3 Jateng dan renovasi yang harus sesuai dengan aslinya.

Berdasarkan prasasti yang pernah ditemukan pada gapura sisi barat terdapat tulisan 1889, sedangkan di tembok tempat wanita berwudu terdapat tulisan "Dipugar Ke-I 1889 Ke-II 1980", sehingga angka-angka "1889" tersebut diperkirakan sebagai tahun pemugaran, bukan tahun pembangunan.

Djoni mengatakan selain banyak dikunjungi oleh umat Islam dari berbagai daerah, Masjid Agung Nur Sulaiman juga sering dikunjungi akademisi yang ingin mempelajari konstruksi bangunan. Umat Islam yang datang ke Masjid Agung Nur Sulaiman tidak sekadar melaksanakan ibadah salat, tetapi juga untuk berziarah, mempelajari agama Islam, dan sebagainya.

Dalam kesempatan terpisah, Kepala Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyumas Asis Kusumandani mengatakan dengan dijadikannya Masjid Agung Nur Sulaiman sebagai bangunan cagar budaya, segala pemugaran atau rehabilitasi tidak boleh berbeda dengan aslinya.

"Kalau ada renovasi, ya harus seperti itu, tidak boleh mengubah bentuk aslinya. Semua harus dikoordinasikan dengan BP3 Jateng," katanya.

Ia mengatakan secara filosofi, pusat pemerintahan pada zaman dulu identik dengan adanya bangunan masjid di sebelah kanan (barat alun-alun) yang mencerminkan kebenaran atau kebaikan, sedangkan di sebelah kiri (timur alun-alun) terdapat pengadilan atau penjara yang mencerminkan tempat bagi orrang-orang yang berbuat salah.

Menurut dia, kondisi bangunan Masjid Agung Nur Sulaiman hingga saat ini masih bagus dan mencerminkan sejarah Banyumas sehingga dimasukkan ke dalam daftar bangunan cagar budaya agar tetap terjaga kelestariannya.

Selain Masjid Agung Nur Sulaiman, kata dia, di Kabupaten Banyumas juga terdapat dua masjid lain yang merupakan cagar budaya, yakni Masjid Cikakak di Kecamatan Wangon dan Masjid Legok di Kecamatan Pekuncen.

"Kedua masjid tersebut dikenal dengan sebutan Masjid Saka Tunggal," katanya.

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Pamali:
Ritual Ritual
Jawa Barat

Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...

avatar
Kianasarayu