Tawur dalam masyarakat Dayak Ngaju merupakan sebuah laku spiritual yang dilakukan oleh pemimpin adat dalam bentuk permohonan kepada sang pencipta. Dan karena permohonan atau doa ini dengan harapan dapat terkabulkan maka bahasa yang digunakan dalam ritual ini pun harus dengan menggunakan bahasa yang baku dan yang diyakini memiliki kekuatan tertentu. Maka dari itu bahasa yang digunakan adalah sebuah bahasa Dayak kuno yakni bahasa Sangen yang diyakini masyarakat setempat sebagai bahasa kesanghyangan (bahasa langit). Dengan bahasa yang baku dan memiliki kesakralan tertentu itulah maka diharapkan akan ada pemaknaan yang sama antara sang pemohon dan sang termohon yakni Tuhan selaku pengabul doa. Laku ritual tawur sendiri seperti makna etimologisnya yang berarti tabur atau menabur sesuatu maka pelaksanaannya pun tak jauh berbeda dengan makna etimologisnya yakni sebuah proses menabur sesuatu yang biasanya dengan media beras kuning yang dilakukan bers...
Raden Patah ( Jawa : ꦫꦢꦺꦤê§ê¦¦ê¦ ê¦ ) alias Jin Bun ( Hanzi : 鳿- , Pinyin : Jìn Wén ) bergelar Senapati Jimbun [1] atau Panembahan Jimbun [2] (lahir: Palembang , 1455 ; wafat: Demak , 1518 ) adalah pendiri dan raja Demak pertama dan memerintah tahun 1500-1518. Menurut kronik Tiongkok dari Kuil Sam Po Kong Semarang , ia memiliki nama Tionghoa yaitu Jin Bun tanpa nama marga di depannya, karena hanya ibunya yang berdarah Tionghoa. Jin Bun artinya orang kuat. [3] Nama tersebut identik dengan nama Arabnya "Fatah (Patah)" yang berarti kemenangan. Pada masa pemerintahannya Masjid Demak didirikan, dan kemudian ia dimakamkan di sana. Me...
GRAMATIKA BAHASA DAYAK NGAJU VERB= KATA KERJA = AUH PANGGAWI Sebelumnya kita sudah belajar mengenai Kata Keterangan atau Auh Panjelas , nah kali ini folks kita akan belajar mengenai kata kerja dan bagaimana membentuk kata kerja pasif. Jika didalam bahasa Indonesia untuk membentuk kata kerja diberikan imbuhan me- atau men-, maka untuk bahasa Dayak Ngaju kata kerja diberi imbuhan ma-, man-, many-, mang-, mam- Contoh: Tepe = tusuk = Manepe Sewut = Sebut = Manyewut Dukang = Jongkok = Mandukang Baleh = Balas = Mambaleh Rima’ = arti = Marima = Memahami Gatang = Angkat = Manggatang Getem = Tuai = Manggetem Tehau = Panggil = Mantehau Surat = tulisan = Manyurat = Menulis Peteng = Ikat = Mameteng = Mengikat Contoh Kalimat: Andi membawa keong untuk dimasak ibu = Andi mimbit kalambuei akan impakasak induæ Para ibu senang sekali menuai padi = Kawan bawi hanjak tutu manggetem parei Rio suka membaca buku...
Tattoo Dusun Hanya kaum prianya saja yang ditatu, designnya sangat sederhana terdiri atas sebuah garis selebar 2 inch = 5 cm yang melengkung dari bagian bahu dan bertemu di bagian perut, dari situ masing-maisng garis menyimpang kebagian panggul dan berhenti disitu; dari bagian bahu setiap garis mengalir ke bagian atas lengan, sedangkan pada bagian lengan bawah terdapat garis melintang dimana garis tersebut menunjukan jumlah kepala yang dipenggal, bentuk tatu ini ditemukan diantara Dayak Dusun yang ada di Idaan; Sedangkan menurut Withead orang Dusun yang tinggal dilereng gunung Kinabalu tatunya tidak lebih dari hanya garis pararel melintang pada bagian lengan bawah mirip seperti kaum Dusun yang ada di Idaan. Kaum wanita Dusun nampaknya tidak ditatu Tattoo Murut Orang-orang Murut yang ada di sepanjang Sungai Trusan bagian utara Serawak sangat sedikit mempraktekan budaya tatu; kaum laki-lakinya kadang memiliki pola gulungan kecil tepat diatas lututnya dan motive lingkar...
Bahan: Bawang merah Bawah putih Kemiri Kunyit Jahe Ikan Daun jeruk purut Asam jawa cabai merah Cabai Hijau Bahan bngkus: Daun pisang Lidi Langkah: Haluskan bawang merah, bawang putih, kemiri, kunyit, dan jahe. Campurkan dengan potongan ikan sesuai selera, daun jeruk purut, asam jawa, irisan cabai merah, dan cabai hijau. Bungkus dengan daun pisang dan semat dengan lidi, lalu kukus hingga matang. Bakar hingga mengering dan matang. Sumber: Buku Mahakarya Kuliner - 5000 Resep Makanan & Minuman di Indonesia #SBJ
Dari berbagai kebudayaan dan adat istiadat yang hidup di indonesia, belum semua deskripsinya dapat dikumpulkan serta didokumentasikan baik dalam bentuk penerbitan buku maupun melalui media teknologi seperti film, slide, dan sebagainya. Dengan demikian, aneka ragam kebudayaan Indonesia kurang dikenal dan menyebar luas di kalangan masyarakat Indonesia sendiri maupun masyarakat asing. Untuk memperkaya informasi tentang khasanah kebudayaan Indonesia, dalam kesempatan ini hadir di tengah pembaca yang budiman tentang tulisan yang menggambarkan seluk beluk 'Upacara Kematian di Kalimantan Tengah". Perhatian utama dalam tulisan ini terpusat pada kekhususan upacara kematian yang diselenggarakan menurut adat istiadat dan kebudayaan Dayak yang ada di Kalimantan Tengah, dan khusμsnya upacara kematian pada suku Dayak Ngaju yakni 'Upacara Tiwah'. Sumber: http://repositori.kemdikbud.go.id/7686/