Suro'baca atau berdoa bersama untuk para leluhur menjelang Ramadhan merupakan tradisi turun-temurun di kalangan suku Bugis Makassar di Sulawesi Selatan (Sulsel).Acara tradisi ini biasanya dilakukan mulai sepekan hingga satu hari sebelum bulan suci Ramadhan (H-7 sampai H-1 Ramadhan). Tradisi yang masih tetap terjaga baik di kalangan masyarakat pedesaan hingga perkotaan ini, biasanya diselenggarakan baik per rumah tangga ataupun berkelompok.Sebelum menggelar suro'baca, keluarga mempersiapkan aneka hidangan atau masakan seperti ayam gagape' (mirip opor ayam), ikan bandeng bakar yang dibelah dan diberi cabe dan garam yang sudah dihaluskan, lawa' (urap) dari pisang batu, dan sebagainya sesuai dengan kemampuan ekonomi si empunya hajatan.Untuk kue pencuci mulutnya, dipilih kue-kue tradisional misalnya kue lapis, onde-onde, dan cucuru' bayao. Setelah semua hidangan tersebut siap disantap, terlebih dahulu diatur sedemiki...
Suku To’balo merupakan suku yang berciri berpenampilan pada kulit yang tidak seperti pada masyarakat umumnya mereka mempunyai kulit yang unik dan bercocok tanaman yang berbeda pada masyarakat lainnya. Tubuh yang terlahir pasti akan mempunyai kulit yang belang, bercak itu juga terpampang hampir membentuk segitiga. Oleh karena itu mereka dikenal dengan To’balo, To bermakna orang dan balo bermakna belang, jadi bila diartikan To’balo bermakna manusia belang. Menurut masyarakat sekitar, dikisahkan suatu hari terdapat suatu keluarga yang melihat sepasang kuda belang jantan dan betina yang hendak kawin. mereka bukan hanya menyaksikan, tapi keluarga itu juga menegur dan mengusik tingkah laku kedua kuda itu. Maka sang dewa marah lalu mengutuk keluarga ini berkulit seperti kuda belang. Lantaran malu dengan kondisi dan keadaannya tersebut maka keluarga tersebut mengasingkan diri memilih hidup dipegunungan yang jauh dari keramaia...
Yayasan kesenian anging mammiri atau yang terkenal dengan sebutan YAMA adalah yayasan kesenian yang berdiri sejak tahun 1964 dan tetap eksis menjaga dan melestarikan budaya kesenian Sulawesi-Selatan dibawah pimpinan ibu Iin Joesoef Madjid. Yama telah banyak meraih prestasi dan penghargaan dalam bidang seni mulai dari tingkat daerah,nasional dan internasional. Yama juga selalu ikut serta dalam membantu program-program pemerintah untuk memperkenalkan serta menjaga kelestarian budaya kesenian Sulawesi-Selatan.
Legenda Gua Mampu tidak bisa lepas dari sejarah Kerajaan Mampu. Namun, detail sejarah Kerajaan Mampu tidak seeksis catatan sejarah Kerajaan Bone. Hal ini disebabkan kurangnya bukti-bukti sejarah yang ditemukan. Kerajaan Mampu lalu berasimilasi dengan Kerajaan Bone melalui perkawinan hingga kerajaan tua ini meredup. Namun, saat ini banyak masyarakat, yang masih bermukim di wilayah itu maupun telah merantau, mengklaim sebagai keturunan Kerajaan Mampu. Menurut Andi Darma, sejarah Kerajaan Mampu dan legenda Gua Mampu bagai sisi mata uang. Walau dari hasil penelitian tidak ada bukti yang menghubungkannya, legenda Gua Mampu dilestarikan secara turun-temurun melalui cerita rakyat. Dari literatur 'Kerajaan Bone di Lintasan Sejarah' yang diterbitkan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bone tahun 2015, peristiwa ini bermula pada zaman kacau balau, termasuk di Mampu. Suatu hari, setelah didahului oleh peristiwa alam yang menakutkan dan menimbulkan kekacauan,...
Lamellong dikenal sebagai orang yang paling berperan dalam menciptakan pola dasar pemerintahan Kerajaan Bone di masa lampau. Tepatnya pada abad ke-16 masa pemerintahan Raja Bone ke-6 La Uliyo Bote’E (1543-1568) dan raja Bone ke-7 Tenri Rawe BongkangngE (1568-1584). Lamellong muncul ibarat bintang gemilang di kerajaan. Dengan pokok-pokok pikiran tentang hukum dan ketatanegaraan. Pokok-pokok pikiran beliau menjadi acuan bagi Raja dalam melaksanakan aktivitas pemerintahan. Tentang Lamellong di tanah Bugis, dilacak melalui sumber-sumber lisan berupa cerita rakyat dan catatan sejarah, baik dari lontara maupun tulisan-tulisan lainnya. Serpihan tulisan yang ada lebih banyak mencatat tentang buah pikirannya yang menyangkut “Konsep Hukum dan Ketatanegaraan” dalam bahasa Bugis Bone disebut “Pangngadereng”. Dalam lintasan perjalanan Kerajaan Bone dilukiskan, betapa besar jasa Lamellong dalam mempersatukan tiga Kerajaaan Bugis, yakni Bone, Soppeng, dan Wajo, da...
Inilah Mangkau’ di Bone yang diserang oleh Datu Luwu yang bernama Dewa Raja yang digelar Batara Lattu. Mula-mula orang Luwu mendarat di Cellu dan disitulah membuat pertahanan. Sementara orang Bone berkedudukan di Biru-biru. Adapun taktik yang dilakukan oleh orang Bone adalah memancing orang Luwu dengan beberapa perempuan. Pancingan ini berhasil mengelabui orang Luwu sehingga pada saat perang berlangsung orang Luwu yang pada mulanya menyangka tidak ada laki-laki, bersemangat menghadapi perempuan-perempuan tersebut. Namun dari belakang muncul laki-laki dengan jumlah yang amat banyak, sehingga orang Luwu berlarian ke pantai untuk naik ke perahunya. Dalam perang itu orang Bone berhasil merampas bendera orang Luwu. Setelah perang selesai, Arumpone dan Datu Luwu mengadakan pertemuan. Arumpone mengembalikan payung warna merah itu kepada Datu Luwu, tetapi Datu Luwu mengatakan, ”Ambillah itu payung sebab memang engkaulah yang dikehendaki oleh DewataE (Tuhan...
Karya : DR B.F.Matthes, Boeginische Chrestomathic, I.P.L-27 dalam Rahim (1985:207-227). Disadur Oleh : Ir.H.Abdu Samad H.A.Umar, M.Si. Ceritera ini merupakan ceritera rakyat (Legenda) yang mempunyai banyak peristiwa yang luar biasa. Substansinya ada pada Nilai-nilai Utama Kebudayaan Bugis, dan sangat berguna pada saat ini dimana budaya sipakatau atau sipakalebbi sudah mengalami pergeseran dalam alam demokrasi lokal. Baik itu masyarakat lokal maupun bagi pasompe (Pengembaraan Orang Bugis) yang senantiasa rindu kampung halamannya, maupun pernah mendengar ceritera masa lampau oleh orang tua kita dahulu hingga dibawa ke perantauan. Hal ini merupakan ceritera tersendiri di kalangan pasompe, membuat rindu kampung halaman, sanak saudara dan Wari’ (asal usul), memperpanjang usia (lamperi sunge) karena mengembang biakkan manusia (Pabbija Tau) dan Merindangkan Pepohonan (Palorong Welareng) di tanah seberang di mulai dari C...
Diperlukan dua kelompok anak untuk memainkan permainan ini. Secara harfiah, gebok diartikan (semacam) bola yang mengenai tubuh lawan. Demikian inti permainannya. Alat bantu yang dibutuhkan adalah bola kecil atau sesuatu yang dibentuk seperti bola. Saat bola tenis masih jarang dijumpai, biasanya bola gebok dibuat dari kertas bekas. Dibentuk menyerupai bola kecil. Untuk mengikatnya agar tak terburai, biasanya menggunakan karet gelang. Selain bola, diperlukan batu-batu kecil dengan permukaan rata. Bisa diganti dengan pecahan keramik genteng atau semacamnya. Ditumpuk keatas setinggi sekitar 20 cm. Perwakilan dari satu kelompok anak akan mendapatkan giliran pertama untuk bermain. Dari jarak beberapa meter, bola dilontarkan untuk mengenai tumpukan batu. Jika gagal, digantikan oleh perwakilan pemain dari kelompok lawan. Jika berhasil menjatuhkan sebagian atau seluruh tumpukan batu, inti permainan baru dimulai. Bola diambil cepat oleh kelompok lawan untuk dilemprkan agar mengena...
Naskah menguraikan silsilah raja-raja yang pernah memerintah di daerah Wajo, dan cerita perkawinan raja-raja Wajo serta adat istiadat yang berlaku di daerah tersebut. Terdapat uraian tentang cerita peperangan di antara beberapa kerajaan di Sulawesi Selatan. Teks berakhir dengan uraian tentang pertemuan beberapa kerajaan yang bermusyawarah untuk mufakat lalu melahirkan perjanjian kerjasama di antara beberapa kerajaan tersebut. Keterangan tentang pemerolehan naskah, nama pengarang/penyalinnya serta nama tempat juga tanggal dan tahun penulisannya tidak diketahui. Cara penulisan pada naskah ini ditulis tegak di atas kertas Eropa menggunakan pena warna hitam dengan bahasa dan aksara Bugis. Tulisan masih dapat dibaca dengan baik kecuali pada halaman yang rusak. Jumlah keseluruhan halaman yaitu 11 halaman berukuran 33 x 20 cm. Naskah dengan tema sejarah ini ditulis dalam bentuk prosa, ukuran hurufnya 0,3 cm dan jarak spasi 0,2 cm. Ruang tulis berukuran 17,2 cm dengan jumlah baris seb...