Oom Swastiastu Namo Buddhaya Hai Warga Negara Indonesia, pecinta budaya. Kembali lagi bersama saya Erica yang akan menyalurkan ilmu kepada kawan semua nih, dan yang pastinya jangan cepat bosan yah. Oke langsung saja, kawan-kawan pernah main ke wilayah Jawa Barat atau memang tempat tinggalnya di Jawa Barat? kalo memang tinggal dan pernah main, kalian udah pernah lihat belum upacara yang dilakukan masyarakat setempat. Upacara tidak hanya di sekolah saja ya, hari senin disuruh berdiri kalau terlambat tidak boleh masuk. Ya, itu aku pernah mengalaminya kawan, jangan ditiru ya. Upacara yang dilakukan masyarakat setempat biasanya disebut dengan ritual yang dipimpin oleh kepala suku. Upacara Adat istiadat muncul dan tumbuh yang asalnya diwariskan leluhurnya (nenek moyang) pada masyarakat Sunda yang masih dilestarikan dan menjadi pedoman bagi kehidupan sosial masyarakatnya. Dalam adat istiadat Sunda, berbagai macam upacara adat yang bersifat ritual dan spiritual dan men...
Prasasti Huludayeuh Secara administrasi Situs Huludayeuh berada di Kampung Huludayeuh, Desa Bobos, Kecamatan Sumber, dengan ketinggian ± 73 m dari permuakaan air laut. Sungai yang mengalir di daerah ini adalah Sungai Cimanggung.Wilayah ini merupakan daerah pegunungan, sedang sekitar prasasti berupa pesawahan rakyat yang subur dan produktif, dengan menggunakan sistem sengked (bertingkat). Situs Huludayeuh berada ± 15 km sebelah baratdaya dari Kota Cirebon atau ± 7 km sebelah utara dari Situs Kawali, Kabupaten Ciamis. Untuk mencapai lokasi situs dari kedua daerah tersebut (Cirebon dan Kawali) dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua atau roda empat hingga Desa Bobos. Selanjutnya menelusuri jalan setapak berupa pematang sawah sejauh ± 150 meter. Kemunculan situs ini berawal laporan Kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Cirebon yang tertuang dalam Surat Nomor 1516/...
Rampak Genting Rampak Genting merupakan tradisi membunyikan tanah Jatiwangi yang diselenggarakan setiap Tahun. dengan membuat alat musik dari tanah liat bersama-sama, untuk kemudian dibakar secara berjamaah hingga dimainkan dalam satu orkestra bersama Rampak genting ini, didasari pemikiran wujud rasa penghormatan kepada para pendahulu kebudayaan Jatiwangi. Maklum saja, Kecamatan Jatiwangi merupakan gudang pabrik Genting sejak puluhan tahun lalu. semua alat musik bermaterial keramik atau genting
Ngaruwat jagat merupakan istilah yang digunakan untuk hajat selamatan kampung. Setiap satu tahun sekali kampung diruwat atau diberkati agar masyarakat yang tinggal di daerah sekitar kampung tersebut diberkati atau diberi keselamatan dan dijaukan dari segala hal marabahaya dan musibah lainnya. Ngaruwat jagat biasanya disatukan dengan acara buku taun atau seren taun. Adapun alat yang digunakan untuk ngaruwat jagat ialah, duwegan (kelapa muda), daun kihanjuang, pisang badot, dan seekor kambing untuk dikurbankan. Alat-alat tersebut merupakan simbolik dan mengandung makna tersendiri. Misalnya duwegan, duwegan merupakan kelapa muda yang didalamnya mengandung air bersih bening sebagai lembang air yang paling suci. Maknanya adalah, bahwa kita hidup di alam dunia ini harus seperti duwegan, bulat dan memiliki air yang jernih, yang artinya dalam hidup kita harus membulatkan tekad dan menjernihkan pikiran. Kihanjuang mempunyai maksud "teundeun dina handeuleum hieum, tunda dina hanjuang siang" yan...
Debus/Rudat adalah salah satu jenis kesenian tradisonal rakyat yang berasal dari Jawa Barat yang terdapat didaerah Kecamatan Pameungpeuk Kabupaten Garut. Ini diciptakan kira-kira pada abad ke-13, pada waktu itu didaerah tersebut masih asing dan belum mengenal akan ajaran Islam secara meluas. Kesenian ini di ciptakan oleh seorang penyebar Agama Islam yang dikenal dengan nama Ajengan (Ustad). Tujuannya untuk menarik masyarakat dalam kepentingan menyebarkan agama, menggunakan tetabuhan dari batang pohon pinang dan kulit kambing. Selain melatih seni tetabuhan, pemain debus juga diajarkan ilmu kemahiran jasmani dan rohani serta ilmu kekebalan tubuh, baik kebal terhadap benda - benda tajam maupun kebal terhadap pukulan.
Kesenian Lodong Gejlig ini mulai berdiri pada tahun 1991. Awalnya kesenian ini hanya dijadikan sebagai hiburan masyarakat setempat. Nama Lodong Gejlig berasal dari dua kata, yaitu lodong dan gejlig. Lodong adalah sebuah bambo besar yang mana oleh masyarakat Sunda digunakan sebagai wadah air nira atau dalam bahasa Sunda disebut lodong. Lodong ini kemudian dimodifikasi menjadi alat musik utama yang digunakan dalam kesenian Lodong Gejlig ini. Adapun kata Gejlig berarti dihempaskan, dengan demikian cara memainkan lodong dalam kesenian ini adalah dengan cara dihempaskan ke lantai. Lodong yang berukuran besar akan menghasilkan nada rendah, sedangkan lodong yang berukuran kecil akan menghasilkan nada yang lebih tinggi. Kesenian ini dimainkan secara berkelompok, baik laki-laki maupun perempuan. Satu kelompok biasanya berjumlah 12 hingga 24 orang. Lodong sebagai alat music utama digunakan untuk mengiringi lagu yang dinyanyikan oleh penyair. Lagu-lagu yang biasa dibawakan anatara lain lod...
Tanah sunda memiliki cikal bakal yang sangat unki dari sejarah ke sejarah yang ada. Namun kali ini, Depok memiliki peran dalam tanah sunda yaitu gerbang pelintas antara warga pedalaman dan pesisir pantai yang bertempatan di Tangerang Banten ketika masa kerajaan Regno Cumda (Sunda) abad ke 3M. Lalu dilanjutkan dengan kisah prabu siliwangi yaitu petilasan-petilasan tokoh sejarah hingga nama padepokan yang berarti pendidikan. Sumber : https://www.anakui.com/1600-tahun-sejarah-depok-sebagai-wilayah-dinamika-pemikiran-revolusiner-opini/#.XGOFVEExXYU
Prasasti Mandiwunga adalah salah satu peninggalan sejarah dari kerajaan yang terletak antara Sungai Citarum di sebelah barat dan Sungai Ci Serayu juga Cipamali di sebelah timur, yaitu Kerajaan Galuh. Prasasti ini ditemukan di Desa Cipadung, Kecamatan Cisaga, Ciamis pada tahun 1985. Prasasti yang dituliskan di sebuah batu alam ini mengalami patah pada bagian atas dan ukuran yang ada sekarang yaitu dengan tinggi 70cm, lebar 14-26cm, serta tebal antara 4-5-10cm. Selanjutnya, prasasti ini pertama kali diumumkan oleh Dirman Surachmat dalam forum seminar sejarah di Yogyakarta tahun 1985 tetapi transkripsi dan pembahasannya belum sempurna. Sehingga, pada tahun 1991 ditranskripsi ulang oleh Richadiana Kartakusuma dan hasil transkripsinya disampaikan langsung ke museum setempat. Prasasti Mandiwungan bertulisan lima baris beraksara dan berbahasa gaya Jawa Kuno dengan transkripsi sebagai berikut: masa krsna paksa nawami haryang pon wrehaspati wa ra tatkala sima ri...
Gedung yang satu ini terletak tepat di samping utara bangunan Museum Konferensi Asia Afrika. Saat pertama kali didirikan, bangunan ini berfungsi sebagai bioskop dengan nama Concordia, sama persis dengan nama perkumpulan yang sering nongkrong di bangunan sebelahnya yang kini menjadi museum. Bioskop ini diarsiteki oleh Charles Prosper Wolff Schoemaker pada tahun 1924, arsitek yang sama dengan yang merancang Gedung Landmark Braga. Salah satu kesamaan pada dua bangunan tersebut terletak pada kepala kala yang menghiasi bagian atas kedua bangunan. Bioskop ini berkesempatan menjadi bioskop pertama di Bandung yang menayangkan film Loetoeng Kasaroeng, sebuah film yang diproduksi pertama kali di Indonesia. Setelah 13 tahun berdiri, nama Concordia yang melekat pada bioskop ini kemudian berganti menjadi Majestic Theatre. Nama yang sama dengan yang digunakannya saat ini Sebelum kembali menggunakan nama Majestic seperti sekarang, pada awal tahun 2000-an, gedung ini sempat berganti nam...