Jenglot adalah figur berbentuk manusia yang berukuran kecil (sekitar 10-17 cm), berkulit gelap dengan tekstur kasar (seperti mumi), berwajah seperti tengkorak dan bertaring mencuat, serta memiliki rambut dan kuku yang panjang. Jenglot ditemukan di beberapa wilayah di nusantara, misalnya Jawa, Kalimantan,dan Bali. Jenglot dipercaya memiliki kekuatan mistis dan memakan darah manusia. Masyarakat Indonesia meyakini jenglot sebagai makhluk yang memiliki kekuatan mistik dan dapat mengundang bencana. Secara sosio realistis jenglot merupakan binatang yang sangat lambat dalam bergerak hingga tak mungkin dapat bertahan hidup lama, jenglot hidup di hutan belantara penuh dengan pohon raksasa tempat persembunyiannya. jenglot hanya mampu keluar dimalam hari karena tak ada binatang buas dan manusia yang akan mengganggunya dan menyebabkan kepunahan. Dan dalam mitos jenglot dianggap memiliki kesaktian/kekuatan mistis seumpama dewa wisnu dengan sakti garuda dan siwa dengan sakti lembu (sakti=wahana...
Habitat hunian kegemarannya adalah batu berair, bangunan tua, pohon besar yang teduh atau sudut-sudut yang lembab sepi dan gelap. Menurut mitos, pusat domisili makhluk ini dipercaya berada di daerah hutan seperti Hutan Jati Cagar Alam Danalaya, kecamatan Slogohimo, sekitar 60 km di sebelah timur Wonogiri, dan di wilayah Lemah Putih, Purwosari, Girimulyo di Kulon Progo, sekitar 60 km ke barat Yogyakarta. Istilah genderuwa yang sebenarnya diduga berasal dari bahasa Kawi gandharwa yang berakar dari bahasa Sansekerta gandharva. Gandharwa dalam kepercayaan Hindu dan Buddha (yang merupakan kepercayaan dominan di zaman kerajaan Hindu Buddha di nusantara) digambarkan sebagai makhluk berwujud manusia berjenis kelamin pria yang tinggal di kahyangan. Mitos genderuwa sebagai makhluk gaib sendiri diduga berakar dari mitos kuno Persia gandarewa. Dalam mitos Persia, gandarewa adalah siluman air Persia yang terus-menerus mencoba...
Girilawungan adalah nama sebuah kerajaan yang pernah ada di tanah Sunda, tepatnya di Majalengka, Jawa Barat. Istilah “girilawungan” berasal dari kata ngalawung dalam bahasa Sunda, yang berarti “berhadap-hadapan”. Menurut cerita, pernah terjadi suatu peristiwa ngalawung di sebuah tempat sehingga tempat itu kemudian dinamakan Girilawungan. Dahulu di tanah Pasundan, ada seorang raja bernama Pangeran Giri Layang . Ia masih keturunan Raja Pajajaran. Pangeran Giri Layang adalah seorang raja yang arif dan bijaksana. Dalam memerintah negara, ia dibantu oleh adik perempuannya yang bernama Putri Giri Larang dan seorang patih bernama Endang Capang . Suatu hari, Pangeran Giri Layang sedang bercakap-cakap dengan adiknya di pendopo istana. Putri Giri Layang berkata kepada kakaknya, “Kanda, Dinda ingin mengatakan sesuatu. Tapi, sebelum...
Gudangan adalah makanan khas Indonesia yang terdiri dari berbagai jenis sayuran yang direbus dan disajikan dengan bumbu gudangan. Bumbu gudangan berasal dari perpaduan ulekan sambal dan parutan kelapa. Gudangan tersebar luas di daratan Jawa dan memunculkan berbagai versi tersendiri di setiap daerah. Misalnya di daerah Jawa Timur, gudangan terkenal dengan istilah "trancam" atau "urap". Perbedaannya terlihat jelas pada cara peracikannya, dimana sayuran trancam atau urap tidak direbus terlebih dahulu sementara sayuran pada gudangan direbus matang. Perbedaan lain juga terlihat jelas pada peracikan bumbu keduanya. Dimana trancam menggunakan kelapa parut yang sudah dikukus terlebih dahulu sementara gudangan menggunakan kelapa parut mentah. Berikut lampiran resep/cara pembuatan Gudangan khas Semarang. BAHAN YANG DIPERLUKAN : Kacang panjang Bayam/Daun Singkong/Sawi/Kangkung Kecambah Bahan Bumbu : 1/2 butir Kelapa parut yang m...
Konon Nasi Kropokan merupakan menu kesukaan Raja Demak, namun tidak banyak yang tahu akan hal itu. Kuliner warisan leluhur yang mengandalkan olahan daging kerbau dan labu putih itu mulai hilang tergerus zaman. Selain menggunakan bumbu-bumbu rempah, kropokhan menjadi lebih sedap dengan penyertaan beberapa helai daun kedondong. Tak hanya menimbulkan rasa asam, daun kedondong juga dipercaya bisa menggerus kolesterol dari daging dan santan. Sementara tingkat kepedasannya bisa ditentukan oleh pecinta kuliner sendiri, karena cabai yang digunakan masih utuh. Bumbu nasi kropokhan terdiri dari, bawang merah dan bawang putih, kunyit, kemiri, ketumbar, jintan, daun jeruk, serta daun salam dan laos. Kemudian ada pula, garam, gula pasir, kunir, kelapa serta daun kedondong. Selain disukai oleh raja-raja Demak, nasi kropokhan juga sering disajikan untuk acara-acara kerajaan.
Intip Ketan merupakan salah satu makanan Khas Kota Kudus yang terbuat dar bahan dasar tepung ketan yang telah dicampur dengan parutan kelapa. Campuran adonan tersebut kemudian dimasak dengan menggunakan wajan yang terbuat dari tanah liat. Makanan khas Kudus yang satu ini memiliki cita rasa yang dominan manis karena etrdapat taburan gula putih di atasnya.
Makanan khas Kota Pemalang salah satunya adalah Bongoko Mento. Makanan khas ini terbuat dari bahan dasar tepung terigu yang telah didadar terlebih dahulu, kemudian dalamnya diisi dengan tumis buah pepaya yang telah ditambahkan dengan bumbu khas dan tak lupa pula tambahan suwiran daging ayam di dalamnya.
Masjid Agung Jawa Tengah adalah masjid yang terletak di Semarang , provinsi Jawa Tengah , Indonesia . Masjid ini mulai dibangun sejak tahun 2001 hingga selesai secara keseluruhan pada tahun 2006. Masjid Agung diresmikan oleh Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 14 November 2006 . Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) merupakan masjid provinsi bagi provinsi Jawa Tengah. Daya tarik lain dari masjid ini adalah Menara Al Husna atau Al Husna Tower yang tingginya 99 meter. Di l antai 19 untuk menara pandang, dilengkapi 5 teropong yang bisa melihat kota Semarang. Pada awal Ramadhan 1427 H lalu, teropong di masjid ini untuk pertama kalinya digunakan untuk melihat Rukyatul Hilal oleh Tim Rukyah Jawa Tengah dengan menggunakan teropong canggih dari Boscha . Area serambi Masjid Agung Jawa Tengah dilengkapi 6 payung raksasa otomatis seperti yang ada di Masjid Nabawi . Payung...
Budaya Lek-Lekan Budaya Lek-Lekan merupakan salah satu budaya yang berkembang di Kota Semarang, budaya Lek-Lekan apabila dilakukan menjelang peringatan hari kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus, tepatnya tanggal 16 Agustus malam hingga dini hari disertai dengan doa-doa untuk para pahlawan juga disebut sebagai Tirakatan. Budaya Lek-Lekan dilakukan pada malam kemerdekaan dan saat malam 1 Suro (Malam 1 Muharram dalam kalender Islam). Kegiatan saat Lek-Lekan juga disesuaikan dengan kondisi, contohnya: Dalam peringatan Hari Kemerdekaan dikenal juga sebagai Malam Tirakatan, maka acaranya adalah menyanyikan Lagu Indonesia Raya, mengheningkan cipta, semangat kebangsaan, dan sebagai ajang perekatan antar warga. Apabila dilakukan saat Malam 1 Suro, maka diisi dengn berbagai macam doa awal tahun, zikir malam, dilanjutkan dengan solat malam. Apabila dilakukan menjelang tanggal 10 Dzulhijjah (Hari Raya Kurban), maka diisi dengan penjagaan hewan kurban secara berga...