Alat musik tradisional tiup ini memiliki bentuk yang mirip seperti alat musik yang digunakan oleh pawang ular. Basi-Basi adalah sebutan untuk alat musik ini dari orang-orang Bugis, alat musik ini pun memiliki sebutan lain dari orang-orang Makassar yaitu Klarinet. Sumber: https://alatmusik.org/alat-musik-tradisional-yang-ditiup/
Suku To’balo merupakan suku yang berciri berpenampilan pada kulit yang tidak seperti pada masyarakat umumnya mereka mempunyai kulit yang unik dan bercocok tanaman yang berbeda pada masyarakat lainnya. Tubuh yang terlahir pasti akan mempunyai kulit yang belang, bercak itu juga terpampang hampir membentuk segitiga. Oleh karena itu mereka dikenal dengan To’balo, To bermakna orang dan balo bermakna belang, jadi bila diartikan To’balo bermakna manusia belang. Menurut masyarakat sekitar, dikisahkan suatu hari terdapat suatu keluarga yang melihat sepasang kuda belang jantan dan betina yang hendak kawin. mereka bukan hanya menyaksikan, tapi keluarga itu juga menegur dan mengusik tingkah laku kedua kuda itu. Maka sang dewa marah lalu mengutuk keluarga ini berkulit seperti kuda belang. Lantaran malu dengan kondisi dan keadaannya tersebut maka keluarga tersebut mengasingkan diri memilih hidup dipegunungan yang jauh dari keramaia...
Keso keso merupakan alat musik tradisional yang digesek, asalnya dari Sulawesi Selatan. Alat musik ini terkenal akan suaranya yang indah dan memiliki suara yang seakan-akan membuat kita merasakan suasana daerah asalnya. Asal usul nama “Keso-keso” atau “Keso” sebenarnya karena cara memainkan alat musik ini adalah dengan cara digesek, tapi ada juga orang yang menyebutnya “Kere-Kere Galang”. Tubuh keso-keso yang berfungsi sebagai resonator terbuat dari kayu nangka yang sudah dipilih dan dibentuk seperti sebuah jantung pisang yang berongga di tengahnya. Nah bagian yang kosong atau berongga itu akan ditutup dengan kulit binatang. Alat yang digunakan untuk menggesek alat musik tradisional ini tidak perlu menggunakan kayu khusus, yang penting kayu tersebut kuat dan bisa digunakan sebagai busur yang berfungsi untuk menggesek keso-keso. Tapi ada satu hal yang unik dari Keso-Keso, yaitu senar yang digunakan b...
Gendang Bulo adalah alat musik tradisional yang biasa dimainkan pada pernikahan dan acara adat. Gendang Bulo pada umumnya dimainkan oleh laki-laki tapi kebanyakan bukanlah anak muda, karena kurangnya minat dari mereka untuk belajar atau mengenalnya. Sumber: https://alatmusik.org/alat-musik-tradisional-yang-dipukul/
Ana’ Becing adalah alat musik tradisional Sulawesi Selatan. Sumber: https://alatmusik.org/alat-musik-tradisional-yang-dipukul/
Yayasan kesenian anging mammiri atau yang terkenal dengan sebutan YAMA adalah yayasan kesenian yang berdiri sejak tahun 1964 dan tetap eksis menjaga dan melestarikan budaya kesenian Sulawesi-Selatan dibawah pimpinan ibu Iin Joesoef Madjid. Yama telah banyak meraih prestasi dan penghargaan dalam bidang seni mulai dari tingkat daerah,nasional dan internasional. Yama juga selalu ikut serta dalam membantu program-program pemerintah untuk memperkenalkan serta menjaga kelestarian budaya kesenian Sulawesi-Selatan.
Bahan-bahan: 1 ekor Ikan Asap ukuran sedang 65 ml santan instan 600 ml air 4 sdm mangga muda yang sudah diiris kecil-kecil (kalo tidak ada mangga muda/mengkal bisa diganti dengan air asam) Bumbu-bumbu: 5 siung bawang merah 3 siung bawang putih 3 iris jahe 3 iris lengkuas 2 batang sereh (memarkan) 1/2 sdt lada bubuk 1 sdt kunyit bubuk 1/2 sdt garam 1/2 sdt kaldu bubuk (bisa diganti gula pasir) 2 sdm minyak untuk menumis Cara membuat: Haluskan semua bumbu kecuali sereh,tumis dengan minyak hingga harum.Tambahkan air,masukkan ikan yang sudah dipotong dua. tambahkan sisa bumbu dan irisan mangga,biarkan hingga mendidih. Masukkan santan instan,aduk rata dan koreksi rasanya. Biarkan sampai kembali mendidih dan Hidangkan Referensi: https://kulinersul-sel.b...
La Mellong atau yang di gelar Kajao Laliddong adalah penasehat Raja Bone ke 6 dan ke 7 yang terkenal kecerdasan dan kebijaksanaannya . Sebagian kisah tentang kecerdikannya menjadi cerita rakyat di Bone secara turun temurun. saya sebagai orang Bone melewati masa kecil dengan cerita rakyat ini mencoba melakukan reproduksi ulang semampu ingatan saya. Alkisah, Karena terkenal akan kepandaian menjawab teka-teki, La Mellong dipanggil menghadap oleh sang raja Bone, untuk diberikan suatu pekerjaan yang amat mustahil untuk dilakukan. Sesampainya di kerajaan dan bertemu sang raja, diberikanlah tugas itu kepada La mellong. Raja bone: Oh.... Lamellong, muisseng mua ga aganwollirekki lao ko mai, ? (wahai lamellong tahu kah engkau apa gerangan saya memanggilmu menghadap saya di istana? ) Lamellong : Iyee taddapnegang ata'na petta, degaga padissengekku puang aga diollirangga ? ( Maaf Baginda, tidak ada pengetahuan saya, tentang apa tujuan saya dipanggil ) Raja bon...
Legenda Gua Mampu tidak bisa lepas dari sejarah Kerajaan Mampu. Namun, detail sejarah Kerajaan Mampu tidak seeksis catatan sejarah Kerajaan Bone. Hal ini disebabkan kurangnya bukti-bukti sejarah yang ditemukan. Kerajaan Mampu lalu berasimilasi dengan Kerajaan Bone melalui perkawinan hingga kerajaan tua ini meredup. Namun, saat ini banyak masyarakat, yang masih bermukim di wilayah itu maupun telah merantau, mengklaim sebagai keturunan Kerajaan Mampu. Menurut Andi Darma, sejarah Kerajaan Mampu dan legenda Gua Mampu bagai sisi mata uang. Walau dari hasil penelitian tidak ada bukti yang menghubungkannya, legenda Gua Mampu dilestarikan secara turun-temurun melalui cerita rakyat. Dari literatur 'Kerajaan Bone di Lintasan Sejarah' yang diterbitkan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bone tahun 2015, peristiwa ini bermula pada zaman kacau balau, termasuk di Mampu. Suatu hari, setelah didahului oleh peristiwa alam yang menakutkan dan menimbulkan kekacauan,...