Memang tidak akan ada habisnya jika kita membahas tentang kuliner di Indonesia. Kenaekaragaman makanan dari seluruh Indonesia, membuat siapapun akan selalu penasaran dengan beragam kuliner nusantara. Kaldu, kuliner khas Madura, Jawa Timur. Mungkin yang terbayang di benak saat mendengar "kaldu" adalah sup ayam dengan kaldunya, atau kaldu sapi yang biasa ditambahkan sebagai penyedap masakan. Tapi lain untuk kaldu yang satu ini. Makanan yang dapat dijumpai di daerah Sumenep ini memiliki keunikan tersendiri. Satu porsi kaldu ini terdiri dari kaki sapi atau iga serta kuah yang gurih. Akan tetapi ada yang berbeda dengan kuahnya. Jika kebanyakan kuah akan memadukan kaki sapi dengan sayuran , kuah kaldu justru memadukannya dengan taburan kacang hijau. Kaldu ini biasa dikenal dengan nama Kaldu Kokot. Kokot sendiri memiliki arti kaki sapi dalam bahasa Madura. Perpaduan rempah dan gurihnya kaki sapi menjadi citarasa tersendiri. Kaldu Kokot ini bisa dijumpai di daerah Pa...
Muluk Maka n adalah satu urusan terpenting dalam hidup, cara makan juga merupakan satu budaya. “Setiap bangsa di dunia ini punya budaya tersendiri.” . Masing-masing bangsa memiliki budaya mereka masing masing bagaimana cara mereka makan. Contohnya orang Barat terbiasa makan menggunakan sendok dan garpu, sedangkan orang Cina makan menggunakan sumpit. Setiap tindakan atau cara selalu ada tujuannya, tentu saja ada alasan kenapa mereka makan dengan cara yang beragam tersebut. Ada pula cara makan orang Indonesia yang lebih praktis dan sederhana yaitu memakai tangan saja , tidak perlu repot memakai sendok , garpu , ataupun sumpit. Dalam istilah Jawa-nya cara makan ini disebut dengan muluk . Cara ini sangat praktis dan Indonesia benget . Cara untuk makan dengan muluk adalah pertama harus mencuci tangan terlebih dahulu sebelum makan, pastikan menggunakan sabun agar tangan bersih dari kuman dan bakteri, lalu gunakan ta...
Seni Keling, kostum kesenian ini menyeramkam dan menggelikan, begitu juga para penari serta para parogonya (pengrawit yang memainkan musik pengiring). Keling, bisa diartikan hitam (bahasa Sankerta), bisa diartikan keliling karena penarinya bermain berkeliling (membuat lingkaran), bisa juga dari bahasa Kalingga (nama sebuah kerajaan). Tari Keling merupakan tarian yang berasal dari Kabupaten Ponorogo tepatnya di Dusun Mojo Desa Singgahan Kecamatan Pulung. Pendiri atau penggagas kesenian Tari Keling adalah Mbah Kasan Ngali dan Mbah Silas pada tahun 1942. Pada lebaran tahun 1942, Dusun Mojo mengalami masa-masa sulit dimana kemarau panjang mengakibatkan paceklik dan gagal panen. Dari situasi itulah muncul keinginan untuk menciptakan suatu kesenian yang tidak banyak membutuhkan biaya, tetapi bisa menghibur dan melibatkan banyak orang. Mbah Warni, salah satu menantu Mbah Kasan Ngali menuturkan bahwa pada waktu itu ketika jaman larang pakaian, bapak melatih beberapa orang dibantu oleh...
Pernikahan merupakan salah satu peristiwa penting dalam hidup seseorang, karenam erupakan penyatuan dua insan yang berbeda dan diharapkan hanya dilalui satu kali seumur hidup. Di Indonesia sendiri, ada berbagai macam upacara pernikahan adat dari masing masing daerah. Upacara pernikahan adat di setiap daerah memiliki ciri khas yang berbeda beda, mulai dari prosesi, pakaian, dekorasi, dan lain lain. Kabupaten Blitar, Jawa Timur juga mamiliki upacara pernikahan yang khas, walau masih berbau pernikahan adat jawa solo atau jogja, pernikahan adat Blitar memiliki tata busana, tata rias, tata upacara, dang gending (lagu) iringan sendiri. Pernikahan adat Blitar ini terinspirasi dari kisah cinta Dewi Rukmini dengan Sri Kresna (Narayana). Kisah ini bermula dari perjodohan Dewi Rukmini dari Negara Kumbino dengan Prabu Sunti, raja kerajaan Cedi. Namun Dewi Rukmini telah mencintai Sr...
Jumpritan adalah permainan tradisional di daerah jawa timur. Permainan ini hanya permainan kejar-kejaran biasa, namun yang membuat beda dari yang lain adalah bagaimana cara memilih sang pengejar. Caranya adalah salah satu pemain membuka telapak tangan kirinya. Kemudian semua pemain (termasuk yang membuka telapak tangan kiri) meletakkan jari telunjuk mereka ke telapak tangan tadi. Kemudian semua pemain menyanyikan lagu jumpritan. Saat lagu berakhir tangan kiri yang terbuka tadi berusaha menangkap jari pemain. Jari siapa pun yang tertangkap dia akan menjadi pengejar. lirik lagu jumpritan: prit jumprit cina kapedang cina kacirit sing dadi sapa? #OSKMITB18 OSKM ITB 2018
Wedang Ronde adalah salah satu minuman khas di daerah Jawa Timur, khususnya Mojokerto. Makanan ini terdiri dari ketan putih, roti tawar yang dipotong dadu, kacang tanah, dengan kuah santan yang telah dicampur dengan jahe. Sebelum dimasak, ketan putih direndam kurang lebih selama 1 jam lalu dikukus selama 30 menit. Kacang tanah yang digunakan adalah kacang tanah kupas yang telah direndam dengan air panas selama kurang lebih 15 menit lalu ditiriskan dan digoreng. Selain itu, proses pembuatan kuah santan tidaklah sulit, parutan jahe dan kelapa dicampur menjadi satu lalu diperas dan direbus dengan ditambahkan pandan. Untuk urutan penyajiannya, ketan putih dan roti tawar dimasukkan terlebih dahulu lalu disiram kuah santan dan diberi kacang. Wedang ronde sangat mudah ditemukan di pinggir jalan. Wedang ronde sangat cocok dinikmati saat musim hujan ataupun saat dingin.
Jangan osek atau sayur osek merupakan makanan khas kabupaten Mojokerto khususnya di desa Talunblandong, kecamatan Dawarblandong. Bahan dasar jangan osek adalah daging atau juga bisa menggunakan ayam, boceng atau juga bisa menggunakan pepaya muda, kluwek, bawang merah, bawang putih, jahe, laos, kunyit, kencur, daun jeruk, cabai, santan, ketumbar, jinten, merica, garam, gula, daun bawang dan bawang goreng. Jangan osek terlihat seperti rawon, namun pada dasarnya bahan yang digunakan ada yang berbeda. Rawon tidak menggunakan santan dan cabai tetapi menggunakan serai. Cara memasak jangan osek cukup mudah, namun jika memasak dalam porsi besar maka membutuhkan waktu yang lama. Pertama-tama rebus daging terlebih dahulu lalu masukkan bumbu yang sudah dihaluskan, serta potongan sayur bonceng/ pepaya seukuran jari telunjuk. Tunggu hingga mendidih dan jangan osek siap dihidangkan. Jangan osek tidak ditemui di warung-warung atau rumah makan, karena makanan ini hanya disajikan saat acara syukuran,...
Watu Gajah Watu Gajah atau Selo Gajah yang oleh bangsa Belanda disebut juga de Stenen Olifant van Paree terletak di area hutan di wilayah Desa Gadungan, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Watu Gajah ditemukan sekitar tahun 1925/1926. Penemuannya terjadi secara tidak sengaja dan diprakarsai oleh Leendert Albert van de Ven Renardel de Lavalette, seorang kepala kehutanan di Pare. Awalnya, keberadaan batu ini dianggap menggangu jalan. Oleh karena itu ÃÆ'ââ¬Å¡ÃâàL. A. van de Ven Renardel de Lavalette memerintahkan pekerjanya untuk menggali dan menyingkirkan batu ini. Ternyata setelah digali tampaklah bahwa batu ini merupakan sebuah arca berbentuk gajah. Akhirnya arca ini dipinggirkan dan diberi tempat khusus di dalam hutan. Watu Gajah menggambarkan seekor induk gajah sedang berdiri menghadap ke arah barat dengan anaknya di sebelah kanan, terdapat pu...
Kenong Telok berasal dari bahasa Madura yang berarti tiga kenong. Kenong sendiri adalah salah satu alat musik yang digunakan dalam pagelaran Kenong Telok. Dalam praktiknya, ada beberapa alat musik lain yang digunakan ketika pertunjukan, di antaranya adalah gendang, terompet, dan gong. Pagelaran musik Kenong Telok adalah sebuah pagelaran musik yang dimainkan para lelaki, digunakan untuk mengiringi berjalannya acara kebudayaan lain, seperti Kuda Kencak dan Karapan Sapi. Biasanya, malam menjelang Karapan Sapi, para pemain musik Kenong Telok akan berkumpul dan melakukan sesi latihan untuk acara esok hari, yang mana sesi gladi kotor ini dapat pula disaksikan oleh masyarakat umum. Mulanya, kesenian musik ini berasal dari tanah Madura, karena seperti yang kita ketahui bersama, dari sana lah budaya Karapan Sapi berasal. Namun, seiring berjalannya waktu, kebudayaan Karapan Sapi mulai menyebar ke daerah-daerah lain, beriringan dengan menyebarnya pula musik Kenong Telok sebagai pengiringny...