Dalam artikel lain kita sudah membahas PENYANG – Azimat Dayak Ngaju , kali ini kita akan membahas GIMAT & SEREMPELIT yaitu penyang yang dikenal oleh sub suku Dayak Benuaq – Tunjung. Sebenarnya antara penyang dengan gimat ini adalah hal yang sama, cuma ada beberapa perbedaan konsep. Jika didalam budaya Dayak Ngaju ada penyang atau azimat yang digantung di Mandau maka orang Dayak Benuaq – Tunjung tidak mengenal azimat yang digantung pada mandau. Azimat ini biasanya berupa kalung, gelang lengan atau juga yang diikatkan pada pinggang. GIMAT GIMAT GIMAT atau JIMAT dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu; gimat yang dipakai saat peperangan dan juga gimat yang dipakai untuk menangkal kekuatan magis berupa santet atau guna-guna. Kedua gimat ini dibuat dalam bentuk yang hampir sama sesuai keinginan pemiliknya. Gimat rata-rata dibuat dari kain hitam. Gimat yang dipakai dalam peperangan harus dijahit oleh seorang janda menggunak...
3 buah batu berbentuk Tabung silinder, 1 buah di antaranya berukuran lebih besar yaitu Tinggi sekitar 50 cm dengan diameter 30 cm berada di tengah, di apit oleh 2 buah batu lainnya berukuran lebih kecil ukuran Tinggi sekitar 20 cm dan diameter 25 cm. Lokasi keberadaan situs yang berada jauh dari pemukiman penduduk di tengah persawahan dan tengah alas menjadikannya kurang di ketahui oleh masyarakat. 3 buah batu tersebut di tengarai sebagai peninggalan budaya jaman megalitikum atau pra Hindu Buddha, yang di pergunakan sebagai sarana ibadah menyembah kepada Tuhan.
PRASASTI LUITAN (823 saka atau 901 M). Bahan : Tembaga Periodisasi : 901 Masehi Asal : Cilacap. Prasasti Luitan berangka tahun 823 saka atau 901 M. Prasasti yang diketemukan pada tahun 1976 di Cilacap ini memuat suatu masalah sosial dari satu kelompok masyarakat, yaitu proses pengenaan pajak atas tanah yang tidak benar. Jaman dulu, masalah yang sering dijumpai adalah manipulasi pengukuran oleh petugas pajak. Seorang petani, protes kepada petugas pajak terhadap perhitungan luas tanah yang dimilikinya. Menurut si pejabat pajak, luas tanahnya adalah 40 Ãâý tampah (ukuran tanah pada masa itu). Karena setiap tampah dikenakan pajak 6 dharana, si petani harus membayar 40 Ãâý tampah x 6 dharana = 243 dharana. Namun setelah diukur ulang oleh pejabat pajak yang lain, luas tanah si petani hanya 27 tampah. Rupanya tampah yang digunakan petugas pajak pertama berukuran lebih ke...
Sebuah Situs Sejarah Hindu Buddha di Kedungbenda yang berisi artefak antara lain sebuah Yoni beserta 2 buah Lingga yang terpisah, bersama batu panjang tergeletak. Di luar tembok keliling masih dalam satu area situs terdapat batu lumpang 1 buah.
Adep-adep ini merupakan makanan yang biasa ada pada saat pernikahan. Nasinya menggunakan nasi kuning, lauknya sama seperti nasi kuning, yang membedakan hanya pada tempat penyajiannya saja, jika nasi kuning disajikan pada mika plastik, namun adep-adep di sajikan pada daun pisang. Nasi adep-adep juga bisa dijumpai di daerah Brebes dan Bumiayu dan menjadi hidangan khas saat upacara pernikahan. RESEP NASI ADEP ADEP Bahan : 5 porsi nasi putih Bahan Urap : 100 gr selada air, direbus dan diperas 100 gr kol, dibuang tulangnya, potong-potong dan rebus 100 gr kecipir, bersihkan, rebus dan potong-potong 100 gr tauge, buang akarnya lalu diseduh 100 gr terong hijau mentah, potong-potong 5 buah jengkol mentah, iris-iris 1 papan petai merah, belah 2 bagian Bumbu Urap : 8 buah cabe merah keriting 5 cm kencur 4 siung bawang putih 3 lembar daun jeruk, buang tulang...
Candi Ngawen Jump to navigation Jump to search Candi Ngawen dilihat dari sudut timur laut. Candi Ngawen adalah candi Buddha yang berada kira-kira 5 km sebelum candi Mendut dari arah Yogyakarta , yaitu di desa Ngawen, kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang . Menurut perkiraan, candi ini dibangun oleh wangsa Sailendra pada abad ke-8 pada zaman Kerajaan Mataram Kuno . Menurut Soekmono keberadaan candi Ngawen ini kemungkinan besar adalah bangunan suci yang tersebut dalam prasasti Karang Tengah pada tahun 824 M, yaitu Venuvana (Sanskerta: 'Hutan Bambu'). Candi ini terdiri dari 5 buah candi kecil, dua di antaranya mempunyai bentuk yang berbeda dengan dihiasi oleh patung singa pada keempat sudutnya. Sebuah patung Buddha dengan posisi...
Tarian Tradisional Purbalingga Jawa Tengah JUN 9, 2017 ADMIN 2 Purbalingga merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa Tengah dengan potensi budaya yang tidak kalah menarik dengan daerah lain. Adanya budaya yang berbentuk kesenian seperti tarian-tarian tradisional merupakan salah satu potensi budaya yang patut dibanggakan dari Kabupaten Purbalingga ini. Tari Lenggasor Tari Lenggasor (https://relaxinfo.wordpress.com) Merupakan tarian asli dari Kabupaten Purbalingga yang merupakan salah satu tarian yang berasal dari kesenian lenggeran yang telah dikembangkan. Tarian Lenggasor sendiri di ambil dari kata “Lenggah” yang artinya duduk dan “Ngisor” yang artinya bawah yang memiliki makna harus tunduk kepada sang Maha Pencipta serta patuh kepada orang tua. Gerakan-gerakan yang ada dalam Tarian Lenggasor memiliki gerakan yang enerjik se...
Tari Buncis (https://ebegpbg.blogspot.co.id) Merupakan perpaduan antara seni musik dengan seni tari yang dimainkan oleh 8 orang pemain. Dalam pertunjukannya diiringi dengan perangkat musik angklung. Para pemain buncis selain menjadi penari juga menjadi pemusik serta vokalis. Sumber: https://gpswisataindonesia.info/2017/06/tarian-tradisional-purbalingga-jawa-tengah/
Tari Aksimuda (https://www.tradisikita.my.id) Merupakan kesenian bernapas Islam yang disajikan dalam bentuk atraksi pencak silat yang digabung dengan tari-tarian. Sebagian orang menyebut kesenian ini sebagai “peksi muda” yang artinya “burung muda” yang lincah. Dimaksudkan untuk menggambarkan dinamisnya para pemuda dalam olah gerakan silat dan tarian. Kesenian aksimuda ini dipimpin seorang pendekar yang menguasai betul tentang gerakan pencak silat, tenaga dalam, magik, tarian, ketukan musik dan keselarasannya. Selain sebagai hiburan yang atraktif, kesenian ini mengandung berbagai makna dalam setiap lagu dan gerakannya. Sumber: https://gpswisataindonesia.info/2017/06/tarian-tradisional-purbalingga-jawa-tengah/