Disebut bir jawa/bir mataram karena warnanya seperti birnya orang Eropa. Bir Jawa merupakan ekstrak dari rempah-rempah asli Indonesia. Pada saat dibuat menggunakan 10 macam bahan yang terdiri atas rempah-rempah. Kesepuluh macam rempah yang diekstrak adalah kulit kayu secang, serai, cengkih, kayu manis, jahe, pala, merica, mesoyi, cabai Jawa, dan kapulaga. Ditambah gula pasir dan perasan air jeruk nipis. Bir Jawa ini berwarna merah karena ekstrak serutan kayu secang yang menjadi salah satu komponennya. Saat dihidangkan kemudian ditambahkan air jeruk nipis yang bersifat asam. Ketika diteteskan air jeruk nipis, warna merah dari ekstrak secang akan berubah menjadi cokelat seperti bir Eropa. Cengkihnya berkhasiat menghilangkan bau napas tak sedap, sedangkan air jeruk nipis dianggap dapat mengobati tekanan darah tinggi dan melangsingkan tubuh. Buih-buih di atas bir Jawa mampu bertahan selama 5 jam. Bir Jawa berkhasiat menghangatkan tubuh, melancarkan peredaran darah, menghilangk...
Rondo royal artinya janda yang berperilaku seperti orang kaya, hartanya tidak terbatas. Ini adalah nama makanan yang terbuat dari tape ketela yang dicampur tepung terigu kemudian dibentuk bulatan dan diisi dengan sirup gula pasir warna merah atau hancuran gula kelapa kemudian diselimuti dengan adonan tepung terigu dan digoreng. Rondo royal manis dan legit beraroma tape. Cocok sekali untuk teman minum teh sore hari. Rondo royal termasuk dalam kelompok aneka makanan gorengan yang dijual di pinggir jalan dan menjadi camilan masyarakat kelas bawah bersama balok, tempe kemul, pisang goreng, gembus goreng, beserta tahu susur dan bakwan sayur. Dari dulu hingga sekarang keberadaan rondo royal dalam khasanah makanan rakyat tidak berubah. Di Jawa Barat makanan sejenis ini hanya bentuknya berbeda tapi juga terdiri atas tape dan gula, namun proses finalnya dibakar, nama makanannya adalah colenak. Satu kilogram tape, 250 gram terigu, sebagian dicairkan dengan air untuk...
Makanan kecil ini berasal dari satu jari pisang kepok yang matang pohon kemudian dijapit dengan bambu sebesar tusuk sate yang dibelah di salah satu ujungnya, pisang tersebut dijepit pada bambu kemudian diselimuti dengan daun pandan, sehingga ujung yang menjepit pisang menjadi tertutup. Kemudian pisang dilumuri dengan areh yaitu santan yang dipanaskan hingga menjadi kental kemudian diberi bumbu sedikit garam dan daun pandan. Setelah dilumuri areh, pisang kemudian dibakar di atas api. Dipanggang berkali-kali, sekurang-kurangnya 5 kali setelah dilumuri areh. Pisang panggang yang dilumuri areh, prawan kenes, adalah makanan kesukaan Sri Sultan HB VII. Resep: Bahan 10 buah pisang raja 100 ml santan kental 4 lembar daun pandan 40 gram gula merah tusuk sate panjang dari bambu garam secukupnya Cara membuat Panas...
Entah bagaimana riwayatnya mengapa makanan yang terbuat dari ketan yang ditanak kemudian dicetak di atas nampan dan diatur agar padat dan datar lalu di atasnya dituangi campuran tepung maizena berwarna cokelat gula karamel hingga terasa manis disebut joko brengos. Makanan ini merupakan akulturasi kuliner Jawa dan Belanda. Ketannya adalah Jawa, sedangkan lapisan di atas ketan yang berwarna cokelat bercita rasa karamel manis adalah bagian dari kuliner Belanda. Perpaduan antara ketan yang gurih dan jendalan maizena yang manis berwarna cokelat dengan cita rasa karamel adalah perpaduan yang harmonis. Makanan ini adalah kesukaan KGPAA Mangkubumi seorang pangeran yang terkenal kaya, sukses berwirausaha dan piawai mengelola berbagai usaha di Yogyakarta pada jamannya yaitu pada jaman awal abad ke-19. Joko Brengos yang disingkat kongos ini tidak terlalu populer di kalangan masyarakat di luar Keraton. Di kalangan para bangsawan makanan ini sering sekali menjadi suguhan dalam berbagai e...
Bajingan merupakan olahan ketela pohon yang dinamai masyarakat Jogja. Bajingan adalah ketela pohon yang dikerat sebesar ukuran pas untuk masuk ke mulut kemudian direbus, setelah agak matang airnya ditambah dengan gula merah serta pandan. Begitu ketela itu masak dan empuk, kuahnya setengah mengental, api dimatikan dan setelah dingin. Saat menyantapnya bisa tambahkan sedikit garam. Selain di Jogja, bajingan merupakan salah satu makanan khas yang ada di Magelang. Biasanya makanan ini masih bisa ditemui di daerah Salaman, Borobudur, Pakis, Ngluwar, Srumbung. Harga ketela Rp 2000,- per kg nya. Kalau gula Jawa asli sekitar Rp 13.000,- an. Sumber: Murdijati Gardjiton Dkk. 2017. Kuliner Yogyakarta: Pantas Dikenang Sepanjang Masa. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. http://wisatamagelang.com/benar-benar-bajingan-makanan-ini/
Di Yogyakarta dapat ditemukan banyak penjual gule. Biasanya mereka menjajakan dagangannya siang dan sore hari karena gule paling nikmat disantap hangat saat makan siang dan makan malam. Meskipun gule bukan salah satu makanan khas Yogyakarta tetapi gule menjadi salah satu makanan yang laris. Gule merupakan sejenis kari atau gulai yang terbuat dari daging dengan kuah santan bening. Karena banyaknya rempah yang digunkakan, makanan ini selain memiliki rasa yang lezat juga memiliki aroma yang harum. Gule masih dimasak dengan tungku tanah liat (anglo) dan arang. Pemasakan dengan cara tradisional dilakukan untuk menjaga kekentalan santan sehingga gule dapat disimpan dalam waktu yang lebih lama dan tidak berbau. Cita rasa utama pada gule adalah gurih dan pedas, dengan kuahnya yang harum. Daging yang dimasak menjadi gule ada bermacam-macam , bisa dari daging sapi, kambing, ayam, atau ikan. Tetapi di Yogyakarta yang paling banyak ditemui adalah gule daging kambing dan jeroan...
Tongseng adalah masakan yang mirip gule, namun bumbunya lebih terasa dan kuahnya lebih kental. Perbedaan yang utama adalah tongseng dimasak dengan tambahan kecap, irisan tomat, dan kubis. Cita rasa tongseng cenderung mirip kari karena perpaduan bumbu-bumbu rempah, santan, dan cabai sehingga ketika dikonsumsi tibuh langsung menjadi hangat. Secara umum, bahan dasar tongseng adalah daging kambing, di mana daging kambing dapat meningkatkan tekanan darah. Apabila orang dengan tekanan darah rendah mengonsumsi tongseng kambing, akan memiliki efek yang menguntungkan. Tongseng dengan bahan dasar selain daging kambing banyak dijumpai di Yogyakarta seperti tongseng sapi dan ayam. Ciri khas pedagang tongseng klasik adalah menggunakan pikulan untuk membawa segala macam perkakas untuk membuat tongseng dan menjajakan dagangannya berkeliling. Namun kini sudah sangat jarang dijumpai pedagang tongseng pikulan. Sekarang tongseng tersedia di warung-warung. Cara memasaknya pun ma...
Tahu guling adalah makanan yang terdiri dari ketupat, tahu, tempe, kubis, taoge, dan disiram dengan kuah yang terbuat dari air yang dicampur dengan kecap, gula Jawa, bawang putih, dan irisan daun jeruk nipis. Tahu guling merupakan makanan yang menyegarkan, rasanya cenderung manis karena kuahnya terbuat dari campuran kecap. Jika suka pedas, kuahnya dicampur dengan cabai rawit yang dihaluskan. Tahu guling biasa disajikan dengan taburan bawang goreng dan seledri serta kerupuk aci. Makanan ini terjangkau harganya karena termasuk makanan rakyat. Biasanya warung tahu guling buka dari pagi sampai sore hari. RM/Toko yang Menyediakan : Warung Tahu Guling Makan Malam Address: Bantul, Bantul Sub-District, Bantul Regency, Special Region of Yogyakarta 55761 Sumber: Murdijati Gardjiton Dkk. 2017. Kuliner Yogyakarta: Pantas Dikenang Sepanjang Masa . Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Selain untuk camilan, belut goreng sangat lezat digunakan untuk lauk pauk teman makan pecel atau dikombinasi dengan sayur lodeh. Penjual belut goreng yang berderet panjang di depan Pasar Godean selalu ramai dikunjungi masyarakat pendatang yang ingin membawa oleh-oleh. Dipilih sebagai oleh-oleh karena tahan disimpan, sekurang-kurangnya 5 hari asal tidak berhubungan dengan udara luar yang lembab. Karena sering macet, kini dibangun pasar khusus belut goreng yang berlokasi berseberangan dengan pasar tersebut. Belut goreng memang diproses di Godean, namun belutnya berasal dari Jawa Timur yaitu daerah sekitar Blitar dan Kediri. Tempat yang Menyediakan: Pusat Kuliner Belut Godean Tourist attraction in Sidomulyo, Indonesia Address: Jalan Godean Km. 10, Godean, Sidoagung, Sleman, Sidoagung, Godean, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55264 Sumber: Murdijati Gardjiton Dkk. 2017. Kuliner Yogyakarta:...