Waktu terang bulan, udara bersinar terang Teranglah sekali di kotalah Surabaya Belum berapa lama saya duduk dengan bimbang Datang kawan saya Si Gendut itu namanya Ayo rame-rame di kota tanjung perak Panggil satu taksi kita bersorak bersama Tanjung perak tepi laut Siapa suka boleh ikut Bawa gitar keroncong piul Jangan lupa bawa anggur Tanjung perak.. tepi laut Teranglah sekali di kotalah Surabaya Belum berapa lama saya duduk dengan bimbang Datang kawan saya Mas Dhani itu namanya Ayo rame-rame di kota tanjung perak Panggil satu taksi kita bersorak bersama Tanjung perak tepi laut Siapa suka boleh ikut Bawa gitar keroncong piul Jangan lupa bawa anggur Tanjung perak.. tepi laut Ooo.. tanjung perak.. tepi laut Sumber: http://www.lagu-daerah.com/2015/06/lirik-lagu-daerah-jawa-timur.html
Pajjer lagu arena pon nyonara Bapak tane setedhung 'pon padhe jege Ngala' are, solandhu' ben capenga A jelena entara kawajiban Bapak tane 'pon a lako ci' patengah Ampon anye hasela ber benyakan Sumber: http://www.lagu-daerah.com/2015/06/lirik-lagu-daerah-jawa-timur.html
Grimis-grimis malem Kemis ayo kemulan, ben aja kadhemen Musime rendheng rata rata kabeh 'dha kadhemen Ati lamis, ulat manis yen adhep-adhepan Mesam mesem katon ayem ora nduwe dhendhem Yen satriya terus terang Aja seneng nyacat uwong yen saka mburine Sumber: http://www.lagu-daerah.com/2015/06/lirik-lagu-daerah-jawa-timur.html
Lindri adang telung kati lawuhe semayi Adhitutul a mak telep lep A dhiemplok plok a mak telep Pacak gulu cingkring adhuh yayi sendal pancing Adhuh dhangkrek krek adhuh dhangkrek krek Sumber: http://www.lagu-daerah.com/2015/06/lirik-lagu-daerah-jawa-timur.html
kembeng malate pote beunah ro’om ngapencote gik buru e pettek deri taman sare ropana segger tor asre bennyak kembeng se sae tak seddep akadhi malate menangka kasogen kaator kapotre se seddep akadhi malate Sumber: http://www.lagu-daerah.com/2015/06/lirik-lagu-daerah-jawa-timur.html
Gai’ bintang ya le’ gaggar bulan pagai’na janor konéng kaka’ elang ya le’ sajan jau pajauna e lon-alon liya lites, kembang ates, tocca’ toccer Sumber: http://www.lagu-daerah.com/2015/06/lirik-lagu-daerah-jawa-timur.html
Dahulukala, dalam hutan belantara, hidup seekor burung ga gak. Pada suatu hari ia menemukan rontokan bulu burung merak. Dikenakannya bulu merak itu, lalu berkata : ”Aku sekarang akan berkumpul dengan burung merak.” Dan pergilah ia mencari tempat tinggal kawanan burung merak, dan berhasillah ia menemukan tempat itu. Berpikirlah burung gagak, bahwa ia akan diterima hidup ber sama dengan kawanan burung merak itu. Tetapi kebalikannya yang didapatinya. Si gagak berlaku sombong dan kawanan burung merak itu sangat membencinya. Lama-kelamaan dapat diketahui oleh kawanan merak itu, bahwa si sombong itu sebenarnya seekor burung gagak yang menyamar sebagai burung merak. Akhirnya diusirlah dia. Si gagak kemudian ingin berkumpul kembali kepada bangsa nya, kawanan burung gagak, tetapi di sinipun si gagak mendapat kan perlakuan yang tidak menyenangkan, karena ia disangka see kor burung merak. Akhirnya si gagak putus asa dan menceburkan diri ke dalam sebuah lubuk. Matilah ia....
Adalah seorang raja yang adil dan bijaksana. Ia dicintai oleh rakyatnya. Pada suatu hari raja memanggil rakyatnya menghadap. Maksudnya ialah, karena raja itu telah mendapatkan wangsit (=bi sikan gaib) dari dewa. Isi wangsit itu ialah, bahwa raja hendaknya mengadakan sayembara untuk mendapatkan buah jeruk emas se bagai tumbal penolak wabah yang akan melanda seluruh kerajaan. Mendengar pengumuman raja demikian, maka rakyatpun menjadi bingung. Ke mana buah jeruk emas gerangan harus dicari? Di pulau Jawa tidak ada. Tetapi ada seorang hamba datang meng hadap raja. Ia bernama Pak Sikir. Ia menyatakan sanggup mencari buah jeruk emas tersebut. Lalu ia pun berangkat. Ia membawa sebuah bakul besar. Karena kesaktiannya, maka tidak lama kemudian Pak Sikir pun berhasil mendapatkan jeruk emas tersebut. Jeruk itu dimasukkan dalam bakulnya. Pak Sikir sangat senang, karena ia akan memperoleh hadiah dari raja. Di tengah perjalanan Pak Sikir bertemu dengan seorang orang tua. Ketika ditanya apa...
Di jaman dulu hiduplah seekor ayam betina. Anaknya banyak sekali dan jantan semua. Induk ayam tersebut sangat bersedih hati. Salah seekor anaknya bertanya : ”Mengapa engkau bersusah hati, bu? Tidakkah kau senang mempunyai anak calon jago semua?” Mendengar anaknya bertanya demikian, si induk menjawab : ”Aku senang mempunyai anak-anak seperti kalian. Anak-anak jan tan dan rupawan semua. Tetapi kalian tidak mengerti, kalau kalian kelak menjadi besar, pasti ada di antara kalian yang dijadikan jago aduan oleh manusia. Kalian diadu melawan jago lain. Pada tajimu dipasang pisau yang tajam. Kalau kalian diadu, manusia belum merasa puas, bila tak ada salah satu yang mati.” Belum merasa puas, bila tak ada salah satu yang mati.” Salah seekor anak ayam tersebut bertanya lagi : ”Mestikah kita semua dijadikan jago aduan, bu? Ayam yang jelek-jelek kan tidak diadu.” Induk ayam menjawab : ”Kau anak kemarin sore. Pantas kau tidak mengerti. K...