Jika Anda mengunjungi beberapa pasar di Manado, Anda akan menemukan tikus panggang dengan mudah. Tapi tikus yang dikonsumsi masyarakat Manado bukan lah tikus sembarangan. Tikus yang biasa disantap adalah jenis tikus hutan berekor putih. Warga Manado hanya mau membeli tikus yang ekornya masih utuh dan warnanya putih. Agar pembeli percaya bahwa tikus itu bukan lah tikus rumahan atau tikus got. Sebab tikus ini hanya mengonsumsi tumbuh-tumbuhan. Sebelum dimasak, tikus dibersihkan terlebih dulu dengan cara dibakar dan sebagian isi perutnya dikeluarkan. Maka dari itu tikus yang dijual warnanya terlihat kehitaman akibat dibakar. Agar rasanya lebih sedap, biasanya masyarakat mengonsumsi tikus dengan cara disate, disajikan dengan bumbu dan kuah santan kental sama seperti mengolah daging ayam. Sumber: https://www.merdeka.com/gaya/sate-tikus-santapan-ekstrem-khas-manado.html
Lokasi warung makan Mie Che berada di pusat KOTA TAHUNA kompleks Bank Danamon/Omega Photo, juga di Kompleks bawah RSUD Liun Kendage Tahuna, Tanjung Tahuna, Kompleks Kantor Pengadilan, Pelabuhan Tua, Kompleks Kantor Telkom, Komplek Pasar Towo'e dan Tona, Tapuang, dan diluar kota yaitu di Komplek pasar Tamako, Kompleks Pasar Ulu Sitaro, komplek pelabuhan MANADO. Sangihe adalah pulau terluar Indonesia. Letaknya di barat laut Sulawesi, tak jauh dari Pulau Mindanao, Filipina. Tahuna, ibu kotanya punya kuliner khas yang menyegarkan, namanya Mi Che. Makanan ini tidak halal karena mengandung babi. Maklum, mayoritas masyarakat di Sangihe dan Manado adalah umat Kristiani. Ada dua ukuran porsi Mi Che, kecil atau besar. Dilihat dari wujudnya, Mi Che adalah mi berkuah dengan taburan daging babi yang dipotong dadu kecil, dan telur mata sapi. Di dalamnya juga ada potongan sayur sawi seperti mi pada umumnya. Beberapa potong cabai merah dan...
Sagu merupakan makanan utama suku Sangihe yang diproduksi dari jenis pohon palm. Di pulau sangihe terdapat berbagai jenis palm diantaranya adalah: Arena tau enau ( Arenga pinnata ), pinang sirih (asal philiphina), Pinang kelapa ( Actinorhytis calapparia), Sagu rumbia (Metroxylan sagu), Kelapa (cocos nucifera), rotan sega (calamus caesius), sarai raja (caryota no), Sarai midi (caryota maxima), palm kuning dan merah endemic sangihe. Melihat bentuknya, pohon yang memproduksi sagu disangihe adalah Sagu (Metroxylan sagu), sarai raja (caryota no) dan Sarai midi (caryota maxima). Selain sagu, masyarakat juga mengenal adanya beras yang diproduksi dari ladang kering yang kemudian diolah menjadi nasi. Toko yang menyediakan: Merciful Building Ruko Wanea Plaza Blok G, H.1-H.10, I, Jl. Sam Ratulangi 383 Manado, Sulawesi Utara. 0431-845892, 976719, 0431-845938 &n...
Kalau yang satu ini sangat langka. Tuturaga adalah sebutan untuk labi-labi atau kura-kura. Sangat jarang didapat di pasar. Kebanyakan terdapat di rumah makan di sepanjang pantai. Langkanya kuliner ini juga disebabkan oleh sadarnya masyarakat dalam melestarikan binatang-binatang yang dilindungi.Kalau ditanya soal rasa, semua masakan Manado bercita rasa tinggi dan enak karena olahan rempahnya yang hebat. Khasanah kuliner memasukan tuturaga sebagai salah satu jenis masakan, sehingga dagingnya bisa diganti daging sapi, ayam atau kambing. Sumber: https://www.kompasiana.com/losnito/ekstremnya-10-kuliner-pesta-dari-manado_550e407c813311c02cbc637c
Rumah Walewangko adalah rumah adat dari Sulawesi Utara, rumah adat ini merupakan desain rumah adat untuk penduduk suku Minahasa. Walewangko atau yang disebut juga rumah Pewaris ini mempunyai beberapa keunikan dan juga ciri khasnya tersendiri baik itu dari segei arsitektur, ataupun struktur bangunannya. 1. Arsitektur dan Struktur Rumah Walewangko Sama halnya seperti kebanyakan rumah tradisional di Pulau Sulawesi, rumah adat Walewangko ini juga berstrukturkan rumah panggung serta terbuat dari bahan dasar yang berasal dari alam. Kayu-kayuan dipakai untuk bagian lantai, dinding, tiang, dan juga perlengkapan rumah lainnya. Seentara pada bagian atapnya memakai bahan daun rumbia, walaupun belakangan ini bahan dari seng atau dari genting tanah lebih kerap dipakai. Struktur tiang pada rumah adat Provinsi Sulawesi Utara ini memungkinkan adanya sebuah tangga yang berguna sebagai jalan masuk bagi seseorang yang akan naik ke atas rumah adat. Ada 2 tangga pada rumah adat...
Belanga merupakan salah satu perkakas memasak. Belanga merupakan salah satu perkakasan memasak bagi masyarakat Asia. Belanga telah lama ada dan telah digunakan masyarakat semenjak Zaman Neolitikum. Pada umumnya, belanga diperbuat daripada tanah liat, tetapi di dalam Hikayat Hang Tuah disebutkan terdapat pula belanga dari besi. Merupakan peralatan dapur tradisional yang bahan bakunya berasal dari tanah liat. Bentuknya bundar dengan mulut besar, antara bagian atas dan bawah sama besar kadang di desain dengan dua kuping sebagai pegangan ataupun tanpa pegangan dibagaian atasnya. Di Jawa belanga lebih umum disebut dengan kuali sedangkan di daerah Aceh belanga sering disebut dengan blangong (Sulaiman, 1993/1994:19). Belanga digunakan sebagai tempat untuk menanak nasi, memasak sayur, memanggang ayam, merebus singkong dan hasil bumi lainnya ataupun juga merebus air. Belanga dibuat dengan berbagai ukuran dari yang besar, sedang dan uku...
Propinsi Sulawesi utara terdiri dari beberapa daerah, yang masing-masing masyarakatnya mempunyai pakaian adat dan sanggul yang khas. Menjelang akhir abad ke 17, yaitu tahun 1690, di Tanah Wangko, salah satu tempat di Minahasa, ada seorang gadis keturunan Walian Ambowailan (ambelan), yang bernama Pinkan Mogoghunoi. Gadis itu mempunyai rambut yang sangat panjang hingga mencapai lantai. Rambut itu selalu dikepang (dicako). Pada saat-saat tertentu, rambutnya dikonde atau ditaldimbu kun (bahasa Tombulu) atau diwulu’kun (bahasa Tontemboan). Jadi, kreasi konde ini berasal dari seorang gadis yang bernama Pinkan, yang kemudian pada abad ke 19 ini makin disempurnakan. - Aksesoris Sekuntum bunga mawar yang warnanya disesuaikan dengan warna pakaian - Alat dan bahan: sisir sasak sisir penghalus jepit bebek besi jepit hitam harnal baja harnal halus karet gelang hair net hair spray cemara ra...
"Sungguh kau siap?" tanya Tonaas Utara pada putri semata wayangnya. "Demi rakyat kita, aku siap," jawab Marimbouw mantap. Mata sang ibu berkaca-kaca menatap putrinya. Opo Empung, tetua adat To Un Rano Utara, memimpin upacara pengambilan sumpah Marimbouw. Seluruh rakyat To Un Rano Utara ikut datang menyaksikannya. "Aku bersumpah tidak akan menikah sebelum siap diangkat menjadi Tonaas To Un Rano Utara," begitu bunyi sumpah Marimbouw. Bagi masyarakat To Un Rano, sumpah adat adalah sumpah tertinggi. Bila orang yang bersumpah melanggar sumpahnya sendiri, yang menjadi hakim bukan rakyat ataupun tetua adat, melainkan alam semesta. Tonaas Utara terpaksa meminta Marimbouw melakukan sumpah adat. Semua itu dilakukan untuk menjaga agar To Un Rano Utara memiliki penerus takhta. Apalagi Tonaas Utara hanya memiliki seorang anak, perempuan pula. Sejak hari itu, Marimbouw menanggalkan pakaian wanitanya. Ia berpakaian layaknya laki-laki. Ia juga berlatih bela diri dan menggunakan senjata. Marimbouw s...
Tari Tatengesan merupakan tarian tradisional khas daerah Sulawesi Utara yang berasal dari Minahasa yang diangkat dari ceritera rakyat tentang desa Tatengesan yang oleh kelompok seni budaya di desa tersebut diciptakan sebuah tari dengan judul tari Tatengesan. Tari Tatengesan pertama kali ditampilkan pada tahun 1983 dalam rangka memperingati terbentuknya desa Tatengesan di yang sekarang ini telah berada di daerah pemerintahan kabupaten Minahasa tenggara. Tari Tatengesan ini mengisahkan tentang perjuangan masyarakat desa ketika melawan para bajak laut Mindanou yang datang dari perairan Filipina. Bajak laut tersebut sering mengganggu aktifitas masyarakat sehingga semangat untuk melawan para bajak laut dikobarkan melalui syair dan lagu Kiting-kiting. Tata gerak dan pola garapan tarian ini mamadukan antara unsur-unsur nilai sejarah dengan tradisi budaya Minahasa yang diekpresikan melalui tata gerak dan karakteristik dalam 9 gerakan dengan padua...