HUT RI
38 entri ditemukan

Entri per provinsi
Entri per provinsi

Entri Terkait

Gambar Entri
Barongan, Salah Satu Kesenian Tradisional di Tegal
Seni Pertunjukan Seni Pertunjukan
Jawa Tengah

Jika mendengar kata “barong” yang terlintas dibenak kita adalah barongsay atau barong dari Bali. Di  Wikipedia  dijelaskan bahwa Kesenian Barongan adalah karakter dalam mitologi  Jawa ,  Sunda ,  Madura  dan  Bali . Ia adalah raja dari roh-roh serta melambangkan kebaikan. Ia merupakan musuh Rangda dalam mitologi Jawa, Bali. Banas Pati Rajah adalah roh yang mendampingi seorang anak dalam hidupnya. Banas Pati Rajah dipercayai sebagai roh yang menggerakkan Barong. Sebagai roh pelindung, Barong sering ditampilkan sebagai seekor singa. Jadi memang betul jika barongan dikenal di tanah Jawa dan Bali. Jika di Tegal sendiri, kesenian barongan merupakan kesenian yang cukup langka. Karena hanya dipertontonkan pada saat acara tertentu saja, seperti pawai HUT Kemerdekaan Republik Indonesia, atau ada acara hajatan khitanan warga. Salah satunya kesenian tradisional barongan yang kemarin malam sempat dipertontonkan di daerah Kramat, Pantu...

avatar
Riziqmyusuf
Gambar Entri
3 - Upacara Tanjungsari
Ritual Ritual
Jawa Tengah

Asal usul upacara tradisional Tanjungsari. Alkisah pada waktu pecahnya kerajaan Majapahit ada 2 (dua) orang putri kerajaan yang bernama : Roro Tanjungsari dan Roro Payung Gilap yang lolos dari kerajaan dan kesasar sampai di sebuah desa yang masih berupa hutan. Karena kesedian dua putri tersebut yang menangis terus menerus dan tidak makan dan minum lalu kedua putri tersebut hilang bersama raganya (muksa). Dengan hilangnya kedua putri di tempat itu timbullah pohon Dlimo, sedang buahnya setelah masak seperti emas maka Desa tersebut diberi nama Dlimas.   Masyarakat di Desa Dlimas pada waktu itu hidup serba kekurangan dan dapat diibaratkan bisa makan sehari dan tidak makan tiga hari. Pada suatu hari ada salah satu penduduk yang mendapat ilham agar kehidupannya menjadi baik agar supaya pohon Delia tersebut dirawat (diperlihara). Alkisah setelah pohon tersebut dipelihara dengan baik ternyata kehidupan masyarakat di Desa Dlimas menjadi baik, dan setelah pohon Delia itu mati dit...

avatar
Sobat Budaya
Gambar Entri
Serat Sabdo Jati
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Jawa Tengah

Hawya pegat n gudiya ronging budyayu Margane suk a basuki Dimen luwar kang kinayun Kalising panggawe sisip ngkang taberi prihatos Jangan berhenti selalulah berusaha berbuat kebajikan, agar mendapat kegembiraan serta keselamatan serta tercapai segala cita-cita, terhindar dari perbuatan yang bukan-bukan, caranya haruslah gemar prihatin. Ulatna kang nganti bisane kepangguh Galedehan kan g sayekti Talitinen awya kleru Larasen sajroning ati Tumanggap dimen tumanggon Dalam hidup keprihatinan ini pandanglah dengan seksama, intropeksi, telitilah jangan sampai salah, endapkan di dalam hati, agar mudah menanggapi sesuatu. Pamanggone aneng pangesthi rahayu Angayomi ing tyas wening Eninging ati kang suwung Nanging sejatining isi Isine cipta sayektos Dapatnya demikian kalau senantiasa mendambakan kebaikan, mengendapkan pikiran, dalam mawas diri sehingga seolah-olah hati ini kosong, namun sebenarnya akan menemukan cipta yang sejati. Lakonana klawan sabaraning kalbu Lamun obah niniwasi Kas...

avatar
Lung
Gambar Entri
Legenda Pengging
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Pengging adalah sebuah desa yang terletak di Kelurahan Dukuh, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, tapi sekarang Pengging lebih dikenal oleh masyarakat mencakup 3 Kelurahan yaitu Bendan, Dukuh dan Jembungan. Dengan peninggalan yang tersisa adalah Pemandian Umbul Pengging ,Umbul Sungsang dan Makam Pujangga Yosodipuro. Pengging juga mempunyai ritual sebaran apem untuk memperingati bulan Sapar, tradisi ini sudah ada sejak jaman R. Ng Yosodipuro. Hal ini dimulai karena pengaruh R. Ng Yosodipura yang berjasa dalam membawa rakyat Pengging dalam meningkatkan hasil pertanian dan mengusir hama. Acara ini sering bertepatan dengan acara Pengging Fair yaitu pesta rakyat dan budaza Pengging yang dilaksanakan mendekati bulan Agustus. Acara ini berlangsung selama seminggu dengan puncak acaranya adalah hari terakhir perayaan ini. Namun beberapa hari sebelumnya di sepanjang jalan Pengging sudah ramai dengan pedagang-pedagang, mulai penjual makanan sampai pakaian tidak hanya pedagang lokal tapi j...

avatar
Deni Andrian
Gambar Entri
Asal Desa Potronayan
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Nama Desa Potronayan cukup dikenal di kalangan masyarakat Boyolali. Meski demikian, tak banyak warga yang tahu sejarah dan  asal-usul  desa di Kecamatan Nogosari ini. Tak banyak pula sumber dan literatur yang mengungkap asal usul desa berpenduduk 5.600-an jiwa ini. Kepala Desa Potronayan, Sugeng, mengakui memang hanya sedikit sesepuh warga desa yang masih mengingat sejarah maupun  asal usul   nama Desa Potronayan. Meski terdapat sejumlah versi cerita, namun secara umum Desa Potronayan tak bisa dipisahkan dari dua nama tokoh populer dalam cerita rakyat, yakni Mbah Potro dan Mbah Noyo. "Bahkan, nama Desa Potronayan ini diambilkan dari nama sosok Mbah Potro dan Mbah Noyo yang menjadi cikal bakal nama desa ini," jelasnya saat berbincang dengan  Solopos.com , Sabtu (7/7/2018). Berdasarkan cerita rakyat yang berkembang dalam beberapa versi, kata Sugeng, Mbah Potro dan Mbah Noyo ini adalah pasangan suami istri. Mereka memiliki tugas membuang barang...

avatar
Deni Andrian
Gambar Entri
Prasasti Taji Gunung
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Jawa Tengah

Prasasti Taji Gunung berangka tahun 910 M dengan menggunakan bahasa Jawa Kuno. Prasasti batu yang ditemukan di Taji, Jawa Tengah ini menjadi koleksi Museum Nasional dengan No. Inventaris D.6. Prasasti ini menceritakan tentang peresmian Desa Taji Gunung menjadi sima oleh Sang Rakryan Mahamantri pada tahun 194 Sanjayawarsa.     Dari analisa seorang arkeolog, Boechari, dalam  Rakryan Mahamantri I Hino Çri Sanggramawijaya Dharmaprasadattunggadewi  (1965), Prasasti Taji Gunung dapatlah diperkirakan bahwa pergantian dari Raja Rakai Watukura Dyah Balitung kepada Rakai Hino Pu Daksa tidak berjalan dengan wajar. Apalagi jika dilihat bahwa di dalam Prasasti Taji Gunung itu Rakryan Mahamantri i Hino Pu Daksa menetapkan Desa Taji Gunung menjadi sima bersama Desa Gurunwangi.  ***   Sumber: kekunaan.blogspot.com

avatar
Arum Tunjung
Gambar Entri
Prasasti Wukiran
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Jawa Tengah

Prasasti Wukiran berangka tahun 784 Çaka atau 862 M, dengan menggunakan aksara Jawa Kuno dan memakai dua bahasa, yaitu bahasa Sansekerta dan bahasa Jawa Kuno. Bagian awal prasasti menggunakan bahasa Sansekerta sebanyak 6 baris yang berisi puji-pujian terhadap Åšiwa dan Walaing. Kemudian dilanjutkan dengan menggunakan bahasa Jawa Kuno sebanyak 9 baris. Di baris ke 17 kembali menggunakan bahasa Sansekerta yang berisi puji-pujian terhadap Kumbhayoni. Dua baris terakhir ditutup dengan bahasa Jawa Kuno.   Prasasti yang dikeluarkan pada masa pemerintahan Rakai Walaing Pu Kumbhayoni ini, terbuat dari batu andesit ( upala pra Å›asti ) yang berbentuk blok dengan puncak setengah lingkaran atau membulat. Secara keseluruhan, prasasti Wukiran mempunyai tinggi 84 cm yang diukur dari bawah hingga hingga ujung puncak prasasti. Tinggi bagian badan prasasti adalah 71,5 cm dan bagian puncak 12,5 cm. Panjang prasasti adalah 35,5 cm dengan ketebalan b...

avatar
Arum Tunjung
Gambar Entri
Serat Darmo Gandhul
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Jawa Tengah

Cerita berdirinya Negara Islam di Demak, hancurnya Negara Majapahit, dimana saat itulah awal mula masyarakat Jawa meninggalkan agama Buda [Shiwa Buddha] dan berganti memeluk agama Islam.) Prosa dalam bahasa Jawa kasar. Diambil dari catatan induk asli peninggalan K.R.T. Tandhanagara, Surakarta. Diterjemahkan dan diulas kedalam bahasa Indonesia oleh Damar Shasangka (DS, http://www.superkoran.info/content/view/2840/88888889/ ) Tergerak dan terdorong hati ini, setelah mengetahui cerita indah, dari Kyai Kalamwadi (Kalam = Ucapan, Wadi = Rahasia), yang dulu pernah berguru menimba ilmu kepada Raden Budi (Buddhi = Kesadaran), mentaati dan menuruti, apa yang selalu diperintahkan oleh guru, setia menjalankan petunjuk, tekadnya sudah tiada lagi keraguan lahir maupun batin, memuja guru bagaikan dewa itu sendiri. Apapun petunjuk Raden Budi (Buddhi = Kesadaran) sangat jernih, dijunjung dan diresapi didalam hati, benar-benar dihargai lahir maupun batin, tiada peduli walau harus ha...

avatar
Arum Tunjung
Gambar Entri
Pancakaki
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Jawa Tengah

Naskah dengan kode AS 7 dan berjudul Pancakaki ini ditulis menggunakan bahasa Jawa dan aksara Jawa. Naskah ini berjumlah 830 halaman. Wujud tulisan berbentuk prosa yang ditulis pada kertas folio bergaris, dengan ukuran naskah 34,5 x 22 cm. Isi naskah menceritakan perkawinan Bambang Pancadriya dengan Endhang Sonyawati, juga mengisahkan cerita tentang Resi Sabdatama dan lahirnya Resi Bawana. Naskah ini bernomer Rol 439.09 dan tersimpan di Perpustakaan Nasional RI. Sumber: http://aksakun.org/

avatar
Arum Tunjung