Pura Goa Lawah merupakan Pura Dang Kahyangan tempat sthana Linggih Sang Hyang Naga Basuki dan Bhatara Tengahing Segara. Pura menghadap laut biru yang membentang berikut deretan gubuk-gubuk kecil pembuatan garam rakyat di tepi pantai. Di depan goa pun dibangun sebuah pura suci tempat melakukan upacara Nyegara Gunung yang merupakan kegiatan keagamaan masyarakat Hindu sebagai penutup upacara Atma Wedana (Nyekah, Memukur atau Maligia). Keunikan dari Goa Lawah ialah terdapat ribuan kelelawar yang menggantung di dinding-dinding goa. Kelelawar yang tinggal berada di sisi sebelah utara pura. Suara riuh dan berisik kelelawar bukan merupakan gangguan bagi masyarakat Hindu di sana untuk bersembahyang. Keberadaan hewan malam ini juga disakralkan, bahkan jika ada yang mengganggu kehidupan mereka dipercaya akan terjadi bencana setelahnya. Keberadaan kelelawar penghuni goa ini menjadi penambah kesan mistis yang ada di Pura Goa Lawah. Sebagai lokasi religi yang suci, p...
Untuk melestarikan nilai-nilai budaya dilakukan penerbitan hasil-hasil penelitian yang kemudian disebarluaskan kepada masyarakat umum. Pencetakan naskah yang berjudul Senjata Tradisional Daerah Bali, adalah usaha untuk mencapai tujuan yang dimaksud. Sumber: Waluyo, Harry (1993) Senjata tradisional daerah Bali. Documentation. Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Jakarta. http://repositori.kemdikbud.go.id/8270/
Bahan-bahan Bahan lapis coklat 3 butir telur 100 gr Gula pasir 1/4 sdt Tbm 1/4 sdt Garam 1/4 sdt Vanili 1/4 sdt Baking powder 75 gr Tepung terigu 2 1/2 sdm Coklat bubuk Dark cooking chocolate 60gr dilelehkan 20 ml Susu kental manis coklat 90 ml Minyak sayur Bahan lapisan pandan 3 butir telur 100 gr Gula pasir 1/4 sdt Tbm...
Di bawah pemerintahan raja yang kedua Batu Renggong, di Bali menetap seorang pertapa yang sakti, yaitu Mpu Nirartha dan di sana menjadi padiksyan Batu Renggong. Dengan pengangkatan ini barulah benar-benar tiba zaman yang amat makmur, baik di bidang kebandaan maupun di bidang politik dan kesusasteraan (1974: 148). Kalimat terakhir yang dituliskan oleh Dr. Berg di atas menjelaskan peranan penting kehadiran Dh. Nirartha di Bali, khususnya di zaman ke.emasan kerajaan Bali di bawah pemerintahan Raja Batu Renggong (Watu Renggong). Peranan tersebut mencakup peranan dalam bidang pembinaan dan pengembangan agama dan kesusasteraan. Dua bidang yang tampaknya merupakan tugas dan tanggung jawab seorang purohita/padiksyan atau pendeta kerajaan. Dengan demikian penelitian yang dilakukan terhaoap berbagai hal yang berkaitan dengan Dh. Nirartha (dh. Dwijendra) tampaknya sangat perlu dilakukan. Naskah (rontal) Dwijendra Tattwa yang merupakan koleksi pustaka lontar Universitas Udayana Denpasar dengan...
Keberadaan berbagai paguyuban atau perkumpulan kedaerahan yang banyak tersebar di kota besar di Indonesia tidak terlepas dari kemajemukan bangsa Indonesia. sebagai akibat dari pembangunan di berbagai bidang, seperti transportasi, teknologi dan informasi yang semakin tinggi intensitasnya ternyata mampu memacu perkembangan perkumpulan daerah atau paguyuban sebagai kelompok sosial tertentu dalam masyarakat yang tak terpisah dari kesatuan masyarakat perkotaan setempat. Paguyuban kedaerahan adalah perkumpulan yang anggota-anggotanya berasal dari satu daerah yang sama. Atau dapat juga berdasarkan pada kesamaan etnis. Oleh sebab itu, dalam perkembangannya paguyuban ini pun lebih mengetengahkan fungsi aktif dan peran bagi para anggotanya yang berpatisipasi aktif karena terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan ekonomi, sosial, serta jatidiri di dalam suatu kelompok masyarakat yang lebih luas dan heterogen. Dengan demikian, setiap paguyuban setidaknya berusaha menyiasati berbagai hubungan sosial yang...
Naskah Puspakerma sasak yang dipilih sebagai obyek pengkajian ini merupakan salah satu dari beberapa naskah sasak yang disimpan Bapak Irwan Holmes pemilik Galery 50 B Ciputat. Nasih salah satu versi naskah Puspakerma ini kurang menguntungkan. Karena ia dipandang tidak lebih dari barang yang setiap waktu ditawarkan dengan sejumlah rupiah atau dolar kepada pembeli yang pada umumnya pembeli asing. Sumber: http://repositori.kemdikbud.go.id/7617/
Kidung Megat Kung merupakan salah satu bukti bagi masyarakat Bali dan sebagai cermin dari budaya tradisional Bali, walaupun kidung ini belum begitu terkenal bagi pecinta sastra Bali tetapi dari segi isi dan mutu tidak kalah bila dibandingkan dengan kidung atau geguritan yang lainnya. Di dalam Kidung Megat Kung ini tercermin tentang kehidupan pengarang yang menyatakan bahwa dirinya tiada arti di dunia ini karena hidup penuh dengan penderitaan. Disamping itu pula karya bukan saja ditujukan kepada dirinya sendiri melainkan juga untuk orang lain dari semenjak lahir. Bila hal ini kita simak betapa kehebatan pengawi pada waktu itu, dalam keadaan menderita mereka marnpu menciptakan sebuah karya sastra yang bernilai. Sumber: http://repositori.kemdikbud.go.id/7792/
Tulisan ini akan mencoba menyingkap keberadaan satu di antara sekian banyaknya karya sastra Bali. Karya sastra yang akan disingkap dan dikaji ini adalah jenis sastra kidung yaitu Kidung Kaki Tuwa. Dipilihnya Kidung Kaki Tuwa (selanjutnya disingkat KKT) sebagai objek kajian analisis, bukan berarti bahwa KKT ini lebih berbobot dari segi makna, nilai dan fungsi dibandingkan dengan kidung-kidung lain dan juga naskah kakawin atau pun naskah geguritan. Kakawin dan geguritan sudah sering ditulis orang, sedang kidung baru sedikit yang sudah diteliti. Untuk mengulas semua jenis sastra kidung yang ada lagi ditambah dengan sastra kakawin dan sastra geguritan, memerlukan waktu yang cukup lama di samping biaya yang amat besar. Sumber: http://repositori.kemdikbud.go.id/7791/
Proyek penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Kebudayaan telah mengkaji dan menganalisis naskah-naskah lama di antaranya naskah kuno daerah Bali yang berjudul Tata Negara Mantricasana yang berisi tentang nasehat-nasehat dari unsur pendidikan serta pantangan-pantangan yang harus diketahui, dipahami oleh seorang pemimpin. Nilai-nilai yang terkandung di dalam naskah ini adalah nilai keperwiraan, kesederhanaan, budi pekerti, kesetiakawanan sosial dari lain-lain yang pada hakekatnya nilai-nilai tersebut dapat menunjang pembangunan, baik fisik maupun spirituil. Sumber: http://repositori.kemdikbud.go.id/7842/