EMANG DONGAN (Cerita Rakyat Daerah Sumbawa) Cerita ini mengisahkan tentang seorang gadis cantik bernama Sari di Desa Pungkit. Sehari-hari Sari menenun kain sarung, kebaya, selendang, dan tudung kepala di atas loteng. Kecantikan Sari kerap membuat banyak pemuda jatuh hati kepadanya namun tak pernah berhasil menarik perhatiannya. Sari juga memiliki teman bermain bernama Sena. Persahabatan mereka selalu seia sekata bagai saudara kandung. Sari juga memiliki sepupu laki-laki dari garis keturunan ayah, bernama Rambanging dan sepupu laki-laki dari garis keturunan ibu bernama Sampuang. Suatu hari datanglah Dea Lebeh, utusan dari orang tua Rambanging di Sumbawa, untuk meminang Sari. Mereka diterima oleh Pak Umar, ayah Sari. Maksud dan tujuan kedatangan mereka disampaikan melalui pantun berbalas. Pada akhirnya lamaran dari orang tua Rambanging ditolak oleh keluarga Sari, demikian pula ketika keluarga Sampuang melamar Sari. Karena penolakan tersebut, timbul perpecahan diantara k...
TEMBANG-TEMBANG MERDU, RIBUAN BAIT SYAIR LAHIR DARI KESENIAN DIDONG Pada ujung utara rangkaian Bukit Barisan di Pulau Sumatera, terletak dataran tinggi Gayo yang merupakan tempat orang Gayo bermukim. Di tempat ini mereka terbagi dalam beberapa kelompok yang disebut dengan orang Gayo Lut, orang Gayo Deret, orang Gayo Lues dan sebagainya. Dari orang Gayo ini muncul kesenian yang dikenal dengan nama kesenian saman. Salah satu kesenian rakyat lainnya adalah Didong, suatu bentuk kesenian yang luwes menyesuaikan diri dengan jaman dan lingkungan. Sejak kapan kesenian Didong ini dikenal, hingga kini belum diketahui dengan pasti, demikian pula arti kata Didong yang sesungguhnya. Ada orang yang berpendapat bahwa kata "didong" mendekati pengertian kata "dendang" yang artinya" nyanyian sambil bekerja atau untuk menghibur hati atau bersama-sama dengan bunyi-bunyian". Dalam bahasa Gayo dikenal dengan kata "denang" atau "donang" yang artinya mirip dengan hal tersebut. Menurut...
Tari Cokek merupakan tarian yang berasal dari budaya Betawi tempo dulu. Dewasa ini orkes gambang kromong biasa digunakan untuk mengiringi tari pertunjukan kreasi baru, seperti tari Sembah Nyai, Sirih Kuning dan sebagainya, di samping sebagai pengiring tari pergaulan yang disebut tari cokek. Tari cokek ditarikan berpasangan antara laki-laki dan perempuan. Tarian khas Tangerang ini diwarnai budaya etnik Cina. Penarinya mengenakan kebaya yang disebut cokek. Tarian cokek mirip sintren dari Cirebon atau sejenis ronggeng di Jawa Tengah . Tarian ini kerap identik dengan keerotisan penarinya, yang dianggap tabu oleh sebagian masyarakat. Pembukaan pada tari cokek ialah wawayangan. Penari cokek berjejer memanjang sambil melangkah maju mundur mengikuti irama gambang kromong. Rentangan tangannya setinggi bahu meningkah gerakan kaki. Setelah itu mereka mengajak tamu untuk menari bersama, dengan mengalun...
Melodi lagu Gending Sriwijaya diperdengarkan untuk mengiringi Tari Gending Sriwijaya. Baik lagu maupun tarian ini menggambarkan keluhuran budaya, kejayaan, dan keagungan kemaharajaan Sriwijaya yang pernah berjaya mempersatukan wilayah Barat Nusantara . Lirik lagu ini juga menggambarkan kerinduan seseorang akan zaman di mana pada saat itu Sriwijaya pernah menjadi pusat studi agama Buddha di dunia.
Reog adalah salah satu kesenian budaya yang berasal dari Jawa Timur bagian barat-laut dan Ponorogo dianggap sebagai kota asal Reog yang sebenarnya. Gerbang kota Ponorogo dihiasi oleh sosok warok dan gemblak, dua sosok yang ikut tampil pada saat reog dipertunjukkan. Reog adalah salah satu budaya daerah di Indonesia yang masih sangat kental dengan hal-hal yang berbau mistik dan ilmu kebatinan yang kuat.
Banyak yang mengenal bahwa tari saman berasal dari Aceh. Memang benar, hanya saja tarian ini berasal dari suku Gayo yang pada dasarnya merupakan bagian dari penduduk Aceh. Dalam beberapa literatur disebutkan bahwa tari saman didirikan dan dikembangkan oleh Syekh Saman, seorang ulama yang berasal dari Gayo. Dalam tari saman, musik pengiringnya adalah musik internal (berasal dari tubuh) biasanya berupa tepukan atau pukulan dada, petikan, maupun nyanyian berisi syair dalam bahasa Gayo. Gerak dalam tari saman didominasi dengan gerakan tangan. Tarian ini ditampilkan oleh pria-pria dengan menggunakan baju adat. Kini tari saman telah ditetapkan UNESCO sebagai representatif budaya tak benda warisan nusantara.
Banyak yang mengenal bahwa tari saman berasal dari Aceh. Memang benar, hanya saja tarian ini berasal dari suku Gayo yang pada dasarnya merupakan bagian dari penduduk Aceh. Dalam beberapa literatur disebutkan bahwa tari saman didirikan dan dikembangkan oleh Syekh Saman, seorang ulama yang berasal dari Gayo. Dalam tari saman, musik pengiringnya adalah musik internal (berasal dari tubuh) biasanya berupa tepukan atau pukulan dada, petikan, maupun nyanyian berisi syair dalam bahasa Gayo. Gerak dalam tari saman didominasi dengan gerakan tangan. Tarian ini ditampilkan oleh pria-pria dengan menggunakan baju adat. Kini tari saman telah ditetapkan UNESCO sebagai representatif budaya tak benda warisan nusantara.
Banyak yang mengenal bahwa tari saman berasal dari Aceh. Memang benar, hanya saja tarian ini berasal dari suku Gayo yang pada dasarnya merupakan bagian dari penduduk Aceh. Dalam beberapa literatur disebutkan bahwa tari saman didirikan dan dikembangkan oleh Syekh Saman, seorang ulama yang berasal dari Gayo. Dalam tari saman, musik pengiringnya adalah musik internal (berasal dari tubuh) biasanya berupa tepukan atau pukulan dada, petikan, maupun nyanyian berisi syair dalam bahasa Gayo. Gerak dalam tari saman didominasi dengan gerakan tangan. Tarian ini ditampilkan oleh pria-pria dengan menggunakan baju adat. Pada zaman dulu tarian ini dipertunjukkan untuk memperingati peristiwa-peristiwa besar, namun kini tari saman juga ditampilkan pada acara-acara resmi bahkan festival seni. Kini tari saman telah ditetapkan UNESCO sebagai representatif budaya tak benda warisan nusantara.
Banyak yang mengenal bahwa tari saman berasal dari Aceh. Memang benar, hanya saja tarian ini berasal dari suku Gayo yang pada dasarnya merupakan bagian dari penduduk Aceh. Dalam beberapa literatur disebutkan bahwa tari saman didirikan dan dikembangkan oleh Syekh Saman, seorang ulama yang berasal dari Gayo. Dalam tari saman, musik pengiringnya adalah musik internal (berasal dari tubuh) biasanya berupa tepukan atau pukulan dada, petikan, maupun nyanyian berisi syair dalam bahasa Gayo. Gerak dalam tari saman didominasi dengan gerakan tangan. Tarian ini ditampilkan oleh pria-pria dengan menggunakan baju adat. Kini tari saman telah ditetapkan UNESCO sebagai representatif budaya tak benda warisan nusantara.