Tari Gambyong, Legendanya, dan Sebelum “Naik Takhta”

Tari Gambyong yang berasal dari Surakarta, Jawa Tengah ini merupakan tarian yang sering ditampilkan untuk memeriahkan acara resepsi perkawinan atau menyambut para tamu. Tarian yang konon menggambarkan seorang wanita remaja yang sedang berdandan ini populer dalam kalangan kerajaan jawa. Walaupun begitu, akar tari gambyong tidak terlepas dari pengaruh kesenian rakyat jawa itu sendiri.
Banyak pendapat mengenai akar tarian gambyong ini. Salah satunya adalah dari pesindhen yang menyanyi dan menari bersamaan dan akhirnya lahir sebuah tradisi bernama tayuban. Apa sebenarnya tayuban itu?
Tayuban mungkin bisa diibaratkan sebagai clubbing dan saweran, sekaligus ajang prostitusi. Dengan satu tokoh utama wanita, yang disebut taledhek atau tanjhak atau sekarang lebih dikenal sebagai ronggeng, menari bersama pria-pria sambil menyanyi diiringi musik gamelan. Disamping itu sering disediakan minuman keras bagi penonton. Ronggeng sendiri diperkirakan sudah ada dari abad ke-8, ditunjukkan oleh adanya relief penari wanita di candi Borobudur. Walaupun begitu, ada juga yang berpendapat bahwa tayuban ini dianggap sebagai upacara kesuburan saat musim kering melanda tanah jawa. Keberadaan tradisi tayuban ini dipandang buruk pada masa kepemimpinan Stamford Raffles di Pulau Jawa karena banyak menyebabkan keretakan rumah tangga.
Ada pula sebuah legenda rakyat mengenai asal-usul ronggeng yang mungkin muncul seiring dengan berkembangnya Islam dan perdagangan di pulau Jawa. Cerita ini mirip dengan cerita Pygmalion dari Siprus.
Three artisans, a wood carver, a goldsmith, and a tailor, were instruments of the divine will. The Lord Allah ordered the wood carver to make a statue of a beautiful woman and install it beside a little-traveled path. Passing by, the tailor took pity on the statue’s nakedness and dressed it with his unsold wares, a sarong, a chest cloth, and a kebaya (blouse). Later, the goldsmith came by and adorned the statue with rings, bracelets, earrings, and a necklace. All three, upon return home, fasted and prayed arduously that the figure might be imbued with life. After forty days, a wali (one of the nine legendary holy men who introduced Islam to Java) came upon the statue and to him Allah’s will was revealed by an angel. The statue became animated. The wali led the beautiful woman to the house of the wood carver. The goldsmith and the tailor had already arrived here having been told by a tjitjak (household lizard) to do so. Each of the three men, seeing the lovely woman, recognized his share in her creation and claimed her for himself. But the wali ordered all three to accompany the woman, who was to dance and sing, wandering through the country. The wood carver was to play rebab (one-string violin), the tailor was to beat the drum, and the goldsmith was to play the gong, ketjrek, and ketuk (all percussion instruments). They obeyed and the four wandered out and on to Majapahit. And thus it was shown that the dance girl does not belong to one but to many (Holt 1967:113).
Tradisi tayuban ini juga sudah dikenal pada zaman kerajaan Mataram abad ke-16, masa kepemimpinan Panembahan Senapati. Putrinya, Pembayun Sekar, adalah seorang ronggeng yang berkeliling Mataram dengan tujuan menggoda Ki Ageng Mangir, saingan Mataram. Cerita mengenai ronggeng Pembayun Sekar ini akhirnya melahirkan mitos bahwa wanita yang menjadi ronggeng harus bersiarah ke makam Pembayun Sekar.
Pada abad ke-18, seorang penari ronggeng bernama Maya Gambyong Mas yang dipuja-puja dan sangat terkenal namanya karena kepiawaiannya dalam menari dan menyanyi. Dari sinilah asal nama tari Gambyong yang kita kenal saat ini. Konon, menurut cerita masyarakat, Maya Gambyong Mas ini juga dapat menyembuhkan penyakit seseorang dengan menari.
Di zaman ini pula, pesona tari ronggeng menyebar hingga ke keraton. Mangkunegara I selalu menggelar pertunjukan tari ronggeng di tiap hari kelahirannya yaitu Minggu Pahing. Selain itu sering pula dikirim penari ronggeng untuk mengibur prajurit di peperangan. Ronggeng juga sering ditampilkan pada acara-acara pernikahan di keraton, misalnya pada pernikahan putra dari Pakubuwana IV. Masuknya budaya tari ronggeng ke keraton inilah yang mungkin menyebabkan adanya pencampuran gerakan tari rakyat dan tari keraton hingga menjadi tari Gambyong yang dikenal sekarang dan kemudian dikembangkan menjadi bermacam jenis.
Niken Noor Triastuti Murty Vijaya
Perkumpulan Seni Tari dan Karawitan Jawa – Institut Teknologi Bandung
Sumber:
Foto oleh: Ryan Dwi WA, PSTK ITB, 2012
Brakel-Papenhuijzen, Clara. 1995. Classical Javanese Dance: The Surakarta Tradition and its Terminology. http://books.google.co.id/books?id=kvJkF0x_8T4C&printsec=frontcover&hl=id&source=gbs_ge_summary_r&cad=0#v=onepage&q&f=false. KITLV Press. Diakses 15 Juni 2013.
Geertz, Clifford. 1976. The Religion of Java. Jakarta: Komunitas Bambu
Hidajat, Robby. 2010. History of Ronggeng Java. http://www.studiotari.com/2010/01/history-ronggeng-java.html. Diakses 15 Juni 2013
Koskoff, Ellen. 1987. Women and Music in Cross-Cultural Perspective. http://books.google.co.id/books?id=LVaT02NNw7oC&printsec=frontcover&hl=id&source=gbs_ge_summary_r&cad=0#v=onepage&q&f=false. University of Illinois Press. Diakses 15 Juni 2013.
Karya: Mahlil Azmi Di sebuah perkampungan kecil bernama Desa Pucok Krueng, di Aceh bagian barat selatan, hiduplah sebuah keluarga kecil yang damai dan bahagia. Mereka berjumlah empat orang: sang ayah bernama Uda Bintang Puteh berumur 40 tahun, ibu Nyak Bulan berumur 30 tahun, anak pertama Rajo Puteh berumur 10 tahun, dan adik perempuannya bernama Nyak Puteh yang berumur 5 tahun.Kedua orang tua mereka adalah petani dan pekebun pala. Sementara itu, Rajo adalah anak yang nakal dan sering berkelahi dengan teman-temannya hingga meresahkan orang tuanya. Walaupun begitu, ia sangat menyayangi keluarganya, terutama adiknya. Nyak Puteh adalah anak yang ceria, patuh, rajin mengaji, dan suka membantu orang tua mencuci piring. Setiap menjelang pagi, ayah dan ibu berpamitan untuk bekerja di ladang memetik buah pala, dan terkadang menjadi buruh tani di sawah milik saudagar kampung. Walaupun upah yang mereka dapatkan sedikit, mereka tetap bersyukur.Beberapa tahun kemudian, saat Rajo berumur 17 tahun,...
Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta Sejarah & Latar Belakang Candi Miri adalah salah satu candi Hindu yang terletak di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Diperkirakan dibangun pada abad ke-9, Candi Miri merupakan bagian dari warisan budaya Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini berdiri tidak jauh dari beberapa candi lain yang juga bersejarah, seperti Candi Banyunibo dan Candi Barong, menjadikannya sebagai bagian penting dari kompleks candi yang memiliki nilai arkeologis yang tinggi (Sumber 2, 4, 14). Candi Miri, yang terletak di bukit karst dengan ketinggian sekitar 300 meter, menjadi lokasi yang strategis untuk aktivitas keagamaan dan pemujaan. Meskipun saat ini kondisinya mengalami kerusakan dan belum dilakukan pemugaran, keberadaannya tetap menarik perhatian para peneliti dan wisatawan yang ingin menyelami sejarah kekayaan budaya Indonesia (Sumber 1, 8, 14). Karakteristik Arsitektur Candi Miri memiliki...
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa,tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan harimau. Tapi bagi kami, hutan ini seperti halaman belakang rumah sendi...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.