Mendoan adalah salah satu makanan khas Banyumas. Makanan berbahan dasar tempe ini biasanya disajikan bersamaan dengan teh atau kopi di saat santai. Mendoan digemari semua kalangan usia mulai dari anak-anak hingga orang tua. Selain rasanya yang gurih dan enak, mendoan mengandung gizi yang tinggi. Harganya pun relatif murah, harga 1 mendoan berkisar 1000 hingga 2000 rupiah. Di samping harganya yang murah, cara pembuatannya juga relatif mudah. Berikut cara pembuatan mendoan yang sangat lezat. Siapkan tempe mentah tipis, batang daun bawang, tepung terigu, tepung beras, air, minyak goreng, bawang merah, bawang putih, ketumbar, merica butiran, dan garam (dari bawang merah hingga garam telah dihaluskan), (kuantitas bahan bervariasi, tergantung kebutuhan dan selera) Aduk tepung dengan bumbu halus, daun bawang, dan air hingga rata. Celupkan tiap potongan tempe dalam adonan tepung hingga seluruh tempe terkena adonan. Goreng dalam minyak panas dan banyak hingga adon...
Siraman adalah salah satu ritual dalam proses pernikahan adat Jawa. Ritual ini biasanya diadakan sehari sebelum pernikahan berlangsung. Tujuan dari ritual ini adalah untuk membersihkan diri pengantin baik secara fisik maupun batin sebelum pernikahan. Ritual ini diawali dengan sungkeman oleh kedua mempelai kepada para tetua di kedua keluarga. Apabila terdapat kakek dan nenek, maka sungkeman akan dilakukan kepada mereka terlebih dahulu, lalu kepada orang tua. Siraman dapat dilakukan berbarengan antara mempelai pria dan wanita atau terpisah dengan menggunakan air yang ditaburi bunga. Mempelai wanita biasanya akan menggunakan terusan kain batik yang hanya menutupi sampai dada dan anyaman bunga melati yang menutupi pundak sampai dada. Mempelai pria biasanya akan bertelanjang dada dengan menggunakan kain batik sebagai bawahan dan anyaman bunga melati yang akan diselempangkan di badan. Biasanya yang melakukan penyiraman adalah pihak wanita dari masing-masing keluarga. Hal ini dilakukan...
Benthikan Benthikan merupakan sebutan salah satu permainan tradisional di daerah saya, yaitu Semarang. Biasanya dimainkan oleh anak-anak kecil (± 6-12 tahun). Benthikan ini tidak bisa dimainkan sendiri, tetapi harus ada lawannya. Jadi, jumlah pemain minimal 2 orang. Benthikan biasanya dimainkan di lapangan kampung. Benda-benda yang dibutuhkan untuk permainan ini cukup sederhana dan pastinya mudah didapat. Seperti dua buah kayu berdiameter kecil berukuran panjang dan pendek (biasanya ranting pohon dikotil). Selain itu, dua buah batu bata. Cara bermainnya juga cukup sederhana. Yang pertama, pastinya suit terlebih dahulu dari perwakilan tim. Tim yang menang (A), biasanya mendapat giliran untuk bermain. Sedangkan yang kalah (B) biasanya mendapat giliran untuk berjaga. Meletakkan dua batu bata secara bersisihan dengan memberi celah sedikit pada bagian tengahnya. Kemudian meletakkan kayu yang pendek di atasnya. Salah satu dari tim A berkesempatan m...
Pada zaman dahulu, hiduplah seorang janda tua di sebuah desa di Jawa Tengah. Ia harus bekerja berjualan kayu bakar setiap hari karena suaminya telah meninggal, sehingga ia harus memenuhi kehidupannya seorang diri. Berjualan kayu bakar di pasar yang sangat jauh dari desanya, tidak membuatnya memperoleh keuntungan yang banyak. Namun, ia tetap bekerja dengan giat dan pantang menyerah. Hidup sendirian membuatnya menginginkan kehadiran seorang anak. Namun, dia tau bahwa menghidupi dirinya sendiri saja sudah sulit, jadi ia mengurungkan niatnya itu. Pada suatu malam, ia bermimpi kejatuhan bulan di siang hari. Mimpi aneh tersebut membuatnya bingung, sehingga ia bergegas pergi ke pasar untuk menyelesaikan pekerjaannya hari itu. Tanpa diduga-duga, ia melihat seorang peramal yang sedang dikerumuni banyak orang. Langsung saja ia menanyakan makna mimpi anehnya semalam. 'Saya bermimpi kejatuhan bulan, pak peramal. Apakah arti dari mimpi saya itu?' tanya sang janda tua....
Blarak-Blarak Sempal Blarak-Blarak Sempal merupakan sebuah permainan tradisional . Dari arti katanya sendiri, Blarak berarti daun kelapa yang kering dan Sempal berarti patah sehingga arti keseluruhan dari Blarak-Blarak Sempal adalah daun kelapa yang patah. Meski demikian, peralatan yang digunakan adalah sabut kelapa. Permainan ini biasa dilakukan berkelompok ( 2 kelompok ) dan dapat dimainkan oleh siapa saja tanpa pandang golongan maupun jenis kelamin baik laki-laki maupun perempuan yang pada umumnya sudah cukup kuat untuk mengangkat temannya mainnya sendiri. Permainan ini dimulai dengan membagi tim/kelompok sama banyak setiap kelompok dapat beranggotakan 2-4 orang. Misal kelompok A dan Kelompok B masing-masing 2 orang. Lalu perwakilan dari masing-masing kelompok melakukan ‘suit’ untuk menentukan siapa yang menang dan yang kalah. Semisal kelompok A kalah, anggota kelompok A duduk dilantai dengan kaki diselonjorkan dimana telapak kaki seorang harus menempel de...
Kue Lekker Kue Lekker adalah makanan jajanan yang biasa dijual di dekat sekolah. Makanan ringan yang berasal dari Belanda ini seringkali disantap anak-anak SD atau SMP sepulang sekolah. Kue berbentuk setengah lingkaran yang meskipun tidak diketahui siapa dan kapan persisnya ditemukan, Solo menjadi tempat dimana jajanan ini berkembang pesat. Tak hanya di Solo, Kue ini sudah ada di berbagai kota di Indonesia. Kue kering ini mirip seperti crepes tapi lebih tipis dan lebih kecil, isinya pun tidak terlalu beragam seperti pada crepes . Sejarah Kue Lekker berawal pada jaman penjajahan Belanda, waktu itu konon, mereka menyebut ini kue lecker yang artinya 'delicious', enak atau sedap dalam bahasa Indonesia . Cara pembuatan kue lekker ini bisa dibilang cukup mudah, yaitu menggunakan adonan tepung terigu yang dicampur tepung beras dituangkan di atas wajan kecil yang dipanaskan oleh bara arang, kemudian ditaburi gula pasir atau coklat, biasanya mengunakan m...
Kue Lekker Kue Lekker adalah makanan jajanan yang biasa dijual di dekat sekolah. Makanan ringan yang berasal dari Belanda ini seringkali disantap anak-anak SD atau SMP sepulang sekolah. Kue berbentuk setengah lingkaran yang meskipun tidak diketahui siapa dan kapan persisnya ditemukan, Solo menjadi tempat dimana jajanan ini berkembang pesat. Tak hanya di Solo, Kue ini sudah ada di berbagai kota di Indonesia. Kue kering ini mirip seperti crepes tapi lebih tipis dan lebih kecil, isinya pun tidak terlalu beragam seperti pada crepes . Sejarah Kue Lekker berawal pada jaman penjajahan Belanda, waktu itu konon, mereka menyebut ini kue lecker yang artinya 'delicious', enak atau sedap dalam bahasa Indonesia . Cara pembuatan kue lekker ini bisa dibilang cukup mudah, yaitu menggunakan adonan tepung terigu yang dicampur tepung beras dituangkan di atas wajan kecil yang dipanaskan oleh bara arang, kemudian ditaburi gula pasir atau coklat, biasanya mengunakan m...
Bancakan weton dilakukan tepat pada hari weton kita lahir ( Pon, Wage, Kliwon, Legi, Pahing ). Dalam tradisi Jawa, setiap orang sebaiknya dibuatkan bancakan weton minimal sekali dalam seumur hidup, namun lebih baik dilakukan setahun sekali. Menurut adat jawa setiap anak yang baru lahir, orang tuanya membuat bancakan weton pertama kali pada saat usianya menginjak hari ke 35. Anak yang sering dibuatkan bancakan weton secara rutin oleh orangtuanya, biasanya hidupnya lebih terkendali, lebih hati-hati, tidak liar, ceroboh, dan jarang sekali mengalami sial. Menurut kepercayaan orang jawa seorang anak yang sakit-sakitan, sering jatuh , dan nakal, setelah dibuatkan bancakan weton si anak tidak lagi sakit-sakitan, dan tidak nakal lagi. Bahan – bahan yang diperlukan untuk membuat bancakan weton Tujuh Sayuran Kangkung dan kacang panjang merupakan sayuran yang wajib ada dalam sebuah bancakan weton, untuk selebihnya tidak ada larangan s...
Dalam kebudayaan Sunda kita seringkali mendengar istilah pamali, layaknya kebudayaan Sunda, orang Jawa juga memiliki kebudayaan yang serupa. Orang jawa sendiri biasa menyebutnya dengan istilah Gugon Tuhon yang dapat didefinisikan sebagai berikut, kahanan kang ora oleh utowo ora kena dierak , yang dapat diartikan sebagai suatu keadaan yang tidak boleh dilanggar . Gugon Tuhon sendiri adalah suatu kekayaan dari kearifan lokal masyarakat Jawa sebagai suatu adat istiadat yang diturunkan secara turun-temurun dari orang-orang tua kepada generasi berikutnya dari mulut ke mulut dan dari wejangan yang disampaikan dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa tetangga dan kerabat di desa dekat kota Surakarta, masyarakat Jawa percaya apabila larangan-larangan yang ada tersebut dilanggar maka akan memiliki konsekuensi tersendiri tak lepas dari percaya atau tidak. Pernah ada cerita warga yang menuturkan bahwa ada sepasang suami istri, sang suami...