Bahan-bahan Bumbu halus : 1 sdt garam 1/2 ons gula merah 1 Bks kecil asam jawa 7 bh cabe rawit merah Buah2an (sesuaikan stok) 2 bh nanas 7 bh jambu air 2 bh mangga 1 bh belimbing 1 bh bengkuang Langkah Haluskan bumbu halus ...
Nyi Ageng Serang bernama asli Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi lahir di Serang, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah pada tahun 1762. Beliau adalah putri bungsu dari Bupati Serang, Panembahan Natapraja yang menguasai wilayah terpencil dari kerajaan Mataram tepatnya di Serang yang sekarang wilayah perbatasan Purwodadi-Sragen. Setelah ayahnya wafat, Nyi Ageng Serang yang juga salah satu keturunan Sunan Kalijaga menggantikan ayahnya. Meski merupakan putri bangsawan, namun sejak kecil Nyi Ageng Serang dikenal dekat dengan rakyat. Setelah dewasa dia juga tampil sebagai salah satu panglima perang melawan penjajah. Semangatnya untuk bangkit selain untuk membela rakyat, juga dipicu kematian kakaknya saat membela Pangeran Mangkubumi melawan Paku Buwana I yang dibantu Belanda. Yang sangat menonjol dari sejarah perilaku dan perjuangan Pahlawan Wanita ini antara lain ialah kemahirannya dalam krida perang, kepemimpinan yang arif bijaksana sehingga menjadi suri tauladan bagi penganut-p...
Kain tapih pinjung sebagai bawahan kebaya, kain tapih pinjung atau kain sinjang jarik bermotif batik digunakan dengan cara melilitkannya di pinggang dari kiri ke kanan. Untuk menguatkan lilitan, digunakan stagen yang dililitkan di perut sampai beberapa kali sesuai panjang stagennya. Agar tidak terlihat dari luar, stagen kemudian ditutupi dengan selendang pelangi berwarna cerah. Sumber : https://dtechnoindo.blogspot.com/2017/07/kebudayaan-jawa-tengah.html?m=1
Pustaka Rajya-Rajya i Bhumi Nusantara , adalah sebuah karya sastra dalam bahasa Jawa Kuno yang berasal dari Cirebon . Konon karya sastra ini merupakan bagian dari Naskah Wangsakerta yang diprakarsai oleh Panitia Pangeran Wangsakerta . Isi buku ini terutama mengenai sejarah, dan terutama sejarah kerajaan-kerajaan di bumi Nusantara, seperti disebut dalam judulnya. Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara dibagi ke dalam lima "parwa" (bab), yang masing-masing berjudul tersendiri: Pustaka Kathosana Rajyarajya i Bhumi Nusantara Pustaka Rajyawarnana Rajyarajya i Bhumi Nusantara Pustaka Kertajaya Rajyarajya i Bhumi NUsantara Pustaka Rajakawasa Rajyarajya i Bhumi Nusantara Pustaka Nanaprakara Rajyarajya i Bhumi Nusantara Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Pustaka_Rajya_Rajya_i_Bhumi_Nusantara
Meron adalah tradisi memperingati kelahiran nabi Muhammad SAW juga berlangsung di kecamatan Sukolilo, 27 km arah selatan Pati. Upacara ini ditandai dengan arak-arakan nasi tumpeng yang menurut masyarakat setempat disebut Meron. Nasi tumpeng tersebut dibawa ke masjid Sukolilo sebagai kelengkapan upacara selamatan Prosesi Meron tersebut diikuti oleh aneka ragam kesenian tradisional setempat. Setelah upacara selamatan selesai, nasi Meron kemudian dibagikan kepada seluruh pengunjung. Dalam arak-arakan acara tersebut, diiring beberapa gunungan yang sangat khas, karena terbagi menjadi tiga bagian. 1. Bagian teratas adalah mustaka yang berbentuk lingkaran bunga aneka warna berisi ayam jago atau masjid. Ayam jago menyimbolkan semangat keprajuritan, masjid merupakan semangat keislaman, dan bunga simbol persaudaraan. 2. Bagian kedua gunungan itu terbuat dari roncean atau rangkaian ampyang atau kerupuk aneka...
Suatu ketika, Sunan Kalijaga berencana mengunjungi Sunan Muria di Pati, Jawa Tengah. Dia mengajak temannya, Ki Rangga, untuk pergi bersamanya. Beberapa pelayan juga ikut dengan mereka membawa barang-barang. Dan mereka mulai berjalan ke rumah Sunan Muria. Beberapa jam kemudian, Ki Rangga merasa capai. Dia merasa malu berjalan bersama dengan Sunan Kalijaga karena Sunan Kalijaga tidak tampak capai sedangkan Ki Rangga sangat capai dan haus. Akhirnya Sunan Kalijaga menyuruh Ki Rangga untuk beristirahat di bawah sebuah pohon besar. Itu adalah waktu untuk sholat Zuhur. Tapi tidak ada air untuk membersihkan atau ‘Wudhu’. Ki Rangga sangat kebingungan. Dia memberitahu Sunan Kalijaga tentang itu. Sunan Kalijaga hanya tersenyum dan berkata, “kita harus berdoa kepada Allah untuk air. Sekarang kamu harus menjaga pohon ini, Ki Rangga, ini mungkin akan membawakan air untuk kita. Tapi ingat! Semua terjadi karena Allah SWT. Jangan bertindak sendiri. Kamu memberitahuk...
Para Kerajaan yang memakai Tombak dan Perisai untuk menjaga diri. Senjata Tombak memang banyak dipakai di masa lalu, meskipun saat ini sudah tidak lagi. Salah satu Tombak yang cukup terkenal dan juga selalu di Keramatkan adalah Tombak Kyai Pleret https://www.kamerabudaya.com/2017/05/inilah-6-senjata-tradisional-dari-jawa-tengah.html
Provinsi Jawa Tengah mempunyai Senjata Tradisional bernama Wedhung ini keberadaannya memang kalah Populer dibandingkan dengan Keris Jawa Tengah. Namun, Senjata Jenis TIKAM ini Lebih sering dipakai oleh masyarakat biasa. Bentuk senjata ini Wedhung adalah seperti Pisau dengan 1 Mata Bilah yang Sangat Tajam. Terbuat dari Kayu Jati. https://www.kamerabudaya.com/2017/05/inilah-6-senjata-tradisional-dari-jawa-tengah.html
Dahulu, di pesisir pantai utara Pulau Jawa, tepatnya di daerah Pati, Jawa Tengah, tersebutlah sebuah desa nelayan bernama Teluk Cikal. Desa itu termasuk ke dalam wilayah Kadipaten Pati yang diperintah oleh Adipati Pragolo II. Kadipaten Pati sendiri merupakan salah satu wilayah taklukan dari Kesultanan Mataram yang dipimpin oleh Sultan Agung. Di Teluk Cikal, hidup seorang gadis anak nelayan bernama Rara Mendut. Ia seorang gadis yang cantik dan rupawan. Rara Mendut juga dikenal sebagai seorang gadis yang teguh pendirian. Ia tidak sungkan-sungkan menolak para lelaki yang datang melamarnya sebab ia sudah memiliki calon suami, yakni seorang pemuda desa yang tampan bernama Pranacitra, putra Nyai Singabarong, seorang saudagar kaya-raya. Suatu hari, berita tentang kecantikan dan kemolekan Rara Mendut terdengar oleh Adipati Pragolo II. Penguasa Kadipaten Pati itu pun bermaksud menjadikannya sebagai selir. Sudah berkali-kali ia membujuknya, namun Rara Mendut tetap menolak. Merasa dike...