Batik ini identik dengan 4 kategori motif yakni; hayam pelung, maenpo, beasan, dan mamaos. Secara garis besar batik Cianjur mengambil inspirasi motif dari tumbuhan lokal. Penggunaan warna yang netral bertujuan untuk mengangkat unsur alami ke dalam batik. Itulah sebab mengapa motif batuk terlihat sewarna padi, daun, hingga tanah. Sumber : https://fnrbatik.com/motif-batik/
Tari Serimpi Jawa Barat Tari Serimpi ini memiliki keunikan, yaitu tari yang selalu dibawakan oleh 4 penari, karena kata Srimpi adalah sinonim bilangan 4. Hanya pada Srimpi Renggowati penarinya ada 5 orang. Menurut Dr. Priyono nama serimpi dikaitkan ke akar kata “impi” atau mimpi. Menyaksikan tarian lemah gemulai sepanjang 3/4 hingga 1 jam itu sepertinya orang dibawa ke alam lain, alam mimpi. Tarian Serimpi hidup di lingkungan istana Yogyakarta. Serimpi merupakan seni yang Adhiluhung serta dianggap pusaka Kraton. Tema yang ditampilkan pada tari Serimpi sebenarnya sama dengan tema pada tari Bedhaya Sanga, yaitu menggambarkan pertikaian antara dua hal yang bertentangan antara baik dengan buruk, antara benar dan salah antara akal manusia dan nafsu manusia. https://www.silontong.com/2018/08/31/tarian-tradisional-daerah-jawa-barat/
Prasasti Sanghyang Tapak (juga dikenal sebagai Prasasti Jayabupati atau Prasasti Cicatih ) adalah prasasti kuno perangka tahun 952 saka (1030 M), terdiri dari 40 baris yang memerlukan 4 buah batu untuk menulisnya. Keempat batu prasasti ini ditemukan di tepi Sungai Cicatih, Cibadak, Sukabumi, Jawa Barat. Tiga diantaranya ditemukan di dekat Kampung Bantar Muncang, sementara sebuah lainnya ditemukan di Kampung Pangcalikan. Prasasti ini ditulis dalam huruf Kawi Jawa. Kini keempat batu prasasti ini disimpan di Museum Nasional Republik Indonesia, Jakarta, dengan kode D 73 (Cicatih), D 96, D 97, dan D 98. Isi tiga prasasti pertama (menurut Pleyte): D 73: //O// Swasti shakawarsatita 952 karttikamasa tithi dwadashi shuklapa-ksa. ha. ka. ra. wara tambir. iri- ka diwasha nira prahajyan sunda ma-haraja shri jayabhupati jayamana- hen wisnumurtti samarawijaya shaka-labhuwanamandaleswaranindita harogowardhana wikra-mottunggadewa, ma- D 96: gaway tepek i purwa sanghyang tapak ginaway...
Jolopong Rumah adat ciri khas provinsi jawa barat ke 4 ini Jolopong, design ini sangat familiar diseluruh tatar priangan timur. karena designya yang hemat material dan cenderung kokoh menjadi alasan kenapa warga pada memakainya. Jika ingin melihat bangunan seperti ini ada di kampung duku, rumah kasepuhan (rumah adat provinsi jawa barat) Garut. https://www.silontong.com/2018/05/07/rumah-adat-jawa-barat-gambar-dan-keterangannya/
Imah Parahu Kumureb Imah Parahu Kumureb atau biasa disebut dengan istilah perahu tengkurep. Desain rumah ini memiliki 4 bagian utama yaitu bagian depan dan belakang berbentuk trapesium. Selain itu dua bagian disisi kanan kiri berbentuk segitiga sama sisi. Persid dengan namanya, rumah adat ini tampak seperti sebuah perahu yang terbalik. https://www.silontong.com/2018/05/07/rumah-adat-jawa-barat-gambar-dan-keterangannya/
sumber : Foto siloka.com Gedung ini merupakan saksi sejarah dimana sebuah proses pembentukan bangsa dimulai. Soekarno yang diadili di gedung ini membacakan sebuah Pledoi yang berjudul Indonesia Menggugat (Indonesie Klaagt Aan). Saking panjangnya Pledoi yang disampaikan oleh Soekarno, membutuhkan 2 hari untuk membacakannya yaitu pada 1 dan 2 Desember 1930. Akhirnya pada 22 Desember 1930 Soekarno dan tiga kawannya dijatuhkan hukuman penjara selama 4 tahun 6 bulan di Penjara Sukamiskin.ejak saat itu, Soekarno terus melancarkan gugatannya, baik ke pihak Belanda maupun kepada bangsanya sendiri meski harus diasingkan ke tempat-tempat yang jauh. Pada 17 Februari 1934 sebelum diasingkan ke Flores , Soekarno menggugat bangsanya sendiri. “Aku menggugat yang tua-tua untuk mengingat kembali akan penderitaan-penderitaannya dan melenyapkan penderitaan itu. Aku menggugat para pemuda untuk memikirikan nasib mereka sendiri, dan bekerja keras u...
Karinding Karinding adalah salah satu alat musik tiup tradisional Sunda. Ada beberapa daerah tempat pembuatan alat musik ini, yaitu Citamiang, Pasirmukti, (Tasikmalaya), Lewo Malangbong, (Garut), dan Cikalongkulon (Cianjur) yang dibuat dari pelepah kawung (enau). Lantas, bagaimana cara memainkan alat musik Karinding? Anggota tubuh bernama bibir menjadi intrumen memainkan alat musik Karinding, yaitu dengan disimpan di bibir, terus tepuk bagian pemukulnya biar tercipta resonansi suara. Kadang dimainkan oleh satu orang (solo) atau bisa juga alat musik yang berasal dari Jabar ini dimainkan secara pergrup (2 sampai 5 orang). Seorang diantaranya disebut pengatur nada atau pengatur ritem. Penuturan Abah Olot nada atau pirigan dalam memainkan karinding ada 4 jenis, yaitu: – tonggeret, – gogondangan, – rereogan, – dan iring-iringan. https://www.silontong.com/2017/06/23/alat-musik-tradisional-asal-j...
Naskah Kalupasan (Moksa) terdiri dari bilah bambu dengan jumlah bilah bambu 31 bilah. Setiap bilah bambu mengandung satu baris tulisan. Bentuk naskahnya menyerupai tusuk konde dengan pinggiran elips tanpa sudut. Ukuran panjang 14 cm, dengan lebar sisi kanan dan sisi kiri berlainan. Sisi kanan berukuran 9 mm, dan sisi kanan 5 mm. Dari 31 bilah bambu, 29 bilah mengandung tulisan dan 2 bilah kosong. Naskah ini beraksara Sunda Kuna dan berbahasa Sunda Kuna. Kondisi naskah masih baik. Judul naskah pada label adalah 31 bilah bambu. Pemberian Judul Naskah Kaleupasan (Moksa) dilakukan penyunting setelah mambaca isi dari naskah tersebut yang isinya berupa ajaran kaleupasan bagi seorang pertapa. Berikut ini sebagian isinya: Transliterasi: 1. wadon ngawisésa kita mangké \\\ 2. hya Batari asih di kita \\ 3. hya Déwata asih di kita \\ 4. hya laba kita mangké \\ 5. hya mulah maras temu deui \\ 6. angamarasnya ra bayané \\ 7. hya kasuk...
Naskah dari daun rontal ini berjudul Jatiniskala . Menurut Jakob Sumardjo, naskah ini diduga berasal dari zaman Kerajaan Galuh, Ciamis. Naskah ini ditemukan di Kabuyutan Kawali, Ciamis Utara, yang diberikan oleh Bupati Galuh R.A.A. Kusumadiningrat (1839-1886) kepada Bataviasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BGKW), lembaga yang khusus bergerak dalam bidang seni-budaya dan temuan-teman sejarah di Batavia; ada pun menurut Atja, naskah ini diserahkan oleh Raden Saleh. Kini naskah ini menjadi koleksi Perpustakaan Nasional, Jakarta, dengan nama register Kropak 422 . Kondisi Fisik Naskah Kondisi naskah secara keseluruhan masih bagus, hanya ada beberapa lempir yang telah rusak, bolong-bolong akibat gigitan kutu, dan sebagian lagi telah menghitam. Teksnya ditulis memakai pisau pangot, dengan bahasa dan aksara Sunda Kuno. Naskah ini terdiri atas 14 lempir/lembar rontal yang berukuran 31,8 x 4,1 cm. Ada pun luas marjin teksnya 29 x 2,7 cm. Setiap lempir terdiri...