Mamoholi disebut manomu-nomu yang maksudnya adalah menyambut kedatangan (kelahiran) bayi yang dinanti-nantikan itu. Disamping itu juga dikenal istilah lain untuk tradisi ini sebagai mamboan aek ni unte yang secara khusus digunakan bagi kunjungan dari keluarga hula-hula/tulang. Pada hakikatnya tradisi mamoholi adalah sebuah bentuk nyata dari kehidupan masyarakat Batak tradisional di bona pasogit yang saling bertolong-tolongan (masiurupan). Seorang ibu yang baru melahirkan di kampung halaman, mungkin memerlukan istirahat paling tidak 10 hari sebelum dia mampu mempersiapkan makanannya sendiri. Dia masih harus berbaring di dekat tungku dapur untuk menghangatkan badanya dan disegi lain dia perlu makanan yang cukup bergizi untuk menjamin kelancaran air susu (ASI) bagi bayinya. Untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu, maka saudara-saudara sekampung akan secara bergantian dari hari ke hari berikutnya mempersiapkan makanan bagi si ibu berupa nasi, lauk daging ayam atau ika...
Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau menghargai para pahlawan dan sejarahnya, demikian pula bangsa yang mau melestarikan seni budaya dan adat istadat peninggalan leluhur yang masih memiliki nilai estetika dan etika. Kesenian Menthiet merupakan salah satu budaya asli atau seni khas dari Kebumen. Selain dikenal dengan tempat wisata alam, wisata religi, wisata sejarah, wisata curug, wisata bukit, wisata geologi, wisata kuliner dan juga wisata bahari yang cukup banyak, di kabupaten Kebumen juga dikenal sebagai wilayah yang masih memiliki seni dan budaya luhur dan masih eksis sampai sekarang. Salah satu kesenian tradisional Kebumen adalah kesenian Methiet, dimana pentas dari kesenian Menthiet pernah digelar oleh Komunitas Aku Cinta Kebumen (ACK) pada acara Kopdar ACK pada 12 September 2010. Sumber : http://facebumen.com/kesenian-menthiet/
Kebumen memiliki bermacam-macam kesenian tradisional asli. Selain Ebleg , Jemblung , Jamjaneng, dan Menthiet, kesenian tradisional asli Kebumen lainnya ialah Cepetan/Cepetan Alas. Kesenian Cepetan merupakan kesenian tradisional bergenre Sendratari. Kesenian ini berasal dari kecamatan Karanggayam, Kabupaten Kebumen. Cepetan Alas berasal dari dua kata : Cepetan (bahasa Jawa; kata dasarnya adalah Cepet, nama salah satu jenis mahluk halus di Jawa) dan Alas (bahasa Jawa yang berarti Hutan). Kesenian tradisional Cepetan muncul di kecamatan Karanggayam pada tahun 1943, ketika Jepang berkuasa di Indonesia. Kesenian ini dipopulerkan oleh Lauhudan, seorang tokoh dari Karanggayam. Sendratari ini menggambarkan sebuah peristiwa pembukaan lahan pemukiman di daerah Karanggayam. Alkisah pada masa Jepang berkuasa di Indonesia, rakyat mengalami penderitaan baik sandang, pangan, dan papan yang luar biasa. Hal ini dialami juga oleh masyarakat Karanggayam....
1. Perkawinan Proses perkawinan dalam adat kebudayaan Batak-Toba menganut hukum eksogami (perkawinan di luar kelompok suku tertentu). Ini terlihat dalam kenyataan bahwa dalam masyarakat Batak-Toba: orang tidak mengambil isteri dari kalangan kelompok marga sendiri ( namariboto ), perempuan meninggalkan kelompoknya dan pindah ke kelompok suami, dan bersifat patrilineal, dengan tujuan untuk melestarikan galur suami di dalam garis lelaki. Hak tanah, milik, nama, dan jabatan hanya dapat diwarisi oleh garis laki-laki. Ada 2 (dua) ciri utama perkawinan ideal dalam masyarakat Batak-Toba, yakni (1) Berdasarkan rongkap ni tondi (jodoh) dari kedua mempelai; dan (2) Mengandaikan kedua mempelai memiliki rongkap ni gabe (kebahagiaan, kesejahteraan), dan demikian mereka akan dikaruniai banyak anak. Berdasarkan jenisnya ritus atau tata cara yang digunakan, perkawinan adat Bata Toba dibagi menjadi 3 (tiga) tingk...
Bulung namartampuk, bulung ni simarlasuna, Nunga hujalo hami tintin marangkup, Dohonon ma hata pasu-pasuna. Hot pe jabu i, tong doi margulang-gulang Sian dia pe mangalap boru bere i, tong doi boru ni Tulang. Sai tong doi lubang nangpe dihukkupi rere, Sai tong doi boru ni Tulang, manang boru ni ise pei dialap bere. Amak do rere, dakka do dupang, Anak do bere, Amang do Tulang. Asing do huta Hullang, asing muse do huta Gunung Tua, Asing do molo tulang, asing muse do molo gabe dung simatua. sumber: batak-network.blogspot.co.id/2016/08/kumpulan-umpasa-dalam-budaya-adat-batak.html
Pernahkah anda mendengar Margala, begitulah sebut warga Bonapasogit. Jika disimak dari kata-katanya penamaan permainan tradisional yang berasal dari batak toba ini cukup membuat penasaran. Ada sebagian daerah Toba provinsi Sumatera Utara menamakannya Marcabor. Mirip dengan permainan galasin, atau disebut juga galah asin atau gobak sodor di beberapa daerah lain. Permainan tradisional ini ternyata sudah ada sejak zaman dahulu, bahkan permainan margala adalah salah satu permainan sebagai hiburan resmi para raja batak. Permainan ini dulunya dimainkan pada saat rondang bulan atau poltak tula yang artinya terang bulan. Dan ketika rondang bulan inilah seluruh rakyat berkumpul di halaman rumah sang raja. Permainan tradisional ini adalah permainan yang sangat ditunggu-tunggu, pasalnya bagi remaja yang memainkannya biasanya mereka memanfaatkan kesempatan tersebut untuk sekaligus mencari jodoh, dapat dikatakan pada budaya batak dahulunya permainan ini dijadikan sebagai ajang pencarian jodoh....
Aek Sipitu Dai, Cerita tentang Kehausan dan Pencarian 'Pariban' Aek Sipitu Dai atau Air Tujuh Rasa sudah menjadi lokasi wisata yang cukup ternama di Kabupaten Samosir, Sumatera Utara. Bagaimana tidak, tujuh pancur dari mata air ini bisa mengeluarkan air dengan rasa yang berbeda-beda. Entah apakah ada pendapat yang masuk akal untuk menjelaskan fenomena tersebut, namun yang jelas ada dua cerita yang melatarbelakangi lahirnya Air Tujuh Rasa. Menurut Ompung Bona br Sihotang, yang rumahnya persis di depan Aek Sipitu Dai, sumber air ini sudah ada sejak zaman dulu. Cerita berawal saat Ompung Langgat Limbong, generasi ke dua dari Marga Limbong, sedang kehausan dan pergi mencari air. "Namun dia ini tak kunjung mendapatkan mata air untuk diminum. Ia lalu berhenti persis di lokasi mata air yang ada saat ini,” cerita Ompung Bona br Sihotang kepada batakgaul.com di rumahnya, belum lama ini. Aek Sipitu Dai, Samosir/s...
Mop merupakan budaya humor yang berasal dari Papua. Mop adalah alat pemersatu dan keakraban masyarakat Papua. Asal muasal Mop ini belum dapat ditemukan, namun ada beberapa sudut pandang sejarah yang meyakini bahwa mop diperkenalkan oleh orang Belanda saat zaman penjajahan. istilah mop diambil dari April Mop atau lelucon pada bulan april. Mop dilakukan dalam kelompok formal maupun non formal, dalam kelompok kecil maupun besar. Sama halnya dengan stand up comedy, mop dimulai dengan seorang pencerita berdiri di tengah sekelompok orang yang sedang duduk. lalu, secara spontan pencerita akan mengawalinya dengan berkata "....ee mari ko dengar dulu sa pu mob ni" yang artinya "hei, mari kalian dengar mob saya ini". Ada beberapa kata yang secara umum dipakai dalam mop yakni pace untuk penggambaran laki-laki, mace untuk penggambaran perempuan, yaktep untuk anak muda, tete untuk kakek, dan nene untuk nenek. Pada dasarnya mop memiliki variasi sesuai suku dan daerah di...
Bagi yang menggemari bidang seni dan budaya, acara ini wajib dikunjungi. Event ini diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Semarang di komplek Taman Budaya Raden Saleh. Selama penyelenggaraan, pengunjung bisa menikmati berbagai acara misalnya pameran seni, workshop penulisan, pementasan sastra dan teater dan lain-lain. Ribuan hasil karya seni seperti lukisan, mural, patung, dll bisa ditemukan di acara ini. Sumber : http://hellosemarang.com/10-acara-unik-di-semarang-yang-wajib-ditonton/