Zaman dahulu hiduplah tiga orang bersaudara di negeri Dagho pulau Sangihe, yang sulung bernama Angsuangkila, kedua Wangkoang, dan yang bungsu bernama Wahede. Mereka bertiga merupakan pahlawan di negeri ini dan mereka disebut Kulano. Mereka disebut pahlawan karena mereka bertigalah yang senantiasa membela dan mempertahankan rakyat dari serangan suku Mindanow yang selalu datang merampok dan membunuh rakyat pulau Sangihe. Pada suatu hari terjadi perampokan oleh suku Mindanow di sebuah pulau kecil yang terletak di depan teluk Dagho, pulau ini melindungi pandangan ke negeri Dagho dari laut. Pulau ini disebut Sambo karena konon pernah ada seorang yang sedang memancing mendengar ada seseorang yang sedang menyanyikan lagu Sasambo di negeri Dagho. Mendengar Sasambo itu ia melihat tanjung itu berjalan menuju laut, menyaksikan peristiwa ini orang yang sedang mengail tersebut merasa heran maka dipanggilnyalah orang yang sedang menyanyi itu. Sasambo berhenti dan tanjung&nbs...
Tersebutlah satu keluarga terdiri dari tiga orang yakni ayah, ibu dan seorang anak laki-laki. Mereka tinggal di suatu tempat terpencil jauh dari perkampungan. Preawakan anak tersebut begitu kecil dibandingkan dengan anak-anai lain seusianya, namun ia amat pintar. Oleh karena perawakannya yang kecil itu, maka ia diberi nama Andaliki. Pada suatu hari berkatalah si Anadaliki kepada ayahnya: ”Jika ayah mau mengabulkan permintaanku aku mau merantau mencari ilmu”. Ayah terkejut dan berkata:”Ayah tidak tega membatalkan cita-citamu nak karena inimenyangkut masa depanmu. Tentu dengan perawakanmu yang kecil ini tidak dapat diandalkan membantu ayah mengerjakan pekerjaan yang berat. Namun, dengan kondisi tubuhmu ini sanggupkah engkau menempuh perjalanan yang jauh?. Sekalipun ayah meluluskan permintaanmu, tetapi belum tentu ibumu membiarkanmu pergi. Pergilah nak, bertanya pada ibumu”. Maka pergilah Andaliki menemui ibunya yang sementara menambal baju. Andaliki menyamp...
Air terjun Nguralawo Berada Di desa Binala kecamatan Tamako Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Air terjun Nguralawo berjarak sekitar 6 Km dari pusat Kota Tamako. Menurut legenda Air terjun ini dinamakan Nguralawo karena Pada zaman dahulu air terjun ini menjadi tempat pemandian para bidadari (putri kayangan). Air terjun Nguralawo Bisa dijangkau dengan menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum, Air terjun ini udaranya masih sangat sejuk dan segar, belum lagi disekitar air terjun ini terdapat pepohonan yang masih hijau. Disini terdapat bebatuan yang besar. Sehingga Anda dapat duduk-duduk sambil menikmati gemuruh suara air terjun, dan juga menikmati panorama yang indah disekitar air terjun. sumber: Sangihe Tourism (https://sangihetourism.wordpress.com/2014/11/24/legenda-air-terjun-nguralawo/)
Kalimat atau istilah Musyawarah untuk mencapai kata mufakat dan bersatu kita teguh bercerai kita runtuh ternyata bukan hanya monopoli beberapa kaum saja, dan tentu saja itu bukanlah isapan jempol yang tanpa makna. Suku minahasa pun memiliki satu upacara adat yang memang dilaksanakan untuk meneguhkan persatuan dan kesatuan anatar penduduknya. Upacara adat itu dalam suku Minahasa disebut dengan upacara Watu Pinawetengan. Konon berdasarkan cerita rakyat yang dipegang secara turun temurun, pada zaman dahulu terdapatlah sebuah batu besar yang disebut tumotowa yakni batu yang menjadi altar ritual sekaligus menandai berdirinya permukiman suatu komunitas. Dan konon lagi kegunaan dari batu tersebut merupakan batu tempat duduk para leluhur melakukan perundingan atau orang setempat menyebutnya Watu Rerumeran ne Empung. Dan memang, ketika Johann Gerard Friederich Riedel pada tahun 1888 melakukan penggalian di bukit Tonderukan, ternyata penggalian berhasil menemukan batu besar yang membujur dari...
Santu Alat musik Santu merupakan alat musik tradisional Sulawesi Utara yang cara memainkannya dengan dipetik. Bahan alat musik Santu terbuat dari bambu dan kayu. Selain dipetik, alat musik ini juga dapat dimainkan dengan cara dipukul-pukul dengan menggunakan tongkat. Dalam berbagai pertujukkan, para pemain musik biasanya memainkan Santu dengan posisi duduk bersila dan Santu ada di dekapan pemain musik. Pada zaman dahulu, alat musik ini kerap dimainkan para petani saat merayakan hasil panen yang berlimpah. https://www.silontong.com/2018/10/23/alat-musik-tradisional-sulawesi-utara-gambar-penjelasan/
Paree Alat musik Paree termasuk sebagai alat musik tradisional Sulawesi Utara yang terbuat dari bambu kering yang bisa didapatkan dari para petani. Untuk mengeringkan bambu, biasanya dilakuakn penjemuran saat matahari menyinari disiang hari. Paree dimainkan dengan cara dipukul-pukul memakai tangan orang yang memainkannya. Pada zaman dahulu, alat musik ini dimainkan sebagai alat seni hiburan guna mengisi waktu luang. https://www.silontong.com/2018/10/23/alat-musik-tradisional-sulawesi-utara-gambar-penjelasan/
Tetengkoren Berikut adalah alat musik Tetengkoren yang berasal dari dari daerah Sulawesi Utara, tepatnya alat musik bambu ini dari Minahasa dan para petaninya sering memainkannya untuk menghibur hati, atau sebagai pengusir hama burung saat disawah. Jika diamati, bentuk Tetengkoren sama seperti Kentongan. Cara memainkannya adalah dengan dipukul-pukul. Yang unik dari alat musik ini adalah, selain digunakan sebagai alat musik, Tetengkoren ternyaat berfungsi sebagai alat pengusir hama burung. https://www.silontong.com/2018/10/23/alat-musik-tradisional-sulawesi-utara-gambar-penjelasan/
Sasesahang Alat musik tradisional Sasesahang berasal dari daerah Sulawesi Utara yang mempunyai bentuk seperti Garpu Tala berujung runcing yang terbuat dari ruas bambu. Bunyi nada yang dikeluarkan oleh Sasesahang ini bergantung pada ketinggian ruas tabung bambu. Dan pada umumnya, guna untuk keperluan pertunjukan atau pagelaran seni musik , dibutuhkan sekitar 5 atau 6 buah Sasesahang dengan nada yang berbeda beda. Bagi yang ingin tahu sekilas cara memainkan alat musik Sasesahan, yaitu dengan cara dipukul menggunakan tongkat berlapis bahan karet. https://www.silontong.com/2018/10/23/alat-musik-tradisional-sulawesi-utara-gambar-penjelasan/
Tari Tatengesan Tari Tatengesan adalah tarian tradisional Sulawesi Utara. Tari ini pertama kali ditampilkan pada tahun 1983 dalam rangka memperingati terbentuknya desa Tatengesan. Tari Tatengesan merupakan tarian yang diangkat dari ceritera rakyat tentang desa Tatengesan oleh kelompok seni dan budaya di desa tersebut diciptakan sebuah tari dengan judul tari Tatengesan. Mengisahkan tentang perjuangan masyarakat desa ketika melawan para bajak laut Mindanou yang datang dari perairan Filipina cerita tarian ini. Selalu sering bajak laut tersebut dengan memakai alat transportasi laut tradisional kala itu mengganggu aktifitas masyarakat dan akhirnya semangat untuk melawan para bajak laut dikobarkan melalui syair dan lagu Kiting-kiting. https://www.silontong.com/2018/10/11/tarian-tradisional-daerah-sulawesi-utara/