Alkisah, di sebuah desa tinggallah seorang janda bersama anak semata wayangnya yang bernama Ni Timun Mas. Ni Timun Mas memiliki tubuh yang sangat kurus dan terlihat lemah, namun parasnya cantik sekali. Apabila telah akil balik serta sudah berisi badannya, tentulah tidak ada yang akan mengalahkan kecantikannya di dunia ini. Setiap pagi, apabila ibunya akan pergi ke sawah, Ni Timun Mas tinggal di rumah dengan pintu yang selalu dikuncinya dari dalam. Apabila hari telah senja dan ibunya telah datang dari sawah, maka ia akan memberikan isyarat kepada Ni Timun Mas untuk membukakan pintu rumah. Isyarat itu berupa sebuah nyanyian yang liriknya: Timun Mas, bukakanlah ibu pintu sejenak. Ibu sudah datang dari menuai padi. Mendengar lagu itu, Ni Timun Mas biasanya akan keluar dari rumah untuk menyambut ibunya. Setelah itu, mereka berdua lantas ke dapur untuk memasak makanan. Begitulah kegiatan keseharian ibu dan anak tersebut. Suatu hari ketika ibunya sedang berada di sawah, ada rak...
Pada zaman dahulu kala, di sebuah desa yang bernama Pandan Sekar, hiduplah seorang laki-laki yang bernama I Cikampeng. I Cikampeng ini usianya diatas 40 tahun, namun belum juga mau bersiteri. Di desanya, I Cikampeng termasuk orang kaya, karena mempunyai banyak sawah dan ladang. Namun, walau dianggap sebagai orang kaya, I Cikampeng sangat kikir. Ia seakan tidak rela untuk mengeluarkan harta kekayaannya, walau untuk kebutuhannya sendiri. Kekikirannya itu disebabkan karena I Cikampeng adalah orang yang sangat bodoh. Ia tidak pernah sekolah karena sejak kecil telah ditinggal mati oleh kedua orang tuanya. Untuk makan sehari-hari, ia hanya membeli sebungkus nasi putih dengan lauk sayur atau ikan asin. Nasi beserta lauknya itu ia bagi menjadi tiga untuk makan pagi, siang dan malam. Pikirnya, kalau memasak sendiri, maka ia harus membeli segala peralatan masak dan itu membutuhkan uang. Sementara untuk pakaian, ia hanya mempunyai satu stel pakaian yang selalu melekat di badannya. Walaupun...
smansaipa4.blogspot.com/2013/04/lagu-dan-alat-musik-tradisi-nusantara.html Gamelan Bali, Cengceng
https://qlapa.com/blog/info-lengkap-alat-musik-bali Menurut beberapa sumber sejarah, Gamelan Bali sudah ada sejak zaman dahulu di nusantara. Hal tersebut bisa dilihat dari Prasasti Bebetin, di mana prasasti ini menyebutkan bahwa gamelan sudah ada sejak tahun 896 masehi. Sekitar masa pemerintahan Raja Ugrasena di Bali. Namun pada masa itu gamelannya sedikit lebih sederhana daripada sekarang. Alat musik Gamelan dikelompokan menjadi tiga: Gamelan tua (misal gambang, saron, selonding kayu, gong besi, gong luwang, selonding besi, angklung kelentang dan gender wayang). Gamelan madya (contohnya pengambuhan, semarpagulingan, pelegongan, bebarongan, joged pingitan, gong gangsa jongkok, babonangan, dan ringdik gandrung). Gamelan baru (seperti pengarjaan, gong kebyar, pejangeran, angklung bilah 7, joged bung-bung, dan gong suling).
Warga adat Desa Kedonganan,Kecamatan Kuta Selatan, Badung, Bali melakukan tradisi mebuug-buugan . Tradisi ini sebenarnya sudah dilakukan sejak 1920-an. Namun, akibat letusan Gunung Agung Bali pada 1963 dan kemudian pembantaian pada 1965, tradisi ini pun berhenti. Sejak tahun lalu, warga melaksanakan kembali mebuug-buugan. Mebuug-buugan berasal dari kata buug , yang dalam bahasa Bali berarti lumpur. Hal ini tak lepas dari proses di mana mereka saling melempar atau mengoleskan lumpur ke tubuh mereka. Tradisi ini, pada dasarnya bermakna filosofis dan masih terkait dengan Hari Raya Nyepi. Ada korelasi mendalam antara Hari Raya Nyepi dengan mebuug-buugan. pada saat Hari Nyepi, umat Hindu di Bali penyucian Bhuana Agung dan Bhuana Alit. Secara sederhana, Bhuana Agung adalah alam dan jagat raya, sedangkan Bhuana Alit adalah mikrokosmos atau lingkungan kecil manusia. Untuk penyucian Bhuana Agung , umat Hindu melakukan upacara menjelang Nyepi. Setelah itu, pada puncak h...
Pengertian Tradisi Jatakarma adalah tradisi yang dilakukan ketika seorang bayi baru saja lahir. Dilakukan upacara ini sebagai ungkapan kebahagiaan orang tua sang bayi. Selain itu upacara ini juga diyakini untuk memberikan keselamatan pada sang bayi hingga besar. Tata Cara Tradisi Makanan yang terdiri dari nasi tumpeng lengkap dengan lauk pauknya disiapkan beserta canang (persembahan yang berupa bunga) yang berfungsi sebagai atribut upacara. Kemudian seorang pemimpin upacara adat akan mendoakan bayi dengan persembahan dan makanan. Kemudian ari-ari sang bayi dibersihkan dan dimasukkan ke dalam kendi dan ditutup rapat. Sebelum akhirnya dibungkus dengan kain putih dan diberi bunga kendi biasanya dituliskan aksara Hindu. Setelah selesai semua kendi ditanam di halaman rumah dengan pengaturan di sebelah kanan pintu ruangan rumah (dilihat dari dalam rumah) jika anak laki-laki dan kiri jika perempuan. sumber: https://www.villa-bali.com/guide/id/5-tradisi-sepanjang-hidup-m...
Dalam Upacara Potong GIgi, tebu digunakan sebagai sarana sesajen / banten dan sebagai singgang gigi/ pedangal agar mulut tetap terbuka, sehingga mudah dilakukan pengikiran/pemotongan. Upacara ini bertujuan untuk mengurangi/ mengendalikan hawa nafsu yaitu sifat manusia yang dianggap kurang baik, bahkan sering dianggap sebagai musuh di dalam diri sendiri. Tebu dipandang memiliki makna sebagai simbul rasa untuk merasakan dan membedakan “ sad rasa ” (enam rasa) yang hanya dapat dirasakan di dalam mulut. Keenam rasa tersebut yaitu manis, pahit, asin ( pakeh) , pedas ( lalah) , asam ( masem) dan kecut ( sepet) . Varietas tebu yang digunakan dalam upacara potong gigi adalah tebu ratu, tebu kuning, tebu hitan, tebu malem , tebu tiying, dan tebu swat . Terdapat 8 varietas tebu yang dimanfaatkan dalam upacara adat yakni: tebu ratu/raja, tebu tiying , tebu kuning, tebu selem (hitam/ cemeng / ireng ), tebu malem , tebu tawar , tebu salah dan tebu swat...
Sehari setelah Hari Saraswati, pada Minggu Paing Sinta umat Hindu melanjutkannya dengan malaksanakan prosesi Banyu Pinaruh . Secara filosofi Banyu Pinaruh bermakna menyucikan pikiran dengan menggunakan air ilmu pengetahuan. Demikian terungkap dalam sebuah artikel berjudul “Banyu Pinaweruh: Bersihnya Jiwa Dengan Air Pengetahuan” yang ditulis oleh Drs. I Wayan Astika, M.Si dan dipublikasikan dalam phdi.or.id . Banyu Pinaruh , berasal dari kata banyu (air) dan pinaruh atau pangewuruh (pengetahuan). Secara nyata, umat memang membersihkan badan, mandi, keramas di laut atau sumber-sumber air. Sebagaimana diuraikan dalam pustaka Bagavadgita sebagai berikut: ” Abhir gatrani sudyanti manah satyena sudayanti .” Artinya, badan dibersihkan dengan air sedangkan pikiran dibersihkan dengan ilmu pengetahuan. Disebutkan dalam artikel tersebut bahwa Banyu Pinaruh diibartkan sebagai air ilmu pengetahuan. Pada hari ini umat Hindu membersihkkan di...
Petani di Bali khususnya di subak Uma Utu Desa Adat Babahan, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan memiliki cara unik untuk menyampaikan bentuk rasa syukur atas keberhasilan panen padi yaitu melalui upacara ngusaba padi .Makna upacara Ngusaba Padi yang dilaksanakan di Pura Subak Uma Utu Desa Adat Babahan ialah sebagai bentuk rasa syukur terhadap Dewi Sri atau manifestasi Tuhan Sebagai Dewi kemakmuran atau kesuburan. Para peneliti I Made Krisna Dinata, I Nyoman Sueca, dan Ni Nyoman Mariani dalam artikel berjudul “Nilai Pendidikan Agama Hindu Dalam Upacara Ngusaba Padi D i Pura Subak Uma Utu , Desa Adat Babahan, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan” menuliskan bahwa rasa syukur adalah ungkapan untuk merefleksikan suatu rasa terimakasih kepada Tuhan atas pencapaian yang telah diperoleh, jika dalam konteks Upacara Ngusaba Padi , rasa syukur tersebut adalah ketika mendapati hasil panen sesuai yang diharapkan. Rasa syukur tersebut dicurahkan oleh masyarakat Desa B...