Triton, Alat Musik Tradisional dari Papua Triton merupakan alat musik yang cara penggunaannya yaitu dengan ditiup. Alat musik tradisional ini berasal dari Papua. Alat musik ini tersebar di pesisir pantai yang ada di Papua dan digunakan sebagai alat komunikasi dan sebagai alat panggil kepada orang lain.
merupakan salah satu Kesenian hasil dari kolaborasi Rampak Bedug Pandeglang dengan kendang pencak, tarian Saman, teriakan Beluk, lagu-lagu buhun gendereh, tarian pencak silat, angklung dodod dan jenis seni tradisi lainnya. Yang ditata sesuai kebutuhan paket pertunjukan modern di dalamnya terdapat pola tabuhan perkusi melalui Waditera Bedug, Kendang, dan terbang yang terbalut rapih aransemen musik dan melodi vocal Saman, Beluk dan Sholawatan terbang tandak serta lengkingan terompet pencak,
erlombaan Karapan Sapi ternyata tidak sesederhana yang kita kira. Ada banyak hal yang perlu dipersiapkan dalam perlombaan ini. Persiapan tersebut antara lain selendang, kalung, cambuk, joki/sais, tali pengikat, pangonong, kaleles, ember, air, dan saronen. Ditambah pula sembilan orang yang menggunakan baju adat tradisional Madura. Sebelum perlombaan dimulai, sapi-sapi yang akan diikutsertakan dalam lomba diajak pemanasan lebih dulu. Pemanasannya dilakukan dengan cara mengelilingi lapangan. Ketika mengelilingi lapangan, joki dan sapi yang sedang melakukan pemanasan akan diiringi oleh beberapa alat musik seperti saronen, gendang, kelenong disertai ngijung (aktivitas menari yang dilakukan oleh para penari remaja). Sebelum dimulai, sapi-sapi yang akan diikuti dalam perlombaan dimandikan terlebih dahulu. Lalu, setelah itu tubuhnya diolesi spiritus yang dicampur dengan balsem dan tumbukan jahe. Untuk memperkuat tenaga, sapi-sapi tersebut diberi obat kuat, ramuan dan jamu...
Tradisi dugderan sebagai pertanda awal dimulainya pelaksanaan ibadah puasa telah dimulai sejak tahun 1881 pada masa pemerintahan Bupati Semarang, Purbaningkrat. Ritual dugderan yang berlangsung turun temurun di Masjid Besar Kauman, kawasan Pasar Johar, Semarang ini diawali dengan arak-arakan tetabuhan bedug dikawal prajurit Kadipaten Semarang tempo dulu. Dalam arak-arakan ini pula terdapat maskot hewan khas dugderan yang disebut warak ngendok. Mendekati Masjid Besar Kauman, masjid tertua di Semarang, iring-iringan prajurit mengawal Walikota Semarang, Sukawi Sutarip dan istri yang memerankan tokoh Bupati Semarang tempo dulu. Beberapa prajurit mengawal dengan cara berjalan mundur menuju masjid. Ribuan masyarakat antusias menyaksikan tradisi ini, bahkan puluhan anak-anak terlihat ikut bergembira dengan memainkan musik kotekan atau kentongan yang biasa digunakan untuk membangunkan sahur. Setiba di masjid, Walikota disambut imam Masjid Besar Kauman selanjutnya...
Salah satu tari tradisi dari daerah Karo. Tari ini menggambarkan percintaan muda-mudi pada malam hari dibawah terang sinar bulan purnama. Tari ini dibawakan dengan karakter gerak yang lebih lemah gemulai. Tari dalam bahasa Karo disebut “Landek.” Pola dasar tari Karo adalah posisi tubuh, gerakan tangan, gerakan naik turun lutut (endek) disesuaikan dengan tempo gendang dan gerak kaki. Pola dasar tarian itu ditambah dengan variasi tertentu sehinggga tarian tersebut menarik dan indah. Tarian berkaitan adat misalnya memasuki rumah baru, pesta perkawinan, upacara kematian dan lain-lain. Tarian berkaitan dengan ritus dan religi biasa dipimpin oleh guru (dukun). Misalnya Tari Mulih-mulih, Tari Tungkat, Erpangir Ku Lau, Tari Baka, Tari Begu Deleng, Tari Muncang, dan lain-lain. Tarian berkaitan dengan hiburan digolongkan secara umum. Misalnya Tari Gundala-gundala, Tari Ndikkar dan lain-lain. Sejak tahun 1960 tari Karo bertambah dengan adanya tari kreasi baru. M...
Seni Pertunjukan Tradisional Jawa Barat dari daerah Bogor , Di daerah Bogor terdapat beberapa kesenian teater rakyat. Salah satu diantaranya seni Blantek. Seni Blantek yang berada di daerah Bogor ini termasuk rumpun seni tipeuh, oleh karena itu disebut juga topeng Blantek. Istilah Blantek dalam kesenian ini adalah campur aduk, tidak karuan, tidak semestinya atau masih dalam tahap belajar. Selain itu ada juga yang menyebutkan bahwa Blantek itu akronim dari Blan dan Tek. Blan asal kata dari musik rebanan yang dipergunakan untuk mengiri seni Blantek. Sedangkan tek asal kata dari kotek nama salah satu rebana pada alat musik kesenian tersebut. Blantek dalam arti tidak karuan campur aduk dan tidak semestinya didasari oleh anggapan bahwa kesenian ini dalam penyajiannya memasukkan unsur-unsur kesenian lain seperti rebana, ketuk tilu, dan topeng. Demikian pula bentuk kesenian ini tidak jauh berbeda dengan topeng yang berada di Cisalak. Kedua pengertian Blantek topeng Blantek...
Ulos atau sering juga disebut kain ulos adalah salah satu busana khas Indonesia. Ulos secara turun temurun dikembangkan oleh masyarakat Batak , Sumatera utara. Dari bahasa asalnya, ulos berarti kain . Cara membuat ulos serupa dengan cara membuat songket khas Palembang , yaitu menggunakan alat tenun bukan mesin . Warna dominan pada ulos adalah merah , hitam , dan putih yang dihiasi oleh ragam tenunan dari benang emas atau perak. Mulanya ulos dikenakan di dalam bentuk selendang atau sarung saja, kerap digunakan pada perhelatan resmi atau upacara adat Batak, namun kini banyak dijumpai di dalam bentuk produk sovenir, sarung bantal, ikat pinggang , tas , pakaian , alas meja, dasi , dompet , dan gorden . Ulos juga kadang-kadang diberikan kepada sang ibu yang sedang mengandung supaya mempermudah lahirnya sang bayi ke dunia dan untuk melindungi ibu dari segala mara bahaya yang mengancam saat proses persalinan. Sebagian besar ulos telah punah karen...
Kata daboih dari bahasa Arab dabbus, dan di Banten disehut debus. Pemain adalah laki-laki. Peralatan berupa instrumen musik rebana, berbagai senjata tajam, ranuri dan sebagainya. Pada awal dimulai permainan; tetabuhan mulai ditabuh. Para pengiring mulai berzikir dan rateb. Tetabuhan dari tempo lambat dan merambat tempo sedang dan cepat. Pada saat tetabuhan pada tempo sedang, para pemain mulai beraksi menusuk-nusukan senjata tajam di tubuhnya. Demikianlah musik terus meningkat pada tempo cepat dan pemainpun bersemangat menusuk, menetak, menyambit dirinya dengan keris, rencong, pedang dan rantai yang dibakar. Apabila rencong, keris maupun pedang telah bengkok- bengkok, maka permainan telah selesai. Jika pemain ada yang terluka, maka yang ber-sangkutan menemui kalilah untuk diobati. Pengobatan dengan dioles dan pulih lagi serta dapat bermain kembali.
Geundrang merupakan perkusi tradisional khas Aceh yang biasa dimainkan sebagai pengiring instrumen Serune Kalee (seruling khas Aceh). Selain berkolaborasi dengan alat musik tradisional, instrumen ini juga bisa dipadukan dengan alat musik modern, terutama ketika membawakan lagu-lagu tradisional. Alat musik ini tergolong ke dalam jenis membranfon atau alat musik yang sumber bunyinya berasal dari selaput atau membran. Hingga kini, Geundrang masih lestari di tengah masyarakat Aceh. Material dan Cara Pembuatannya Geundrang umumnya terbuat dari kayu nangka, kulit kambing atau kulit sapi yang tipis, serta rotan. Dalam pembuatan Geundrang, pertama-tama yang dilakukan adalah melubangi potongan kayu nangka yang berbentuk slinder, dengan panjang 40-50 cm, dengan diameter 18-20 cm, hingga menciptakan rongga yang menumbus kedua ujungnya. Bagian luar kayu tersebut dibentuk hingga kedua pangkalnya memiliki diameter yang lebih pendek daripada bagian tengahnya. Selanjutnya, kulit yang s...