Merupakan tradisi yang dilakukan di desa Menur Parangjoro Sukoharjo Jawa Tengah. Tradisi ini sudah berlangsung selama puluhan tahun, prosesi pertama dilakukan dengan membersihkan punden , kemudian diadakan kirab yang sebelum nya diawali dengan wanita yang dianggap tetua desa setempat berjalaan sejauh 50 meter sendirian dengan membawa hasil bumi seperti ketela dan pisang yang di gendong, kemudian wanita tersebut berhenti di tengah sawah dan memetik butiran padi kemudian berjalan kembali menuju pundedn untuk meletakan hasil petikan padi tersebut. tradisi ini dilakukan untuk mensyukuri apa yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa dan mempertaahankan julukan lumbung pangan.
Pria : Bagi pria memakai baju beskap serta di bagian kepala memakai blangkon. Dan, bawahannya memakai kain jarik yang pemakaiannya dlapisi stagen agar tidak mudah lepas. Selain itu, juga membawa keris yang disematkan pada stagen. Wanita : Pakaian adat Jawa Tengah bagi wanita adalah memakai baju kebaya yang dipadu dengan kain jarik. Lalu, kain itu ditutup menggunakan stagen atau kain yang dililit di perut agar kain tidak mudah lepas. Untuk menutup stagen, wanita Jawa Tengah memakai selendang berwarna pelangi dari kain tenun berwarna semarak/cerah.
Pria : Bagi pria memakai baju beskap serta di bagian kepala memakai blangkon. Dan, bawahannya memakai kain jarik yang pemakaiannya dlapisi stagen agar tidak mudah lepas. Selain itu, juga membawa keris yang disematkan pada stagen. Wanita : Pakaian adat Jawa Tengah bagi wanita adalah memakai baju kebaya yang dipadu dengan kain jarik. Lalu, kain itu ditutup menggunakan stagen atau kain yang dililit di perut agar kain tidak mudah lepas. Untuk menutup stagen, wanita Jawa Tengah memakai selendang berwarna pelangi dari kain tenun berwarna semarak/cerah.
Dalam pewayangan,LIMBUK anak Cangik adalah seorang pelayan/emban yg melayani/mengasuh para putri dikeputren. Berperawakan sangat gemuk;berhidung pesek;berbibir tebal dan besar.Oleh karena itu sering dijadikan perumpamaan bagi gadis yg berbadan gemuk.Lagak lagunya genit,senang berhias,kemana saja pergi selalu membawa sisir ditangannya.Meyakini dirinya mempunyai daya tarik yg tinggi.Sering tampil dalam adegan minta kawin,tetapi dinasehati oleh ibunya untuk mempelajari hal2 kepandaian wanita lebih dahulu. CANGIK adalah pelayan tua yg melayani/mengasuh putri2 Kerajaan.Cangik kurus,lehernya panjang;kepalanya menjungkur kedepan.Meskipun sudah tua namun masih juga genit,ke-mana2 selalu membawa sisir dan menyisir.Suaranya kecil seperti suara orang yg tidak punya gigi.Dalam lakon biasanya berpasangan dgn anaknya Limbuk yg berperawakan gemuk.Munculnya mereka dalam lakon selalu memberikan hiburan dan gelak tawa bagi para penonton
Pancen amenangi jaman edan, sing ora edan ora kaduman. Sing waras padha nggragas, sing tani padha ditaleni. Wong dora padha ura-ura. Begjane sing eling lan waspada. Ratu ora netepi janji, musna prabawane lan kuwandane. Akeh omah ing ndhuwur kuda. Wong mangan wong, kayu gilingan wesi padha doyan rinasa enak kaya roti bolu. Yen bakal nemoni jaman: akeh janji ora ditetepi, wong nrajang sumpahe dhewe. Manungsa padha seneng tumindak ngalah tan nindakake ukum Allah. Bareng jahat diangkat-angkat, bareng suci dibenci. Akeh manungsa ngutamakake reyal, lali sanak lali kadang. Akeh bapa lali anak, anak nladhung biyunge. Sedulur padha cidra, kulawarga padha curiga, kanca dadi mungsuh, manungsa lali asale. Rukun ratu ora adil, akeh pangkat sing jahat jahil. Makarya sing apik manungsa padha isin. Luwih utama ngapusi. Kelakuan padha ganjil-ganjil. Wegah makarya kapengin...
Masjid Agung Surakarta terletak di Kelurahan Kauman, Kecamatan Pasar Kliwon, Kotamadia Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Sebagai masjid Keraton, Masjid Agung Surakarta berada di dekat alun-alun, di tengah-tengah kota. Sebelah utara berbatasan dengan pemukiman penduduk kampung Kauman. Sebelah selatan terdapat Pasar Klewer. Di sebelah timur berbatasan dengan alun-alun utara keraton Kasunanan Surakarta, sedangkan sebelah barat terdapat pemukiman penduduk. Masjid Agung dibangun pada massa Sunan Paku Buwono III tahun 1763M atau 1689 tahun Jawa dan selesai pada tahun 1768. Masjid Agung merupakan kompleks bangunan seluas 19.180 meter persegi yang dipisahkan dari lingkungan sekitar dengan tembok pagar keliling setinggi 3,25 meter. Bangunan Masjid Agung Surakarta secara keseluruhan berupa bangunan tajug yang beratap tumpang tiga dan berpuncak mustaka. Seluruh kompleks tersebut dapat dibagi atas : · Serambi Ruangan serambi berupa bangunan terbuka yang mempunyai lima a...
Jenis busana dan kelengkapannya yang dipakai oleh kalangan wanita Jawa, khususnya di lingkungan budaya Yogyakarta dan Surakarta, Jawa Tengah adalah baju kebaya, kemben dan kain tapih pinjung dengan stagen. Baju kebaya dikenakan oleh kalangan wanita bangsawan maupun kalangan rakyat biasa baik sebagai busana sehari-hari maupun pakaian upacara. Pada busana upacara seperti yang dipakai oleh seorang garwo dalem misalnya, baju kebaya menggunakan peniti renteng dipadukan dengan kain sinjang atau jarik corak batik, bagian kepala rambutnya digelung (sanggul), dan dilengkapi dengan perhiasan yang dipakai seperti subang, cincin, kalung dan gelang serta kipas biasanya tidak ketinggalan. Untuk busana sehari-hari umumnya wanita Jawa cukup memakai kemben yang dipadukan dengan stagen dan kain jarik. Kemben dipakai untuk menutupi payudara, ketiak dan punggung, sebab kain kemben ini cukup lebar dan panjang. Sedangkan stagen dililitkan pada bagian perut untuk mengikat tapihan pinjung ag...
CANDI SUKUH Sebuah candi yang dibangun pada sekitar abad XV terletak di lereng gunung Lawu di Wilayah Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah . Dari permukaan air laut, ketinggiannya sekitar 910 M. Berhawa sejuk dengan panorama yang indah. Kompleks Situs purbakala Candi Sukuh mudah dicapai dengan kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat, dengan jarak 27 Km dari kota Karanganyar. Situs purbakala Candhi Sukuh ini ditemukan oleh Residen Surakarta “Yohson” ketika masa penjajahan Inggris. Mulai saat itu banyak kalangan sarjana mengadakan penelitian Candhi Sukuh antara lain Dr. Van der Vlis tahun 1842, Hoepermen diteruskan Verbeek tahun 1889, Knebel tahun 1910, dan sarjana Belanda Dr. WF. Stutterheim. Untuk mencegah kerusakan yang semakin memprihatinkan, Dinas Purbakala setempat pernah merehabilitasi Candi Sukuh pada tahun 1917, sehingga keberadaan Candi Sukuh seperti kondisi yang kita lihat sekarang. Candi Sukuh terdiri tiga tiga trap. Setiap...
Tarian srimpi sangopati karya Pakubuwono IX ini, sebenarnya merupakan tarian karya Pakubuwono IV yang memerintah Kraton Surakarta Hadiningrat pada tahun 1788-1820 dengan nama Srimpi sangopati kata sangapati itu sendiri berasal dari kata “sang apati” sebuah sebutan bagi calon pengganti raja. Ketika Pakubuwono IX memerintah kraton Surakarta Hadiningrat pada tahun 1861-1893, beliau berkenaan merubah nama Sangapati menjadi Sangupati. Hal ini dilakukan berkaitan dengan suatu peristiwa yang terjadi di masa pemerintahan beliau yaitu pemerintah Kolonial Belanda memaksa kepada Pakubuwono IX agar mau menyerahkan tanah pesisir pulau Jawa kepada Belanda. Disaat pertemuan perundingan masalah tersebut Pakubuwono IX menjamu para tamu Belanda dengan pertunjukan tarian srimpi sangopati. Sesungguhnya sajian tarian srimpi tersebut tidak hanya dijadikan sebagai sebuah hiburan semata, akan tetapi sesungguhnya sajian tersebut dimaksudkan sebagai bekal bagi...