Alkisah, ada seorang wanita tua yang hidup bersama anjingnya di Pegunungan Bumberi. Suatu hari, ia dan anjingnya menemukan pohon buah merah. Ia mengambil buah tersebut dan memakannya. Tak berapa lama, ia melahirkan anak laki-laki. Ia memberi nama anak itu Kweiya. Sepuluh tahun berlalu, Kweiya tumbuh menjadi anak yang rajin. Suatu hari, Kweiya bertemu laki-laki tua yang sedang mengail di sungai. Ia mengajak laki-laki itu pulang dan mengenalkannya kepada ibunya. Ia juga meminta ibunya menikah dengan laki-laki itu. Tidak lama kemudian, sang Ibu menikah dengan laki-laki tersebut. Selang beberapa tahun, sang Ibu melahirkan dua anak laki-laki dan satu anak perempuan. Suatu hari, terjadi perselisihan antara Kweiya dengan kedua adik laki-lakinya. Kweiya memilih bersembunyi di gudang sambil memintal tali dari kulit binatang. Pintalan itu akan dibuat sayap. Saat kedua orang tuanya pulang dari kebun, anak perempuannya menceritakan kejadian yang terjadi kepada ibunya. B...
Dulu, di Papua ada dua kakak beradik yang bernama Meraksamana dan Siraiman. Suatu malam, Meraksamana bermimpi melihat sepuluh bidadari mandi di telaga dekat tempat tinggalnya. Namun tiba-tiba, ia terbangun. Ia pun bergegas menuju telaga. Setibanya, ia terkejut ketika mendapati sepuluh bidadari tengah mandi di telaga. Meraksamana bersembunyi di balik pohon dekat telaga. Tiba-tiba, muncul seorang perempuan tua. Perempuan itu menyuruhnya mengambil sehelai pakaian milik salah satu bidadari. Ia pun melakukan hal tersebut dan pulang. Selesai mandi, sepuluh bidadari bergegas menuju tempat menyimpan pakaian. Namun, salah satu bidadari tidak menemukan pakaiannya. Sembilan bidadari lainnya terpaksa meninggalkannya sendiri. Bidadari yang tertinggal sangat sedih. Saat itu, Meraksamana datang dan menghibur bidadari yang tertinggal itu. Diajaknya bidadari itu ke rumahnya. Tak berapa lama, Meraksamana meminang bidadari tersebut. Pada suatu hari, Meraksamana meng...
Sebelum kakak mulai bercerita mengenai dongeng dari Papua Barat asal usul Telaga Wekaburi, kakak ingin memberitahu kalian bahwa Papua merupakan salah satu Pulau terbesar di Indonesia. Pulau Papua sangat indah dan memiliki sumberdaya alam yang sangat kaya. Sebut saja tembagapura sebagai penghasil emas, tembaga dan uranium terbesar di dunia. Selain harus belajar mengenai sejarah, adik-adik juga harus rajin menuntut ilmu agar kekayaan alam Indonesia bisa kita lestarikan untuk sebesar-besarnya kepentingan rakyat yah. Sumber : https://dongengceritarakyat.com/dongeng-dari-papua-barat-asal-usul-telaga-wekaburi/
Upacara Tanam Sasi merupakan salah satu upacara adat yang berasal dari Papua. Upacara ini adalah bagian dari rangkaian upacara kematian masyarakat di Papua. Upacara yang dilaksanakan di Merauke, Papua Barat ini dilakukan oleh suku Marind atau Marind-Anim, suku yang tinggal di wilayah dataran luas Papua Barat sebelah Selatan. Anim berarti laki-laki. Dua istilah yang berhubungan dengannya adalah anem untuk kaum pria dan anum untuk kaum wanita.Setelah kematian seseorang, sasi ditanam pada waktu 40 hari. Hal tersebut akan dicabut kembali setelah melewati hari ke 1000. Dalam upacara Tanam Sasi, ada sebuah tarian tradisional yang dipertunjukkan, yaitu tarian Gatsi. Tarian ini merupakan tarian umum yang berasal dan dibawakan oleh Suku Marind Anim. Tarian Gatsi tidak lengkap tanpa diiringi oleh alat musik tifa yang terbuat dari kayu. Kayu yang dipakai dilubangi atau isinya dikosongkan dan terdapat penutup pada salah satu sisinya. Penutup itu terbuat dari kulit rusa atau kulit biawak yang s...
Sebelum masyarakat mengenal agama, setiap suku di Papua Barat selalu baku hongi. Ini terjadi ketika mereka memperebut hak wilayat adat. Seperti masa penjajahan dalam tulisan sejarah, hanya saja ditulis dalam catatan bersejarah. Berbeda dengan cerita hongi. Dari turun temurun ini kisahkan secara lisan, atau diceritakan saja. Perang hongi juga melibatkan adanya perbudakan. Bila salah satu suku kalah dalam peperangan, maka anak perempuan atau laki-laki dijadikan imbalan kepada suku yang menang sebagai penambah jiwa. Marganya pun akan diganti mengikuti suku itu. Hal ini masih terbukti sisa peninggalan perang hongi. Seperti pasir merah di distrik Kais, Sorong Selatan, yang mana antar suku saling membunuh dan terjadi pertumpahan darah sehingga pasir yang bewarna putih berubah menjadi warna merah. Ada pula salah satu tempat dimana kepala musuh yang di penggal lalu digantung diatas pepohonan menjadi tempat angker sampai saat ini. Tempat itu melimpah akan hasil laut seperti kerang, udang,...