Dalam artikel lain kita sudah membahas PENYANG – Azimat Dayak Ngaju, kali ini kita akan membahas GIMAT & SEREMPELIT yaitu penyang yang dikenal oleh sub suku Dayak Benuaq – Tunjung. Sebenarnya antara penyang dengan gimat ini adalah hal yang sama, cuma ada beberapa perbedaan konsep. Jika didalam budaya Dayak Ngaju ada penyang atau azimat yang digantung di Mandau maka orang Dayak Benuaq – Tunjung tidak mengenal azimat yang digantung pada mandau. Azimat ini biasanya berupa kalung, gelang lengan atau juga yang diikatkan pada pinggang.
GIMAT atau JIMAT dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu; gimat yang dipakai saat peperangan dan juga gimat yang dipakai untuk menangkal kekuatan magis berupa santet atau guna-guna. Kedua gimat ini dibuat dalam bentuk yang hampir sama sesuai keinginan pemiliknya. Gimat rata-rata dibuat dari kain hitam. Gimat yang dipakai dalam peperangan harus dijahit oleh seorang janda menggunakan benang hitam. Didalam gimat biasanya diisi benda-benda yang dianggap bertuah misal tanduk pelanduk, kulit rusa putih. ular berkepala dua dll. Ada juga berupa batu-batuan atau buah-buahan yang aneh, akar kayu tertentu dsb. Gimat umumnya dijadikan kalung (bandul atau liontin) ada juga yang diikatkan pada lengan. Pantangannya pada saat buang air gimat ini harus ditanggalkan sementara kemudian ia tidak boleh dilangkahi terlebih lagi oleh perempuan. Namun untuk gimat penangkal dapat dipakai kapan saja tanpa ada pantangan. Sedangkan SEREMPELIT sama dengan Penyang Kahang yaitu azimat yang dililitkan pada pinggang. Umumnya isi SEREMPELIT jauh lebih banyak dari pada Gimat. Serempelit hanya digunakan saat peperangan atau menghadapi musuh.
Untuk membuat GIMAT & SEREMPELIT tidak mudah sebab untuk memperoleh isiannya hanya dapat diperoleh dengan jalan BEKAJIIQ (dibeli). Pembelian disini berbeda dengan membeli barang ditoko dimana yang menjual mencari keuntungan, ada tata cara dan aturan yang akan ditetapkan oleh sang GURUUQ / Guru – yaitu orang yang tangguh atau disebut TEGAAP. Orang yang memiliki GIMAT & SEREMPELIT ketika berhadapan dengan musuh sedikitpun tidak akan merasa gentar dan takut.
sumber: https://folksofdayak.wordpress.com/2014/04/15/gimat-serempelit-azimat-dayak-benuaq/
#SBJ
Cara Membatalkan Transaksi Pinjaman (AdaKami) Kamu bisa menghubungi layanan Live Chat via WA((+62821=6213=907)). jelaskan dengan baik alasan ingin melakukan Pembatalan, lalu siapkan data diri anda seperti KTP, dan ikuti langkah-langkah Pembatalan yang di instruksikan oleh customer service melalui WA.
Berikut ini cara membatalkan pinjaman (EasyCash), Silahkan hubungi Customer Service(O822=9567•411O, melalui Live Chat via WhatsApp, dan Siapkan data diri seperti KTP" dan ikuti instruksi yang diberikan oleh agen customer service untuk melanjutkan proses Pembatalan anda.
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...