Salah satu tradisi menarik diberbagai literatur kawasan Aceh adalah adanya kenduri blang Aceh atau yang sering disebut Khanduri Tron U Blang . Ini merupakan salah satu bentuk kegiatan tradisional di Aceh yang melakukan makan-makan bersama di lingkunga persawahan dimana tempat para petani bercocok tanam. Zaman dulu, tradisi ini merupakan sebuah kewajiban bagi etnis petani Aceh. Bentuk implementasi terhadap rasa syukur dan pengharapan para petani kepada sang khaliq agar hasil panen nantinya berhasil dan memperoleh berkah. Walaupun pada dasarnya tradisi ini merupakan konversi dari budaya hindu yang sudah lebih dulu eksist di Indonesia termasuk di Aceh, namun dengan mengislamisasinya, maka tradisi ini merupakan kegiatan masyarakat yang dipandang boleh oleh para ulama fiqh dan ahli tasawuf di Aceh. Jika dahulu kenduri blang dilakukan untuk meminta rahmat dari alam, maka proses islamisasi mengubah cara pandang masyarakat sehingga syukuran ditujukan kepada sang pencipta alam,...
Sepintas, masjid ini tak seperti bangunan berusia 666 tahun. Pondasinya begitu kokoh, dinding kayu, dan besinya pun masih sama seperti pertama kali masjid ini dibangun pada tanggal 8 Agustus tahun 1351 Masehi. masjid yang terletak di Kampung Pulo Kambing, Kecamatan Kluet Utara, Kabupaten Aceh Selatan ini dikenal dengan nama Masjid Tuo Pulo Kambing. Sampai kini, warga setempat masih memanfaatkan masjid ini untuk salat dan mengaji. Pemrakarsa pembangunan masjid ini adalah seorang ulama bernama Syeh Muhammad Husen Al Fanjuri bin Muhammad Al Fajri Kautsar, murid seorang ulama sufi asal Persia. Keunikan masjid ini terlihat dari 4 tiang dengan ukiran kaligrafi yang mengisahkan riwayat kebesaran kerajaan-kerajaan Islam di Aceh. 1 dari 4 tiang, ada 1 tiang yang kerap mengeluarkan air sehingga warga membuatkan sejenis tempat penampungan. Sebagian besar warga meyakini bahwa air itu mengandung keberkahan. Menurut cerita pembangunan mesjid. Setelah tiang pertama dipancangk...
Tamiang pada awalnya merupakan satu kerajaan yang pernah mencapai puncak kejayaan dibawah pimpinan seorang Raja Muda Setia yang memerintah selama tahun 1330 - 1366 M. Pada masa kerajaan tersebut wilayah Tamiang dibatasi oleh daerah-daerah : · Sungai Raya / Selat Malaka di bagian Utara · Besitang di bagian Selatan · Selat Malaka di bagianTimur · Gunung Segama ( gunung Bendahara / Wilhelmina Gebergte ) di bagian Barat. “Tamiang” adalah sebuah nama yang berdasarkan legenda dan data sejarah berasal dari “Te - Miyang” yang berarti tidak kena gatal atau kebal gatal dari miang bambu. Hal tersebut berhubungan dengan cerita sejarah tentang Raja Tamiang yang bernama Pucook Sulooh, ketika masih bayi ditemui dalam r...
Permainan ini berasal dari Aceh, permainan ini merupakan jenis olah raga seni bela diri. Olah raga ini mirip dengan gulat yang dimainkan oleh lelaki. Permainan ini diikuti oleh beberapa tim, satum timnya berjumlah 3 orang. Biasanya permainan ini diselenggarakan antar kampung usai melakukan panen padi. Geudeu-geudeu merupakan permainan olahraga yang cukup keras, para pemain harus mempunyai ketahanan fisik dan juga tahan banting.
Catoe Rimueng (Catur Harimau) dimainkan oleh dua orang, Permainan ini cukup populer dikalangan masyarakat tradisional aceh tempo dulu.
Permainan gasing sudah merupakan suatu kebudayaan yang dimiliki pada masyarakat Aceh pada umumnya. Di Simelue permainan gasing sudah ada sejak kurang lebih 150 tahun yang lalu. Siapa yang pertama kali membawa permainan ke Simelue tidak ada referensi yang jelas. Namun pada saat Belanda masuk ke Simelue permainan gasing sudah menjadi seni permainan pada saat itu, bahkan sudah diperlombakan khususnya gasing putar. Bahan-bahan yang digunakan gasing yang di Simelue terbuat dari tiga jenis kayu yang sering digunakan, sesuai artikel baru jenis permainan gasing itu sendiri, yaitu: 1. Tension kayu inisial digunakan khusus untuk gasing putar dimana yang jadi penilaiannya adalah lama putaran dan suara desing yang ditimbulkannya. Kebiasaan ‘masyarakat Simelue menggunakan kayu pohon adenium waru karena apabila sudah menjadi kering sangat ringan dan putarannya juga sangat lama, serta suara yang ditimbulkannya sangat berdesing. Suara desingan suami memiliki arti yaitu semakin kuat desi...
Rumah tradisonal Cubo atau dinamakan Rumoh Adat Cubo. Rumah adat ini bertipe rumah panggung dengan 3 bagian utama dan 1 bagian tambahan. Tiga bagian utama dari rumah Aceh yaitu seuramoe keue (serambi depan), seuramoe teungoh (serambi tengah) dan seuramoe likot (serambi belakang). Sedangkan 1 bagian tambahannya yaitu rumoh dapu (rumah dapur). walaupun tidak terlalu jauh dengan model Rumah Adat Aceh Umumnya, Rumah Adat Cubo ini memiliki Karakteristik Ukiran yang Unik nan Sederhana.
Rumah Adat Kluet inisial dididirikan pada Tahun 1914 Dan selesai dikerjakan pada Tahun 1916 Dan diberikan Nama Rumah Rungko Diposkan oleh Raja T. Nyak Tia (1908-1938). salat Satu tujuan Pembangunan Rumah adat nihil selain menjadi kediaman sang raja juga menjadi Tempat bermusyawarah. Pada umumnya, Struktur bangunannya berupa Rumah Panggung, Pintu Kecil sementara ruangannya Barisan aritmetik, Di beberapa Sudut Dan Bagian tidak regular tidak regular tidak biasa Rumah terukir Hiasan Kluet asli.ukeh, berikut beberapa ornamen yang merekat pada Bangunan Rumah rungko.
Cab Sikureung, yaitu cap atau segel Sultan-sultan Aceh. Setiap Sultan atau Sultanah (Ratu) yang memerintah di Aceh selalu menggunakan sebuah Cap resmi kesultanannya, yang didalam bahasa Aceh disebut Cab Sikureung (Cap Sembilan). Pemberian nama ini didasarkan kepada bentuk stempel itu sendiri yang mencantumkan nama sembilan orang Sultan dan nama Sultan yang sedang memerintah itu sendiri terdapat di tengah-tengah. Cab Sikureung (Kulit luar) bermakna 9 Sultan : 1. Paling Atas Sultan Ahmad Syah, yakni Raja pertama Dinasti Aceh-Bugis yang terakhir, 1723-1735, adalah Sultan yang ke-XX, sebelum tahun 1723 disebut dengan gelar Maharadja Lela (Melayu) 2. Kanan Atas Sultan Djauhan Syah, yakni Putera Raja sebelumnya, 1735-1760, adalah Sultan ke-XXI, bergelar Raja Muda 3. Paling Kanan Sultan Mahmud Syah, yakni Muhammad atau Mahmoud Syah I, Cucu Sultan Ahmad Syah, 1760-1763, adalah Sultan ke-XXII 4. Kanan Bawah Sultan Djauhar ‘Alam, yakni Cicit laki-l...