Di sebuah desa di kaki Gunung Rinjani, terdapat sebutan untuk masyarakat yang tinggal di sana yaitu masyarakat yang menganut Islam Wetu Telu. Masyarakat menganggap mereka menjalankan ibadah shalat hanya tiga kali, padahal hal itu adalah keliru. Ritual ini kerap disalahpahami, sehingga dianggap sebagai agama sempalan Islam. Desa yang kabarnya masih melestarikan pratik peribadatan wetu telu adalah Karang Bajo. Berbagai stigma berkembang soal masyarakat adat ini. Beberapa yang paling populer misalnya Wetu Telu merupakan percampuran agama Hindu, Islam, dan Buddha. Itu pun diwakilkan oleh penghulu adat , serta mengukur keislaman hanya dari syahadat, pantang makan babi dan alkohol, serta berkhitan bagi kaum lelaki. Jika kita merujuk sumber sekunder, Wetu Telu dimaknai sebagai sinkretisme Hindu dan Islam. Praktik peribadatan warga Sasak di desa Bayan karenanya, dicap sebagai sempalan mazhab Sunni maupun Syiah penduduk Indonesia. Mendengar penjelasan Junan, di pikiran saya Wet...
Kue Iwel adalah kue tradisional nusantara dari Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Kue ini bisa bertahan cukup lama, lebih kurang 5 hari karena pembuatannya melalui proses sangrai, pembakaran dan pengukusan. tekstur kue yang legit dan rasanya yang enak dan manis. Kue ini biasanya disajikan pada saat upacara tradisional masyarakat Lombok. Berikut bahan dan cara pembuatannya. Bahan-bahan 1/2 kg beras ketan hitam 1/2 butir kelapa sedang 1 sdt garam 2 buah gula merah, iris tipis 3 lbr daun pisang Cara Membuat Rendam beras ketan hitam semalaman, tiriskan, sangrai hingga kering lalu tumbuk halus, sisihkan. Bakar kelapa, bersihkan, cuci lalu parut. Campur dengan garam dan beras ketan hitam halus. Masukkan dalam dandang, tutupi daun pisang. Letakkan irisan gula merah di atas daun pisang, kukus hingga gula merah mencair. Setelah itu, keluarkan daun pisang, tumbuk kembali beras ketan hitam halus...
Potongan ikan kakap yang manis dibalut gurihnya bumbu santan. Khusus di saat perlombaan, ia memperkaya langkah akhir dengan memasukkan satai ke dalam bambu bersama kulit jeruk dan kemangi. Aromanya meresap ke dalam ikan! Bahan: 1 kg daging ikan kakap merah, potong dadu 2 cm 1 sdt garam 2 cm kunyit, haluskan 100 ml santan, dari 1 buah kelapa bakar, parut 1 buah jeruk limau, ambil airnya 1 sdt garam ½ sdt gula pasir ½ sdt gula aren Bambu, untuk membakar Bumbu, haluskan: 6 butir bawang merah 6 siung bawang putih 5 buah cabai keriting 4 buah cabai rawit 4 butir kemiri 2 sdt ketumbar, sangrai Cara Membuat: 1/ Lumuri ikan dengan garam dan kunyit. Sisihkan. 2/ Campur bumbu halus, santan, dan air jeruk limau. Masukkan potongan ikan, aduk rata. Simpan dalam kulkas hingga bumbu meresap (± 30 menit). 3/ Tusukkan 4 potong ikan pada 1 tusuk satai. Ulangi proses serupa pada sisa bahan. 4/ Bakar satai di...
Tari Lenggo Mbojo Tari lenggo merupakan salah satu tarian tradisional yang berasal dari kota Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Tari lenggo sebenarnya juga terdapat di daerah melayu, hanya saja Namanya yaitu tari lenggo, sedangkan tari lenggo yang berasal dari Bima Namanya adalah tari Lenggo Mbojo. Kedua tari ini juga memiliki perbedaan karena biasanya tari lenggo yang berasal dari melayu dibawakan oleh laki-laki sedangkan tari lenggo mbojo dari bima biasanya dibawakan oleh perempuan. Tari lenggo mbojo ini pada awal kemunculanya berkembang sebagai tarian klasik di lingkungan istana Bima dan hanya ditampilkan saat ada acara tertentu saja. Pada awalnya menurut sejarah yang ada sebenarnya tari lenggo yang pertama adalah tari lenggo yang berasal dari melayu. Tari lenggo melayu adalah ciptaan mubalig dari sumatera barat bernama Datuk Raja Lelo. Tari lenggo ini dibuat khusus untuk upacara adat hanta ua pua yang terdapat di Bima. Lalu karena terinspirasi dari tarian tersebut maka Sultan...
Masyarakat Kabupaten Sumbawa menampilkan tradisi Sentek Panguri dari masa kejayaan Kesultanan Sumbawa. Berasal dari kata "kuri" yang berarti ucapan yang halus, lembut, dan santun untuk memberikan semangat kepada Sultan Sumbawa Dewa Masmawa. Sentek Panguri yang merupakan prosesi adat yang masing-masing kelompok menyampaikan persembahan hantaran sesuai kewajiban adat. sumber: https://travel.tempo.co/read/1242985/kenali-9-tradisi-masyarakat-ntb-di-karnaval-budaya-lombok-sumbawa/full&view=ok
Kabupaten Lombok Utara menampilkan tradisi Maulid Adat Bayan yang dilakukan oleh masyarakat adat setiap 15 Rabiul Awal atau tiga hari setelah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Rangkaian prosesinya adalah menutu atau menumbuk padi menggunakan rantok dari bambu panjang. Mereka mengenakan pakaian adat berupa bertutup kepala Jong dan kemben atau kain panjang yang menutupi dada sampai kaki. sumber: https://travel.tempo.co/read/1242985/kenali-9-tradisi-masyarakat-ntb-di-karnaval-budaya-lombok-sumbawa/full&view=ok
Kabupaten Lombok Timur menampilkan Mengayu-Ayu. Ini adalah upacara adat yang diselenggarakan selama tiga tahun sekali oleh masyarakat Sembalun. Upacara Mengayu-ayu menjadi manifestasi rasa syukur masyarakat Sembalun atas melimpahnya hasil bumi sekaligus mengharap keberkahan agar terhindar dari segala bahaya. sumber: https://travel.tempo.co/read/1242985/kenali-9-tradisi-masyarakat-ntb-di-karnaval-budaya-lombok-sumbawa/full&view=ok
Serunai merupakan alat musik tradisional Sumbawa, NTB yang dimainkan dengan cara di tiup, serunai biasa di mainkan setelah panen padi (begabah). Orang zaman dulu membuat serunai dengan batang padi (lolo pe). Namun sekarang serunai di buat dari bambu kecil yang di lubangi dan corong nya di buat dari daun lontar. Terdapat 2 corong di serunai corong pertama agak kecil digunakan untuk meniup dan corong kedua agak besar gunanya untuk mengeras suara. Sekarang serunai sering dimainkan di acara barodak dan upacara adat lainnya, namun di setiap acara nada (temung) yang di mainkan tersebut berbeda. sumber: https://www.insidesumbawa.com/2019/10/09/mengenal-serunai-alat-musik-tradisional-sumbawa/
Dalam tradisinya, pihak yang melakukan tradisi ini menggunakan benda-benda tajam seperti pisahu, keris atau yang lainnya untuk menusuk badan. Ngorek sering dilakukan oleh para pemuda Sasak di Lombok Tengah sebagai bentuk kanuragan, kekuatan, kejantanan yang sengaja ditontonkan dalam sebuah acara perkawinan adat Sasak seperti salah satunya dalam acara Nyongkolan.