Tari Jejer Masuk kita kepada tarian daerah Jawa Timur yang ketiga belas. Tari ini diberi nama tari Jejer. Namun berdasarkan informasi yang kami temukan, untuk tari Jejer ini ternyata ada sebutan lain yaitu tari Gandrung Banyuwangi. Tari Jejer ini bisa digambarkan sebagai sebuah kesenian pertunjukan yang menampilkan gerakan berirama dari para penarinya dan diiringi dengan permainan musik tradisional yang unik. Beberapa alat musik tradisional yang dimainkan pada tari Jejer ini adalah Gong dan Kempul. Dikenal sebagai tarian khas kabupaten Banyuwangi, tarian ini termasuk memiliki ciri khas tari yang dibilang unik, baik dari segi gerakan tariannya, maupun jenis alat musik yang dipakai. https://www.silontong.com/2018/09/13/tarian-adat-tradisional-daerah-jawa-timur/
Tari Jaranan Buto Tari Jaranan Buto adalah tari tradisional yang berasal dan berkembang didaerah Banyuwangi dan Blitar. Tari jaranan buto ini dipertunjukkan pada upacara iring-iringan pengantin dan khitanan. Pada pertunjukkannya, Tari ini memakai properti kuda buatan, seperti halnya yang biasa kita dapati pada Kesenian Kuda Lumping, Jaran Kepang atau Tari Jathilan meski tidak sama persis. Perbedaan itu bisa dilihat pada properti kuda yang digunakan tidaklah menyerupai bentuk kuda secara nyata, melainkan kuda tersebut berwajah raksasa atau Buto begitu pula dengan para pemainnya yang juga menggunakan tata rias muka layaknya seorang raksasa yang lengkap dengan muka merah bermata besar, bertaring tajam, berambut panjang dan gimbal. Lebih dari 10 orang, Tari Jaran Buto dibawakan oleh sedikitnya 16 – 20 orang pemain, dalam pementasannya diiringi alunan musik seperti kendang, dua bonang, dua gong besar, kempul terompet, kecer (seperti penutup cangkir) yang terbuat dari bahan...
Tari Reog Kendang Tari yang berasal dari jawa Timur berikut ini adalah Tari Reog Kendang. Tari ini mempunyai sebutan lain yaitu Reog Tulungagung, karena tari tradisional ini berkembang di daerah Tulunggagung dan sekitarnya. Sesuai dengan namanya yang mengandung kata Kendang, para pemain Reog Kendang membawa alat musik yang serupa dengan Kendang atau Tam-Tam (kendang kecil yang digendong). Awalnya Reog Kendang menceritakan kisah tentang perjalanan para mantan Gemblak mencari jati diri. Karena perkembangan zaman, banyak versi cerita yang di gunakan dalam pementasan. https://www.silontong.com/2018/09/13/tarian-adat-tradisional-daerah-jawa-timur/
Tari Glipang Tari Glipang termasuk sebuah tarian rakyat yang berasal dari Probolinggo Jawa Timur. Pada awalnya tari Glipang berasal dari kata Gholiban yang berasal dari kata bahasa Arab yang berarti kebiasaan. Pesan yang ingin disampaikan oleh Tari Glipang adalah tentang kebiasaan-kebiasaan masyarakat Probolinggo yang lama-kelamaan menjadi tradisi. Seseorang dari Madura yang bernama Seno atau lebih dikenal Sari Truno dari Desa Omben Kabupaten Sampang Madura adalah yang membawakan tarian Giblang ini. Berdasarkan sejarahnya, Sari Truno membawa topeng Madura tersebut untuk menerapkan di Desa Pendil, Probolinggo. Hal yang mengejutkan terjadi terkait reaksi dari masyarakat Madura yang agamais. Mereka menolak adanya topeng Madura tersebut dengan alasan karena didalamnya terdapat Alat musik tradisional Gamelan. Pada akhirnya kesenian tersebut dirubah menjadi Raudlah yang artinya olahraga. Sampai sekarang tari Glipang ini menggambarkan betapa gagah dan terampilnya para pemuda ya...
Tari Tanduk Majeng Tari Tanduk Majeng berasal dari daerah Madura, Jawa Timur. Sesuai dengan namanya, tarian ini juga diiringi lagu daerah Jawa Timur yaitu Tanduk Majeng. Pesan yang disampaikan oleh tarian ini yaitu menggambarkan tentang para wanita Madura yang semangat untuk menghibur suaminya. Tari Tanduk Majeng dapat ditarikan secara individu atau kelompok. Alat musik tradisional pengiring tari Lenggang Surabaya adalah Sinden, Gamelan, dan lain – lain. Biasanya pertunjukkan tari ini hadir diajang perlombaan kesenian Jawa Timur. Bisa dibilang, Tari Tanduk Majeng merupakan kesenian dari Madura yang cukup terkenal. https://www.silontong.com/2018/09/13/tarian-adat-tradisional-daerah-jawa-timur/
Tari Sintren Kemudian adalah Tari Sintren yang berkembang di pesisir Pantau Utara Jawa yang meliputi pesisir utara Jawa Tengah hingga pesisir utara Jawa Barat seperti Majalengka, Indramayu, Berebes, Pemalang, Cirebon, Banyumas, dan Pekalongan. Tarian Sintren adalah salah satu tarian misterius yang dikaitkan dengan kerasukan arwah dan masih berkembang hingga saat ini. Saat pementasan, penari Sintren selalu menggunakan kacamata hitam. Muncul keyakinan di masyarakat bahwa saat menari bola mata penari Sintren menjadi putih dan demi estetika digunakanlah kacamata hitam untuk menutup mata penari tersebut agar tidak menakut nakuti penonton. Pementasan Tarian Sintren diiringi oleh seperangkat alat musik tradisional Indonesia yang bernama Gamelan. https://www.silontong.com/2018/09/06/tarian-tradisional-daerah-jawa-tengah/
Tari Serimpi Tari Serimpi adalah tari tradisional yang berasal dari daerah Jawa Tengah. Kabarnya, tari Serimpi ini muncul pada zaman kerajaan Mataram yang ketika itu sedang dipimpin oleh Sultan Agung (1613 – 1646). Terkesan eksklusif, karena Tari Serimpi hanya dipentaskan dalam lingkungan keraton untuk ritual kenegaraan dan peringatan kenaikan tahta Sultan saja. Dalam pementasannya, Tari Serimpi ditampilkan dengan diiringi suara musik Gamelan. https://www.silontong.com/2018/09/06/tarian-tradisional-daerah-jawa-tengah/
Saputanganmu Ki Narto Sabdo - Saputanganmu Dipopulerkan oleh Ki Narto Sabdo Teks Lagu Campursari Saputanganmu - Ki Narto Sabdo Saputanganmu - Ki Narto Sabdo Lirik Lagu Campursari Iki sapu tanganmu Gondo arum kanggo pengilingku Kembang mlati mung sawiji Tur dadi ati rino lan wengi Tak pujo puji gunane Dadi lambange prasane Oiye ........ Oiye ........... Nadyan aduh nyelak tuluh Nanging caket jroning ati Wohing aren silo Ojo ngejur podo Mbok yo eling prasetyamu sepisanan Ki lho iki sapu tanganmu Tansah dadi tali katresnanmu Lerwo alit mungsilo kang ndak anti anti ===== Musik ===== Iki sapu tanganmu Gondo arum kanggo pepilingku Kembang mlati mung sawiji Tur dadi ati rino lan wengi Tak pujo puji gunane Dadi lambange prasane Oiye ........ Oiye ........... Nadyan aduh nyelak tu...
Letak bangunan gedung Museum Wayang di Jl. Pintu Besar Utara No. 27. pada mulanya merupakan lokasi gereja tua yang didirikan VOC pada tahun 1640 dengan nama “ de oude Hollandsche Kerk “ sampai tahun 1732 yang berfungsi sebagai tempat untuk peribadatan penduduk sipil dan tentara bangsa Belanda yang tinggal di Batavia Pada tahun 1733 gereja tersebut mengalami perbaikan, dan namanya dirubah menjadi “ de nieuwe Hollandsche Kerk “ dan berdiri terus sampai tahun 1808. Di halaman gereja ini yang sekarang menjadi ruangan taman terbuka Museum Wayang, di dalamnya terdapat taman kecil dengan prasasti-prasastinya yang berjumlah 9 ( sembilan ) buah yang menampilkan nama-nama pejabat Belanda yang pernah dimakamkan di halaman gereja tersebut. Diantara prasasti tersebut tertulis nama Jan Pieterszoon Coen, seorang Gubernur Jenderal yang berhasil menguasai kota Jayakarta pada tanggal 30 Mei 1619 setelah kekuasaan P. Jayakarta lumpuh akibat pertentangan dengan Kraton Ba...