Tersebutlah satu keluarga terdiri dari tiga orang yakni ayah, ibu dan seorang anak laki-laki. Mereka tinggal di suatu tempat terpencil jauh dari perkampungan. Preawakan anak tersebut begitu kecil dibandingkan dengan anak-anai lain seusianya, namun ia amat pintar. Oleh karena perawakannya yang kecil itu, maka ia diberi nama Andaliki.
Pada suatu hari berkatalah si Anadaliki kepada ayahnya: ”Jika ayah mau mengabulkan permintaanku aku mau merantau mencari ilmu”. Ayah terkejut dan berkata:”Ayah tidak tega membatalkan cita-citamu nak karena inimenyangkut masa depanmu. Tentu dengan perawakanmu yang kecil ini tidak dapat diandalkan membantu ayah mengerjakan pekerjaan yang berat. Namun, dengan kondisi tubuhmu ini sanggupkah engkau menempuh perjalanan yang jauh?. Sekalipun ayah meluluskan permintaanmu, tetapi belum tentu ibumu membiarkanmu pergi. Pergilah nak, bertanya pada ibumu”. Maka pergilah Andaliki menemui ibunya yang sementara menambal baju. Andaliki menyampaikan maksudnya pada ibunya dan betapa terkejutnya ketika si ibu mendengar permintaan Andaliki. “Betapa berat hati kami melepas kepergianmu nak!. Perjalanan ini akan menguras tenagamu, bahkan kami pun tidak dapat menyediakan bekal dalam perjalananmu”. “Ibu tak perlu kuatir, aku akan mengatasinya”, kata Andaliki menghibur ibunya. Tanpa sepengetahuan orang tuanya Andaliki telah menghadap raja untuk menggadaikan ayah dan ibunya. Ibu ditukar dengan seekor kuda, sedangkan ayahnya ditukar dengan pakaian.
Berangkatlah Andaliki menempuh perjalanan yang sangat jauh. Setelah berhari-hari, berbulan-bulan dalam perjalanan belum juga ia bertemu dengan manusia. Ia hanya makan dedaunan bersama kuda tunggangannya. Jika malam tiba, ia hanya tidur di samping perut kuda. Kudanya makin lamban dan setelah diperhatikan perutnya makin membesar.
Pada suatu ketika Andaliki merasa lapar dan dahaga yang sudah tak tertahankan. Apa hendak dikata, jalan keluar satu-satunya untuk mengatasi kesulitannya adalah kuda tunggangannya. Si Andaliki menyembelih kuda tunggangannya dengan sebilah pisau kecil, darah ditampungnya untuk diminum, anak kuda yang ada didalam perut induknya diambil untuk dimakan. Setelah tenaganya pulih ia melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Kemudian ia melihat rumah dan tenyata di sana ada seorang lelaki ubanan sedang menjelujur kain sarung sutera. Andaliki beristirahat di sana dan menceritakan pada orang tua tersebut asal usul serta tujuannya.
Pada saat yang sama Andaliki tekun memperhatikan ketrampilan orang tua tersebut menjahit pakaian tanpa menggunakan mesin namun hasilnya sangat apik tidak kalah dengan jahitan mesin. Andaliki mengatakan pada orang tua tersebut bahwa ingin belajar berbagai pengetahuan yang bermanfaat. “Jika engkau sungguh-sungguh mau, tinggallah di sini dan aku akan mengajarkanmu tiga ilmu secara bertahap yaitu: menebak, membidik dan menjahit”, kata orang tua tersebut.
Andaliki belajar dengan tekun semua pengetahuan yang diberikan padanya. Sebaliknya orang tua itu mendidik Andaliki dengan telaten dan menyayanginya bagaikan anak sendiri. Pada suatu hari orang tua itu berkata: “ Pengetahuanmu sudah cukup, besok aku akan menguji kemampuanmu”.
Keesokan harinya Andaliki dibawa berjalan-jalan tak jauh dari rumah, mereka berhenti di bawah sebatang pohon yang tinggi. Orang tua itu menunjuk sarang burung yang ada di atas dahan pohon seraya berkata: “Coba tebak, berapa butir telur dalamsarang di atas itu nak?”. “Satu butir”,jawab Andaliki. “Coba kau panjat pohon ini dan selidiki kalau benar jawabanmu nak!” kata orang tua itu. Andaliki segera memanjat pohon itu untuk membuktikan jumlah telur yang ada dalam sarang dan ternyata memang hanya ada sebutir.
Pada kali berikutnya Andaliki diajak oleh sang guru ke tempat yang sama sambil membawa sumpit. Andaliki diuji kemampuannya dalam menggunakan sumpit. Ia disuruh menyumpit telur dalam sarang dan ternyata tepat pada sasarannya. Anak sumpit menancap tepat di tengah-tengah telur yang ada dalam sarang itu.
Kemudian Andaliki disuruh mengambil telur yang terlobang oleh sumpitannya untuk dibawah turun. Setibanya di bawah pohon Andaliki diajak pulang ke rumah. Setibanya di rumah Andaliki diperintahkan menjahit telur yang bolong oleh sumpit. Harus dijahit sedemikian rupa hingga tidak kelihatan bekas lobang supaya telur tersebut tidak dibiarkan oleh induknya. Andaliki mulai menjahit dengan menggunakan jarum dan benang merah. Andaliki akhirnya berhasil menjahit hingga tak terlihat bekasnya. Hanya ujung benangnya masih ada sedikit tersembul di atas permukaan telur. Alhasil setelah diletakkan kembali dalam sarang, telur itu dierami oleh si burung jantan.
Setelah tiba di rumah orang tua itu berkata: “Engkau telah berhasil, pengetahuan yang kuajarkan sudah kau kuasai, pergilah engkau meneruskan perjalananmu untuk mencari pengetahuan yang lain pula nak!”Andaliki mohon pamit pada gurunya sambil menghaturkan terima kasihnya. Berminggu-minggu dalam perjalanan pakaian yang dikenakannya tak ada yang sobek sedikitpun karena ketrampilannya menjahit.
Akhirnya tibalah ia di satu kota yang ternyata diperintah oleh seorang raja perempuan yang masih lajang. Di istana raja terdapat banyak orang yang hendak mengikuti sayembara. Istana raja tersebut berupa rumah panggung dengan anak tangga sebanyak seratus.
Pada pangkal tangga beronggok-onggok tengkorak manusia berjumlah Sembilan ratus Sembilan puluh Sembilan. Adapun sayembara yang diadakan mempunyai ketentuan yakni: bagi siapa yang berhasil menebak pertanyaan yang diajukan oleh raja, ia berhak mempersunting raja. Sebaliknya, jika tidak berhasil akan dipancung kepalanya.
Di atas panggung balai terletak tiga bokor yang tertutup rapat. Bokor pertama adalah bokor emas, kedua perak dan ketiga bokor kuningan. Isi ketiga bokor itu tidak sama dan merupakan undian, bagi siapa yang berhasil menebak isinya maka ialah yang berhakmengajukan teka-teki terlebih dahulu.
Pada anak tangga tertinggi duduklah seorang algojo memegang sebilah pedang panjang. Kemudian Andaliki naik ke atas panggung untuk menerka isi dari ketiga bokor itu. Ketika tiba di atas panggung Andaliki berkata: “Bokor emas berisi gigi, bobor perak berisi rambut dan bokor kuningan berisi kuku”. Ketika dibuka ternyata semua tebakan Andaliki benar, maka ia berhak mengajukan teka-teki. Andaliki bertanya pada raja: “Apabila engkau tidak berhasil menebak teka-teki yang aku berikan padamu, apa yang akan kuperbuat bagimu?”. Raja menjawab: Jika aku tak berhasil menjawab, maka seluruh istana ini akan menjadi milikmu, tetapi berikan padaku kesempatan berpikir selama tujuh hari”. Si Andaliki setuju, lalu ia mengajukan teka-teki: “Menunggangi ibunya, memakai ayahnya, makan apa yang makan dan minum bukan dari langit dan bukan pula keluar dari tanah”. Hingga matahari terbenam belum ada seorangpun yang berhasil menebaknya termasuk raja sendiri sampai pusing kepalanya memikirkan jawaban teka-teki tersebut. Selama tujuh hari ia menunggu jawaban, namun belumjuga terjawab oleh raja. Akhirnya raja menyerah kalah danmenyuruh Andaliki memberitahukan jawabannya.
Andaliki berkata dengan suara lantang: “Aku datang dengan mengendarai kuda perolehan menjual ibuku kepada raja, menggunakan pakaian hasil menjual ayahku. Dalam perjalanan ketika aku haus dan lapar, maka terpaksa aku meminum darah dari kuda yang kusembelih dan memakan anak kuda dalam perut induknya”. Raja terkejut dan sangat takjub mendengar jawaban teka-teki ajaib itu. Akhirnya Si Andaliki berhak menduduki istana raja sekaligus mempersunting raja perempuan itu. Setelah peristiwa itu, maka Andaliki menyuruh para abdinya untuk menjemput kedua orang tuanya dan tak lupa menjemput tukang jahit yang telah mengajarnya dengan bijaksana. Demikianlah kisah Si Andaliki yang pintar.
Kisah Andaliki dapat berfungsi untuk memotivasi masyarakat untuk tetap bersemangat walaupun secara fisik terdapat kekurangan. Kisah ini pun hendak memberika pelajaran bagi masyarakat bahwa ketika kita mau berlajar dan terus berjuang, maka usaha kita pasti akan membuahkan hasilnya. Selain itu kisah ini mengingatkan bagi masyarakat untuk tidak melupakan orang tua apalagi ketika telah berhasil.
sumber:
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara