Budaya Jawa, China, dan Arab bertemu pada acara "Dugderan"½ Semarang, pawai yang menandai tepat satu hari sebelum Ramadhan, Minggu. Perpaduan tiga budaya tersebut terlihat dari sejumlah tarian dan busana dari para peserta pawai Dugderan yang dimulai dari Halaman Balai Kota Semarang Jalan Pemuda, Semarang. Acara pawai yang menyedot minat masyarakat itu, tidak hanya dimeriahkan tarian khas Kota Semarang, tetapi juga adanya aksi barongsai, rombongan sepeda "onthel"½, dan drumband dari Akpol setempat, kereta kencana yang dikendarai Wali Kota Semarang, prajurit berkuda, 80 warak ngendok, dan 80 bendi yang dikendarai para camat dan pimpinan satuan kerja perangkat daerah (SKPD). Sepanjang jalan dari kawasan Balai Kota Semarang Jalan Pemuda menuju tempat tujuan pertama pawai Masjid Kauman, sekitar Pasar Johar, dipenuhi masyarakat yang ingin menyaksikan pawai dari dekat. Pawai tidak hanya berhenti di Masjid Kauman, tetapi juga diteruskan ke Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT). "...
Waisak adalah hari raya umat Budha untuk memperingati hari lahirnya Sidharta Gautama. Upacara keagamaan waisak dilaksanakan di Candi Mendut dan Candi Borobudur dan diikuti oleh Biksu Budha dari berbagai Negara dan umat Budha. Prosesi perayaan upacara waisak diawali dengan pengambilan air berkat dari mata air Jumprit di Kabupaten Temanggung dan penyalaan obor menggunakan sumber api abadi Mrapen di Kabupaten Grobogan. Keesokan harinya, setelah disemayamkan di Candi Mendut, air berkat dan api suci diarak sejauh kurang lebih tiga kilometer menuju Candi Borobudur. Selanjutnya, dilaksanakan ritual Pindapatta, yakni ritual pemberian dana makanan kepada para bhikku/ bhiksu oleh masyarakat. Pada malam hari diselenggarakan puncak perayaan waisak dengan mengikiti ritual detik demi detik bulan purnama. Kemudian ritual mengeliling Candi Borobudur sebanyak tiga kali atau Pradaksina sambil dibacakan Ghata Visaka Puja.
Tabe-tabe uluk salam mulya... Musik tradisional adalah ciri khas musik Indonesia di dunia. Mulai dari gamelan, angklung, maupun yang lainnya. Seperti halnya di Cilacap, kota yang dekat dengan Pulau Napi ini telah mempunyai musik khas tradisional hasil rakitan Ki Ajar Sidik Purnama Negara atau yang bernama asli Sodikin. Rakitan musik khas Cilacap ini beliau dapatkan dari hasil maneges/ ngesti/ semedi. Konon, asal-usul musik ini berkaitan dengan Prabu Jala Bhumi (Penghuni Kerajaan Ghaib, Keraton Nusa Tembini) di Pulau Nusakambangan. Maka racikan musik tradisional khas Cilacap ini disebut Musik Jala Bumi. Musik ini terdiri dari 3 perangkat utama, yaitu Calung, siter, dan kendang. Ketiga alat musik itu bila dipadukan menghasilkan alunan musik yang klasik dan membuat suasana bahagia (ceria). Walaupun demikian, alunan petikan siter menyeimbangkan untuk menhayati isi lagu yang dibawakan. Seperti halnya gamelan, musik ini juga mengacu pada laras pelog dan slendro. Grup pembawa...
Teh Poci dan Sate Kambing Muda adalah makanan dan minuman khas yang banyak ditemui disekitaran daerah Brebes atau Tegal, biasanya dinikmati oleh masyarakat dimalam ataupun siang hari. RM/Toko yang Menyediakan : Sate Batibul Bang Awi Indonesian Restaurant Address: Jl. Raya Ujungrusi No.11, Ujungrusi, Adiwerna, Tegal, Jawa Barat 52194 Phone: (0283) 3448049
Sekilas prasasti ini tidak menarik, catnya telah mengelupas letaknya di pinggir sungai dekat kampung Sudiroprajan seputar Pasar Gede, Solo. Namun dibalik bentuknya yang tidak menarik ternyata Prasasti Bok Teko menyimpan sejarah yang sarat filosofi. Prasasti Bok Teko ini dibangun pada pemerintahan Pakubuwono X. Berdasarkan mitos yang beredar di kampung Mijen kelurahan Sudiroprajan tutup Teko pemberian Paku Buwono X jatuh di jembatan sungai kecil yang melintasi yang melintasi kawasan tersebut. Teko sendiri mempunyau sarat makna, teko adalah simbol dari masyarakat, sedangkan tutup teko adalah simbol dari penguasa. Jadi teko dan tutupnya menyimbolkan masyarakat dan penguasa yang harus bersatu padu untuk mewujudkan hidup yang tenteram dan sejahtera. Ikon teko sendiri sampai sekarang masih dipakai sampai sekarang oleh masyarakat Tionghoa sekitar Sudiroprajan saat perayaan imlek. Kirab sudiro yang menjadi tradisi tahunan masyarakat Tion...
Asal mula kesenian dolalak adalah akulturasi budaya barat (Belanda) dengan timur (Jawa). Pada jaman Hindia Belanda Purworejo terkenal sebagai daerah / tempat melatih serdadu / tentara. Sebagaimana tentara pada jamannya, mereka berasal dari berbagai daerah, tidak hanya Purworejo saja dan dilatih oleh tentara/militer Belanda. Mereka hidup di tangsi / barak tentara. Ketika mereka hidup di tangsi tersebut, maka untuk membuang kebosanan mereka menari dan menyanyi saat malam hari, ada pula yang melakukan pencak silat dan dansa. Gerakan dan lagu yang menarik kemudian menjadi inspirasi pengembangan kesenian yang sudah ada yaitu rebana (kemprang) dari tiga orang pemuda dari dukuh Sejiwan desa Trirejo Kecamatan Loano yaitu : 1. Rejo Taruno 2. Duliyat 3. Ronodimejo Ketiga orang tersebut bersama dengan warga masyarakat yang pernah menjadi serdadu Belanda membentuk grup kesenian. Awalnya pertunjukan kesenian tersebut tidak diiringi instrumen, namun dengan lagu-lagu vokal yang dinyanyik...
Kesenian ini diduga telah ada / mulai dikenal pada abad XVII. Menurut sejarahnya, kesenian ini bermula ketika Demang Kesawen (Kesawen saat ini menjadi salah satu desa di Kecamatan Pituruh Kab. Purworejo) mengikuti Pisowanan di Kadipaten Karangduwur Sambil menunggu acara pisowanan tersebut dimulai, Demang Kesawen bersama 3 (tiga) prajuritnya yang bernama Krincing, Dipomenggolo dan Keling melakukan latihan bela diri di lapangan Kadipaten. Ketika mereka sedang asyik berlatih bela diri dan diketahui oleh Adipati Karangduwur, rupanya beliau tidak berkenan jika Demang Kesawen dan anak buahnya melakukan latihan bela diri di alun - alun Karangduwur. Untuk itu, Adipati memperingatkan kepada Demang Kesawen dan anak buahnya, agar tidak mengulangi kegiatan serupa lagi di masa yang akan datang. Walaupun telah ditegur oleh Adipati Karangduwur, ternyata Demang Kesawen tidak jera. Pada pisowanan yang akan...
Konon kabarnya pada jaman Majapahit, terjadi suatu peperangan antara Kerajaan Majapahit dengan Kerajaan Pajajaran yang terkenal dengan nama perang Bubat. Pada saat itu, diantara prajurit kerajaan Majapahit ada yang berjalan melalui daerah yang sekarang dinamakan Desa somongari. Barisan prajurit tersebut dipimpin oleh Adipati Singanegara, Pangeran Lokajaya dan seorang lagi Pangeran Purwokusumo. Rombongan tersebut beristirahat di daerah itu sampai beberapa saat lamanya. Karena dirasa enak beristirahat di tempat tersebut, maka Adipati Singanagara dan para prajurit diperintahkan untuk terus bermukim di situ. Dan pula diperintahkan untuk menebang hutan-hutan sedikit demi sedikit untuk tempat tinggal. Ternyata diantara prajurit yang menebang kayu banyak yang mati atau hilang karena perbuatan makluk-makluk halus. Setelah diketahui oleh Adipati Singanegara beberapa kali tentang kejadian tersebut, maka bersemedilah Adipati Singanegara. Beliau bersemedi dalam bulan Sura sampai dengan bula...
Tari Gambyong, Legendanya, dan Sebelum “Naik Takhta” Tari Gambyong yang berasal dari Surakarta, Jawa Tengah ini merupakan tarian yang sering ditampilkan untuk memeriahkan acara resepsi perkawinan atau menyambut para tamu. Tarian yang konon menggambarkan seorang wanita remaja yang sedang berdandan ini populer dalam kalangan kerajaan jawa. Walaupun begitu, akar tari gambyong tidak terlepas dari pengaruh kesenian rakyat jawa itu sendiri. Banyak pendapat mengenai akar tarian gambyong ini. Salah satunya adalah dari pesindhen yang menyanyi dan menari bersamaan dan akhirnya lahir sebuah tradisi bernama tayuban . Apa sebenarnya tayuban itu? Tayuban mungkin bisa diibaratkan sebagai clubbing dan saweran , sekaligus ajang prostitusi. Dengan satu...