Situs Pasir Angin terletak di desa Cemplang, Kecamatan Cibungbulan, Kabupaten Bogor, menjadi salah satu situs yang dipandang sebagai situs prasejarah yang cukup penting bagi bidang arkeologi di Indonesia yang dibangun pada tahun 1976. Esensi dari kehidupan bercorak Megalithikum adalah adanya pemujaan terhadap arwah para leluhur, merupakan tempat bersemayamnya arwah-arwah tersebut. demikian seperti halnya situs Pasir Angin, Situs ini ditandai dengan adanya satu batu monolit yang memiliki bidang datar dibeberapa sisinya. Orientasi dari monolit setinggi 1.2 meter ini menghadap ke arah Timur Eskavasi dimulai sejak 1970-1975 dilakukan oleh Tim Pusat Penelitian Arkeologi Nasional” dibawah pimpinan R.P Soejono menghasilkan artefak-artefak yang dibuat dari batu, besi, perunggu, tanah lat obsidian dan kaca, disamping gerabag-gerabah berupa periuk dll. Benda-benda temuan antara lain berupa kapak perunggu bentuk ekor burung Sriti, candrasa, tongkat perunggu, bandul kalung perungg...
Komplek makam Raden Arya Wiralodra terdapat di Blok Karangbaru, Desa Sindang, Kecamatan Sindang tepatnya pada koordinat 06º 19' 981" Lintang Selatan dan 108º 19' 327" Bujur Timur. Kompleks makam berada pada pemukiman. Di sebelah selatan, timur, dan utara merupakan pemukiman penduduk sedangkan di sebelah barat adalah lahan kosong yang dimanfaatkan untuk kebun. Keadaan makam sudah mengalami dua kali pemugaran. Pemugaran pertama dilakukan pada tahun 1965 dan yang kedua pada tahun 1985. Semua makam yang ada telah mengalami perombakan total. Komplek makam dikelilingi pagar tembok dengan gerbang masuk pada sisi selatan. Begitu memasuki komplek makam melalui pintu gerbang akan sampai di serambi depan cungkup makam Arya Wiralodra yang merupakan bangunan baru. Cungkup tersebut menghadap ke timur. Di dalam cungkup disekat menjadi dua ruangan yang dihubungkan dengan jalan masuk tanpa daun pintu. Pintu masuk cungkup langsung menuju ke ruangan sebelah selatan. Di ruangan ini te...
Samar-samar rampag gendang terdengar dari 50m jalan utama menuju area Kampung Budaya Sindangbarang (KBS). Bergegas saya menapaki jalan tanah berbatu, di depan gerbang sudah terlihat kerumuman para penonton dan barisan dongdang, seekor kambing serta iring-iringan pengantin di tengah Alun-alun Tanjung Salikur. Prosesi diawali dengan beradu pantun, aleutan pengantin pria membawa seserahan yang terdiri dari berbagai jenis hasil panen yang diusung dalam dongdang serta seekor kambing untuk diserahkan kepada orangtua calon mempelai wanita. Acara kemudian dilanjutkan dengan menampilkan para pendekar cilik penerus seni bela diri. Budaya parebut se’eng dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 22 Mei 2011 ini sebagai bentuk nyata pelestarikan budaya sunda, dahulu kala atraksi parebut se’eng di gelar dalam menampilkan kegagahan seorang pria dalam mempersunting seorang wanita, lelaki yang mampu merebut se’eng dari lawan tarungnya dianggap sebagai lelaki yang pantas m...
Berawal dari ritual Serentaun setiap tahun, masyarakat mendirikan Padepokan Giri Sunda untuk memfasilitasinya, namun padepokan itu tidak cukup menampung banyaknya tamu yang datang dari seluruh kampung adat., setelah mengadakan gempungan (musyawarah), masyarakat sepakat untuk membuat sebuah kampung Budaya Sidang Barang. Area ini diresmikan pada tanggal 4 Sepetember 2007, dan menjadi wadah pelestarian budaya Sunda bangunan-bangunan kayu dengan arsitektur khas sunda, sawah yang terhampar disekelilingnya, beragam kesenian yang ditampilkan seperti angklung gubrak, tari jaipong reog, dan calung, serta di tambah dengan keindahan budaya keseharian masyarakat Sunda seperti nandur (menanam padi), nutu pare ( menumbuk padi), dan memasak dengan alat tradisional, membawa ktia merasakan kekayaan nunsa Sunda tempo dulu
Jalan Braga adalah nama sebuah jalan bersejarah di kota Bandung, Indonesia. Nama jalan ini dikenal sejak masa pemerintahan Hindia-Belanda. Sampai saat ini nama jalan tersebut tetap dipertahankan sebagai salah satu maskot dan obyek wisata kota Bandung yang dahulu dikenal sebagai Parijs van Java.
Bajigur adalah minuman tradisional khas masyarakat Sunda dari Jawa Barat, Indonesia. Dibuat dari gula aren dan santan. Untuk menanbag kenikmatan bis dicampurkan pula sedikit jahe, garam, dan bubuk vanili. Dalam penyajiannya, kadangkala ditambah dengan sedikit kolang-kaling (atau biasa disebut cangkaleng dalam Bahasa Sunda). Bajigur paling pas untuk dinikmati kala hujan ataupun cuaca dingin.
Calung adalah alat musik Sunda yang merupakan prototipe (purwarupa) dari angklung. Berbeda dengan angklung yang dimainkan dengan cara digoyangkan, cara menabuh calung adalah dengan mepukul batang (wilahan, bilah) dari ruas-ruas (tabung bambu) yang tersusun menurut titi laras (tangga nada) pentatonik (da-mi-na-ti-la). Jenis bambu untuk pembuatan calung kebanyakan dari awi wulung (bambu hitam), namun ada pula yang dibuat dari awi temen (bambu yang berwarna putih). Alat musik tradisional ini merupakan salah satu kesenian Jawa Barat yang masih bisa bertahan hingga kini bersama dengan angklung. Sedangkan kesenian lainnya sudah tidak bisa menjaga eksistensinya dan bahkan dikategorikan kedalam warisan budaya sunda yang hampir punah. Awal mulanya alat musik dari Jawa Barat ini dipentaskan untuk mengiringi upacara-upacara adat sunda sebagai ritual perayaan masyarakat. Namun dengan berkembangnya zaman alat musik ini berubah fungsi menjadi alat musik yang menghibu...
Cap Go Meh di Kota Bogor bukan hanya merupakan perayan ritual bagi masyarakat Tionghoa, namun juga menjadi perhelatan yang mewadahi kebudayaan yang hidup di Kota Bogor. saat ini karnaval yang juga dijuluki “Bogor Street Festival” itu tidak hanya merupakan perayaan milik masyarakat Tionghoa, namun masyarakat Kota Bogor dengan berbagai latar belakang dan ragam budaya.
Cendol merupakan minuman khas Indonesia yang terbuat dari tepung beras, disajikan dengan es parut serta gula merah cair dan santan. Rasa minuman ini manis dan gurih. Di daerah Sunda minuman ini dikenal dengan nama cendol sedangkan di Jawa Tengah dikenal dengan nama es dawet. Berkembang kepercayaan populer dalam masyarakat Indonesia bahwa istilah "cendol" mungkin sekali berasal dari kata "jendol", yang ditemukan dalam bahasa Sunda, Jawa, dan Indonesia; hal ini merujuk sensasi jendolan yang dirasakan ketika butiran cendol melalui mulut kala meminum es cendol. Tempat yang Menyediakan: Pondol Pondok Es Cendol Indonesian Restaurant Address: No. Blok C-D Lantai 2, Jalan Tanah Abang II No.109, RT.1/RW.1, Cideng, Jakarta, RT.1/RW.1, Cideng, Gambir, Central Jakarta City, Special Capital Region of Jakarta 10160 Phone: (021) 3861382 Sumber: https://sportourism.id/kuliner/nikmatnya-es-cendol-legendaris-seantero-...