Batak Toba merupakan slaah satu jenis Suku Batak yang ada. Pada adat pernikahan Batak Toba, Mangulosi (memberi ulos) merupakan salah satu ritual terpenting dalam adat pernikahan. Menurut sejarahnya, ulos adalah sebuah tanda yang bisa mengayomi dan memberikan kehangatan bagi pemakainya. Tetapi dalam hal ini, ulos diartikan sebagai sebuah sarana pelindung yang mampu memberikan perlindungan, kasih sayang oleh si pemberi kepada si penerima ulos (dalam hal ini adalah pengantin). Dari bermacam jenis ulos yaang diterima, ulos hela merupakan ulos yang paling penting karena ulos tersebut merupakan pemberian Orang Tua kepada pengantin
Jam G adang (dalam Bahasa Indonesia berarti jam besar) merupakan sebuah menara jam yang merupakan landmark dari provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Menara jam ini memiliki diameter 80 cm dengan denah dasar 13x4 meter dengan tinggi mencapai 26 meter. Ukurannya yang tidak lazim itulah maka menara jam ini disebut sebagai jam besar. Terletak di kota Bukit Tinggi, Jam Gadang menjadi simbol khas Sumatera Barat karena usianya yang sudah mencapai puluhan tahun serta karena keunikan yang dimilikinya. Jam Gadang dibangun pada tahun 1926 oleh seorang arsitek bernama Yazid Sutan Gigi Ameh. Jam ini merupakan hadiah dari Ratu Belanda kepada Controleur (Sekretaris Kota) pada waktu itu. Pembangunannya sendiri konon menghabiskan biaya hingga 3.000 Gulden. Hal yang menjadi keunikan dari jam ini terletak pada ornamennya yang selalu berubah mengikuti perkembangan penguasa saat itu. Pada masa pen...
Nyi Anteh Pada jaman dahulu kala di Jawa Barat ada sebuah kerajaan bernama kerajaan Pakuan. Pakuan adalah kerajaan yang sangat subur dan memiliki panorama alam yang sangat indah. Rakyatnya pun hidup damai di bawah pimpinan raja yang bijaksana . Di dalam istana ada dua gadis remaja yang sama-sama jelita dan selalu kelihatan sangat rukun. Yang satu bernama Endahwarni dan yang satu lagi bernama Anteh. Raja dan Ratu sangat menyayangi keduanya, meski sebenarnya kedua gadis itu memiliki status sosial yang berbeda. Putri Endahwarni adalah calon pewaris kerajaan Pakuan, sedangkan Nyai Anteh adalah hanya anak seorang dayang kesayangan sang ratu. Karena Nyai Dadap, ibu Nyai Anteh sudah meninggal saat melahirkan Anteh, maka sejak saat itu Nyai Anteh dibesarkan bersama putri Endahwarni yang kebetulan juga baru lahir. Kini setelah Nyai Anteh menginjak remaja, dia pun diangkat menjadi dayang pribadi putri Endahwarni. “Kau jangan memanggilku Gusti putri kalau sedan...
Jika anda berkunjung ke daerah Jawa Tengah dan Yogyakarta, mungkin anda akan menemui patung sepasang pengantin yang duduk bersebelahan. Patung tersebut dapat kita jumpai di rumah warga, hotel, bahkan restoran. Namun tahukah anda patung apa tersebut? Patung sepasang kekasih tersebut bernama Loro Blonyo. Bagi masyarakat Jawa, Loro Blonyo melambangkan kesuburan. Loro Blonyo digambarkan sebagai lambang kesuburan karena sosok wanita dalam Loro Blonyo adalah Dewi Sri yang sangat terkenal dengan dewi pembawa kesuburan. Sedangkan sosok pria adalah Sadana. Banyak versi yang menceritakan siapakah Sadana tersebut. Pada jaman dahulu peletakan Loro Blonyo bukanlah di hotel, ruang tamu atau di tempat makan. Loro Blonyo biasanya diletakan di ruang tengah pada rumah Joglo. Ruang tengah ini biasanya ruangan yang sangat jarang dipakai dan sangat sakral. Ruang ini selain Loro Blonyo juga terdapat kasur dan padi hasil panen. bisa dianalogikan, masyarakat Jawa yang mayoritas petani memberik...
Tari Dana-dana merupakan Tarian pergaulan remaja gorontalo yang berkembang dari masa kemasa, tarian ini melambangkan cinta kasih dan kekeluargaan
Upacara Kasada Bromo merupaka n tradisi adat yang rutin dilakukan oleh Suku Tengger. Upacara ini diadakan di Pura Luhur Poten Gunung Bromo, yang berada dibawah kaki gunung bromo kemudian dilanjutkan menuju puncak gunung. Tidak seperti pemeluk hindu pada umumnya yang memiliki candi sebagai tempat ibadah, Pura Luhur Poten hanya terdiri dari sebidang tanah dilahan pasir sebagai tempat be rlangsungnya Upacara Kasada. Upacara Kasada Bro mo biasa dilakukan pada tengah malam hingga dini ha ri setiap bulan purnama di bulan kasodo menurut penanggalan jawa. Selain untuk menghormati leluhur mereka, Upacara Kasada bromo juga dilakukan untuk mengangkat seorang Tabib atau dukun disetiap desa. Beberapa hari sebelum Upacara Kasada Bromo dimulai, masyarakat akan mengerjakan sesaji sesaji yang nantinya akan dilemparkan ke Kawah Gunung Bromo. Pada malam upacara berlangsung Masyarakat Tengger berbondong bondong membawa ongkekyang berisi se...
Upacara Perang Topat adalah salah satu upacara yang dilakukan oleh orang Sasak. Perang Topat adalah upacara ritual sebagai perwujudan rasa terima kasih kepada tuhan atas kemakmuran berupa tanah yang subur, banyak hujan. Upacara Perang Topat ditampilkan di Taman Lingsar oleh Masyarakat Hindu, Masyarakat Sasak dengan saling melemparkan Topat (Ketupat). Upacara ini berlangsung setelah selesai “Pedande” memuja yaitu selama periode “Rokok Kembang Waru” sekitar pukul 17.30. Perang Topat dilaksanakan setiap tahun pada saat purnama ke 6 menurut kalender Sasak atau sekitar Bulan Nopember - Desember
Ole sioh, sayang la di lale Apa tempo, bale la kembali Ingat Ambon, tanah tumpa darah Lagi ibu, bapa dan saudarah Mana kala beta sakit Hati beta tra senang Duduk murung serta tangis air mata tumpalah bale muka kanan kiri Mama papa tra ada Siapa siapa tolong beta Beta ini asinglah Ole sioh, sayang la di lale Apa tempo, bale la kembali Ingat Ambon, tanah tumpa darah Lagi ibu, bapa dan saudarah Ambon tanah jang kucinta Meski hina rupamu Beta tidak akan lupa Slama hajat hidupku Beta ingin mau pulang Asal pandjang umurku Asal sadja Tuhan sajang Lagi ada serta-ku Ole sioh, sayang la di lale Apa tempo, bale la kembali Ingat Ambon, tanah tumpa darah Lagi ibu, bapa dan saudarah
Kalau ada sumur di ladang boleh kita menumpang mandi Kalau ada umur panjang boleh kita bertemu lagi Rasa sayange, rasa sayang sayange Lihat Ambon dari jauh rasa sayang sayange Rasa sayange, rasa sayang sayange Lihat Ambon dari jauh rasa sayang sayange